Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 101: Pindah Apartemen


__ADS_3

Ryan mengusap-usap belakang kepalanya yang terbentuk lantai yang dilapisi karpet.


“Ternyata cuma mimpi,”gerutu cowok itu sambil mengamati seluruh tubuhnya.


“Untunglah gak ada yang luka. Cuma mimpi,”kata Ryan sambil menghela napas lega.


Ia melangkah ke arah saklar yang terletak di sebelah kanan pintu keluar.


“Ceklek..”


Lampu kamar menyala terang, sudut matanya diarahkan ke seluruh ruangan, buku-buku masih bertebaran di atas meja belajar.


“Waduh…Udah jam 10 pagi. Artinya tinggal beberapa menit untuk membersihkan badan dan sarapan,”serunya sambil berlari ke arah kamar mandi.


Ryan mengguyur kepala dan tubuhnya di bawah air hangat yang keluar dari shower di kamar mandinya. Hanya hitungan menit ia sudah selesai membersihkan badan, kini diamatinya wajahnya yang tampan di depan cermin yang terletak di atas wastafel. Kumisnya sudah tumbuh lagi tipis-tipis, tapi wajahnya masih sedikit lembab. Buru-buru Ryan menggosok giginya dan mengurungkan niatnya mencukur kumisnya.


“Tar sore aja ah…”


Dengan mengenakan kaos oblong warna putih merek kenamaan dunia yang dipadukan dengan celana bahan yang berwarna krem, cowok itu bergegas ke arah dispenser dan menuangkan air panas di atas cerealnya. Sarapan paginya seadanya karena waktu yang sangat terbatas. Ketika waktu menunjukkan pukul 11 kurang lima belas menit,Ryan buru-buru mengunci kamarnya dan bergegas berlari menuju kampusnya dengan berlari. Sengaja ia mencari lorong sepi di belakang apartmennya agar tak mengundang perhatian masyarakat di sekitarnya. Lompatannya sangat tinggi dan jauh sehingga nampak seperti terbang.


Jeff dan Tyo berada di ruangan berbeda karena mereka beda fakultas. Ryan mengambil jurusan bisnis sedangkan Jeff mengambil engineering dan Tyo mengambil jurusan computer and information science. Di ruangan kelasnya terdapat beberapa mahasiswa dari Asia, ada beberapa mahasiswi cantik di kelasnya yang sengaja bersikap berlebihan untuk menarik perhatiannya, namun Ryan tak mempedulikannya. Cewek paling agresif di kelasnya, sangat cantik dan menarik,kulitnya putih bule dan rambutnya pun pirang, ayahnya seorang senator terkenal di Amerika. Sayangnya Ryan benar-benar tak tertarik, Sara adalah seorang cewek yang arogan dan menghalalkan segala cara,mirip dengan Alisha, teman SMA di sekolahnya dulu.


Malam harinya…


Ryan merebahkan tubuhnya setelah menyelesaikan semua tugas kuliah dan memasukkan semua modul kuliah untuk keesokan harinya.


“Driing….Driing….”


Suara nyaring berbunyi dari ponselnya, Ryan mengangkatnya, ternyata ada suara papa dari seberang sana.


“Halo,Ryan. Ini papa di kantor.”


“Iya,Pa. Apa kabar?”


“Begini. Papa punya dua opsi buat kamu. Papa bisa beli satu apartemen di sana yang isinya twoo bedroom. Rencana papa buka cabang di sana. Kamu bisa bawa istri kamu ke Amerika.”


“Bukan Ryan tidak mau. Tapi papa tau,Maya itu ambil kuliah kedokteran di Indonesia. Jadi profesinya tak akan terpakai di Indonesia.”


“Mmh..Kalau begitu kita sewa apartemen aja. Soal produk kita ekspor aja. Gausah kita buka cabang di sana.”


“Ya..Itu terserah papa. Tapi untuk kantor cabang penjualan kan papa masih bisa adain di sini.”


“Nah…Anak papa pinter ternyata,”sahut papa sambil terkekeh.


Suaranya yang khas terdengar dengan jelas di telinga Ryan. Malam itu semua penghuni apartemen diam di kamar masing-masing karena di luar hujan turun dengan lebat dan petir menyambar-nyambar. Kilatan cahayanya nampak jelas dari balik jendela kaca di luar kamar Ryan.

__ADS_1


“Papa sudah dapat kamar untuk disewa?”


“Staff papa sudah carikan sebuah apartemen yang lebih bagus dan terletak di bawah Namun tampaknya tak sedekat yang kau tempati sekarang. Ada opsi kedua, sebuah kamar berisi two bedrooms di apartemenmu sekarang tapi di lantai paling tinggi,”papar sang papa panjang lebar.


“Yaudah. Ryan pilih apartemen ini aja yang lebih dekat,”sahut Ryan dengan mantap.


Cowok itu tak peduli lagi bahwa di lantai paling atas dia akan makin kesepian dengan sebuah kamar yang dibiarkan kosong.


“Baiklah kalau itu yang kau mau.Papa akan urus dokumen perjanjian sewanya. Hari Minggu ini kau boleh langsung pindah ke unit itu.”


“Terima kasih banyak,Pa.”


“Udah dulu ya,Ryan. Bentar lagi papa ada meeting. Jaga diri baik-baik di sana.”


