Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 51 : Obsgyn


__ADS_3

Siang itu cakrawala cerah, awan berarak putih, udara pun tak terasa begitu panas. Kisah cinta dua anak manusia,siap menorehkan lukisan indah di atas awan. Tangan kekar milik Ryan memegang kemudi,siap mengantarkan Maya ke dokter kandungan untuk membuktikan bahwa gadis itu masih perawan. Cowok super ganteng itu merasa ikut bertanggung-jawab agar gadis pujaannya tidak terus menerus di-bully. Sementara itu ketiga cewek pembuat onar berjalan beriringan sambil tertawa penuh kemenangan menuju mobil putih milik Alisha. Gadis popular itu mengemudikan mobilnya di belakang mobil Ryan menuju sebuah rumah sakit swasta paling besar dan paling lengkap di kota ini.


“Kamu kabari mamamu dulu,May.”


“Iya. Tapi dia pasti shock denger ini. Udah keterlaluan,”sahut gadis itu sambil mengambil ponsel dari dalam tas ranselnya.


Maya menekan nomor ponsel sang mama,”Driing…Driing….”


Mama nampaknya masih sibuk dan tak mengangkat telponnya.


“Gimana,May?”


“Gak diangkat.”


“Yaudah..Kamu kirim pesan aja.”


Maya membuat pesan singkat di whatssup untuk sang mama.


Mobil memasuki pelataran parkir sebuah rumah sakit swasta yang megah di pusat kota, pintu mobil terbuka dan membuat beberapa pengunjung lain menengok. Pemilik Lamborgini Aventador bukanlah orang sembarangan. Namun tampaknya mereka tak mempedulikan mobil mewah melainkan karena kelima orang itu mengenakan seragam putih abu-abu berjalan beriringan laksana siswa yang hendak berangkat tawuran.


Ryan menggandeng tangan Maya menuju bagian pendaftaran, diikuti Alisha and the gang yang berjalan dengan songongnya di belakang sambil mengunyah permen dan sibuk mengobrol sendiri.


“Siang,Bu. Saya mau daftar untuk dokter obsgyn yang buka saat ini.”


“Laki-laki atau perempuan?”tanya seorang staff laki-laki di bagian pendaftaran yang mengenakan seragam warna hitam dengan nametag warna emas sambil tersenyum ramah.


“Mau dokter yang cewek atau cowok?”tanya Ryan meminta pendapat Maya.


“Cewek ajalah.Kan malu kalau dokternya cowok.”sahut Maya dengan ekspresi datar dan polos.


“Minta dokter yang perempuan aja,Pak.”


Laki-laki itu mengecek data obsgyn melalui layar monitor sebuah komputer PC di dekatnya. Tak lama kemudian ia datang lagi dan menginformasikan yang diminta Ryan.


“Untuk dokter spesialis obsgyn yang siap di jam ini ada dr. Langin Berawan,SPOG. Untuk dokter perempuan baru ada dua jam lagi. dr.Sinta Malarindu,SPOG.”


“Waduh,May. Dokter cewek masih dua jam lagi. Mau nunggu lama?”


Gadis itu terdiam, sepertinya ia galau untuk menentukan pilihannya. Ia menggigit bibir bawahnya sambil berpikir.


“Yaudah dokter laki-laki gapapa daripada kita kelamaan menunggu.”


“Dokter laki-laki aja,Pak. Kami dapat nomor berapa?”


“Bentar saya masukkan data dulu. Apakah sudah memiliki kartu pasien?”


“Belum,Pak.”


“Kalau begitu silakan duduk dulu di sebelah agar diproses rekan saya,Bu Ria Dewanti. Siapkan saja KTP atau kartu pelajar.”


“Oh baiklah,Pak. Terima kasih.”


“Sama-sama.”


Maya mengeluarkan kartu pelajar karena usianya belum genap 17 tahun. Gadis itu mengisi formular pendaftaran yang terdiri dari dua lembar data diri dan keluarga yang harus ia isi.

