Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 114: Mendapat Perawat Pribadi


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang sangat lama, pesawat landing di Bandara Soeta.


“Bangun,Ryan!” seru sang papa sambil menggoyang-goyangkan bahu cowok ganteng itu yang masih pulas dalam tidurnya.


Ryan membuka matanya dan memandang sekelilingnya,”Ah papa…Tadi Ryan mimpi ketemu mama.”


“Yuk kita siap-siap. Nanti grounded staff akan bawakan kamu kursi rodanya,”kata papa sambil melepaskan seal belt.


“Nunggu semua penumpang turun aja,Pa. Ryan gak mau berdesak-desakan, takut terinjak kakinya,”pinta Ryan yang masih enggan bergeser dari tempat duduknya.


Papa menuruti keinginan putra tunggalnya, wajahnya memperhatikan Ryan yang nampak menyandarkan kepalanya pada kursi, matanya menatap ke arah pintu keluar. Dua pramugari berdiri di dekat pintu sambil merapatkan kedua telapak tangannya memberi hormat pada tiap penumpang yang keluar sambil tersenyum.


“Kamu mimpi ketemu mama?”tanya papa penuh selidik.


“Iya,Pa. Mama pakai baju tidur panjang dan putih yang menjuntai. Wajahnya sangat cantik dan mirip mamanya Alisha,”sahut Ryan sambil menerawang jauh.


“Iya..Konon mereka kan saudara kembar.”


“Apa arti mimpi tadi,Pa?”


“Mmhh…Mungkin mama di Surga kangen kamu. Lusa kita tabur bunga di makan mama ya?”


“Makam mama yang di belakang rumah Ryan kan,Pa?”


“Benar.”


“Ryan merasa aneh aja. Kenapa papa beli rumah di depan kuburan? Papa kan bisa beli kompleks pekuburan mewah di San Diego Hills atau memindahkan Ryan ke rumah lain,”protes Ryan dengan mulut manyun.


“Itu keinginan mama kamu,Nak. Ingin dimakamkan secara sederhana dan berbaur dengan rakyat kecil, dan tak ingin jauh dari bayinya.”


“Awalnya Ryan gak tau kalau belakang rumah itu kompleks pekuburan. Tapi setelah tau, perasaan Ryan kurang suka juga,Pa.”


“Kamu takut?”


“Bukan takut. Tapi rumah Ryan berdiri di atas bukit jauh dari rumah lainnya. Seandainya banyak yang jadi tetangga kan lebih bagus,Pa.”


“Mmmh….Kalau kamu kurang suka, boleh kita bertukar rumah. Tapi omong-omong kamu mau tinggal di rumah sendiri atau di rumah papa hari ini?”tanya papa sambil membantu Ryan menuruni tangga pesawat.


“Di rumah mana aja,Pa. Yang penting papa nemenin,”sahut Ryan sedikit manja.


“Baiklah kalau begitu. Rumah papa aja. Nanti biar Pak Ujang yang ambil pakaian ke rumahmu.”


Seorang grounded staff telah menunggu di bawah dan membantu mendorong kursi roda Ryan.

__ADS_1


“Halo…Pak Ujang sudah sampai di bandara?”tanya papa yang ternyata sedang sibuk menelpon sang supir.


“Sudah dari tadi menunggu di depan,Tuan.”


Suara lantang milik Pak Ujang, supir yang sudah mengabdi lebih dari 23 tahun dengan keluarga papa terdengar dengan jelas dari seberang sana. Mereka menuju ke tempat pengambilan bagasi dan menunggu satu persatu koper dan tas penumpang diturunkan melalui sebuah ban berjalan di bandara. Seorang “airport helper”membantu membawakan dua koper mereka hingga depan pintu keluar dimana Pak Ujang telah menunggu dengan melambaikan tangannya.


“Terima kasih ya!”kata sang papa sambil memberikan tip pada mereka.


