
Kondisi mama yang membaik,membuat semua bergembira, burung nuri yang beberapa hari terdiam pun kini kembali berkicau riang seakan mengerti perasaan hati tuannya. Hari itu merupakan salah satu hari di bulan ketiga, sebentar lagi ujian nasional. Sepulang sekolah,Maya buru-buru menemui sang mama di ruang laundry. Wajahnya nampak sedikit berisi,nafsu makannya mulai meningkat, namun rambutnya yang rontok belum tumbuh normal akibat radioterapi dan kemoterapi yang masih rutin dijalaninya. Semua pengobatan mama tanggung sendiri, Maya pun mulai enggan menerima uluran tangan dari Om Robert,calon mertuanya. Almarhum papa mengajarkannya untuk mandiri sejak kecil dan tidak menjadi beban untuk orang lain.
“Harga diri itu perlu,May. Sesulit apapun keadaan kita, selagi Allah masih memberi karunia kita dengan sepasang tangan dan kaki untuk bekerja. Lakukanlah,Allah pasti akan membuka pintu rejeki untuk kita.”
Sederet kalimat yang merupakan nasehat dari almarhum papa selalu ia ingat, dan kata-katanya selalu terngiang di otaknya.
“Ma…Doain ya, hari ini Maya pengumuman SNMPTN. Nanti sore kita buka sama-sama.”
Mama mengangkat dagunya, dan meletakkan kalkulator di tangannya.
“Mama selalu doain Maya. Nanti kita liat pengumuman sama-sama ya!”
Gadis itu mengangguk dan memeluk sang mama erat-erat, aroma pewangi pakaian menyergap masuk ke rongga hidungnya. Gadis itu sangat sayang dengan mamanya,orang tua tunggal yang sangat gigih berjuang untuk menghidupi putri tunggalnya dan selalu setia pada almarhum papa. Maya masih ingat ada beberapa laki-laki yang mendekati sang mama, namun beliau tak mau membukakan pintu hatinya.
“Nanti timbul masalah baru,May. Mereka kan kebanyakan punya anak juga. Mama gak mau kamu punya saudara tiri dan bapak tiri yang belum tentu menyayangi kita.”
Sebuah nasehat sekaligus prinsip hidup yang selalu dipegang teguh sang mama hingga kini. Meskipun Maya ingin sang mama bahagia, namun ia tak pernah memaksakan kehendaknya. Baginya, mama sudah melengkapi perannya sebagai kepala rumah tangga sekaligus ibu rumah tangga yang baik dan bertanggung jawab.
Maya membuka laptop di samping sang mama yang sedang menikmati kue dengan secangkir the hangat di sore hari.
“Jangan taruh laptop terlalu dekat dengan cangkir,May. Takut ketumpahan,”cegah mama sambil menyingkirkan cangkirnya ke meja lain.
Maya mengangguk, hatinya berdebar kencang ketika menyalakan laptop dan membuka situs LTMPT, jantungnya terasa mau copot ketika memasukkan email dan password akun saat log-in. Jari jemari lentiknya pun turut bergetar, seakan tak sanggup lagi membuka hasil pengumuman SNMPTN sore itu.
“Ma…Maafin Maya kalau nanti gak lolos,”katanya dengan bibir bergetar,air matanya mulai menggenang dan pipinya terasa panas.
“Berdoa dan berpikir positif aja,May. Serahkan pada Allah yang akan memberikan yang terbaik untuk kita,”sahut mama sambil mengelus punggung putri tunggalnya.
“Klik….”
Maya menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, rasanya tak sanggup untuk melihat hasilnya. Ia pun yakin teman-temannya melakukan hal sama. Hanya Ryan yang tak peduli dengan pengumuman sore itu. Om Robert telah merencanakan jauh-jauh hari agar putra tunggalnya meneruskan pendidikan di Negeri Paman Sam, kuliah bisnis, dan kelak kembali ke tanah air untuk meneruskan usahanya di pabrik susu miliknya.
“Biru!” teriak mama, suaranya menggema.
Mbak Wati yang sedang berada di kamar belakang pun turut penasaran dan keluar ke ruang tengah.
“Ada apa,Bu?”tanyanya dengan wajah keheranan.
“Maya lulus SNMPTN,Ti! Fakultas Kedokteran,”sahut mama.
Maya sontak kaget dan membuka matanya,”Hah? Yang bener,Ma?”
Gadis itu langsung menangis kegirangan, berkali-kali ia mengucap syukur kepada Allah SWT. Sungguh dirinya tak menyangka dapat lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri tanpa tes, fakultas kedokteran umum apalagi, yang peminatnya sangat banyak dan semua pendaftar pasti siswa terpilih yang berprestasi.
__ADS_1
“Terima kasih Ya Allah!”seru mama sambil menadahkan tangannya ke atas.
“Terima kasih,May. Kamu berhasil mewujudkan cita-citamu , sekaligus cita-cita almarhum papa.”
“Maya yang harusnya berterima kasih sama mama. Semua pengorbanan mama terbayar sudah.”
