
Malam yang dingin dan gelap telah berganti, langit kemerahan di ufuk timur saat mentari beranjak dari peraduannya, dan ayam jantan mulai berkokok. Ryan menggandeng tangan Maya untuk mencari daerah yang bisa menangkal sinyal wifi lebih kuat.
“Kita tidak bisa memesan taksi kalau begini terus,”ujar cowok tampan itu sambil memegang ponselnya.
“Iya..Rumahnya masih jarang-jarang. Semua masih dipenuhi pepohonan lebat,”sahut Maya sambil merapatkan jaket yang dikenakannya.
Matanya tertuju pada kaos yang dikenakan Ryan, robek di bagian ujungnya.
Gadis itu melepas jaket yang dikenakannya dan disodorkan untuk cowok itu.
“Pakailah ini untukmu.”
Ryan menoleh dan mengesampingkan ponselnya,”Nanti kamu kedinginan.”
“Pakaianku telah kering, lebih baik kamu yang pakai karena kaosmu sudah berlubang,”ujar Maya setengah memaksa.
Akhirnya Ryan mengenakan jaket itu karena tubuhnya mulai menggigil, giginya gemeretak , mungkin ia mulai masuk angin.
“Udah dapat sinyalnya? Ponselku juga sama. Lalu bagaimana cara kita kembali ke rumahmu?”
Gadis itu menebarkan pandangan ke sekelilingnya, bola matanya kembali bersinar setelah dilihatnya dari kejauhan deretan pertokoan terhampar di kanan kiri jalan.
“Lihatlah di sana!”seru gadis itu sambil menunjukkan tangannya ke arah selatan.
Ryan menjulurkan lehernya mengikuti arah tangan gadis itu, lalu tersenyum.
“Kalau begitu kita ke sana. Agak siangan pasti ada angkot atau bis.”
Keduanya berjalan ke arah selatan sekitar 700 meter jauhnya, lutut yang lecet tidak menyurutkan niatnya untuk menyelamatkan diri. Benar juga di daerah pertokoan terdapat sebuah pasar tradisional di dalamnya, tak berapa lama kemudian sebuah mobil bak terbuka menurunkan beberapa sayur dalam kemasan plastik ukuran besar dan menjatuhkannya di atas aspal jalanan. Dua orang laki-laki muncul dari dalam dan mengangkatnya. Mereka menengok keadaan di dalam pasar yang ternyata sudah diisi dengan beberapa orang yang tengah menyiapkan lapak dagangannya. Maya mengajak Ryan masuk ke dalamnya, lantai pasar terlihat sedikit lembab terutama di bagian lapak ikan dan daging, sehingga menyeruak bau amis dan darah melalui saluran kecil di bawahnya yang berisi air bekas cucian sehari sebelumnya.
“Yuk kita keluar, baunya membuatku ingin muntah,”seru Ryan sambil memencet hidungnya dengan ibu jari dan telunjuknya.
Gadis itu tertawa sambil menarik tangan Ryan keluar pasar.
“Coba kamu cek sinyal,”ujar Maya sambil memeriksa ponselnya.
“Hore…Sekarang kita bisa pesan taksi untuk pulang ke rumah,”seru Ryan sambil tertawa gembira.
__ADS_1
“Coba aku cek berapa taripnya,”kata gadis itu sambil merapatkan diri di dekat Ryan.
Bola mata Maya terbelalak ketika dilihatnya layar ponsel cowok itu memperlihatkan nominal mendekati 500 ribu.
“Whoah….pemborosan banget,”seru Maya sambil terbelalak.
“Gak apalah. Yang penting kita cepat sampai,”sahut Ryan sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam jaket.
“Tapi…Bukankah kamu bisa terbang?”ujar Maya sambil memiringkan kepala.
“Tapi itu melelahkan,May. Dan kamu lihat sekitar kita mulai banyak orang. Aku tidak mau menjadi pusat pembicaraan mereka dan besok wajah kita terpampang di media massa.”
Maya tertawa dan menutupi mulutnya dengan tangan.
“Sungguh! Ini bukan lelucon. Papa pasti marah besar karena perusahaannya bakal ikut terekspos sebagai pabrik susu dengan pemilik seorang vampire.”
“Menurutmu ada pengaruhnya terhadap penjualan susu,Ryan?”tanya Maya dengan hati-hati.
“Takutnya penjualan akan turun drastis dan akan merugi. Kasian papa kalau itu bakal terjadi,”sahut Ryan.