__ADS_1


“Ini,Bu. Semua sudah saya isi,”kata gadis itu sambil menyerahkan formular pendaftaran.


“Oke. Ditunggu sebentar. Saya proses kartu pasiennya dulu. Setelah itu baru saya berikan nomor antrian.”


“Baik,Bu.”


Bu Ria,wanita berusia sekitar dua puluh delapan tahun dalam balutan seragam hitam dan nametag keemasan sama dengan laki-laki tadi, tampak sibuk mencetak kartu pasien. Tak lama kemudian ia memberikan kartu itu pada Maya sekaligus mencetak nomor antriannya.


“Ini nomor tunggunya. Silakan ke lantai dua. Ada di ruang G nomor tiga. Berikan nomor antrian pada suster jaga di depannya.”


“Terima kasih,Bu.”


“Iya. Sama-sama.”


Kedua remaja itu bergegas mencari pintu lift untuk naik ke atas,diikuti Alisha dan teman-temannya yang terlihat sangat kepo dan penasaran. Mereka buru-buru karena tak ingin ketinggalan berita yang menghebohkan.


“Tiing…”


Pintu lift menuju lantai dua terbuka lebar, sebuah ruangan yang sangat luas dengan beberapa perawat dan pasien rawat jalan yang lalu Lalang. Udara di ruangan ini sangat sejuk dan bau obat menyeruak ke dalam rongga hidung. Nampaknya ruangan ini selalu disterilisasi agar bersih dari kuman sehingga bau obat dan karbol ada dimana-mana.


“Siang. Ini Zus nomor urut saya.”


Perawat berpakaian putih dan bertopi putih itu mengangkat dagunya, wajahnya nampak manis dan perawakannya mungil,usianya masih muda kisaran dua puluh empat tahun. Dengan gesit ia mengambil tensimeter dan mempersilakan Maya duduk.


“Ade timbang dulu lalu diukur tensinya ya!”perintahnya dengan lembut.


Maya mengikuti instruksi yang diberikan.


“ Seratus per enam puluh,”serunya.


“Iya..Diastolisnya rendah sekali. Nanti minta resep untuk vitamin aja di dalam ruang periksa.”


“Baik Zus,”sahut Maya.


“Masih berapa pasien lagi,Zus?”tanya Maya.


“Kira-kira lima pasien lagi. Ditunggu aja di kursi tunggu yang ada di depan ruang periksa. Nanti susternya pasti panggil nama adek kok.”


“Terima kasih,Zus.”


Maya pun membawa sebuah map berisi medical record yang diberikan suster tadi. Dua remaja itu mengambil posisi duduk bersebelahan di ruang tunggu sementara Alisha and the gang ada di depan mereka, menunggu sambil memainkan ponselnya. Di sekitar mereka berderet para calon ibu yang hendak memeriksakan kandungan mereka, ada yang diantar suaminya, saudaranya, ada pula yang datang sendirian. Hanya ada seorang ibu sudah berumur yang datang dalam kondisi perut kempes.


“Mungkin hendak ber-KB,”pikir Maya yang bermain dengan pikirannya sendiri.


“Nanti mereka ikut kamu ke dalam gak,May?”


“Entahlah. Kamu tanya sendiri. Kamu tunggu di luar kan?”


“Iyalah…Bua tapa aku masuk?Kecuali udah jadi suami kamu,”sahut Ryan terkekeh.


Alisha and the gang tampaknya mendengarkan percakapan mereka lalu berbisik-bisik dan tersenyum sambil menutupi mulut mereka dengan tangan.


Setelah hampir dua jam menunggu, seorang perawat berambut keriting dan berkacamata keluar dari ruangan periksa dan memegang sebuah meja jalan kecil yang berisi deretan nama pasien siang itu.


“Maya Trisha Purnomo…”

__ADS_1


“Saya,Zus.”


“Silakan masuk. Yang lain di luar saja.”


