
Sekian hari setelah peristiwa ruwatan. Alisha mencoba menganggap dirinya tak pernah mengalami kejadian buruk bersama Akasha. Namun memorinya menolak lupa. Alisha selalu dikejar kekuatiran. Setiap malam ia terbangun dengan keringat membasahi tubuh karena mimpi buruk. Setelah itu ia akan terjaga sampai pagi. Mimpi itu dipicu oleh ketakutan dan rasa bersalahnya pada Maya. Sekejam-kejamnya Alisha, gadis itu tak pernah berniat mencelakakan orang lain.
Alisha lupa bagaimana pertemuan dengan Akasha itu terjadi. Ia hanya ingat sebuah boneka yang dibelinya dari Mesir beberapa tahun yang lalu, mirip Cleopatra tapi ia tak tahu apa namanya.
“Oh my God! Pantas saja gue mimpi buruk mulu. Eyang uti lupa menyuruh Ki Danu Langgeng untuk membakar patung itu!”
Alisha menepuk jidatnya sendiri dan berlari-lari ke arah pintu lift.
“Duuk….Duuk….Duuk…”
Suara sandal tidur yang beradu dengan lantai marmer rumahnya saat dini hari, terdengar jelas di telinga mama. Wanita itu membuka pintu dan berlari mengejar Alisha.
“Ngapain jam segini lari-larian?”tanya mama dengan suara meninggi.
Mama mengejar Alisha hingga depan pintu lift. Dilihatnya sang putri dengan wajah basah oleh keringat.
“Mimpi buruk lagi?”
“Mungkin gara-gara kita lupa membakar boneka yang kita beli dari Mesir dulu,Ma.”
“Kamu takhayul aja. Cuma boneka ini,”kata mama dengan wajah masih mengantuk.
“Ma… Percaya gak sih? Roh jahat itu bisa mendiami benda-benda tertentu.”
“Kalau begitu, kita bakar besok aja,Lis.Pulang sekolah.”
“Tapi kita harus cari boneka itu sekarang juga,Ma.Alisha gak bisa tidur berhari-hari.”
Hari itu juga, sekitar jam 2 malam menjelang pagi, Alisha dibantu sang mama mencari boneka Akasha yang biasa diletakkan di ruang tamu.
“Bonekanya gak ada,Ma. Biasa kan diletakkan di sini.”
Seketika Alisha merasakan bulu kuduknya merinding, telapak tangannya mulai berkeringat.
“Mungkin ada yang memindahkan. Jangan berpikiran negatif dulu. Yuk tidur lagi!”
“Beberapa hari ini,Alisha susah buat tidur lagi,Ma.”
“Yuk tidur di kamar mama aja.Gimana?”
“Alisha sudah besar,Ma. Malu masa masih dikeloni?”
Gadis itu kembali ke kamarnya, dan menarik kembali selimutnya. Hatinya merasa tidak tenang, seolah ada sesuatu di bawah tempat dtidurnya. Alisha berjongkok dan menarik laci di bawah temat tidurnya yang biasa digunakan untuk menyimpan buku bacaannya sewaktu kecil.
“Sreek..”
Laci dibuka, hanya ada tumpukan bacaan yang dibelinya waktu kecil dulu. Ia mengingat kenangan manis di saat menjelang tidur, baby sitternya selalu membacakan dongeng sebelum tidur sebelum rebah di tempat tidur kecil di sampingnya.
“Ahhhhhhh….Mama….Tolong!”teriak Alisha ketika melihat sesuatu di balik tumpukan buku.
Mama tergopoh-gopoh mendekati putrinya yang terduduk dengan wajah pucat pasi.
__ADS_1
Dirabanya kening gadis itu dengan punggung tangannya, mama bernapas lega.
“Alisha gak demam,Ma. Tapi karena boneka itu,”sahut Alisha sambil menunjuk sesuatu di bawah tumpukan buku.
“Mama pikir kau demam. Jadi meracau,”kata mama sambil mengambil sesuatu di bawah tumpukan buku.
“Ini boneka yang kita beli dari Mesir. Gak ada yang aneh. Mungkin kamu lupa telah memindahkannya dari bawah.”
“Sama sekali gak pernah mainan boneka itu lagi,Ma. Ayo kita bakar sekarang!”
Mama menggelengkan kepalanya,”Tunggu matahari terbit dulu. Sekarang kita tidur lagi.”
Alisha menggelengkan kepalanya. Gadis itu tampak makin pucat dan tubuhnya makin kurus karena kurang tidur berhari-hari.
“Biar mama yang menyimpan boneka ini,Lis.”
Alisha menyerahkan boneka Akasha pada sang mama yang membawanya kembali ke kamarnya. Alisha mencoba untuk tenang dan tidur lagi.
Di sekolah, Affandra kembali memperhatikan Alisha,mantan kekasihnya. Gadis itu nampak murung beberapa hari terakhir. Ada sesuatu yang aneh dengannya, Affandra memberanikan diri mendekati Alisha di saat istirahat pertama tiba.
“Boleh gue bicara sama lu?”
Alisha menganggukkan kepala, dua sahabatnya menyingkir agak jauh. Cowok itu kini duduk di hadapan Alisha di sebuah meja di kantin sekolah.
