Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 44 : Saling Mendiamkan


__ADS_3

Sang wali kelas menggiring dua siswanya yang ganteng dan cantik jelita ke ruangan BP. Seketika seluruh mata siswa terpusat pada dua sosok rupawan namun penebar masalah di sekolah.


“Pagi..Pak Tarno apa kabar?”


Bu Trisna dengan wajah sumringah menyambut kedatangannya.


“Pagi juga,Bu. Ini titip anak-anak untuk dibuatkan surat panggilan bagi orang tua mereka.”


Alisha tersentak, bola matanya terbelalak, dan mulutnya menganga.


“Please….Jangan sampai orang tua saya dipanggil,Pak.”


Gadis itu mengatupkan kedua telapak tangannya sambil memohon kepada Pak Tarno dan Bu Trisna, kedua matanya mulai berkaca-kaca, dan bibirnya bergetar.


“Itu sudah aturan sekolah Alisha! Ibu sudah peringatkan kamu berkali-kali.”


“Tapi tolong,Bu. Mereka bakal hajar saya di rumah. Belum tentu juga mereka mau datang kemari.”


Alisha mulai terisak-isak dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


“Sudahlah kalian duduk di sana. Bapak tinggal dulu,”pamit Pak Tarno sambil membetulkan letak ikat pinggangnya.


Sementara itu Ryan hanya terdiam, perutnya sudah berbunyi sedari tadi, dan ia sudah tak peduli dengan surat panggilan untuk sang papa.


“Kalian isi form ini dulu. Ceritakan dengan jujur awal kejadiannya! Kalau sudah, kumpulkan di meja saya.”


Bu Trisna kembali ke mejanya. Alisha bersungut-sungut mengisinya sambil beberapa kali mengelap hidungnya yang berair.


“Lu sih cari gara-gara mulu,Lis!”


Gadis itu melotot sehingga bola matanya yang besar nampak menyeramkan, kakinya menendang kaki meja sehingga tulisan cowok itu menjadi tercoret.


“Alisha! Kenapa sih lu selalu cari gara-gara sama gue!”serunya dengan penuh kemarahan.


Keduanya bertengkar kembali di ruang BP dan nyaris saling memukul, untunglah Bu Trisna kembali datang dan melerai.

__ADS_1


“Kalau kalian begini terus. Bisa jadi kalian semua akan dikeluarkan dari sekolah!”ancamnya sambil melotot.


“Tapi,Bu..Tulisan saya tercoret. Boleh saya pinjam tipp ex?”tanya cowok ganteng itu sambil mendekati meja guru BP.


“Silakan, ambil aja. Kalian ini aneh udah cakep-cakep, anak orang kaya, Tapi isinya cari keributan terus. Bukannya cari prestasi di sekolah.”


Bu Trisna geleng-geleng kepala. Keduanya hanya membisu dan pandangannya terpusat pada selembar kertas putih di hadapan mereka.


Tiga puluh menit berlalu, suasana di luar ruang BP kembali sepi, para siswa telah kembali ke kelas masing-masing. Hanya detak jam dinding yang terdengar di telinga, siang itu cuaca cerah dan udara di luar semakin panas. Kedua remaja itu masih berkutat dengan laporan dan interogasi yang dilontarkan oleh guru BP.


“Sudah selesai diisi? Ini surat panggilan untuk orang tua kalian,”kata Bu Trisna sambil menyodorkan sebuah amplop panjang berwarna putih.


“Saya ikut masuk ke ruang BP besok pagi,Bu?”tanya Ryan sambil memasukkan amplop warna putih itu ke dalam saku celana panjangnya.


“Iya,harus itu,”sahut Bu Trisna dengan antusias.


“Itu artinya besok saya ketinggalan pelajaran lagi,Bu?”


“Kan gak lama,Ryan. Yang penting orang tua kalian datang tepat waktu.”


“Bu…Kalau orang tua saya diwakilkan orang lain. Apakah bisa?”


“Supir atau om saya mungkin,Bu?”


“Kamu ini ada-ada aja. Masalah yang sangat penting berkaitan sama kelakuan kamu, mestinya orang tua bukan diwakilkan!”papar guru BP itu dengan kesal.


Alisha memonyongkan mulutnya, dan berpamitan. Gadis it uterus saja bersungut-sungut hingga memasuki kelas.


