Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 69 : Eyang Uti Comes Back


__ADS_3

Papa merebahkan tubuh Alisha di jok belakang mobil milik Ryan.


“Mobil papa mana?”


“Tuh di belakang. Papa ikut nungguin Alisha sampai dia siuman dan bisa nyetir sendiri.”


Gadis cantik itu masih terkulai lemas di jok belakang dengan mata tertutup rapat, sebagian rambut menutupi wajahnya. Seragam putihnya tampak sedikit berdebu,terkena tanah ketika terjatuh di pinggiran lapangan basket. Ryan dan papa duduk di jok depan sambil sesekali menengok ke belakang. Tiga puluh menit berlalu, jari jemari lentik milik Alisha mulai bergerak, namun mulut dan matanya masih terkatup rapat, tidur dengan pulas.


“Tuh pa….Alisha mulai sadar.”


“Bangun,Lis!”seru papa dari jok depan.


Gadis itu memicingkan matanya,pelan-pelan dibukanya kelopak matanya yang seakan masih lengket. Matanya menyipit karena silau, Alisha tampak mulai berpegangan untuk duduk sambil bertumpu pada dua tangannya.


“Kok gue di mobil lu,Ryan?”


“Lu abis ngamuk. Terus pingsan.”


“Oh…Ada Om Robert. Maafin Alisha.”


Om Robert tertawa lalu keluar dari mobil, turun, lalu membuka pintu mobil bagian belakang.


“Apa yang Alisha rasa tadi?”


Alisha menggelengkan kepalanya,”Gak ada apa-apa,Om.”


“Kamu tadi ngamuk mau ngebanting Ryan dari atas.”


“Masa sih,Om?”


“Artinya kamu kerasukan lagi. Yaudah kalau udah sadar. Om pamit balik ke kantor.”


“Alisha pamit juga ya,Om. Mau ambil mobil Alisha.”


“Hati-hati,Lis.”


Langkah Alisha kembali normal ketika melangkahkan kakinya di pelataran parkir sekolah. Ryan merenung, darimana asal makhluk yang disebut Akasha. Sepengetahuannya, para leluhurnya tak pernah sekalipun menceritakan asal usul vampire pemakan darah yang sudah dianggap punah. Diraihnya ponsel untuk menelpon eyang uti.


“Driing….Driing….”


Di dapur basah milik eyang uti di kota Malang..


Seorang wanita tua sedang disibukkan dengan kegiatan memasak untuk menu makan malamnya, hanya berdua dengan art setianya yang berusia kurang lebih 50 tahunan. Seorang wanita paruh baya yang suaminya telah meninggal dunia tujuh tahun lalu dan tak dikaruniai seorang anak pun. Suara telepon masuk dari Ryan tampak tertelan oleh suara radio yang diputar sangat keras oleh Mbak Mirah, sang art kesayangan.


Mbak Mirah nampak masih lincah dan riang gembira memasak sambil diiringin lagu-lagu dangdut kesayangannya.


“Mirah…Mbok kamu kecilin sedikit suaranya. Aku ini wes tuo. Kebudegan.”


“Njih,Ndoro Putri.”


Mirah pun bergegas mengecilkan volume suara radionya, dan mulai memotong daging. Eyang uti hari ini ingin memasak steak sapi untuk makan berdua Mbak Mirah yang sudah dianggap saudara. Apapun yang dimakan eyang uti, itulah juga yang akan dimakan oleh Mbak Mirah. Art yang telah bekerja selama tiga puluh tahun, wanita yang jujur dan tak sekalipun pulang kampung karena semua saudara di kampungnya telah meninggal dunia. Satu-satunya keluarga bagi Mbak Mirah yaitu eyang uti yang selalu menganggapnya saudara, adik, teman curhat, dan kadang mereka pun tidur dalam kamar yang sama meskipun terpisah tempat tidur.


“Driing…Driing….”


Suara ponsel kembali berdering, eyang uti buru-buru meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja dapur.

__ADS_1


“Lap tangan mana?”


“Ini yang bersih. Jangan yang itu udah kotor,”sahutnya sambil menyodorkan lap bersih berwarna putih kotak-kotak merah tua.


Eyang uti mengeringkan tangannya lalu berjalan keluar dari dapur agar dapar mendengarkan suara telepon masuk dengan lebih seksama.


“Oalah…cucu eyang. Ada kabar apa?”


“Aduh,Yang. Lima kali telpon baru diangkat.”


“Lha iyo..Tadi Mbak Mirah nyetel radio muter lagu dangdut kencengnya gak kira-kira.”


Ryan terkekeh dan melanjutnya ceritanya,”Tadi di sekolah Ryan hampir mati dicekik Alisha yang kerasukan.”


“Oalah…Kok bisa begitu?”


“Lha itu yang katanya Akasha itu siapa,Yang?Buruan eyang bantu panggilkan orang pinter buat ngeruwat.”


“Sabtu ini ya?Jemput eyang uti di bandara. Nanti eyang chat lagi jamnya.”


“Siap,Yang.”


Eyang uti terdiam sesaat, dirinya bingung juga mencari kiai yang paham soal pengusiran roh jahat dan mau dibawa ke luar kota.


“Mbak…Ada kenalan kiai gak buat ngeruwat?”


“Oh ada,Ndoro. Tar Mirah kasih nomor ponselnya. Minta ke pembantu belakang rumah kita. Itu pernah ruwatan juga denger-denger.”


