
Maya sedang mengerjakan tugas kampusnya , matanya sudah sangat berat dan ingin menutup saja. Gadis itu melihat jam yang berada di bagian bawah laptopnya.
“Pukul 01.30 pagi,” gumam Maya sambil meneruskan mengetik tugas yang tinggal sedikit lagi.
Jari jemari lentiknya lincah menari-nari di atas keyboard, suasana malam makin hening, hanya terdengar detak jarum jam dinding yang diletakkan di atas pintu kamar. Tiba-tiba terdengar suara dentuman keras.
“Braak…”
Maya teringat apa yang pernah dilihatnya di media sosial, suara dentuman sangat keras yang berasal dari atap rumah biasanya disebabkan kiriman santet.
“Ah gak mungkin. Aku gak punya musuh,”batin Maya sambil meneruskan mengetik.
Pintu kamarnya diketuk dengan keras dari arah luar.
“Siapa?”sahut Maya dengan suara keras.
“Aku…Wulan. Cepet buka pintu!”
“Ceklek..”
Pintu dibuka, Maya menjulurkan lehernya , dilihatnya Wulan dengan rambut masih acak-acakan dan mengenakan daster warna merah muda dari bahan kaos berdiri di hadapannya.
“Ada apa sih? Kayak abis ngeliat hantu,”ujar Maya sambil menyimpan tugasnya dalam document dan mematikan laptopnya.
__ADS_1
“Anu…Ibu kos jatuh dari kursi roda.”
“Terus?”
“Mau dibawa ke rumah sakit. Kamu bisa nyetir gak?”
“Taksi online aja,”saran Maya sambil menutup pintu.
Keduanya turun ke lantai satu, sekumpulan anak kos berkumpul di sana. Sang art memegang Bu Laksmi yang nampak lemas di atas kursi roda.
“Ada ap aini sebenarnya?”tanya Maya dan Wulan hamper berbarengan.
“Ibu jatuh dari kursi roda saat saya tinggal masak buat sahur,”ujar sang art dengan wajah panik.
Maya buru-buru naik ke lantai dua, diikuti Wulan sahabatnya. Tak lama kemudian, dua gadis itu turun kembali ke bawah dengan membawa stetoskop dan tensimeter.
“Napasnya normal. Hanya denyut nadinya sangat cepat,”ujar Maya.
“Tensinya sangat tinggi 200/130,”ucap Wulan.
“Ibu dijaga harus banyak makan sayur dan buah,Mbak. Udah hubungi anak-anaknya?”tanya Maya pada sang art.
“Ibu gak punya anak.”
__ADS_1
“Kasian Bu Laksmi, seharusnya dahulu ia mengadopsi anak untuk menemani masa tuanya,” batin Maya.
“Mbak udah pesan taksi belum?”tanya Wulan sambil memasukkan tensimeter ke dalam wadah penyimpannya.
“Udah pesen,Mbak. Tapi makanan di dapur belum selesai. Mbak bisa titip kalian?”
Penghuni kos saling berpandangan, dengan terpaksa mereka beramai-ramai memasak untuk sahur. Maya menepuk jidatnya sendiri,”Oh my God! Aku belum juga tidur.”
“Kau belum tidur sama sekali,May?”
“Belum. Mana aku kuliah pagi.”
“Yaudah biar aku yang masak bareng temen-temen di sini,”sahut Wulan sambil tertawa.
“Sst…Aku pasti bantulah. Gak enak tau.”
Di garasi terdapat mobil milik sang ibu kos yang jarang dipakai. Untuk bepergian biasanya ibu kos memesan supir beberapa hari sebelumnya. Jadi hari ini terpaksa beliau menggunakan taksi online karena penghuni kos tidak ada yang bisa mengemudi.
“Mbak, sebenarnya Yasinta yang kos di belakang dia bisa nyetir. Tapi anaknya lagi jaga malam,”kata Yuli pada sang art.
“Gak apa kok.Mbak udah pesen taksi.Makasih ya,” ucap sang art sambil mengunci pintu kamar majikannya.
Tak lama kemudian sebuah taksi berhenti di depan rumah. Art melambaikan tangan kepada seluruh penghuni kos sambil mendorong kursi roda milik majikannya.
__ADS_1
“Semoga cepat sembuh ya,Bu.”
Hampir semua anak kos yang terbangun tengah malam berdiri di depan rumah kos dan mengantarkan kepergian ibu kos ke rumah sakit. Kini semuanya saling membahu memasak di dapur untuk persiapan sahur beberapa jam kemudian.