Sementara itu Ryan yang merasakan hari itu adalah hari paling sial dalam hidupnya, bergegas menuju kantin sekolah meskipun belum waktunya istirahat. Ia sudah tak peduli lagi akan aturan di sekolah ini. Toh hubungan asmaranya dengan Maya telah kandas, tak ada gunanya bagi cowok ini untuk bertahan di sekolah ini. Meskipun kelak akan dikeluarkan dari sekolah ini, justru Ryan akan sangat bersyukur bisa melupakan kenangannya bersama si gadis kepang dua dan memulai kehidupan baru di sekolah barunya nanti. Disendoknya semangkuk bakso kesayangannya di kantin sekolah yang nampak sepi. Baru berjalan lima suapan, tiba-tiba seseorang dari arah belakang penepuk pundaknya.


“Hebat kau! Seharian belum masuk kelas tapi sudah makan bakso aja.”


Cowok keren itu memalingkan wajahnya yang memerah karena kepedasan kuah bakso, dan terkejut. Ternyata kelakuannya dipergoki salah satu guru olahraga di sekolah ini, Pak Agus guru olahraga paling muda yang biasa membinanya dalam ekstrakurikuler basket,kini telah berdiri di dekatnya. Guru muda yang berwajah hitam manis dengan tinggi 165 cm itu nampak tersenyum.


“Eh..maaf. Mari,Pak. Silakan kalau mau ikutan makan.”

__ADS_1


Guru mud aitu menggelengkan kepalanya dan kembali tersenyum.


“Ayo habiskan makananmu! Bapak gak akan laporin kamu ke guru jaga kok. Tenang aja.”


“Terima kasih,Pak. Sebentar lagi saya kembali ke kelas kok.”


Pak Agus pun berlalu dan menuju ke gudang untuk mengambil bola volley mengajar di kelas 10.


“Huft…”


Ryan menarik napas lega dan menyusuri lorong menuju ke kelasnya yang terletak paling ujung.


“Tok…tok…tok…”


Cowok ganteng itu mengetuk pintu. Tak beberapa lama kemudian, guru matematika membuka pintu dan mempersilakannya masuk.


“Hari ini kuis ya…”


“Alamak….Mati aku,”pekik Ryan dalam hati.


Materi matematika terakhir sama sekali belum pernah ia pelajari, terlebih sejak Maya memintanya menjauh, keinginan belajarnya benar-benar punah. Yang ingin ia lakukan sepanjang hari hanya bermain basket dan meluapkan segala kekesalan yang dialaminya.


Maya melirik dari tempat duduknya, Ryan tahu gadis itu memperhatikannya. Namun tak ada lagi kesempatan untuk bertanya. Ada seraut wajah kegelisahan dalam diri gadis itu yang merasakan prihatin atas semua yang dialami Ryan hari ini. Sepanjang hari hanya menjalani hukuman, ditambah lagi dengan kuis Matematikan,pelajaran yang menjadi momok baginya sejak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini. Maya memejamkan mata sebelum mengerjakan semua soal kuis hari itu, dalam doa yang dipanjatkannya ia selipkan doa pula untuk Ryan agar cowok itu bisa mengerjakan semua soal dengan baik.


Sembilan puluh menit berlalu sudah, kuis dengan materi “Turunan Fungsi Aljabar” terasa begitu mudah untuk gadis itu namun terasa asing dan memusingkan buat Ryan yang melihatnya bagaikan deretan angka dan simbol sangat asing .


“Ya…Anak-anak yang sudah selesai silakan dikumpulkan ke depan kelas. Ada tambahan waktu lima menit bagi yang belum.”


Jantung Ryan berdebar sangat keras, keringat dinginnya mulai menetes dan telapak tangannya terasa dingin. Dari sepuluh soal ia baru selesai mengerjakan sebanyak lima soal, dan waktunya tinggal lima menit. Terpaksa dikerahkannya seluruh kemampuannya sebagai seorang keturunan vampire, matanya menatap ke lembar jawaban milik Maya yang telah siap diserahkan ke meja guru, cowok itu menyalinnya dengan tatapan matanya yang bagaikan scanner.


“Aduh…Untungnya aku punya kesempatan menulis dengan cepat,”gumamnya.


Ryan sangat bersyukur yang penting ia masih mendapat nilai bukan nilai nol besar.


“Teng….teng….teng…..”

__ADS_1


“Yak…Waktu kalian sudah habis. Silakan bagi yang belum dikumpulkan, selesai atau belum, semua harus dikumpulkan.”


Maya melirik Ryan yang maju menyerahkan kertas kuisnya. Sudut matanya dilemparkan ke seluruh ruangan untuk melihat reaksi teman-teman lain, beberapa teman tampak tersenyum, beberapa yang lain tampak cemas dan sedih. Dilihatnya si ganteng tampak tenang meskipun kulitnya tampak memerah karena sepanjang hari kepanasan. Mereka saling bertatapan seakan ada sesuatu yang ingin diungkapkan namun sama-sama gengsi untuk memulai percakapan lebih dulu.


__ADS_2