
Keluar dari mulut gang, Don yang bertubuh tambun segera membonceng sebuah ojek yang kebetulan mangkal di dekat sana.
“Eh…Asal naik aja! Saya udah dipesan orang,Bang!”seru pengemudi motor itu sambil membalikkan badan.
Ojek motor, seorang laki-laki sudah berumur dan bertubuh kurus itu mengenakan jaket khusus seorang ojek online, merasa harus bekerja professional sehingga ia tak serta merta menerima orderan di luar aplikasi.
“Gue bayar tiga kali lipat,Bang!”bentak Don yang nampak terburu-buru.
“Gak bisa begitu,Bang. Coba pesan lagi pakai aplikasi,”pinta ojek motor itu dengan sopan.
“Ah…Kebanyakan aturan! Sini motornya aja buat gue!”seru Don sambil mendorong ojek renta itu hingga jatuh ke aspal jalanan.
Kopernya yang lumayan besar ia letakkan di depan, dijepit di antara dua kakinya. Don dalam keadaan terjepit dan tak ada waktu lagi untuk mengikat kopernya. Nampaknya ukuran tubuh Don yang besar sanggup menjadi penyangga yang baik bagi sang koper untuk tetap di tempatnya selama mengebut di jalan raya.
“Eh…Eh..Kurang ajar! Maling! Maling!”
Serempak orang-orang pun berduyun-duyun datang ke lokasi dan meneriaki Don yang melaju kencang dengan motornya. Sebagian di antara mereka berusaha menolong pak tua,si tukang ojek ke pinggir jalan dan mendudukkannya di sana.
“Ampun…Apes nasib saya hari ini. Mana itu motor pinjaman. Seharian saya belum dapat uang,”kata pak tua sambil menangis tersedu-sedu.
Tak lama kemudian,datanglah penumpang ojek yang keluar dari halaman rumah,”Lho..Ojek motor saya mana?”
Seorang anak muda, laki-laki berusia sekitar dua puluh tahun dengan pakaian casual dan bersepatu kets sambil menggendong tas ranselnya berdiri kebingungan melihat tukang ojek motor berjaket tanpa motor yang seharusnya akan mengantarkannya ke kampus.
“Motor saya dirampok,Nak.”
“Kalau begitu,bapak lapor polisi saja. Saya buru-buru, mau pesan ojek lain saja.”
“Yuk..Saya antarin ke polres terdekat,”kata seorang ojek lain yang turut bersimpati.
Pak tua pun membonceng rekannya menuju ke kantor polisi terdekat untuk melaporkan kejadian yang baru saja dialaminya.
Di stasiun, Don menelpon temannya untuk mengamankan sepeda motor yang baru dibawanya kabur. Temannya adalah seorang penadah sepeda motor curian.
“Berapa lo minta?”
“Entahlah terserah lo! Gue cuma butuh pakai sebenernya. Tapi udahlah,dosa gue terlanjur banyak.”
Rekannya,seorang laki-laki dengan kepala plontos dan tubuh dipenuhi tattoo, tertawa terbahak-bahak.
“Kalau begitu gratisin aja buat gue,”sahutnya sambil memilin kumisnya yang lebat.
“Enak aja!”seru Don sambil memegang kopernya erat-erat dan menjepitnya di antara dua kakinya.
__ADS_1
“Satu juta dah!”
“Gila lo! Terlalu murah.Belum resiko kalau gue tertangkap.”
“Gue kan harus poles cat lagi. Ganti plat nomer lagi sebelum gue jual,Bro!”
“Yaudah dua juta aja!”
“Satu setengah juta!”
“Okelah.Sini cepet!”
“Memang lo mau kemana,Don? Memang lo gak kerja? Bukan lebaran kok mau pulkam?”
“Sotoy lo!Gue cuma jalan-jalan nemuin calon bini gue,”sahut Don ngasal.
“Hati-hati di jalan,Don! Kabarin gue kalau udah sampai.”
Don hanya bisa nyengir dan membalikkan tubuh ke arah pintu masuk stasiun untuk memesan tiket.
“Cari tiket ke Merak. Masih ada?”
“Sebentar saya cek. Untuk berapa orang?”
Petugas mengecek pada melalui komputernya, Don tampak gelisah, kepalanya sebentar-sebentar menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mengamati kalau-kalau ada sepasang mata yang mengamatinya.
“Ada pak. Dua puluh lima menit lagi. Tapi bapak harus turun di Rangkasbitung dulu. Baru dari sana menuju Merak.”
“Aduh..Ribet amat. Kenapa gak sekali sampai?”pikir Don.
