
Mas Andi dan Pak Kardi tampak terperangah ketika dilihatnya dari kejauhan, Ryan sudah mulai bisa berjalan agak jauh. Keduanya tampak saling berpandangan dan tertawa.
“Wah sebentar lagi Pak Kardi bakal balik kampung nih,”ledek Mas Andi sambil cengar-cengir.
“Mas Andi juga kan? Ryan udah gak butuh perawat,”kata Pak Kardi tak mau kalah.
Keduanya saling tunjuk dan terkekeh hingga air matanya keluar, antara bahagia dan sedih karena sebentar lagi mereka diperhentikan dengan hormat.
“Tenang aja. Papa pasti kasih kalian pesangon,”kata Ryan sambil menepuk bahu mereka satu persatu.
“Iya,Tuan. Buat modal saya mau buka warung sembako di kampung,”sahut sang sopir dengan mata berbinar-binar.
“Kalau Mas Andi?”tanya Ryan dengan menaikkan alis.
Si ganteng sering memergoki Mas Andi diam-diam chatting dengan seorang wanita dengan mengungkapkan kata-kata mesra, pastilah pulang kampung merupakan hal membahagiakan bagi perawat itu.
“Anu…Tuan. Saya mau menikah,”sahut Mas Andi sambil menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.
Sontak semuanya tertawa terbahak-bahak, Maya yang berdiri di belakang Ryan turut tertawa.
“Nanti akhir pekan Pak Kardi jemput Maya di kos. Saya mau adakan syukuran dengan mengundang tetangga dan ketua rt / rw.”
“Wah yang bener?”tanya Pak Kardi kegirangan.
Sang supir memang penggemar makan kelas berat tapi meskipun begitu tubuhnya tak pernah gemuk, boros energi sepertinya.
“Tugas kalian ketemu pak rt dan rw,minta data berapa jumlah tetangga satu rw kira-kira. Panggil kiai dan kita selamatan sambil makan-makan.”
“Yang cari catering juga kita,Tuan?”
“Ya iyalah. Kalian cari catering yang paling enak.”
“Sip-sip,”sahut keduanya kompak.
Setelah mengantarkan sang kekasih kembali ke kos, Ryan meneruskan kembali perjalanan ke rumah transitnya. Si ganteng tampak sangat bahagia , begitu dirinya sampai di rumah langsung berlari menghambur ke dalam.
“Aduh…”
Terdengar teriakan nyaring Ryan yang memegang lututnya kesakitan.
“Pelan-pelan atuh Tuan,”pesan Mas Andi dengan logat Sundanya yang kental.
__ADS_1
Saking senangnya, Ryan tak sabar lagi untuk segera berlari dan loncat-loncatan.
Perawat itu dengan sigap memberi obat penahan sakit. Ryan menggulung celana panjangnya hingga ke atas lutut dan memperhatikan bekas luka-luka di kakinya.
Mas Andi sedikit membungkukkan tubuhnya, matanya memperhatikan dengan serius setiap pori-pori kaki milik tuannya.
“Lukanya sudah mengering. Bekasnya juga mulai pudar kok. Tiap malam olesin dulu salepnya,Tuan.”
“Sudah mau habis salepnya,Mas.”
“Besok kita beli lagi,”sahut Mas Andi sambil memasukkan pembungkus bekas obat ke dalam plastik sampah.
Di kamar kos…
Maya memperhatikan susu merah dalam kemasan, diperhatikannya bagian komposisi. Karena penasaran, gadis itu mengambil mikroskop yang terletak di bagian bawah meja belajarnya. Jari jemarinya yang lentik berselancar di internet untuk mencari jenis golongan darah binatang yang mirip dengan manusia.
“Satu-satunya yang memiliki golongan darah yang persis dengan manusia hanya sesama Ordo Primata yaitu :monyet, orang utan, gorilla.”
Gadis itu manggut-manggut dan membandingkan hasil penelitiannya dengan jenis darah manusia dengan cara menusuk ujung jari telunjuknya dan memeriksanya di bawah mikroskop.
“Mmh..Artinya darah sapi bisa menyembuhkan karena mengandung protein dan zat-zat gizi lainnya yang tinggi,”batin Maya sambil menyimpulkan temuannya.
“Jam enam lewat tiga puluh enam menit.”
Waktu yang masih terlalu dini bagi manusia untuk beraktivitas di hari Minggu.
“Kok ngelamum,Non?”tanya Pak Kardi sambil tersenyum.
“Ehm…Gak ngelamun kok,Pak.”
“Non ini calon istrinya Ryan bukan?”tanya sopir itu lagi dengan keponya.
