Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 147: Misteri Dapur Keluarga Sanders


__ADS_3

Gadis itu membelalakkan mata ketika dilihatnya sepuluh art di rumah Om Robert itu membawa semua piring kotor ke dapur. Mereka tampak berbagi tugas, ada lima art yang membawa piring dan gelas kotor dari halaman ke dalam dapur, dan sisanya kebagian tugas mencuci dan mengeringkan semua peralatan makan sebelum dimasukkan kembali ke dalam lemari dapur. Di tengan dapur basah, terdapat sebuah meja berbentuk persegi panjang terbuat dari marmer warna hitam yang elegan dengan urat putih, di atasnya penuh dengan piring bekas makan yang kemerahan. Ada beberapa ekor belatung bergerak di atas piring-piring itu.


“Hoeks…”


Gadis itu merasa mual dan ingin muntah seketika, ia menutupi mulutnya dengan kedua tangannya erat-erat, wajahnya seketika memerah.


“Mungkinkah mereka makan daging mentah?”gumam Aya sambil mengintip dari balik jendela dapur.


“Daging itu mulai membusuk pula. Ciih…”


Gadis itu merasa sangajt jijik melihat pemandangan di dapur, ada perasaan ngeri bercampur penasaran yang membuatnya ingin mengetahui misteri di balik semuanya ini.


Mereka tampak riang gembira membersihkan semua peralatan dapur tanpa banyak cakap. Anehnya mereka bekerja laksana sebuah mesin, rapi, cepat, dan kaku. Maya celingukan untuk melihat kalau-kalau Om Robert atau Ryan akan memergokinya. Gadis itu makin penasaran ketika salah seorang art menuang sebuah minuman dari dalam kulkas ke dalam gelas mereka, dan air yang keluar juga berwarna merah.

__ADS_1


“Darah? Atau sirup?”batin gadis itu dengan jantung yang berdegup makin kencang.


Maya makin penasaran dan mengambil sebuah balok kayu untuk berjinjit. Jendela itu lumayan tinggi, dan pintu dapur dalam keadaan tertutup.


“Braak…”


Balok kayu terbalik, gadis itu nyaris jatuh terjerembab, untunglah Maya dengan gesit melompat dan berlari mencari tempat berlindung. Seorang art membuka pintu dan keluar. Maya mengamatinya dari kejauhan, ia bersembunyi di balik dinding yang menuju halaman belakang. Sebuah ruangan yang sangat gelap dan menyeramkan, serta berbau sampah. Maya menengok ke belakang, tumpukan sampah yang sangat tinggi.


“Waduh…Pasti sebentar lagi art itu menuju kemari. Ia akan membuang sampah di sini. Matilah aku,”teriak Maya dalam hati.


“Kreek..”


Tiba-tiba terdengar suara dahan di atasnya diinjak, Maya membalikkan tubuh ke belakang, dilihatnya sepasang mata mengintainya dalam kegelapan. Gadis itu berkeringat dingin, jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu. Ia hendak berteriak namun di tahannya. Hidupnya saat itu bagaikan keluar dari mulut singa, masuk ke mulut buaya. Dipandangnya ke bawah, sepuluh art itu masih berpencar dan sibuk mencari si pemakai balok kayu.

__ADS_1


Maya sudah pasrah bila malam itu ia harus mati.


“Bodohnya aku!Kenapa gak langsung tertidur setelah pesta usai?”gumam Maya sambil menyesali dirinya sendiri.


Air matanya mulai membasahi kedua pipinya, ia hanya bisa berdoa dan berharap Allah akan memperpanjang usianya.


Belum sempat Maya berteriak, orang di belakangnya telah membekap mulutnya erat-erat dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Penyakit darah rendahnya kembali kambuh, kepalanya pening dan perutnya mual,pandangannya pun gelap dan berbintang-bintang. Ia hanya bisa menatap seorang cowok tampan rupawan yang mengangkat tubuhnya ke angkasa dan membawanya terbang sehingga ia dapat melihat langit malam lebih dekat.


“May…Ini aku,Ryan.”


“Aku hampir mati dibuatnya,”sahut Maya menahan isak tangis.


“Lain kali gak perlu kepo dengan kehidupan art di rumah ini. Mereka kerja tanpa pernah minta berlibur seperti art lainnya saat lebaran,”papar Ryan.

__ADS_1


“Terima kasih Ryan,”ucap gadis itu sambil memasuki kamarnya dan menutupnya kembali.


__ADS_2