Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 36 : At Home


__ADS_3

Maya menerobos sebuah hutan yang lebat dan gelap, kepang rambutnya terayun-ayun ke kanan dan ke kiri. Sesekali kepalanya menengok ke belakang untuk mengetahui sejauh mana pengejarnya dapat membuntutinya. Di balik pohon yang batangnya sangat besar, gadis itu bersembunyi dan merapatkan punggungnya pada batang pohon, napasnya ngos-ngosan. Sesaat ia dapat menarik napas lega dan mengusap keringat dengan punggung tangannya. Sudut matanya menyapu ke segala arah, dipasangnya pendengarannya baik-baik, suara desiran angin yang meniup dedaunan kering di atas tanah terdengar jelas. Hutan belukar itu sangat sepi,jentikan jari manusia pun dapat terdengar.


“Dimanakah dia?”gumam si gadis kepang dua.


Tadi ia dikejutkan dengan sesosok makhluk berwajah pucat, berjubah panjang, dan bergigi taring dengan tetesan darah segar yang mengejarnya.


“Dracula? Vampire? Atau makhluk jadi-jadian?”pikirnya lagi.


Maya menjadi semakin panik, lututnya mulai gemetaran dan keringat dinginnya mulai keluar.


Ia mengangkat dagunya dan…


Makhluk itu kini ada di atasnya seperti burung sedang terbang,ia ingin berlari namun kakinya terasa berat, ia ingin berteriak namun mulutnya terkunci. Maya hanya bisa terisak-isak menahan tangis.


“Maya….Bangun,Nak!”


Gadis itu merasakan tubuhnya digoyang-goyang dengan sangat keras. Maya membuka mata yang terasa sangat lengket, sebuah sinar yang menyilaukan masuk ke retina matanya, dan wajah sang mama menyapanya dengan lembut.


“Ma…Maya ada dimana?”


“Kamu mimpi,Nak. Makanya sebelum tidur jangan lupa berdoa.”


“Untung hanya mimpi,”batin gadis itu sambil memeluk sang mama dan meluapkan segala perasaannya.


“Ayo mandi dan kita sarapan pagi bersama,”ajak sang mama sambil menuju pintu.


“Iya,Ma.”


“Oh ya. Kamu ada acara jalan-jalan lagi sama Ryan?”


Maya membuka selimutnya dan meneliti keadaan lututnya, bukan berdarah namun lukanya kini mengeluarkan cairan berwarna putih yang bening.


“Belum tau,Ma. Lutut Maya keluar cairan putih.Perih banget.”


Mama membalikkan badan dan meneliti keadaan luka di lutut putrinya. Jari jemarinya yang lentik memeriksa setiap pori di lutut Maya.


“Lututmu bernanah. Biar mama taburin pakai Nebacetin. Tunggu sebentar ya!”


Sambil menunggu mama,gadis itu meraih ponsel yang tergeletak di atas meja dekat dengan tempat tidurnya. Diketiknya pesan singkat untuk membatalkan rencanaya ke Bogor, dan menundanya untuk beberapa hari.


“Belum deliv. Artinya ponsel milik Ryan belum aktif,”gumamnya sambil melipat selimut dan beranjak bangun dari peraduannya.


Tak lama kemudian mama masuk kembali dengan membawa sebuah botol kecil obat tabur dan menyerahkannya pada sang putri.


“Makasih,Ma. Nanti Maya pakai sendiri habis mandi.”


“Hati-hati,Nak. Bagian yang kena nanah jangan terkena air dulu. Ada plester tahan air di laci bawah lemari. Tempat obat-obatan,”pesan mama sambil menutup pintu.

__ADS_1


Gadis itu membungkukkan badan dan tangannya bergerak membuka laci bagian bawah lemarinya. Sebuah plester tahan air berukuran besar yang membuatnya harus mengguntingnya terlebih dahulu.


Maya mengguyur kepalanya dengan air hangat yang mengalir dari shower di kamar mandinya sambil mengingat-ingat semua mimpinya yang begitu nyata.


“Ah..Semua akibat aku terlalu memikirkan cawan berwarna merah darah di ruangan R&D pribadi milik Om Robert,”batinnya.


Gadis itu buru-buru menepis pikiran buruknya dan mengusirnya dengan bernyanyi-nyanyi kecil di kamar mandi.


Jari jemari Maya menggenggam botol berisi obat dan menaburkannya di atas luka di lututnya.


“Huft..Leganya. Perihnya berkurang. Mama memang hebat!”pikirnya dalam hati.


Kini seharian ia hanya bisa melakukan aktivitas di dalam rumah sambil mengamati dua karyawan mamanya melakukan kegiatan di ruangan laundry. Gadis itu baru ingat burung nuri pelangi pemberian teman mama belum diberi nama. Mama yang selalu memberinya makan berupa biji-bijian.


“Ma…Kita namai apa burung ini?”teriak Maya yang berada di teras.


Mama sedang sibuk menumpuk bungkusan plastik berisi pakaian bersih para langganan yang telah siap diambil.


“Terserah,May. Tanpa nama juga gak masalah kok,”sahut mama dari kejauhan.


