Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 47 : Perdamaian di Ruang BP


__ADS_3

Pagi yang sejuk, mentari di ufuk timur mulai beranjak menghangatkan bumi. Ryan dan Alisha yang tengah mengikuti pelajaran,dipanggil ke ruang BP ketika orang tua mereka telah hadir menghadap Bu Trisna.. Sesosok pria berusia empat puluhan tahun dengan tubuh yang masih tegap atletis nampak necis dalam balutan kemeja berkelas dan celana panjang hitam, sepatu dan ikat pinggangnya mengkilat keluaran merk ternama kelas dunia, duduk di bangku panjang ruang BP. Sedangkan wanita cantik berusia hampir sama duduk di kursi sebelah kanan yang menghadap pintu, dalam balutan blazer warna biru tua dengan rambut yang disasak tinggi dan polesan wajah natural.


Dua remaja itu memasuki ruang BP dan menyambut orang tua masing-masing. Bu Trisna duduk di antara mereka dan menyampaikan ceramahnya panjang lebar. Konsekuensi dari pertemuan itu adalah agar para orang tua memberikan pengarahan secara personal kepada anak masing-masing ketika mereka dalam lingkungan keluarga.


Ryan dan Alisha nampak terdiam dan enggan meminta maaf duluan. Bu Trisna memberikan waktu selama 30 menit bagi keduanya untuk menyadari kesalahan masing-masing dan saling bersalaman. Bila di kemudian hari terjadi masalah yang sama,keduanya terpaksa akan dikeluarkan dari sekolah.


Pak Robert memandang wanita yang duduk di seberangnya dengan penasaran, ia seperti pernah melihat mama Alisha sebelumnya. Laki-laki ini mengingat-ingat dimana dulu ia pernah bertemu dengannya.


“Maaf…Saya merasa familiar dengan wajah anda. Apakah dulu kita pernah satu sekolah ya?”


Perkataan Pak Robert memecahkan kesunyian di antara dua remaja yang terdiam tadi,ketika guru BP sejenak meninggalkan ruangan karena dipanggil kepala sekolah.


“Maksud bapak?”tanya mama Alisha balik.


“Nama anda siapa?”


“Anneth Honggowarsito.Nama bapak?”


“Robert Sanders.”


“Asal darimana?”


“Saya dari Malang. Menikah dengan pengusaha dari Jakarta dan pindah kemari.”


“Almarhumah istri saya Annisa dari Sidney, mirip sekali dengan anda.”


Tante Anneth memandang wajah Pak Robert dengan keheranan, bola matanya yang indah dinaungi bulumata yang lentik berkedip-kedip seakan mengingat sesuatu.


“Saya kurang tau,Pak. Memang konon saya punya kembaran yang sakit-sakitan. Ia diadopsi keluarga di Indonesia tapi kami belum pernah saling ketemu. Ini kartu nama saya, bilamana masih penasaran boleh hubungi saya kembali.”


Ryan tercengang mendengarkan percakapan orang tuanya, andai praduga itu benar artinya almarhumah mamanya masih bersaudara dengan mama Alisha dan mereka adalah saudara sepupu. Alisha pun bengong menyaksikan percakapan tak disangka antara sang mama dengan Om Robert.


“Sejak kapan mama punya saudara kembar?Kok gak pernah bilang-bilang?”batin Alisha.


Gadis itu hanya mengetahui kalau mamanya juga anak tunggal, sama seperti dirinya. Oma dan opanya memang tinggal di Australia, karena itu setahun sekali mereka mengunjungi mereka di Sidney.

__ADS_1


“Udahlah Ryan. Papa masih banyak kerjaan di kantor. Kapan selesainya kalau kalian begini terus,”keluh Pak Robert sambil bersungut-sungut.


“Gimana,Lis? Mama juga ada janji sama klien,”keluh Bu Anneth pada putri kesayangannya.


Alisha hanya manyun dan matanya dilemparkan ke arah dinding ruangan BP.


Tak lama kemudian,terdengar suara hentakan sepatu yang beradu dengan lantai, muncullah wajah Bu Trisna yang mengembangkan senyuman sambil membawa setumpuk map dan meletakkan di atas mejanya.


“Gimana anak-anak? Apakah kalian sudah selesai berdiskusi?”


Keduanya hanya terdiam dengan mata menatap lantai.


Bu Trisna mengambil sebuah kursi dan mengangkatnya ke dekat mereka.


“Kalau kalian hanya diam-diaman, masalah tak akan selesai. Apa ibu perlu memutuskan untuk mengeluarkan kalian berdua?”


Bu Trisna tampak tersenyum penuh arti, ia berharap taktiknya akan berhasil. Kedua orang tua siswa sudah tampak pasrah dengan kelakuan anak masing-masing.


Kedua remaja itu tersentak dan saling berpandangan, kemudian Ryan memulai percakapan di antara keduanya.


“Aku juga berjanji tidak akan membuat masalah di sekolah ini lagi,”sahut Alisha sambil menjabat tangan Ryan.


Bu Trisna bertepuk tangan,”Nah..Begitu dong. Ibu senang melihat kalian berdua akur.”


