
Ryan membuka laci-laci yang berada di dalam lemarinya yang besar sepanjang 3 meter dan menjulang ke langit-langit kamar, ia mencari-cari sesuatu. Mas Andi,perawat laki-laki itu duduk bersimpuh di lantai sambil melipat dan merapikan pakaian milik Ryan.
“Tuan cari apa? Bisa saya bantu?”
“Cari mainan pesawat terbang yang pakai remote control. Mas Andi pasti tidak akan tau.”
“Tok…Tok…Tok…”
Suara ketukan di pintu membuat keduanya berpaling ke arah datangnya suara.
“Coba buka,Mas.”
“Kreek…”
Suara pintu kamar dibuka, Mas Andi mengeluarkan kepalanya dan menengok ke kiri dan ke kanan, tak ada satu orang pun lewat di depan pintu. Bulu kuduk Mas Pri jadi merinding, lututnya gemetar, ruangan besar di depan kamar sangat sepi, para art tinggal di bagian belakang rumah yang sangat jauh dan dibatasi halaman.
“Siapa itu?”
“Gak ada siapa-siapa,Tuan.”
Rumah papa yang sangat luas dan banyak pepohonan memang nampak seram di kala malam tiba karena para art lebih suka berkumpul di bagian belakang rumah daripada di halaman.
“Ini kan masih pagi. Masa sih horor banget,”gumam Ryan yang semakin penasaran.
“Mas baru kali ini lho tinggal di rumah segede ini,”kata Mas Budi sambil melanjutkan pekerjaannya merapikan pakaian dan memasukkannya kembali ke dalam lemari.
Ryan memperhatikan perawat itu memasukkan tumpukan pakaiannya ke dalam lemari. Ia bersyukur mendapat perawat yang rajin dan mau membantunya merapikan pakaian yang seharusnya bukan kewajibannya.
“Mas..Bantu dorong kursi roda ke halaman belakang yuk!”pinta Ryan ketika dilihatnya Mas Budi sudah menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
Perawat itu bangkit berdiri, menutup lemari dan menuruti keinginan tuannya. Perawat itu mendorong kursi roda melewati setiap sudut ruangan yang seakan tidak berpenghuni. Om Robert biasanya lari pagi mengelilingi halaman rumahnya yang luas,sementara itu para art disibukkan dengan kegiatannya masing-masing, dan Pak Ujang pasti sibuk membersihkan mobil yang ada di garasi. Sopir keluarga itu sudah puluhan tahun mengabdi pada orang tua Ryan, ia menempati sebuah rumah kontrakan di pemukiman penduduk yang terletak di belakang rumah Om Robert sehingga dapat dipanggil kapan saja. Pak Ujang cukup berjalan kaki untuk mencapai rumah majikannya meskipun kini ia telah memiliki rumah yang layak huni dan sebuah sepeda motor. Tiga orang anaknya pun dapat mengecap pendidikan yang terbaik bahkan anak sulungnya telah berkuliah di sebuah perguruan tinggi negeri dan mengambil jurusan kependidikan untuk mewujudkan cita-citanya sebagai seorang pendidik.
“Kita kemana,Tuan?”
“Ke halaman. Ryan ingin menghirup udara pagi.”
“Baiklah,Tuan.”
Mereka berjalan menyusuri sebuah lorong yang menghubungkan rumah dengan bagian di luarnya yang menghadap taman besar yang dipenuhi bebatuan dan air terjun yang disertai kolam ikan yang memanjang, ada jembatan kecil di atasnya. Salah satu tempat kesukaan Ryan sewaktu kecil adalah bermain-main di sekitar taman bersama pengasuhnya untuk memberi makan pada ikan-ikan koi yang berukuran besar dan jumlahnya puluhan. Di sekeliling taman adalah aneka pepohonan agak besar yang daunnya dibentuk aneka binatang sehingga menyerupai tempat bermain. Di halaman rumah bagian belakang terdapat sebuah lapangan tenis dan lapangan basket dimana Ryan sering menghabiskan waktu di sana saat ia mulai menginjak remaja. Tak heran hingga akhirnya Ryan tumbuh menjadi kapten basket yang handal. Di halaman belakang juga terdapat sebuah kolam renang pribadi yang airnya selalu jernih dimana ia biasa melepaskan rasa penat di sana. Terkadang beberapa sahabat dekatnya di saat kecil diajaknya berenang bersama dan membuat acara barbeque setelah itu.
“Ah…Banyak sekali kenangan Ryan di rumah ini,”gumamnya sambil memandang area di sekitar kolam renang dimana mereka dulu saling bercanda dan tertawa lepas tanpa beban kehidupan.
