
Ahmad diam-diam masih memperhatikan bungkusan bekas susu yang kini telah dimasukkan ke dalam kantong plastik warna putih yang transparan. Ryan berjalan ke arah kamar mandi, sementara itu Ahmad memanfaatkan kesempatan untuk berjongkok dan melihatnya dari dekat. Pemuda itu penasaran karena sisa warna merah yang menetes di luar pembungkus memiliki warna yang aneh. Jari jemari pemuda itu meraih plastik sampah yang terletak di depan pintu, Ryan belum sempat membuangnya karena hari telah larut malam. Pemuda berambut ikal itu sungguh penasaran, bola matanya yang hitam pekat mengamati benda itu dan tangannya digerakkan untuk menyentuh tetesan cairan berwarna merah.
“Lagi apa,Mad?”
Sontak Ahmad kaget dan menjauhkan tangannya dari plastik sampah warna putih bening itu. Pemuda itu buru-buru bangkit berdiri dan melanjutkan pekerjaannya.
“Cuma mau menyingkirkan kantong itu agar tak menghalangi jalan,Tuan.”
Ryan menaikkan alisnya, dahinya berkerut, hati kecilnya telah menduga, Ahmad pasti sangat ingin tahu mengenai susu warna merah dalam kemasan langka yang hanya dijumpai dalam kulkas kecil di dalam kamarnya.
“Kamu boleh tinggal di sini. Tapi gak perlu bersikap aneh dan penuh selidik,”kata Ryan tegas.
Ahmad merasa tak enak hati, keringat dinginnya mulai keluar. Pemuda itu takut Ryan akan mengusirnya dari apartemen, dan akibatnya ia harus kembali ke kosnya yang kumuh dan harus membayar sewa tiap bulan.
“Maafkan Ahmad,Tuan. Tak ada maksud lain kok. Saya permisi dulu. Pekerjaan sudah beres.”
Pemuda itu membawa kembali semua alat-alat kebersihan yang dibawanya dan berjalan dengan sedikit membungkuk untuk memberi hormat pada tuannya.
“Oh ya..Jangan lupa besok buatkan saya sarapan nasi goreng dengan telur omelette setengah matang.”
Ahmad kembali menengok ke arah Ryan, dagunya diangkat, wajahnya yang persegi dengan rahang kuat dan kulit sawo matang yang gelap menunjukkan ia adalah pemuda yang kuat dan disiplin.
“Baik,Tuan.”
Ahmad berlalu dan menutup kembali pintu kamar Ryan. Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamarnya kembali ditutup, menandakan pemuda itu telah kembali ke peraduannya.
__ADS_1
Ryan membuka kulkas kecilnya, matanya tertuju pada tumpukan susu dalam sachet yang dibawa sang papa. Jumlahnya masih banyak, ada puluhan biji, cukup untuk persediaan satu bulan. Susu itu membuat energinya berlipat ganda, bahkan bisa berlari secepat kilat menjumpai Maya di belahan dunia yang berbeda. Namun ia ingat nasehat papa, niatnya hanya boleh dilakukan dalam keadaan terjepit karena akan sangat menguras tenaga. Jari jemari kokoh milik Ryan bergerak menutup korden yang menutupi jendela besar yang menghadap kota. New York di waktu malam sangat indah, penuh dengan lampu-lampu dari gedung bertingkat dan lampu jalanan yang membuat kota itu tetap hidup di waktu malam. Pikirannya melayang jauh, tak terasa dirinya telah berpisah dengan sang kekasih hati hampir enam purnama dan itu akan berlangsung bertahun-tahun hingga ia lulus dari kampusnya sekarang.
“Oh ya…Artinya tujuh bulan lagi aku resmi menjadi suami Maya. Pesta pernikahan. Seperti apa ya?”gumamnya sambil duduk di tepi ranjang.
Diliriknya jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam. Suasana malam yang makin hening dan pendingin udara yang makin dingin, membuat Ryan lebih cepat mengantuk, ditariknya selimut untuk menutupi tubuhnya yang dibalut piyama polos warna kelabu. Tak lama kemudian Ryan terlelap dalam tidurnya.
