Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 144: Lebaran Pertama di Rumah Ryan


__ADS_3

Maya kembali terbangun dan menyingkirkan selimutnya lalu berjalan ke arah meja belajar untuk mengambil ponselnya. Diraihnnya ponsel dari atas meja, namun sayang dering telpon itu berhenti.


“Nomor telpon Ryan? Jangan-jangan…”


Jantung gadis itu berdebar-debar, ditekannya nomor sang kekasih untuk mengetahui berita apa yang hendak disampaikannya.


“Driing…Driing…”


Tak ada jawaban dari seberang sana, perasaaan gadis itu makin cemas, sehingga sulit untuk memejamkan mata. Maya menutup telinganya dengan bantal agar lebih mudah tertidur karena detik jarum jam masih mengganggunya dan suaranya makin terdengar jelas di malam yang sunyi itu. Akhirnya gadis itu pun terlelap.


Pagi harinya, Ryan sang kekasih menghubunginya, Maya menarik napas lega, cowok itu sampai di rumah dengan selamat. Ia hanya berpesan untuk membawa pakaian terbaru untuk berlebaran di rumah papa.


“Bereslah,Ryan. Tapi mengapa harus telpon malam-malam? Aku pikir kamu kena begal,”ujar Maya di telepon.


Ryan terkekeh , “Maafin aku,May. Bukan maksud membuatmu cemas. Tapi kau tau sendiri aku sering lupa kalau harus menundanya esok pagi.”


“Ooo..”


Ryan tidak tahu betapa Maya sangat cemas memikirkannya malam itu. Antara sedih, cemas, dan takut menjadi satu. Tapi kini ia boleh bernapas lega dan mengucap syukur.


Siang itu di bawah tangga kembali terdengar suara seperti benda keras yang terjatuh.


“Braak…”


Maya buru-buru berlari ke lantai bawah dan berteriak memanggil nama art di kos itu. Namun tidak ada jawaban, lalu gadis itu pergi ke belakang mencari tukang kebun. Lagi-lagi Maya tidak menemukannya, dan ia baru tersadar kalau pak kebun sudah mudik. Ia berniat membangunkan Ibu Laksmi tapi kasihan melihat kondisinya yang lemah. Sudut matanya ditebarkan ke seluruh ruangan di lantai satu, kosong, sepi, dan bersih, semua tumpukan benda karya mahasiswa Teknik pun telah dimasukkan dengan rapi oleh sang art ke dalam plastik pembungkus ukuran besar.


“Breem…breem…”


Terdengar suara mobil diparkir di depan rumah, Maya berlari mendekati jendela dan menyibakkan tirai gorden.


“Ceklek…”

__ADS_1


Gadis itu membuka pintu, Ryan pun turun dari taksi .


“Gak bawa koper?”


“Gaklah. Di rumah juga banyak pakaian,”sahutnya sambil tertawa.


“Bentar ya. Aku ambil koper kecil dulu,”ujar Maya sambil membalikkan tubuh.


“Eits…Kok sepi amat? Ibu kos dan art ada kan? Siapa kunci pintu nanti?”


“Ada di kamar kali,”sahut gadis itu sambil berlari ke lantai dua.


Sesampainya di lantai satu, Maya mencari art yang ternyata di dapur sedang merapikan kardus-kardus di atas lemari dapur.


“Mbak..Maya pamit pulang dulu,”katanya sambil melambaikan tangan.


“Hati-hati di jalan Non,”sahut sang art sambil menyeka keringat di wajahnya dengan ujung lendan dasternya.


Art buru-buru mengikuti Maya dan mengetuk pintu kamar Bu Laksmi.


“Tok…Tok…Tok…Bu…Non Maya mau pamit pulang dulu ke Jakarta,”seru sang art sambil sesekali mengintip dari celah kaca jendela.


“Iya..Bilang aja hati-hati di jalan. Kaki ibu lagi sakit gak bisa keluar kamar,”sahutnya dari balik pintu.


“Maya pulang dulu ya,Bu. Sampai ketemu lagi,”seru Maya sambil berjalan ke arah pintu keluar.


Keduanya duduk di mobil menuju bandara yang akan membawa mereka kembali ke Jakarta dalam waktu 1 jam 10 menit. Jalanan yang lancar karena sebagian besar orang telah mudik, membuat mereka cepat sampai bandara. Sambil menunggu boarding, Maya memainkan sebuah game online. Ryan membeli oleh-oleh cinderamata yang khas untuk dibagikan kepada semua art invalan sang papa.


“Cepetan Ryan! Sebentar lagi kita boarding,”teriak Maya yang berjalan menjemput Ryan yang lama di outlet yang menjual barang kerajinan.


Keduanya duduk di dalam kabin, dan menikmati hidangan dari maskapai sambil menonton film. Tiba-tiba pesawat naik turun seperti menghentak-hentak, banyak sendok dan garpu penumpang jatuh berdenting di atas piring. Bola mata Maya terbelalak, kedua alisnya menaik.

__ADS_1


“Ryan…Gawat ada turbulence,”seru gadis itu sambil mencengkeram erat tangan sang kekasih.


“Berdoa aja May,”sahut Ryan sambil menjatuhkan garpunya di atas piring.


“Kalau pesawat jatuh. Kita gak bisa ikut lebaran besok,”imbuh Maya dengan wajah ketakutan.


“Tenang saja.Aku akan bawa kamu terbang sehingga kita bebas dari kecelakaan pesawat,”bisik Ryan di telinga Maya.


“Memang bisa? Serius?”tanya Maya sambil menatap cowok itu dalam-dalam.


Ryan menganggukkan kepala sambil tersenyum,”Sangat bisa.”


Maya kembali tersenyum, bola matanya yang jernih berbinar-binar.


Rasa berdebar karena jantung berdebar lebih keras dari biasanya selama 20 menit akhirnya usai sudah. Pesawat kembali terbang dengan mulus hingga mendarat di bandara Soeta.


“Pufttt…Akhirnya kita sampai juga dengan selamat,”seru Maya sambil menggenggam tangan kekar milik Ryan.


Ryan menggandeng tangan gadis itu ketika menuruni tangga pesawat. Mereka melanjutkan perjalanan ke rumah dengan taksi. Jalanan kota yang lengang mempercepat mereka sampai ke rumah papa. Kantor sudah libur sehingga papa sudah siap menyambutnya di rumah.


Semua art di rumah papa sudah mudik dan digantikan tugasnya oleh para art invalan. Maya dan Ryan telah sampai di depan pintu dan mengetuknya. Seorang art yang belum dikenalnya membukakan pintu dan mempersilakan mereka masuk. Papa tampak di ruang tengah sambil menonton televisi.


“Papa…”seru Ryan sambil memeluk sang papa.


“Tadi kami ada turbulence,Om.”


“Oh ya?”tanya Om Robert dengan wajah kaget.


“Bener,Pa. tapi yang penting kami semua selamat,”papar Ryan.


Papa menganggukkan kepala sambil tersenyum, kini mereka duduk bertiga sebelum Maya dan Ryan membersihkan diri sehabis bepergian.

__ADS_1


“Besok lebaran pertama di rumah Ryan,”gumam Maya dalam hati.


__ADS_2