Grounded staff dan airport helper pun membalikkan badan untuk meneruskan pekerjaan mereka kembali.


“Kita pulang kemana,Tuan?”tanya Pak Ujang yang berjalan di belakang papa yang sedang mendorong kursi roda milik Ryan.


“Ke rumah saya,Pak. Tapi nanti ambilkan pakaian Ryan di rumah dia.”


“Siap,Tuan.”


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang ke sebuah rumah yang cukup jauh dari bandara ke arah selatan. Rumah papa berdekatan dengan sebuah kawasan perumahan elite dengan bangunan yang luas dan berpagar tinggi. Papa sengaja membeli kavling yang luasnya hampir 5 hektar untuk mendirikan berbagai fasilitas pribadi di sana, mulai dari lapangan golf, danau buatan, kolam renang, hingga landasan helipad di atap rumah.


“Papa punya helicopter pribadi. Tapi kenapa kita tidak punya jet pribadi,Pa?”


Sang papa hanya tersenyum, matanya yang tajam dan berwarna coklat muda melirik ke arah Ryan,”Kelak kalau kau berhasil meneruskan usaha papa. Belilah jet pribadi untuk keluargamu.”


“Artinya Ryan harus berusaha lebih keras lagi membangun bisnis kita hingga ke luar negeri. Bukan begitu harapan papa?”


“Benar sekali. Kau sangat cerdas,”puji papa sambil mengelus puncak kepala milik Ryan.


Pak Ujang berhenti di depan rumah, tiga orang art datang menyambut mereka dengan membawakan koper-koper itu, seorang yang lainnya mendorong kursi roda Ryan.


“Mas Andi sudah datang?”tanya papa pada salah seorang art yang berjalan di sampingnya sambil mendorong koper.


“Sudah,Tuan. Dia sedang menunggu di ruang tamu.”


Di ruang tamu seluas 10 meter persegi, terletak sebuah meja console dengan tempat payung dan cermin hias berornamen American Classic, sebuah sofa tamu dari kayu jati berukir yang dicat keemasan sehingga sangat padu dengan ornament lainnya yang bergaya khas kebarat-baratan. Telah menunggu di sana seorang perawat laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun, wajahnya klimis tanpa kumis dan jambang, rambutnya disisir rapi ke belakang, perawakannya sedang dengan tinggi sekitar 165 centimeter dan wajah sangat membumi, kulitnya sawo matang namun tampak bersih.


“Selamat pagi Tuan,”sapanya sambil berdiri dan sedikit membungkuk memberi hormat.


“Pagi, perkenalkan ini Ryan, putra tunggal saya.”


“Saya Ryan. Boleh saya panggil Mas atau Abang?”


“Panggil aja Mas Andi,”pintanya sambil kembali duduk.


Robert Sanders duduk di samping kursi roda Ryan, art yang mendorong kursi roda pamit untuk kembali ke dapur dan meneruskan pekerjaannya.

__ADS_1


“Nah Mas Andi inilah yang akan melayani semua keperluan kamu. Dia juga akan menemanimu selama di Solo nanti,”ujar papa sambil menyandarkan punggungnya di sofa dan bersidekap.


“Baik,Pa. Semoga Mas Andi cocok dengan Ryan ya,”sahut Ryan sambil menggeser kursi rodanya agar lebih dekat dengan sang papa.


“Biasanya cepat sembuh kok kalau fisioterapi dengan rutin di sana. Saya sudah lima tahun mendampingi pasien di sana. Angka kesembuhan 90%,”ucap Mas Andi dengan gaya meyakinkan.


“Alhamdullilah, bisa cepat sembuh,”kata Ryan sambil menadahkan kedua telapak tangannya.


“Mas Andi sudah menempati kamar di sebelah Ryan? Atau sebaiknya pakai kamar Ryan yang ada connection room jadi kalau anak saya butuh apa-apa biar segera ditangani,”kata papa dengan suaranya yang berwibawa.