“Non..Selamat ya!”ucap Mbak Wati sambil mengulurkan tangannya, wajahnya sangat tulus.
“Sebentar lagi,Maya bakal ninggalin mama ke Jogja. Sementara mama masih sakit, Maya takut terjadi sesuatu sama mama.”
Mama mengembangkan senyumnya dan mengelus puncak kepala gadis itu,”Kau lihat sendiri kan? Mama sudah sehat sekarang.”
Maya mengangguk pelan, namun pikirannya gamang karena selama ini ia melihat berita di internet mengenai para pejuang kanker, awalnya seakan sembuh namun akhirnya meninggal dunia.
“Maya berharap begitu Ma,’sahutnya masih sesenggukan.
Makan malam hari itu seakan lebih nikmat dengan hati yang bahagia. Maya sangat senang sang mama dapat makan lebih banyak dari biasanya.
“Driing…Driing…”
Sebuah telpon masuk ke ponsel milik gadis itu ketika mereka telah menghabiskan makan malamnya.
“Halo..Ryan. Ada apa?”
“Aku gak lolos SNMPTN,May. Dua bulan lagi papa daftarin aku ke sebuah sekolah bisnis di New York.”
“Kamu sendiri bagaimana? Papa nanyain nih?”
“Alhamdullilah lolos,Ryan. Fakultas kedokteran umum di Jogja.”
“Syukurlah. Bentar papa mau bicara sama kamu.”
Ponsel dioper ke sang papa, gaya bicaranya sangat berwibawa, calon mertua yang turut bergembira.
“May.. Selamat ya! Menurut om, kalian bisa menikah di bulan ini dan pestanya setelah kalian lulus SMA.”
“Secepat itukah,Om? Tapi kan Ryan mau nerusin kuliah di luar negeri. Kami tetap berpisah.”
“Seperti rencana om semula, biar mama kamu tenang. Kuliah di kampusmu nanti boleh nikah.Om sudah cari informasi.”
“Oh…Gimana baiknya saja,Om.”
“Yaudah gitu aja. Jadi om juga lebih tenang akan hubungan kalian.”
__ADS_1
“Klek…”
Ponsel pun ditutup, gadis itu masih tak percaya dengan nasibnya yang harus menikah muda dan kelak akan LDR.
“Kenapa kamu terdiam,May?”tanya sang mama sambil membantu mematikan laptop milik Maya dan memasukkannya kembali ke dalam tas laptop.
“Om Robert mau merencakan pernikahan di KUA bulan ini, dan pesta nikahnya setelah lulus SMA.”
“Bagus dong.”
“Kok bagus,Ma?”
“Artinya mereka tanggung-jawab dan merestui hubunganmu dengan Ryan.”
Maya hanya mengangguk pelan, tak pernah terpikirkan dalam benaknya untuk menikah muda meskipun ia sangat mencinta Ryan. Tapi ia berharap kelak pernikahannya seindah putri negeri dongeng, Ryan akan selalu membahagiakannya dan tak pernah meninggalkannya.
Keesokan harinya, seperti biasa Ryan mengantar jemput ke sekolah dan mereka makan bersama di sebuah restoran khusus aneka bakso sepulang mengikuti bimbel di sekolah.
“Malam nanti akua jak kamu jalan-jalan, beli perlengkapan anak kos.”
“Kan masih lama,Ryan. Masih lima bulan lagi kuliahnya,”sahut Maya sambil tertawa geli.
“Kok malah tertawa?”
“Nanti barangnya malah numpuk di rumah, masuk gudang.”
“Oh…iya benar juga. Kita jalan-jalan biasa lalu nonton bioskop.”
“Tapi ini bukan malam Minggu.”
“Nonton kan gak harus malam Minggu.May. Anggaplah merayakan kelulusanmu di SNMPTN.”
“Okelah.”
Memasuki mall, dua remaja itu membeli pop corn dan minuman sebelum masuk bioskop.
Penonton tak terlalu banyak malam itu, keduanya duduk berdampingan. Suasana dingin dalam gedung menyergap masuk hingga ke tulang. Maya menggigil kedinginan, jari jemarinya terasa kaku. Ryan sangat paham dengan keadaan sang kekasih, lalu memberikan jaketnya untuk dikenakan Maya. Gadis itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
“Udah gak kedinginan kan?”tanya Ryan sambil memperhatikan gadis itu dengan penuh cinta.
“Gak…Tapi kalau kamu yang kedinginan, kita gantian pakai jaketnya ya,”kata Maya sambil tertawa.
Ryan hanya tertawa dan melanjutkan menonton.
__ADS_1
Ada sebuah scene dalam film itu yang membuat Maya menangis terisak-isak, sang mama yang memiliki lima anak meninggal karena penyakit jantung, dan kelima anaknya yang masih di bawah umur terpaksa harus diadopsi secara terpisah.
“Beruntungnya aku…Masih punya mama dan tidak menjadi anak adopsi,”gumam Maya sambil menyeka air matanya.