Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 26 : Di Rumah Ryan


__ADS_3

Sore itu Ryan,cowok ganteng paripurna telah berdiri di depan pagar rumah Maya. Tubuhnya yang tinggi dibalut t shirt warna salem dan vest warna biru tua yang senada dengan warna jeans yang dipakainya.


Tante Wulan membukakan pagar sambil tersenyum ramah, “Ayo masuk,Nak.Maya sebentar lagi keluar.”


“Oh terima kasih,Tan. Saya cuma mau jemput ke rumah untuk belajar bersama.”


Ryan mengambil tempat duduk tepat di depan Tante Wulan yang sore itu tampak anggun mengenakan rok warna kuning dengan bunga-bunga putih.


“Hai Ryan…Maaf menunggu lama,”sapa Maya yang tiba-tiba muncul dari dalam.


Mama tersenyum memandang putrinya. Ryan nampak mengamati sosok gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, Maya tampak cantik meskipun wajahnya nyaris tanpa polesan, blusnya berwarna krem dipadukan dengan kulot warna coklat tua. Rambutnya nampak diurai tidak lagi berkepang dua seperti biasanya, hitam,lebat dan sangat panjang.


Keduanya pamit dan masuk mobil Ryan. Cowok itu memasang seat belt dan mengemudikannya dengan hati-hati karena jalanan di sana nyaris tanpa lampu.


“Rambut kamu diikat aja,May. Serem kepanjangan,”kata cowok itu sambil memberikan sebuah karet rambut warna hitam yang berada di mobil.


Ryan telah membelinya beberapa hari lalu karena tahu suatu saat pasti Maya membutuhkannya.


“Takut ya? Mirip kuntilanak gitu?”ledek Maya sambil mengangkat rambutnya ke atas dan mengikatnya.


“Nah…Begitu baru seger dan cantik,May.”


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya, sampailah mereka ke sebuah rumah megah yang sangat luas di atas bukit.


“Rumahmu kok sepi banget. Jauh dari tetangga. Gak takut?”tanya Maya sambil melipat kedua lengannya seakan memeluk tubuhnya yang tiba-tiba kedinginan.


Bulu tengkuknya seketika merinding menatap rumah besar berlantai tiga yang dominan dengan warna putih dan pintu gerbang putih yang sangat tinggi. Gerbang membuka secara otomatis, tak tampak satpam ada di belakang pagar, namun ada pos satpam di sudut halaman bagian depan yang selalu menyala.


Ryan memasukkan mobil di garasi rumahnya yang besar dengan beberapa mobil terparkir di sana.


“Ayo…Kok seperti takut-takut gitu sih?”


“Iya…Abisnya sepi banget. Rumah segede ini dihuni berapa orang?”tanya Maya sambil tengadah menatap wajah Ryan yang memang sangat jangkung.


“Sendirian. Tapi ada banyak art di belakang.”

__ADS_1


“Lalu papa mamamu dimana?”


“Papa ada di rumah yang lain dekat peternakan. Mama udah lama meninggal.”


Maya mengangguk-angguk sambil memasuki rumah cowok itu. Ada air mancur di depan rumah yang memiliki dua buah pilar raksasa. Lantainya terbuat dari marmer yang sangat dingin ketika diinjak. Seorang pelayan berseragam biru dengan celemek putih membukakan pintu tanpa menyapanya, bibirnya segaris dan nyaris tanpa senyum.


“Aneh nyaris tanpa ekspresi,”batin Maya sambil mengikuti Ryan ke ruang tengah.


“Masih kedinginan? Nanti aku ambilkan sweater di atas.Kamu pakai aja sandal rumah yang itu biar kakimu gak dingin.”


Maya menunggu Ryan yang naik ke lantai atas dengan menggunakan tangga mewah bak istana dengan warna dominan putih dan keemasan. Cukup lama cowok itu berada di atas,mungkin sedang mandi sehingga gadis itu memanfaatkannya dengan melihat-lihat sekeliling rumah. Setelah ruang tamu yang sangat luas ada ruangan lain dengan sofa keemasan warna yang sangat besar menghadap televisi. Ada beberapa foto yang hampir serupa mungkin keluarga dari satu garis keturunan.


“Duh..Kenapa tiba-tiba tengkuk jadi merinding. Itu fotonya kayak dari jaman abad pertengahan dan seakan-akan hidup,”gumam Maya sambil terus berjalan ke meja makan. Ada sebuah kulkas besar empat pintu, gadis itu penasaran dan membukanya. Aneka buah-buahan ada di situ dan matanya tertarik pada barisan susu RDT (Ready To Drink) yang berjejer rapi di rak bawah tempat penyimpanan telur. Susu sapi merk “Happy Milk” dengan rasa buah naga, semangka, strawberry dan tomat.


