Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 75: Dikejar Pasukan Volturi


__ADS_3

Di halaman belakang rumah Robert Sanders yang seluas 6 hektare..


Laki-laki itu tampak jatuh tersungkur, tangannya menggapai ponselnya yang melesat sejauh 50 centimeter di depannya.


“Kalian ini siapa? Salah saya apa?”seru Pak Robert yang terkapar dalam keadaan tertelungkup di tanah.


Laki-laki itu merasakan sekujur tubuhnya panas dan tangannya serasa terbakar.Ia hendak menelpon satpam dan para art-nya untuk meminta pertolongan.


“Kami ini si kembar penjaga kaum volturi,”seru vampire remaja yang cewek sambil tertawa keras.


“Saya Alec, dan dia kembaranku, Jane.”


Robert Sanders membelalakkan matanya, alisnya menaik. Sungguh ia tak menyangka kaum volturi itu benar-benar ada. Seingatnya, sang papa dan opanya hanya memberitahukan bahwa para volturi itu penguasa besar kaum vampire yang berasal dari Yunani kemudian berpindah ke Volterra,Italia. Anggota mereka adalah para vampire dengan kekuatan terpilih. Kaum volturi pula yang telah merebut kendali para leluhurnya dahulu di Rumania. Namun seingat mereka, kaum volturi telah berpindah dan berkuasa di Mesir. Setelah itu kaum leluhurnya tak lagi mengetahui lebih banyak soal kaum volturi karena vlad III telah berasimilasi dengan manusia.


Sungguh tak disangka kalau saat ini di hadapannya berdiri Jane dan Alec, si kembar vampire penjaga utusan dari Aro,penguasa tertinggi coven vampire yang telah berdiri ribuan tahun lamanya. Jane memiliki kekuatan untuk membuat lawannya mengalami ilusi mental terbakar sedangkan Alec memiliki kemampuan mematahkan semua indera lawannya.


“Kalian ini siapa? Salah saya apa?”seru Pak Robert yang terkapar dalam keadaan tertelungkup di tanah.


Laki-laki itu merasakan sekujur tubuhnya panas dan tangannya serasa terbakar.Ia hendak menelpon satpam dan para art-nya untuk meminta pertolongan.


“Tak perlu melibatkan manusia! Ini urusan sesame vampire!”bentak Jane yang nampaknya lebih bawel daripada kembarannya.


“Stop dulu! Jangan bikin tubuhku terasa terbakar!”


“Asal kau cabut kata-katamu!”seru Jane sambil terkekeh.


Vampire cewek itu menatap dengan sorot matanya yang merah menyala, kulitnya yang pucat nampak kontras dengan warna bibirnya yang semerah darah.


“Kata-kataku yang mana?”tanya Robert dengan wajah pasrah.


Laki-laki ini sudah kehilangan banyak tenaganya, napasnya tinggal satu-satu dan wajahnya memucat.

__ADS_1


“Anakmu yang akan membuat perjanjian lagi dengan anak manusia! Anak yang terlahir kelak akan menjadi manusia sempurna. Itu artinya generasi vampire akan musnah!”seru Alec dengan wajah memerah karena marah.


Vampire remaja cowok itu berdiri dengan kaki mengangkang, kulit tubuhnya sangat putih dan pucat, gigi taringnya tampak panjang dan sorot matanya merah menyala.


“Aku belum tau apa yang dikatakan Ryan dengan anak manusia. Lagian leluhurku sudah mengambil keputusan meninggalkan kehidupan kaum vampire,”papar Pak Robert panjang lebar.


Kedua pasangan vampire kembar itu tertawa keras-keras, suara mereka menggema menembus kesunyian malam. Sebagian besar art sudah terlelap dalam tidurnya, hanya ada dua satpam yang berjaga di gerbang depan rumah. Rumah megah nan luas itu membuat para satpam tak mendengar kejadian di halaman belakang. Tuan rumahnya sedang dikeroyok sepasang vampire kembar yang ganas.


“Sekarang juga panggil anakmu kemari. Atau kau yang harus mati di tangan kami!”ancam Jane sambil terkekeh.


Alec nampak berjalan dengan sangat cepat bagaikan terbang sambil mengitari halaman rumah milik Robert Sanders seakan sedang mengamati seisi rumah Robert.


“Hentikan dulu ilusimu! Biar aku bisa ambil ponsel itu!”teriak Robert mulai geram.


Laki-laki itu meraih ponsel dan menelpon Ryan. Rupanya anak itu sudah terlelap dalam tidurnya. Tiga kali dering telponnya tak diangkat juga. Ia membuat pesan singkat untuk sang putra dan berharap anak itu keesokan harinya dapat mengetahui apa yang terjadi dengan sang papa. Robert merasa posisi dirinya terancam, ia lalu memanggil para leluhurnya dengan telepati. Dalam hitungan detik, empat orang vampire dengan sosok menyerupai Robert Sanders telah berdiri di sekitar Robert. Mereka siap bertarung melawan penjaga kembar utusan para volturi.


“Kau mulai curang! Bukan anak yang kamu panggil tapi para leluhurmu!”bentak Jane dengan kesal.