Laki-laki yang memiliki kampung halaman di Pasuruan ,Jawa Timur itu enggan pulkam karena ia tahu polisi pasti akan mencarinya di rumah orangtua. Karena itu ia berniat kabur ke Lampung, ke rumah salah seorang teman wanitanya yang telah lama menjanda. Don pikir pasti tak ada orang yang curiga karena ia belum pernah terlalu dekat dengan Karti, nama janda itu.
“Jadi beli tiket gak,Pak?” tanya petugas di bagian tiket.
“Bentar saya lagi mikir,”sahut Don yang gusar.
Laki-laki bertubuh tambun dan menutupi dirinya dengan jaket kulit dan topi serta kacamata hitam itu duduk dan berpikir, kemudian diraihnya ponsel dari saku celana jeans hitamnya.
“Gue baru inget ada Om Benjol. Barangkali saja ia mau nolongin gue beli tiket pesawat,”gumam Don sambil merebahkan punggungnya ke kursi di ruang tunggu stasiun.
Benjol, seorang laki-laki berumur, seorang pimpinan di sebuah proyek yang sering menerima uang panas. Uang itu sering ia gunakan untuk cuci uang di tempat-tempat hiburan malam, termasuk bersenang-senang dengan para wanita muda di malam hari dan nyawer. Don sebagai office boy seringkali kecipratan uang itu, jumlahnya lumayan bisa lima ratus ribu ataupun satu juta rupiah dalam semalam. Karena itu ia seringkali menunggu kedatangan Om Benjol dengan menawarkan para gadis pemandu lagu yang baru, masih segar dan cantik sebagai peneman minum atau sekedar menyanyi di dalam ruangan karaoke.
“Driing…Driing…”
__ADS_1
Dering telpon masuk ke ponsel milik Om Benjol yang sedang bersiap meeting,diangkatnya ponsel yang sedari tadi terdiam karena baru dinyalakan untuk mengecek kehadiran semua kolega bisnisnya .
“Halo…Apa kabar,Don?”
“Halo,Om. Don lagi kena musibah. Nenek Don meninggal dunia. Don mau ke Lampung.”
Don berakting pura-pura sedih, suaranya dibuat seakan-akan ia sedang menangis terisak-isak.
“Waduh,Don. Gue sibuk. Mau meeting nih. Tar gue suruh sekretaris aja beliin tiket buat lu. Kirim aja KTP lu.”
“Oh baiklah,Boss. Terima kasih banyak!”seru Don sambil melonjak kegirangan.
“Sama-sama. Oh ya…Sekalian saya kirim uang belasungkawa dua juta rupiah.”
“Dua juta rupiah? Aji mumpung! Hore….”seru Don dalam hati.
Laki-laki tambun itu benar-benar laksana orang kejatuhan durian, mendapat rejeki berlipat ganda di atas kejahatannya. Rupanya teguran Tuhan belum bekerja dalam diri laki-laki licik ini.
Orang-orang di stasiun tersentak dan memandang sosok Don dengan pandangan menyelidik.
Don tak menghiraukan mereka, yang terpenting ia dapat melarikan diri secepatnya ke luar pulau.
Diseretnya kopernya dengan terburu-buru, dan ia baru tersadar sepeda motornya sudah ia jual ke seorang penadah.
“Aduh…”seru Don sambil menepuk jidatnya sendiri.
Lalu laki-laki itu merespon seorang pengemudi taksi online yang meawarkan jasanya.
“Mau kemana,Bang?”sapanya dengan ramah dan membuka pintu.
“Ke bandara. Cepat ya,Bang!”
“Tiga ratus ribu ya!”
Don tahu harga yang dibuka pengemudi taksi ini kemahalan, namun ia tak berniat menawarnya. Dalam pikirannya hanya menari-nari sebuah rencana untuk melarikan diri dengan cara tercepat tanpa diketahui polisi.
“Okelah,Bang. Cepetan dikit ya!”
“Siap! Asal gak macet aja di jalanan,”sahut pengemudi itu sambil membetulkan letak spionnya.
“Cari jalan tikus saja,Bang. Yang penting cepat,”pinta Don sambil meletakkan kopernya rebah di bagian bawah kursi sebelahnya agar tak oleng ke depan dan menimpa kursi pengemudi.
Taksi online pun melaju dengan kecepatan tinggi menembus keramaian kota. Don bisa bernapas lega bisa melarikan diri. Di pelupuk matanya terbayang-bayang Desa Sukapura di Lampung, yang ditumbuhi banyak hutan pinus, tempat persembunyian yang sempurna menurut laki-laki tambun ini.
__ADS_1