Musik pengantar prosesi pernikahan mengalun merdu, semua tamu berdiri untuk memberikan penghormatan ketika Ryan dan Maya memasuki ballroom sebuah hotel berbintang yang sangat megah. Ryan tampak sangat tampan dan gagah dibalut setelan jas warna hitam dan dasi kupu-kupu. Sekuntum bunga terangkai indah disematkan di dada kiri Ryan. Cowok itu menebarkan senyuman yang paling menawan ke ribuan tamu undangan yang hadir. Diliriknya sang pengantin yang nampak sangat cantik dalam gaun putih yang ekornya menjuntai ke belakang sejauh dua meter. Maya nampak menakjubkan dengan rambut yang diangkat ke atas dan mengenakan mahkota bertahtakan permata warna-warni. Di belakang mereka ada dua pengapit remaja yang bertugas membantu mengangkat ekor gaun pengantin. Keduanya nampak cantik dalam balutan gaun panjang warna keemasan. Di depan mereka terdapat sepasang bocah cilik yang membawa keranjang berisi bunga, seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan kecil yang cantik dibalut gaun keemasan di atas lutut. Keduanya tampak tersenyum melirik ke arah sepasang pengantin baru. Ryan tertawa geli, anak laki-laki di depannya mengenakan pakaian yang sama persis dengan dirinya. Maya tertawa bahagia sambil menggamit lengan Ryan.
“Hari ini habis sudahlah masa penantianku,”bisik Ryan ke telinga Maya.
Maya hanya mengangguk dan tertawa. Kebahagiaan mereka saat itu tiba-tiba berhenti akibat sebuah dentuman keras yang seakan jatuh di atas atap gedung.
“Braaak….”
“Boom…Awas tiarap!”teriak suara seorang wanita dari arah belakang.
“Tenang…Semua harap tenang. Tidak ada bom di gedung ini.”
Semua tamu kembali berdiri dan menuju meja masing-masing. Tiba-tiba terdengar suara orang yang tertawa sangat keras, dan seakan mengejek.
Aro berjalan memasuki ballroom dengan jubah hitamnya yang panjang, matanya nampak sangat licik dan giginya menyeringai sehingga dua gigi taringnya nampak tersembul keluar. Sorot matanya merah menyala bagaikan sepasang lampu senter.
“Hahahahahaha…Hari ini kau bahagia, namun sebentar lagi kalian berdua harus mati!”
Papa dan keempat leluhur Ryan merasa perbuatan Aro adalah perbuatan yang melanggar, tidak ada peraturan yang mereka langar terhadap kaum volturi.
__ADS_1
“Pergi kau!”teriak leluhur tertua sambil mengacungkan telunjuknya ke arah Aro.
“Apa urusanmu! Mengapa kalian tidak mengundang aku?”bentak Aro dengan sengit.
“Bukan pula urusanmu untuk tau soal pernikahan anak saya,”sahut sang papa tak kalah sengit.
Tiba-tiba Aro marah dan melepaskan tembakan berisi pijaran-pijaran api ke arah hiasan pesta yang merupakan background yang terbuat dari benda-benda mudah terbakar. Sontak para tamu yang membawa keluarganya berhamburan keluar. Pesta pernikahan yang megah dan mewah hancur seketika. Dilihatnya Maya menangis dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Kenapa harus begini sih,Ryan? Kita salah apa?”tanya Maya di sela isak tangisnya.
Ryan mengelus punggung Maya,”Tenanglah. Sebentar lagi masalah usai kok.”
Tiba-tiba muncul di hadapannya sosok Ahmad yang tertawa mengejek, “Dasar keturunan vampire! Makanya kau menikahlah dengan sesame vampire!”
Di sana muncul juga Ameera yang mengenakan gaun pesta yang sangat panjang berwarna merah menyala. Gadis itu melempar sebuah botol ke arah pelaminan dengan kesal, dan naasnya botol itu tepat mengenai pelipis Ryan.
“Aduh! Aku salah apa , Ameera?"tanya Ryan dengan nada tinggi.
Ameera hanya tertawa bengis dengan sorot mata penuh kebencian.
Cowok itu sangat gelisah dalam tidurnya. Tubuhnya dibalikkan ke kanan dan ke kiri. Dengan napas terengah-enyah, Ryan terbangun dan mengelus pelipisnya yang kesakitan.
“Aduh…Pelipisku sakit terantuk ujung nakas yang lancip ,”keluhnya sambil mengusap-usap pelipisnya.
“Untunglah cuma mimpi. Tapi…Mimpi jadi pengantin bukannya aku akan mati ?”
__ADS_1
Ryan bangun pagi dengan perasaan gelisah yang menggelayutinya di sepanjang hari-harinya.