“Jadi kami boleh pulang,Bu?”tanya Pak Robert yang sudah tak sabar lagi.


“Silakan,Pak. Tapi tolong tanda tangan dulu di buku tamu,”kata guru BP sembari menyodorkan sebuah buku panjang dengan sampul motif batik ke hadapan para orang tua siswanya.


Kedua orang tua itu pun bergantian membubuhkan tanda tangan di atasnya, dan saling berjabat tangan.


“Hati-hati di jalan,Pak,Bu. Terima kasih atas kedatangannya di sekolah kami,”kata Bu Trisna memberikan salam perpisahan.


Langit yang cerah berubah menjadi mendung ketika sekolah usai. Maya disibukkan dengan ekstrakurikuler KIR (Kelompok Ilmiah Remaja), bergabung dengan sekelompok siswa yang sebagian besar menggunakan kacamata dan berwajah serius. Gadis ini memang suka mempelajari dan mengembangkan sesuatu yang baru yang berkaitan dengan ilmu alam. Sementara itu Ryan yang hobi bermain basket sedang berada di lapangan dengan piawai melakukan slam dunk memasukkan bola basket ke dalam keranjang dengan sangat lihai.


Awan berubah kelabu saat hari beranjak sore, tetesan air hujan berjatuhan mengguyur bumi. Ryan masih asyik bermain basket, rambut dan wajahnya basah oleh air hujan, menambah macho penampilannya, pakaiannya yang basah tampak membentuk siluet tubuh atletis yang indah mempesona kaum hawa. Beberapa siswi yang baru selesai ekskul dance melewati lapangan dan saling berbisik, tak kurang di antaranya memandang dan terpana. Maya telah selesai dengan ekskulnya. Gadis itu merapikan buku dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya. Dilihatnya hujan mulai deras, gadis itu terpaksa harus menunggu di kantin karena lupa membawa payung. Satu-satunya harapannya adalah bisa makan di kantin sambil mengerjakan PR menunggu hujan reda.

__ADS_1


Maya melangkahkan kakinya ke kantin yang telah tampak sepi dari pengunjung. Hanya ada satu penjual yang tersisa, itupun dengan dua bungkus makanan nasi uduk sisa jualan tadi pagi. Selera makannya langsung hilang, gadis itu berjalan ke arah lapangan mencari pak kebun yang biasa tinggal di dalam sekolah, tujuannya adalah meminjam payung. Namun laki-laki itu tak tampak batang hidungnya, yang dilihatnya malahan lima siswa bermain basket dalam hujan. Padahal waktu ekskul basket telah berakhir. Ryan menyadari ada sepasang mata indah yang sedang mengamatinya dari jauh. Ia pun mengakhiri permainannya. Cowok itu berjalan menghampiri si gadis kepang dua dalam kondisi tubuh basah kuyub sehingga bentuk tubuhnya tercetak dengan sempurna.


“Hai Maya. Belum pulang?”


“Mau pinjam payung tapi pak kebun gak ada,”sahutnya datar.


“Yuk aku anterin aj! Sekalian aku pulang ke rumah,”ajak Ryan sambil mengibaskan rambutnya yang basah.


“Gak ah..Terima kasih.”


“Terserah deh,”sahut Ryan sambil mengambil baju ganti ke arah ruang ganti.


Ryan menggendong tas ranselnya dengan rambut yang masih basah ke pelataran parkir mobil. Dibukanya pintu mobil dan dilemparkannya tas ransel ke jok belakang seperti biasanya.


“Siang,Pak. Dadaag…”sapanya pada satpam sekolah yang membalasnya dengan tertawa.


Cowok keren itu keluar gerbang dan membelok ke kiri, dilihatnya Maya masih menunggu taksi online dengan baju yang sedikit basah karena hujan telah mereda. Ryan memarkirkan mobilnya di luar sekolah dan menguncinya. Ia ingin mengejar gadis itu dan menawarkan tumpangannya. Tiba-tiba dari arah depan sebuah angkot melaju dengan kencang dan hampir menyerempet Maya. Ryan berlari secepat kilat menyelamatkan tubuh gadis itu.


“Hupp….”


Maya jatuh tepat di atas tubuh Ryan yang menggelinding ke pinggir jalan raya. Gadis itu pun selamat dari kecelakaan. Kini tubuh Maya menindih tubuh Ryan yang tergeletak tepat di atas tanah berumput di samping jalan raya.


“Maaf…”


Wajah gadis itu memerah karena malu tubuhnya bersentuhan dengan tubuh cowok. Gadis itu bangkit berdiri dan mengambil tas ranselnya lalu membalikkan badan.


“Eits…tunggu! Aku antar pulang.”


“Iya terima kasih udah nolongin aku. Aku bisa balik sendiri kok.”


Ryan menyeret tangan gadis itu dengan paksa dan menggendongnya ke arah mobil.


“Lepasin! Lepasin!”


Beberapa siswa yang masih tersisa karena menunggu kendaraan umum hanya tertawa dibuatnya, tak kurang pula yang memandang mereka dengan wajah sirik.

__ADS_1


__ADS_2