“Driing….Driing….


Sebuah panggilan suara dari nomor Ryan, dan gadis itu buru-buru meraih ponsel dari kantung celananya.


“Halo…Apa kabar?”


“Pending lusa ya..Lututku bernanah.”


“Baiklah. Istirahat aja di rumah baik-baik. Daag…”


“Daag juga…”


Maya duduk dekat jendela yang menghadap teras sambil mengamati gerak gerik burung nurinya.


“Ma..Burung nuri bisa dilatih bicara kan?”


“Bisa..Tapi orangnya harus ahli menangani burung.”


Gadis itu mengangguk-angguk.


“Apakah burung bisa mendeteksi sebuah bencana,Ma?”


“Maksudnya seperti burung gagak yang bisa jadi deteksi soal kematian.”


“Wah mama kurang tau,Nak. Coba kamu googling di internet.”


“Oh ya,Ma…Kita sudah lama gak ke kuburan papa buat tabur bunga.”

__ADS_1


“Kan lukamu belum kering,May. Bulan depan aja…Kan hari ulang tahun papa.”


Maya baru teringat kalau bulan depan adalah hari ulang tahun papa yang ke-47 seandainya ia masih hidup.


Maya teringat masa-masa kecilnya yang indah, meskipun sederhana mereka banyak meluangkan waktu bersama. Papa yang sabar dan baik selalu melatih Maya bagaimana cara belajar yang baik dan etika sopan santun kepada sesama. Papa yang selalu mengajaknya kemanapun ia pergi. Bahkan berangkat dan pulang sekolah pun mereka selalu bersama, maklumlah papa bekerja sebagai guru di sekolah yang sama. Tak terasa air mata Maya pun menetes. Buru-buru disekanya air mata itu, mama paling tidak suka melihat putri kesayangannya terpuruk dalam kenangan lama. Bagi mama, hidup adalah hari ini dan masa depan. Mereka harus percaya bahwa papa akan lebih berbahagia di Surga dan ketenangannya tak boleh diusik-usik. Namun bagi gadis itu, peristiwa kematian sang papa sangat membekas di hatinya. Bagaimana tidak, akibat kecelakaan itu dirinya harus menjadi seorang gadis cacat seumur hidupnya.


“Kakiku….”gumam Maya mengamati kedua tungkai kakinya yang sepintas terlihat normal.


Andai saja saat itu mama memiliki cukup uang, ia bisa menjalani fisioterapi di Solo yang konon dapat membuat korban patah tulang kaki kembali normal. Mama hanya sanggup membawa putri tunggalnya menjalani fisioterapi di rumah sakit terdekat dengan alasan ongkos bolak balik ke sana terlalu berat meskipun biaya pengobatannya ditanggung asuransi.


Kini setelah sekian lama berlalu,Maya taky akin kedua kakinya akan pulih seperti sedia kala. Hanya masalah keseimbangan kedua kakinya agar bisa berjalan normal. Ia masih berharap namun semuanya serba tak pasti.


“Brum…Brum….”


Sebuah deru mobil yang berhenti tepat di depan pagar rumahnya, gadis itu menyibakkan korden untuk melihat siapa penumpangnya.


“Hai May…” sapa Ryan yang muncul tiba-tiba sambil menenteng sebuah kantong plastik warna hitam.


“Hai juga…Kok datang gak bilang-bilang?”


“Cuma mau kirim makanan buat kalian berdua. Masa harus bilang-bilang?”


Ryan mengambil posisi duduk di sebelahnya, wajahnya tampak sangat bening dalam balutan t shirt warna hitam yang dipadukan jeans warna putih dan sneakers senada.


“Gausah repot-repot. Kan tiap hari juga mama selalu masak.”


“Gak apa-apa. Sekalian aku tadi keluar beli makanan di pertokoan. Jadi aku inget kamu.Nih..”


Si ganteng menyodorkan bungkusan itu pada Maya yang tampak sedikit enggan menerimanya.


“Makasih. Tapi lain kali gausah deh. Aku jadi gak enak hati.”


“Biar kamu cepet sembuh. Itu tim ayam special yang banyak proteinnya,”kata Ryan seraya berpromosi.


“Kamu baik banget.”


“Aku balik dulu,May. Salam buat mama ya!”


Cowok itu menyempatkan diri untuk pamit pada Tante Wulan yang ada di ruang laundry sebelum pulang.


Maya mengamati sosok tampan itu hingga mobilnya menghilang dari pandangan. Gadis itu kembali ke tempat duduknya, matanya terpaku pada sebuah benda kecil warna-warni. Ia membungkukkan badan untuk mengambil benda itu.


“Sebuah potongan dari gantungan kunci yang terlepas berupa bendera kecil dengan warna biru-kuning-merah dan ada sebuah lambang,”batin Maya sambil mengamatinya dalam-dalam.


Dibukanya ponsel dan ia melakukan pencarian data mengenai bendera itu. Gambar di internet dia cocokkan dengan potongan kepala gantungan kunci yang terjatuh dari saku celana milik Ryan.


“Bendera negara Rumania?”gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2