“Lha kok denger-denger. Kepastiannya piye?”


Pagi itu eyang uti sedang sibuk memotong tanaman ketika Mirah datang dengan seorang laki-laki hampir seusianya dengan mengenakan pakaian serba panjang dan peci batik di kepala.


“Pagi,Yang…Perkenalkan saya Kiai Danu Langgeng.”


“Pagi,Nak. Silakan duduk. Jadi rencana Sabtu ini saya mau ke Jakarta lagi untuk ruwatan cucu perempuan saya.”


“Ruwatan di hari Sabtu atau Minggu maksudnya?”


“Minggu pagilah.”


“Baiklah kalau begitu. Nanti siapkan saja uba rampenya,”kiai itu duduk ambil menuliskan sesuatu.


Ki Danu lalu menulis daftar barang kebutuhan dalam sebuah buku catatan kecil dan menyodorkannya pada eyang uti.


“Saya pamit pulang dulu.”


“Iya hati-hati di jalan.”


Mbak Mirah menggaruk-garukkan kepala pertanda wanita itu sedang kebingungan.


“Kenapa pelongo-pelongo aja?”


“Tulisannya. Seperti ayam mencakar. Eh seperti cakar ayam maksudnya,”papar Mbak Mirah sambil tertawa dan menutupi mulut dengan telapak tangannya.


Eyang uti memberikan sebuah lup kecil untuk memperjelas tulisan tangan dari Kiai Danu kepada Mbak Mirah. Art setia itu bergegas menuju pasar dengan taksi online langganannya.

__ADS_1


“Ndoro..Kalau bunga tujuh rupa bawa dari Malang apa gak layu sampai Jakarta?”


“Kan sampainya besok pagi? Ruwatannya masih lusa,”kata eyang uti yang menyadari kekeliruannya dan menepuk jidatnya sendiri.


“Oalah,Ndoro lupa. Yaudah saya ke pasar beli sayuran aja. Nanti eyang uti suruh orang di Jakarta aja yang beli.”


“Iya…Kamu itu kadang yap inter.”


Keduanya tertawa terbahak-bahak, eyang uti memamerkan sebagian giginya yang telah tanggal.


Suasana bandara di Sabtu pagi tak terlalu ramai, udara pun masih segar. Ryan memiliki niat untuk menjemput sendiri eyang uti kesayangannya dan mengantarnya ke rumah Alisha. Eyang uti memiliki rencana menginap di rumah Alisha dengan membawa Ki Danu menginap di ruang tamu rumah orangtua Alisha. Satu jam di muka sebelum kedatangan sang eyang,Ryan telah duduk dengan manis di ruang tunggu sambil bermain game yang terdapat pada ponselnya.


Sesekali matanya melirik pada jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.


“Kruuk…Kruuk…”


Lagi-lagi perut Ryan cepat sekali menjadi lapar. Cowok itu bergegas mencari makanan yang ada di sekitarnya. Langkahnya terhenti pada sebuah restoran yang menjual ayam goreng, sudut matanya ditebarkan untuk mencari kursi yang paling membuatnya nyaman.


“Nah…Itu dia…Kursi empuk yang ada sandarannya biar bisa sedikit rebahan sambil nunggu eyang uti,”pikir Ryan dengan langkah lebar.


“Ayam goreng dada dua, kentang goreng ukuran medium 1, air mineral dingin 1.”


“Ditunggu..Ini pembayarannya.”


Cowok itu memberikan selembar uang kertas warna merah dan buru-buru mencuci tangannya agar kursi tak diambil orang lain.


Sayangnya begitu Ryan kembali ke mejanya, di sana telah duduk seorang gadis kecil berusia sekitar 5 tahun.


“Mama…Aku maunya duduk sini aja ada sandarannya,”katanya dengan bahasa sedikit cadel.


Sang mama memperhatikan Ryan yang berdiri dengan sedikit manyun.


“Punya kakak itu,Dek.Kita pindah kursi sana aja?”tanya sang mama.


“Dita gak mau,Ma…Pokoknya mau ini aja,”teriaknya sambil menangis.


Tiba-tiba datang eyang uti yang mencarinya ke sana kemari.


“Ini cucu eyang…Dicari ke sana kemari ternyata malah di restoran ayam goreng. Mau berantem pula sama anak kecil,”seru eyang uti sambil menjewer telinga Ryan.


“Aduh,Yang…Ampun…Ini memang kursi Ryan kok. Ryan belum makan pula mau ditarik kemana,Yang?”rengek cowok itu sambil meringis.


“Kita pulang!”bentak eyang uti.


Kiai Danu yang berdiri di samping eyang hanya bisa tertawa sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


“Bentarlah,Yang. Ryan kan udah bayar. Ayuk eyang uti makan juga.”


Eyang uti membetulkan letak kacamatanya,lalu menarik tangan Ryan kembali ke restoran itu.


“Udah kamu aja yang makan. Eyang uti udah makan di pesawat.”


Ketiga orang itu akhirnya duduk bergabung satu meja dengan gadis kecil yang mejanya yang tak mau pindah tempat. Sementara mama gadis itu tak enak hati hingga beberapa kali meminta maaf.


“Ada-ada aja kejadian hari itu,”gumam Ryan.

__ADS_1


__ADS_2