“Baiklah,Tuan. Saya akan memindahkan barang-barang saya ke sana,”sahut perawat itu berpamitan.


Kini di ruang tamu hanya ada papa dan Ryan, papa mendorong Ryan ke ruang keluarga yang jauh lebih besar, berukuran sekitar 20 meter persegi dengan dua set sofa bergaya Eropa dan keemasan, menggunakan bahan kulit asli, banyak pula lukisan dengan pigura keemasan, lampu-lampu gantung kristal, dan permadani tebal berwarna kecoklatan. Ryan dipindahkan di sebuah sofa besar yang empuk, papa duduk di sampingnya. Cowok itu kelelahan dan menyandarkan tubuhnya di pangkuan sang papa untuk bermanja-manja. Sang papa mengelus kepala Ryan, teringat masa-masa putra tunggalnya masih balita dan tinggal di rumah ini. Di tengah kesibukannya berbisnis dan meninggalkan rumah, Ryan kecil hanya hidup berdua dengan baby sitternya disertai sepuluh art di belakang rumah. Robert Sanders sering menghabiskan waktu malamnya di rumah bersama Ryan kecil untuk menghabiskan waktu sehabis pulang kerja. Ryan kecil adalah hiburan baginya, sekaligus peninggalan paling berharga dari almarhumah istrinya tercinta.


“Ryan..Papa ingin membelikan rumah untukmu di Solo atau Jogja biar dekat dengan Maya. Kamu boleh bawa dua atau tiga art dari rumah papa,”kata papa sambil memandang Ryan dengan penuh kasih.


“Gak kontrak saja,Pa?”


“Gak apa-apa. Rencana papa beli yang ada lima kamar tidur plus dua kamar art. Satu kamar kamu pakai dan empat lainnya disewakan untuk anak kos.”


“Wah..Ide yang bagus,Pa. Tapi kalau di Jogja,papa harus keluar uang lagi untuk membayar sopir.”


“Kan ada Bi Maemunah, suaminya sopir angkot. Bisa papa suruh suaminya kerja sopir sekaligus jadi tukang kebun di sana.”


“Bi Maemunah yang mana,Pa?”


“Yang sudah ikut papa 10 tahun. Dia juga pinter masak.”


“Ryan lupa. Art papa kan banyak,”sahut Ryan sambil terkekeh.


“Kalaupun di Solo. Jarak ke Jogja juga tak terlalu jauh. Terserah kamu pilih yang mana?”


“Sedapatnya nanti,Pa. Yang penting bisa menghasilkan uang kalau dekat kampus.”


“Baiklah,papa minta anak buah di kantor untuk mencari broker property yang professional untuk membantu kita nanti.”


“Maaf,Tuan. Kamar untuk Tuan Ryan sudah siap. Boleh saya membantunya ke kamar?”


“Silakan.”


Ryan menempati sebuah kamar yang berdekatan dengan kamar sang papa di lantai satu. Kamar itu sangat luas hampir empat puluh meter persegi dengan connection sebuah kamar di sebelahnya yang lebih kecil lagi, masing-masing dilengkapi kamar mandi pribadi.


“Oh…Ini kamar Ryan dulu waktu kecil tidur di sini. Dan kamar sebelah buat Zus Uji, baby sitter Ryan,”kata Ryan sambil menyungging senyuman.

__ADS_1


Sebuah kamar yang banyak menyimpan kenangan di waktu kecil. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di ruangan ini kala balita, yang berbeda hanyalah semua mainan masa kecilnya telah disimpan dan dipindahkan ke gudang. Papa telah mengganti semua wallpaper dan lemari yang ada di seluruh ruangan ini karena Ryan telah menginjak dewasa.


“Kamar yang penuh kenangan ya,Tuan. Semoga Tuan makin cepat sembuh dengan mengenang kejadian-kejadian yang indah,”kata Mas Andi sambil membuka korden kamar Ryan agar cahaya mentari masuk dan menerangi kamar itu.


__ADS_2