
Sore itu hujan turun dengan sangat lebatnya, seharusnya bulan ini sudah berganti menjadi musim kemarau. Tapi nampaknya fenomena La Nina menyebabkan perpanjangan musim hujan di mana-mana. Deretan kios di bagian depan Asrama Milenial sudah ditutup, semua mobil yang berderet di carport depan rumah, basah kuyub oleh air hujan. Pak satpam pun telah menutup pintu pagar yang dibuat secara memanjang mengelilingi rumah kos. Beruntungnya jalanan di depan tidak pernah banjir, terlebih lagi rumah dibuat lebih tinggi daripada jalan raya.
“Tet….Tet…”
Terdengar suara klakson yang beradu dengan derasnya air hujan, membuat satpam keluar dari posnya dengan sebuah payung hitam berukuran besar, lalu menengok ke arah gerbang.
Seorang laki-laki berperawakan sedang mengenakan kaos polo warna hitam dipadukan dengan celana jeans yang sudah usang,turun dari mobil, bajunya kebasahan karena payung kecilnya tertiup angin ke sana ke mari dan membengkok.
“Sore,Pak. Saya utusan Pak Robert. Mau mengantarkan mobil untuk putranya.”
“Boleh saya periksa KTP bapak?”
Sesaat laki-laki itu merogoh sesuatu dari saku celananya lalu mengeluarkan isinya. Sebuah dompet kulit berwarna coklat muda, dibukanya lalu diambilnya sebuah KTP serta menyerahkannya pada satpam itu.
“Maaf,Pak. Hujan angin begini bolehkah saya masuk dulu? Baju basah akan bikin jok mobil juga basah,”pintanya sambil kembali masuk ke dalam mobil dan melipat payungnya.
Satpam mendorong pintu pagar dan mempersilakan tamunya masuk. Suara berdecit terdengar jelas ketika ban mobil memasuki halaman yang basah oleh air hujan.
Sekali lagi pak satpam memberi aba-aba agar mobil itu diparkirkan di garasi yang terletak di deretan kios paling ujung.
“Terima kasih Pak,”teriak sopir itu sambil membuka kaca mobil separuhnya.
Satpam hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum. Di garasi telah menunggu seorang art yang telah membukakan pintunya. Sopir itu memarkirkan mobil sehingga rodanya membentuk pola dengan jelas di lantai garasi.
“Beuh…Basah semua garasinya,Mbak.”
“Ya gak apa-apa,Mas. Mobil baru?”tanya Maemunah sambil mendekati mobil milik majikannya.
“Lha in ikan mobil Tuan. Yang biasa dipakai ke kantor,”sahut sang sopir sambil tertawa.
“Oalah. Iya kok pangling.”
“Liat plat nomornya aja kan sama. Oh ya kenalkan saya Kardi, saudara Si Ujang,”kata sopir itu memperkenalkan diri.
“Oh..Sopir baru buat Den Ryan? Mari Mas masuk, kamarnya ada di belakang. Den Ryan lagi di ruangannya. Mari saya antar,”kata Maemunah sambil mengunci kembali garasi mobil.
“Nanti saya nyusul. Mau ganti baju dulu,”sahut Kardi sambil menurunkan sebuah tas ransel ukuran besar dari bagasi mobil.
“Yasudah. Saya kabari Den Ryan dulu kalau mobilnys sudah sampai.”
__ADS_1
“Oh ya. Titi pada satu dus besar titipan Pak Robert untuk Den Ryan.”
Maemunah kembali ke mobil dan mengangkat sebuah dus berisi beberapa susu buatan pabrik majikannya.
Di ruangannya, Ryan sedang sibuk memasukkan data para penghuni kos dalam laptop miliknya. Hari ini ia menambahkan data uang masuk secara bulanan dari Drio meskipun penghuni lainnya membayar secara per semester atau tahunan.
“Tok…Tok…Tok…”
Suara ketukan di pintu membuat Ryan meletakkan mouse dan menengok ke arah datangnya suara.
“Coba bukakan pintu Mas,”pintanya pada perawat itu.
Mas Andi yang sedang berada di ruangan itu bangkir berdiri dan berjalan ke arah pintu, tangannya membuka anak kunci yang tergantung di pintu itu.
“Ceklek…”
Gagang pintu ditekannya ke bawah sehingga daun pintu terbuka lebar, tampaklah sosok perempuan mengenakan daster batik berdiri di muka pintu. Maemunah, nama art itu menganggukkan kepala untuk memberi hormat pada anak majikannya.