“Mau bicara apa?”tanya Alisha dengan wajah datar nyaris tanpa ekspresi.
“Lu ada masalah lagi?”
“Gue gak yakin punya masalah. Yang pasti beberapa hari terakhir gue sering mimpi buruk.”
“Mimpi apa?”
“Entahlah. Sejak gue diruwat. Sepertinya ada sesuatu yang ketinggalan. Boneka belum dibakar.”
“Maksud lu?”
“Gue beli boneka dari Mesir yang konon dimasuki roh jahat. Akasha,vampire dari Mesir.”
“Lu masih percaya begituan,Lis? Ibadah aja lu perkuat. Tanpa dibakar, roh jahat juga akan kabur.”
Alisha merenungkan perkataan Affandra,”Benar juga. Gue hampir setahun jarang ibadah.”
“Nanti pulang sekolah.Gue mampir ke rumah buat bantu bakar itu boneka. Dan…jangan lupa sholat lima waktu!”
Alisha menganggukkan kepala, dan menyadari kekeliruannya selama ini. Akar segala kejahatan berpusat pada iman yang lemah.
Sementara itu hubungan Ryan dan Maya aman-aman saja. Dua remaja dengan karakter yang berbeda, mampu saling melengkapi.
“Alisha udah diruwat. Mudah-mudahan dia beneran jadi anak baik yang gak lagi suka ngebully.”
“Syukurlah kalau begitu. Tapi dia kelihatannya beda. Makin pucat. Yakin membaik?”
__ADS_1
Ryan mengamati Alisha dari kejauhan, gadis itu memang tampak pendiam dan murung. Wajahnya pucat dan tubuhnya kian kurus.
“Nanti pulang sekolah aku tanya.”
“Gak kamu tanya sekarang?”
Ryan menggelengkan kepala,”Kan ada Affandra. Sepertinya dia lagi deketin lagi tuh cewek.”
Maya tertawa dan menutupi mulutnya dengan telapak tangannya.
Langit siang sepulang sekolah, sangat cerah tiada berawan, udara bertiup sepoi-sepoi mengantarkan dua pasang muda-muda untuk kembali merajut asmara. Alisha memberikan kesempatan kedua untuk Affandra, dan cowok itu kembali mau membukakan pintu hatinya untuk Alisha. Ryan dan Maya turut berbahagia menyaksikan kebahagiaan mereka.
“Gue boleh ikutan ke rumah lu?”tanya Ryan ketika dilihatnya Alisha semobil dengan Affandra.
“Boleh. Kita mau bakar boneka.”
“Gue boleh bawa Maya?”
Alisha menganggukkan kepala. Jadilah mobil Ryan mengikuti mobil Alisha di belakang. Mereka berjalan beriringan dengan kecepatan sedang. Maya menebarkan pandangan keluar jendela. Hari itu terasa lain, dunia menjadi lebih indah dengan kedamaian dan kasih sayang dimana-mana.
“Gue bakar sekarang?”tanya Affandra dengan disaksikan Alisha , Ryan ,dan Maya.
“Tunggu! Sepertinya masih ada yang tertinggal. Ada sebuah boneka mini yang sama persis dengan ini.”
“Maksud lu. Ini bukan?”tanya Affandra sambil merogoh sesuatu dari saku celananya.
“Kok lu bisa dapat itu darimana?”
“Tadi pagi gak sengaja lu ambil sesuatu dan boneka kecil itu terjatuh. Gue ambil karena firasat gue aneh soal boneka ini.”
“Kok lu bisa tau?”
“Lis…Gue pernah juga digodain roh jahat di koridor sekolah. Lokasinya persis banget sama loker lu.”
“Jadi..Lu makin yakin kan boneka ini penyebabnya?”tanya Alisha.
Affandra menganggukkan kepala sambil mengeluarkan korek api dan membakar dua boneka itu.
“Joss….”
Api menyulut dua boneka yang sebelumnya telah disiram sedikit minyak tanah dan diletakkan di tanah pekarangan belakang rumah milik Alisha.
“Tolong,Lis…Lu ambil pemadam kebakaran. Apinya menjalar kena tanganku,”teriak Affandra.
Sontak suasana berubah menjadi menegangkan. Hal aneh terjadi, Affandra terjilat api yang membakarnya hingga ke lengan. Cowok itu mengguling-gulingkan tubuhnya di atas tanah hingga baju seragamnya menjadi kotor penuh debu. Alisha dengan berlari membawa pemadam kebakaran dan menyemprotkannya ke tubuh Affandra. Sementara Ryan dengan gerakannya yang sangat gesit mencelupkan kain terpal yang telah dibasahi air dan menutupnya ke kobaran api yang melahap sebagian ujung lengan seragam milik Affandra. Maya merasa ketakutan, gadis itu menutupi wajahnya dengan telapak tangan sambil menangis. Gadis itu tak menyangka akan terjadi peristiwa aneh seperti ini.
“Affandra aman kok. Hanya luka ringan. Yuk kita bawa ke UGD,”ajak Ryan.
Cowok itu meringis kesakitan. Dua boneka Mesir kini telah berubah menjadi abu.
Roh Akasha kini telah pergi untuk selamanya.
__ADS_1