“Mengapa rasa buahnya aneh-aneh ya?Aku belum pernah liat di supermarket,”batin Maya sambil menutup kulkas.


Sebuah tangan menepuk pundaknya dan Maya menjerit kaget.


“Ssttt,”kata Ryan sambil meletakkan telunjuknya di depan mulut.


“Ini pakailah,”kata Ryan sambil menyodorkan sebuah sweater yang masih terbungkus dalam plastik.


Maya menerimanya dengan tangan gemetar, lalu memakainya di luar pakaiannya.


“Kamu ketakutan,May?”


Maya mengangguk pelan, lalu berjalan mengikuti Ryan ke ruangan belajar yang terletak di belakang meja makan. Ruangan seluas 6 x 8 meter itu terdiri dari meja panjang dan enam kursi , ada sebuah komputer PC lengkap dengan printernya, ada juga dua buah laptop. Dua buah pendingin udara ada di kanan kiri ruangan, dan sebuah jendela besar tertutup oleh vertical blind warna putih.


“Kamu kepikiran setelah liat susu rasa buah,May?”tanya cowok itu seakan mengetahui isi pikiran Maya.


Maya mengangguk pelan sambil membuka buku Kimia untuk mengajari Ryan malam itu.


“Itu susu rasa buah kok. Request sama papa. Memang belum dilempar ke pasaran. Jadi Ryan yang jadi kelinci percobaan,”paparnya panjang lebar sambil tersenyum.


Maya menghela napas panjang dan berusaha menenangkan diri. Ryan pun berusaha serius dan memahami semua yang disampaikan gadis itu.

__ADS_1


“Kamu kerjakan sendiri coba! Ikutin contoh soalnya dan ikuti aturannya,”saran Maya dengan wajah serius.


Ryan mulai mengerjakan soal-soal yang diberikan Maya dan gadis itu membaca materi lain dalam buku Biologi yang akan mereka pelajari esok pagi.


Malam pun makin hening, udara makin dingin, hanya terdengar suara jangkrik dari halaman luar. Seorang art lebih muda masuk, dia mengenakan seragam yang sama dengan art yang membukakan pintu. Dia tampak tersenyum dan mempersilakan Maya untuk minum dan makan kue-kue yang disajikan lalu pamit pergi.


“Terima kasih,Mbak.”


“Iya,Non.”


Dua jam pun bergulir sudah, dua siswa itu belajar dengan serius dalam satu ruangan tanpa banyak bercanda dan bercakap-cakap. Rupanya kharisma gadis itu dapat mengubah Ryan untuk menuruti perintahnya. Si ganteng yang biasanya menghabiskan malam-malamnya dengan bermain bola basket di halaman rumah, kini mau duduk di belakang meja untuk memahami materi pelajaran dengan tekun. Cinta dapat mengubah segalanya. Hitam jadi putih, demikian pula sebaliknya putih jadi hitam.


“Aku hampir beres nih. Satu soal lagi,”tutur Ryan sambil memperlihatkan kertas HVS yang telah ia tulisi dengan jawaban.


“Bagus dong. Ayo semangat!”seru Maya memberi semangat.


“Nih..Coba kamu periksa,”cowok itu menyodorkan hasil kerjaannya.


Maya memeriksanya dengan teliti, wajahnya serius menatap lembaran kertas di hadapannya.


“Nih..Yang nomor terakhir kamu masih salah. Coba betulin. Rumusnya yang ini.”


Ryan menghapus jawabannya dan mengganti rumusnya.


“Nih..Pasti bener deh,”serunya dengan wajah sumringah.


“Nah,,Ini baru hebat! Ryan ternyata piawai juga,”seru Maya sambil tertawa.


“Kamu lapar gak,May? Yuk aku pesenin makanan.”


“Gak usah. Anterin aku pulang sekarang ya…Udah malam.”


“Tunggu,Mat.Aku ambil kunci mobil di atas.”


Maya pun menunggu di ruangan itu sambil membuka korden sedikit,matanya terpaku pada hamparan gundukan tanah di luar pagar. Ada batu nisan berjejer di sana dengan penerangan yang sedikit.

__ADS_1


“Gak salah rumah mewah tapi di belakangnya tanah kuburan?”


__ADS_2