Jane dan Alec tertawa terbahak-bahak dengan mulut menyeringai dan sorot mata tajam yang nampak sangat bengis. Isi otak mereka adalah memotong kepala kelima keturunan vampire yang dianggapnya telah memberontak.


Sementara itu di kamar,Ryan sedang menggeliat, membalikkan tubuhnya untuk miring ke kanan dan kembali memeluk guling. Tiba-tiba ia merasakan kandung kemihnya terasa penuh. Ryan membuka matanya yang terasa lengket untuk dibuka, menguap beberapa kali dan akhirnya dengan malas ia berjalan menuju toilet. Diliriknya ponsel yang berada di ataas nakas, namun ia tak bergeming untuk membukanya. Kembali dari toilet, Ryan mengambil sebuah gelas berisi air mineral dan meminumnya.


“Masih jam 1dini hari. Tidur lagi ah….”batinnya.


Namun hati kecilnya ingin mendengar kabar dari cewek pujaan hatinya. Ia pun meraih ponsel di atas nakas. Gadis itu hanya mengucapkan selamat malam, dan Ryan tak sempat membalasnya karena semalam tertidur lebih awal karena kelelahan.


Ada dua baris pesan dari papa, “Ryan..Tolong papa, ambil kalung pemberian opamu di bawah tempat tidur, yang ada mana merahnya. Bawa ke halaman belakang.Lempar ke arah Jane dan Alec. Mereka pengawal para volturi yang ganas.”


Ryan buru-buru berlari menuju kulkas kecil yang ada di kamarnya. Tangannya yang kekar membuka pintu kulkas dan mengambil tiga sachet susu siap minum warna merah.


“Glek..glek…glek…”

__ADS_1


Tiap sachet itu habis dalam tiga tegukan dan tubuhnya dirasakan makin bertenaga. Ia sudah bertekad untuk menggunakan kekuatan vampire-nya malam itu.


Diangkatnya spring bed tempat tidurnya yang lumayan berat, matanya mencari-cari benda yang dimaksudkan sang papa.


Matanya terpaku pada sebuah kalung berantai besar dengan liontin warna merah yang terbuat dari darah atau disebut blood stone. Cowok itu tak pernah bertanya pada papa apa isi dari liontin merah itu, apakah darah manusia atau binatang. Kakinya yang jenjang dijulurkan untuk meraih kalung itu supaya tergeser agak ke pinggir.


“Aduh beratnya spring bed ini. Uuh….”napas Ryan terasa berhenti ketika menahan beban spring bed yang berukuran king size itu.


“Yey…Akhirnya berhasil juga!”serunya sambil tertawa.


Dimasukkannya kalung bermata liontin merah itu ke dalam saku celananya.


“Satpam pasti sudah tertidur sambil duduk di pos. Aku terbang pun mereka tak akan tahu,”pikir Ryan sambil mengunci kamarnya dan berlari ke arah balkon besar di depan kamar.


Ryan pun melesat jauh ke angkasa melebihi kecepatan cahaya. Tak lama kemudian ia pun sampai di halaman belakang rumah papa. Dari jauh terlihat dua sosok muda muda yang baru dilihatnya kali itu dan lima kepala yang hampir mirip, para leluhur dan sang papa.


“Papa…”teriak Ryan yang disambut tertawa menyeringai dari sepasang muda mudi yang berwajah sangat mirip.


“Akhirnya kau datang juga,Ryan. Aku Jane dan itu Alec,”kata Jane sambil tertawa bengis.


Kedua remaja kembar dengan sosok vampire itu mendekatinya, dan Ryan merasakan tubuhnya panaas serasa terbakar. Dengan sekuat tenaga ia merogoh kalung dalam saku celananya dan dilemparkan ke arah mereka yang saling berpegangan untuk menyusun kekuatan melumpuhkan Ryan.


“Arrggg….”erangan Jane yang menggelepar ke tanah dan berubah menjadi gulungan asap hitam.


Alec tampak kalap melihat kembarannya musnah. Ia berniat menyerang Ryan dengan melumpuhkan semua indra milik bocah SMA itu. Namun sang papa dan keempat leluhur lainnya telah bersiap menyerang Alec dari arah belakang.


“Bluk…”


Kepala Alec terkena hamtaman lima pasang tangan vampire vegetarian. Tubuh vampire remaja itu jatuh terkapar di tanah, kepalanya berusaha menahan beban tubuhnya, gigi taringnya yang panjang tampak menyeringai. Ia berusaha bangkit namun sang papa menginjaknya tepat di puncak kepalanya. Ryan berusaha menolong sang papa yang hendak dilumpuhkan oleh Alec. Remaja SMA itu menunjukkan nyalinya dengan memutar kepala Alec 360 derajat putaran hingga kepalanya putus dan melayang di udara. Tubuh Alec yang tertinggal di atas tanah kemudian dibawa oleh para leluhurnya untuk dibakar di tempat yang jauh.


Papa tertawa bangga dan menepuk bahu Ryan,”Ini baru anak papa!”

__ADS_1


__ADS_2