“Den Ryan. Mobil kiriman Tuan sudah sampai. Ini ada kiriman dari Tuan. Sopirnya sedang di belakang. Namanya Kardi, saudara Ujang,”katanya panjang lebar.
Maemunah berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya di dapur. Mas Pri mengangkat kardus itu dan meletakkannya di atas kursi di depan meja Ryan.
“Bawa ke kamar saya,Mas. Biarkan saya yang membukanya nanti,”pinta Ryan sambil mematikan laptop.
“Mungkin dengan alasan kursi roda makanya papa kirim mobil ukuran besar,”pikir Ryan sambil tersenyum.
Ryan bergegas menelpon sang papa yang pastinya sudah sampai di rumah sore ini.
“Halo papa. Makasih banget mobilnya udah sampai.”
“Halo Ryan. Papa kangen berat nih. Sepi banget sendirian di rumah.”
“Ryan juga kangen,Pa. Ryan mau nemuin Pak Kardi dulu ya! Nanti malam kita telponan lagi. Bye papa…”
“Bye.. Ryan. Love u.”
Ryan menekan tombol otomatis di kursi rodanya untuk keluar ruangan, tiba-tiba suara ketukan di pintu kembali terdengar. Maas Andi membukakan pintu, tampak sosok seorang laki-laki berusia sekitar 30 tahun dengan pakaian rapi, tubuhnya setinggi 160 cm dengan rambut tersisir rapi dan kulit sawo matang, wajahnya nampak sangat biasa dan membumi. Namun laki-laki itu nampak kalem dan gesit.
“Selamat sore,Den. Saya Kardi. Ini berkas surat lamaran saya. Ada foto kopi KTP dan surat keterangan berkelakuan baik dari polisi.”
__ADS_1
Ryan menerima map kertas warna bitu muda dari tangan Kardi dan membacanya. Ia mempersilakan Mas Andi meninggalkan ruangan itu. Perawat itu keluar ruangan dan menutup pintunya kembali.
Kini Kardi duduk di kursi di depan meja milik Ryan. Wajahnya tampak tertunduk di atas meja, tak berani menatap wajah tuannya. Menurut etika Jawa , seorang bawahan harus memelihara etika agar tidak dianggap kurang ajar, seperti itulah yang dilakukan Kardi. Sopir yang sudah berpengalaman belasan tahun, dan kini dipanggil Ujang untuk turut mengabdi pada keluarga majikannya.
Ryan membolak-balikkan lembaran kertas di dalam map, kepalanya tampak mengangguk-angguk dan bibirnya mengembangkan senyuman.
“Bagus…Papa sudah menawarkan gaji ?”
“Sudah,Den. Kata beliau, soal gaji biar Pak Robert yang kirim,”kata Kardi sambil menatap Ryan dengan senyuman ramah.
“Oh begitu..,Soal uang makan gimana?”
“Itu saya tidak tau,Den. Mungkin dipikirnya saya makan di dalam rumah. Bisa ditanyakan ke Tuan saja.”
“Yaudah itu masalah kecil. Silakan kembali bekerja. Dan jangan lupa jaga kebersihan mobil.”
“Baiklah,Den. Kapan jadwal ke dokter, saya selalu siap.”
Kardi keluar ruangan dan menutup kembali pintunya. Ryan menekan tombol otomatis kursi rodanya dan mengunci kembali ruangan itu.
Mas Andi buru-buru mengejar Ryan yang menjalankan kursi rodanya ke arah halaman luar untuk melihat mobil.
“Jangan dulu,Den. Di luar masih hujan deras. Kita tunggu sampai hujannya reda.”
Ryan mengangkat dagunya dan mengangguk. Kursi rodanya kembali diarahkan ke kamar.
“Satu jam lagi antar saya ke garasi,Mas.”
“Baiklah. Semoga sudah reda ya,”sahut Mas Andi sambil berjalan ke arah daput untuk membantu persiapan makan malam untuk Ryan.
Menurut dokter, makanan untuk Ryan harus lebih diperhatikan nilai gizinya agar penyembuhan kakinya lebih cepat.
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam…
Mas Andi mengetuk pintu kamar anak majikannya dan membawanya ke meja makan. Ryan menyantapnya dengan lahap.
“Hujan sudah reda,Mas?”
Mas Andi menengok ke arah jendela dan mengangguk,”Sudah. Kita bisa ke garasi sekarang.”
__ADS_1
Nurmah membantu membukakan pintu garasi, Ryan memperhatikan benar papanya telah menukar Alphard miliknya untuk dipakai selama di kota ini.
“Ah..papa. Selalu saja memberikan yang terbaik untuk Ryan,”gumam cowok ganteng itu dengan rasa haru.