“Iya,Pak. Tapi sebelumnya kami sudah menikah siri.”
“Oh..Tapi belum tinggal satu atap?”
“Belum,Pak. Karena itu memang persyaratan dari pihak saya.”
“Baguslah,Non. Sekarang kuliah dimana?”
“Fakultas Kedokteran Umum,Pak.”
__ADS_1
“Wah…Hebat ya, kelak kalau Pak Kardu periksa boleh gratis ya,Non.”
Maya hanya tertawa tanpa memberikan jawaban.
Sesampainya di rumah milik Ryan di kota Solo, telah berdiri tenda putih berukuran besar di halaman yang sangat luas. Puluhan atau bahkan seratus kursi lipat warna merah berderet rapi di bawah tenda, nampak tiga orang art berseragam hijau muda berdiri di bagian paling depan sebagai penerima tamu. Mereka mempersilakan setiap tamu yang hadir untuk duduk. Maya tampak anggun dengan gaun terusan warna krem dengan hiasan kalung keemasan, kakinya yang putih nan jenjang dibalut sepatu vantofel warna keemasan. Di tangannya yang putih dan langsing tergenggam tas warna krem dengan hiasan mute-mute mengkilap keemasan. Wajahnya yang cantik dipoles tipis dan rambutnya yang sebahu dibiarkan tanpa hiasan apapun.
Ryan berdiri di depan pintu sambil tersenyum, wajahnya nampak rupawan dan klimis seperti sehabis bercukur. Tubuhnya yang tinggi atletis dibalut kemeja lengan pendek berwarna coklat muda dan celana panjang dari bahan kain berwarna hitam.
“Ayo kita ke arah sana,May. Dampingi aku jadi tuan rumah untuk beramah tamah,”ajak Ryan sambil menggandeng tangan sang kekasih.
“Ayok…”sahut gadis itu sambil mengikuti langkah Ryan.
Di podium telah berdiri seorang pembawa acara yang memberikan kata sambutan diselingi dengan lelucon sebagai bahan pembicaraan yang menyegarkan.
“Kinilah saatnya kita mendengarkan ikhtisar dan salawat yang disampaikan oleh Kiai XYZ. Kepada yth Kiai XYZ silakan maju ke mimbar.”
Tepuk tangan meriah menyambut kehadiran kiai yang cukup kondang di daerah Jawa Tengah.
Di bagian akhir, sang kiai menyelipkan sedikit ceramah agar manusia senantiasa dekat dengan Allah. Hadirin mendengarkan dengan seksama ceramah beliau, semua mata memandang dengan penuh perhatian. Terlebih saat beliau menyelipkan kata-kata mutiara yang menyentuh sukma, banyak hadirin yang terharu.
Saat yang paling ditunggu pun tiba, para art dibantu Pak Kardi mengeluarkan semua makanan yang dipesan dari sebuah catering paling tersohor di kota ini. Ketiga art di rumah itu hanya membantu membuatkan pudding, memotong buah dan menyiapkan minuman. Semua yang hadir nampak sangat menikmati hidangan yang disajikan. Musik mengalun merdu diperdengarkan dari empat buah pengeras suara yang berada di setiap sudut ruangan. Para art dan supir makan masuk ke dalam rumah untuk makan. Mas Andi dan pembawa acara duduk di antara para hadirin turut menikmati hidangan yang disajikan secara prasmanan. Ada dua tiga buah stall atau gubuk makanan tambahan, berupa siomay, kambing guling dan es krim untuk memberikan pelayanan yang memuaskan kepada semua yang berkunjung ke rumah itu.
Dua jam berlalu, para tamu pamit pulang. Seorang pria kurus mengenakan kemeja lengan panjang warna putih dan celana hitam bergaris-garis kecoklatan mendekati tuan rumah.
“Perkenalkan..Saya Pak Rahmat. RT 09 .”
Ryan menyambut uluran tangan pak rt sambil tersenyum ramah.
“Pak rw sedang di luar kota. Gak bisa hadir. Nanti tolong serahkan foto copi KTP untuk data dan diundang di grup rt/rw.”
“Baiklah,Pak. Terima kasih,”sahut Ryan sambil melepas kepergian pak rt.
Seorang bocah laki-laki berusia sekita delapan tahun mengintip dari balik tiang dimana tenda ditancapkan, pakaiannya nampak lusuh dan wajahnya berdebu.
“Ryan…Coba liat itu siapa? Bukannya perumahan ini cukup elite?”
“Bisa aja anak kampung belakang,May.”
“Boleh aku kasih makan?”
Ryan mengangguk.
__ADS_1