Alisha and the gang yang sudah bersiap ikut masuk terpaksa mengurungkan niatnya. Ryan tertawa kegelian sambil menutupi mulutnya dengan punggung tangan.


Maya memasuki ruangan dokter obsgyn seorang diri, ia tampak kikuk dan aneh berada di ruangan kaum calon ibu.


“Siang…Ada keluhan apa?”tanya dokter Langit yang bertubuh agak gemuk dan berkacamata.


Dokter obsgyn itu berkulit putih dan terlihat sabar untuk mendengarkan setiap keluhan pasiennya.


“Siang. Jadi begini dok…Saya ingin cek keperawanan.”


“Anda belum pernah melakukannya kan?”


Maya menggelengkan kepalanya dan menunjukkan raut wajah yang datar tanpa ekspresi.


“Jadi gini,Dek. Kalau keperawanan seseorang itu elastis meskipun pernah melakukan **** tak akan robek. Demikian sebaliknya meskipun seorang wanita itu tak pernah melakukan ****,namun ia pernah terjatuh atau hal-hal lain, tetap bisa robek keperawanannya.”


“Oh begitu,Dok?”


“Iya..Jadi apakah tetap lanjut diperiksa?”


“Jadi,Dok. Tapi saat ini saya sedang datang bulan.”


Dokter menggelengkan-gelengkan kepalanya lalu beranjak bangun dari kursinya dan mempersilakan Maya ke sebuah kursi khusus yang bisa diatur tingkat kerebahannya. Gadis itu mengangkat dan meletakkan kedua kakinya di tempat penyangga kaki. Suster menyuruhnya melepas ****** ******** untuk diperiksa dan memberikan kain penutup. Dokter obsgyn itu mengenakan sarung tangan plastik yang lembut dan mengolesi tangannya dengan krim pelumas dan memeriksa bagian vitalnya dengan sebuah senter untuk meneliti hymen.


Dokter melepaskan sarung tangannya dan membuangnya ke tempat sampah lalu mencuci tangannya. Gadis itu telah kembali ke tempat duduknya.


“Jadi saya buatkan laporan ya..Mengenai hymen anda dalam posisi yang masih utuh,”paparnya sambil menggambar untuk mengilustrasikan kondisi hymen pasiennya.


“Dok..Boleh saya minta resep vitamin? Saya low blood dan sering kumat kalau kelelahan.”


Dokter obsgyn itu tertawa,”Sebenarnya tanpa obat juga bisa. Perbanyak asupan gizi dan istirahat cukup, jangan banyak pikiran. Tapi bolehlah saya buatkan resep. Cuma beberapa vitamin.”


Lalu dokter itu menuliskan sebuah tulisan yang hanya bisa diartikan seorang apoteker dan memberikannya pada gadis itu.


“Terima kasih,Dok. Selamat siang.”


Obsgyn itu menganggukkan kepala, sementara perawat di ruangan itu mengarahkan Maya untuk menuju bagian pharmacy dan kasir untuk menyelesaikan pembayarannya.


Alisha and the gang memandang penuh selidik ketika Maya keluar dari ruangan periksa.


“Gimana hasilnya,May?”tanya Ryan sambil mengangkat dagunya.


“Coba kamu baca sendiri.”


Alisha dan teman-temannya langsung mendekati Ryan untuk ikutan membaca hasil pemeriksaan dokter.


“Tuh…Kalian foto aja sekalian buat dokumentasi!”kata Ryan dengan sedikit kesal.


Alisha menaikkan alisnya, sementara Sandra dan Niken sibuk mengabadikan hasil pemeriksaan dokter obsgyn tadi.


“Jangan lupa ya! Kalian post di sosial media. Harus kalian bersihkan nama Maya!Kalau tidak bakal digugat ke pengadilan!”ancam Ryan sambil bergurau.

__ADS_1


Alisha dan teman-temannya hanya bisa menggigit jari. Siang itu Maya dapat membuktikan kalau dirinya masih perawan dan semua tuduhan itu hanya fitnah.


__ADS_2