Mas Andi mendorong kursi roda lebih jauh lagi, ke sebuah hamparan padang rumput luas dengan 18 lubang, sebuah lapangan golf milik papa yang menghadap sebuah danau buatan. Di tempat inilah sang pengasuh sering membawanya ke sini bersama beberapa art-nya saat Ryan kecil susah makan. Mereka akan membawa stroller dan meletakkan Ryan kecil duduk di sana dan menyuapinya bergantian. Maklumlah Ryan kecil adalah seorang bocah yang pembosan, saat suasana hatinya gembira makan nafsu makannya pun meningkat, demikian pula sebaliknya. Sehingga beberapa art itu harus membuat semacam permainan yang membuat Ryan kecil tertawa bahagia dan mau membuka mulutnya. Ryan tertawa mengenang itu karena sang papa sering membuatnya sebagai ledekan sehari-hari terutama di saat ia menginjak remaja.
“Itu ada Tuan,”seru Mas Andi sambil menunjuk Om Robert yang berlari dari kejauhan.
Ryan memanggil papanya yang kemudian datang mendekat dan mengajaknya berkeliling. Mas Andi mencoba memapah Ryan bangkit dari kursi rodanya, cowok itu mengangkat kedua kakinya yang masih terasa lemah. Digerakkannya kedua kakinya untuk berjalan, masih terasa sedikit sakit di bagian tungkai kaki ketika otot kakinya harus menyangga beban tubuh.
“Tapi kau harus terus berlatih. Biar otot kakimu kembali kuat.”
“Jangan pakai alas kaki. Biarkan telapak kakimu terlatih ketika menginjak batu-batuan kecil,”saran Mas Andi sambil memegang kedua lengan Ryan dari belakang agar tidak terjatuh.
“Coba biarkan saja dia berjalan sendiri,”pinta papa sambil memberi semangat pada putra kesayangannya.
Mas Andi pelan-pelan melepaskan tangannya, Ryan kembali belajar berjalan persis seperti yang ia lakukan di saat usia 1 tahun.
“Ups…”
Cowok itu membuat keseimbangan agar tidak terjatuh di atas rumput, tubuhnya sedikit oleng ketika kedua kakinya menapak untuk berjalan.
__ADS_1
“Ya…bagus! Teruskan berjalan kemari,”kata sang papa memberi semangat.
“Yey! Akhirnya aku bisa berjalan lagi,”seru Ryan bersorak sorai.
Cowok ganteng itu sangat bahagia ketika dirinya dapat berjalan kembali, matanya berkaca-kaca karena sangat terharu. Meskipun kedua kakinya terasa belum seimbang, seakan sebuah kakinya terasa lebih pendek dari yang lainnya. Untuk itulah ia harus menjalani fisioterapi agar kedua kakinya kembali seperti sedia kala.
“Nah..Biar gak terlalu capek. Kamu boleh pakai kursi rodamu lagi,”kata papa sambil tertawa.
Dielusnya punggung Ryan, laki-laki paruh baya itu gantian mendorongnya kembali ke kamarnya yang terletak di lantai satu.
Saat akan halaman depan, tatapan Ryan terpaku pada seorang tukang yang sedang memantek dinding yang berbatasan dengan kamarnya.
“Lagi ngapain itu,Pa?’
“Oh..Itu tukang untuk mengecat bagian depan rumah kita,”sahut papa.
“Pantesan tadi ada suara seperti orang mengetuk pintu. Tapi saat dibuka tidak ada orang sama sekali,”kata Ryan yang disambut dengan tawa sang papa dan perawatnya.
“Jadi kalian pikir rumah ini berhantu?”tanya papa yang menghentikan mendorong.
Kini ketiganya berhenti tepat di belakang sang tukang yang sedang sibuk bekerja.
“Cat yang lama harus dikelupas dulu makanya harus dipantek,”kata papa.
Mas Andi menarik napas panjang, bibirnya menyungging senyuman. Perawat itu seakan merasa tenang setelah mendapatkan kebenaran mengenai asal suara seperti ketukan di pintu. Maklumlah rumah Om Robert yang sangat besar dan terdiri dari banyak ruangan,membuat perawat baru itu harus berpikir keras untuk menghapalnya.
“Oh ya…Papa sudah mendapatkan rumah baru untukmu di Solo dan Jogja,”kata papa sambil mendorong kursi roda memasuki area rumah.
“Oh ya? Ada foto rumahnya,Pa?”
__ADS_1
“Ada…Nanti papa tunjukkan untukmu.Kamu boleh memilih antara Jogja atau Solo.”
“Hmm pilih mana ya?”gumam Ryan kebingungan.