“Baiklah kalau begitu tunggu taksi kita datang aja,”ucap Maya sambil bersidekap menatap jalan raya di depannya.
Ryan mengamati sekelilingnya yang berupa jalan melingkar dengan kanan kiri jurang. Cowok itu memberanikan diri untuk bertanya pada sang pengemudi,”Maaf,Pak. Bukannya jalur Batang ke Jogja sudah dilalui jalan tol? Mengapa kita harus melalui jalanan melingkar seperti ini.
Pengemudi itu sesaat terdiam, kemudian membuka mulut. Sungguh irit kata-kata sehingga membuatnya nampak misterius.
“Kita kan melewati alas roban,Den.”
“Mengapa tidak lewat tol? Bukannya lebih cepat. Saya pikir ini bukan jalan ke arah Jogja deh. Mau bapak ini sebenarnya apaan?”tanya Maya dengan suara meninggi.
Sang pengemudi tampak cemberut, ia mulai marah karena merasa terlalu banyak diatur.
“Saya pengemudinya! Kalian diam saja di tempat . Tidur aja di mobil!”sahutnya dengan nada meninggi.
“Pak, jangan kasar gitu dong dengan perempuan. Kami kan sudah bayar melalui aplikasi,”bela Ryan sambil memajukan letak duduknya untuk mengamati tanda pengenal lain yang berada di atas dashboard mobil.
Lima belas menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah hutan.
__ADS_1
“Maksud bapak apa? Kami diturunkan di depan hutan?”ujar Maya sedikit membentak.
Ryan mengamati jalan di sekitarnya yang masih sepi, alas roban saat ini sudah jarang dilalui mobil saat dini hari seperti itu karena sudah banyak alternatif jalan lain yang lebih aman.
“Rencana bapak apa? Menurunkan penumpang di tengah hutan,”tanya Ryan dengan nada tinggi.
Supir itu turun dari mobil dengan menyalakan dua lampu sign, lalu membuka pintu bagian penumpang dimana sepasang kekasih itu duduk. Keduanya memperhatikan supir itu dengan sejuta tanda tanya.
“Serahkan dompet kalian!”bentaknya sambil mengeluarkan sebuah pisau kecil yang ujungnya sangat runcing dari saku kemejanya.
Maya mengangkat kedua tangannya ke atas dan tiba-tiba kakinya menendang pengemudi itu hingga terpental ke atas aspal.
“Kamu berani benar,May!”seru Ryan sambil menarik tangan Maya untuk keluar dari pintu lainnya.
Maya meringis menahan sakit karena kaki yang tengah terluka digunakan untuk menendang.
Ryan bergerak cepat untuk memotret sang pengemudi yang terkapar di dekat bagian belakang mobil sehingga bagian nomor platnya terlihat dengan jelas.
“Kamu mau bikin pelaporan?”tanya Maya dengan suara lirih.
“Iyalah. Ini sudah tindak criminal!”sambil menarik tangan gadis itu dan berlari.
Sang sopir beranjak bangun sambil mengacung-acungkan pisaunya,”Heiii jangan kabur! Awas kalian!”
Ryan menjauh agar memiliki kesempatan untuk terbang hingga mencapai rumahnya di Jogja.
Ia mendekap gadis itu erat ke dalam dadanya, Maya ketakutan untuk melihat ke bawah yang berupa jurang-jurang menganga.
“Pejamkan mata kalau kau takut!”seru cowok itu sambil melesat tinggi.
Maya memejamkan mata, angin berdesir di sekeliling tubuhnya, dingin dan membuat kepalanya terasa sangat ringan, telinga pun berdenging seperti ketika pesawat lepas landas.
“Coba kau buka mata. Bagus banget pemandangan di bawah sana,”ujar Ryan sambil tertawa.
Maya membuka matanya pelan-pelan, tangannya mencengkeram erat kedua pinggang Ryan.
“Jangan mencubit gitu dong. Aku malah kegelian. Takut jatuh!”teriak Ryan sambil tertawa.
__ADS_1
“Benar juga bagus banget di bawah sana. Tapi aku ngeri dan pusing. Benarkah vampire bisa terbang setinggi ini?”tanya Maya dengan wajah takjub.
Kembali gerombolan burung camar lewat di hadapan mereka, cowok itu pun berseru dengan lantang,”Lindungi matamu,May. Peluk badanku erat-erat. Aku mau menukik menghindari mereka.”