“Daag papa….”


Ryan menghela napas panjang dan sangat bersyukur akhirnya bisa terlepas dari kedua rekannya yang badung dan iseng.


Di suatu hari Minggu yang cerah, Ryan nampak memanggil seorang pemuda Asia yang bekerja sebagai cleaning service di apartemen ini untuk membantunya pindahan ke unit yang paling atas, di lantai 57. Pemuda itu bernama Ahmad , seorang pemuda 25 tahun berasal dari Malaysia, kulitnya agak gelap dan rambutnya lebat serta hitam. Ia menguasai dua bahasa, bahas Inggris dan Melayu sehingga cukup paham bila berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.


“Boleh saya bawa ke atas dulu,Tuan?” tanyanya sambil menjinjing dua koper di kedua tangannya.


“Boleh…Kamu dorong saja agar tidak berat.”


“Baiklah,Tuan.”


Pemuda itu terdiam sejenak lalu menyahut,”Ada beberapa,Tuan. Ada yang membawa keluarganya juga di sana. Sebagian disewakan harian sehingga penghuninya kadang ada ,kadang pula kosong.”


Ahmad mendorong kedua koper itu, sementara Ryan sibuk memasukkan semua buku kuliahnya di dalam kardus ukuran besar lalu menutupnya dengan plakban.


Dua puluh menit berlalu, Ahmad kembali lagi ke kamar Ryan untuk mengangkut dua kardus besar. Ryan membawa sisanya dalam sebuah tas berukuran besar dan menentang laptop di bahunya. Jeff nampak sedang rebahan di ruang tengah sambil menonton televisi sedangkan Tyo belum keluar dari kamarnya.


“Gue pindahan dulu,Jeff. Kasih tau Tyo ya. Sampai jumpa,”pamit Ryan sambil tersenyum.


Jeff mencibir dan menanggapinya dengan tak peduli, “Ah..Songong lu. Baru nempati dua bulan tapi bayarnya udah satu tahun. Yaudah good luck aja,Bro!”


Ryan hanya dapat menelan salivanya, namun dalam hatinya ia bersyukur terlepas dari kehidupan malam bersama mereka.


“Kreek…”


Tyo membuka pintu dengan mata yang masih menyipit kesilauan,”Ada apa ini?”


Tangan cowok itu menunjuk ke arah Ryan, dan dijawab oleh Jeff dengan mengangkat bahunya.


“Gue pindah kamar ya! Kalian baik-baik di sini,”pamit Ryan sekali lagi pada Tyo.

__ADS_1


Cowok songong itu hanya memberi kode dengan telapak tangannya seakan mengusir.


Ryan menutup kembali pintu kamar itu dan berjalan ke arah lift bersama Ahmad. Mereka berjalan ke arah pintu lift. Di sana ada tiga pintu lift yang berjejer, Ryan menekan salah satunya untuk naik ke atas.


“Ting…”


Pintu lift terbuka lebar, mereka masuk ke dalamnya.


Dua pemuda itu kini berada di dalam lift yang masih sepi karena hari masih pagi.


“Kamu tinggal bersama orang tua?”tanya Ryan sambil menatap Ahmad yang tingginya hanya sebahunya.


Ahmad mengangkat dagunya,”Orang tua saya tinggal di Kajang,dekat Kuala Lumpur,Tuan.”


“Oh…Sudah lama kamu bekerja di sini?”


“Lumayanlah,Tuan. Tiga tahun sejak saya lulus kuliah di sana.”


“Wow…Kamu sarjana?”


“Iya…Tapi lulusan dari negara Asia hanya bisa bekerja pada level bawah ketika di Amerika,”sahutnya lirih.


“Kamu tinggal dimana sekarang?”tanya Ryan ingin tahu.


“Tiing…”


Pintu lift menuju lantai 57 terbuka lebar, mereka menuju kamar nomor 57 B yang terletak di tengah-tengah. Ryan membukanya dengan kode karena pintu itu merupakan smart door lock.


“Kamu boleh bersihkan kamar saya. Ini uang tip-nya,”kata Ryan sambil memberikan Ahmad dual embar uang ratusan dollar.


“Terima kasih,Tuan. Tapi ini terlalu besar upahnya,”tolaknya halus.


Ryan tertawa, Ahmad ternyata seorang pemuda yang sangat jujur.


Itu untuk kau simpan sebagai tabungan. Untuk beli rumah di Malaysia,”saran Ryan sambil menepuk pundak Ahmad dengan pelan.


“Saya sudah membeli sebuah rumah dua lantai di Kajang,Tuan.”


“Wow…Ternyata kamu sangat hebat!”seru Ryan yang nampaknya sangat kagum pada Ahmad.


Pemuda itu hanya mengangguk dan tersenyum.


“Oh ya…Boleh aku minta nomor ponselmu? Kalau kamu mau boleh kok tinggal dengan aku. Ada kamar kosong di situ.”


“Oh..Terima kasih,Tuan. Tapi aku tak bisa menerima tawaran anda,”sahutnya sambil menyodorkan sebuah kartu nama sederhana pada Ryan.

__ADS_1


Malam harinya, Ryan menuliskan semua kisah hariannya pada sang kekasih melalui aplikasi whattsup.


__ADS_2