Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 41: Pengakuan


__ADS_3

Dalam rintik hujan,rambut blonde milik Alisha nampak mulai basah. Ryan membungkukkan tubuhnya yang tinggi atletis, tangannya yang kekar berusaha untuk menyibakkan rambut yang menutupi wajah cantik Alisha. Gadis itu menyeringai,memamerkan gigi taringnya yang lebih panjang dari sebelumnya.


“Alisha….Kaukah itu?”


Gadis itu melotot dengan mata merahnya, dan beranjak bangkit. Kini wajahnya tampak lebih pucat, mendekati cowok ganteng itu dan mengangkat kerah kemejanya, ditekannya tubuh Ryan di dinding dekat lapangan itu seakan-akan hendak dicekik.


“Alisha…Apa-apaan lu?”


Gadis itu melepaskan cengkeramannya dan matanya berubah menjadi coklat muda seperti sedia kala.


“Uhuk…uhuk…”


Ryan memegang lehernya yang serasa dicekik, dan mengambil napas panjang. Ia menoleh ke arah gadis itu yang nampak kebingungan.


“Gue abis ngapain ya?”tanyanya pada Ryan dengan wajah bengong.


“Itu lu abis cekik gue sampai melayang di udara. Mau lu banting?”


“Hah? Masa Ryan?Kita di sini mau beresin masalah Maya bukan?”


“Iya.Lu masih inget kan?”


Alisha mengangguk, sorot matanya masih arogan seperti biasanya.


“Iya..Tapi jujur gue gak sadar waktu itu Ryan.”


“Itu pidana,Lis! Lu bilang gak sadar?”bentak si ganteng dengan wajah memerah.


“Terus gue mesti bilang apa sama lu? Gue juga stress sejak kasus itu Ryan!”seru Alisha dengan air mata mengambang di kedua pelupuk matanya.


Ryan nampak marah dan meninju tembok sekeras-kerasnya.


“Buuk…”


Cowok itu meringis kesakitan ketika dilihatnya tangan kanannya berdarah. Alisha kembali berubah menjadi cewek dengan sorot mata merah karena mencium bau darah segar yang keluar dari tangan Ryan. Langkahnya semakin dekat dengan Ryan dan giginya taringnya mulai memanjang. Si ganteng mengambil langkah mundur, firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tak beres dengan Alisha.


“Hai..Siapa lu sebenarnya?”


Perempuan dalam tubuh Alisha tertawa nyaring,”Hahahahahahaha….Kau keturunan vampire yang berkhianat! Seluruh leluhurmu adalah vampire pengkhianat!”


Alisha lalu berlari sangat cepat dan menghilang meninggalkan Ryan yang kebasahan dalam rintik hujan. Ryan berlari secepat kilat kembali ke sekolahan, mobil Alisha sudah tidak ada di tempat.


“Tok..Tok..Tok…”


Wajah imut Maya muncul di jendela mobil,si ganteng pun menurunkan kaca mobilnya sambil tersenyum.


“Masuk,May..”


Si gadis kepang dua masuk dan meletakkan tas ranselnya di jok belakang,matanya yang bulat melirik ke arah tangan kanan Ryan yang berdarah.


“Kamu habis berantem sama siapa?”

__ADS_1


“Oh..Ini bukan habis berantem,May. Tadi akua bis jatuh terus bertumpu di tangan jadinya luka,”papar Ryan ngasal.


Maya mengangguk-anggukkan kepala namun dalam hatinya yakin kalau cowok itu telah berbohong padanya.


“Bentar aku kasih obat dulu lukanya,”kata gadis itu sambil membuka laci dashboard untuk mengambil kotak P3K.


Wajah ganteng milik Ryan meringis ketika gadis itu menyentuh lukanya dengan kapas yang telah ditetesi alkohol. Wajahnya tetap ganteng dan keren meski cowok itu sedang meringis kesakitan.


“Tahan dikit…” seru Maya yang berlagak ala dokter sekolahan.


Setelah diberi obat merah,lukanya ditutup dengan lilitan perban. Mata gadis itu berbinar-binar menatap Ryan yang dapat bernapas lega.


“Gimana udah mendingan kan?”


“Udah dong..Kan ada dokter pribadi nih,”ledek Ryan sambil tertawa.


Gadis itu memukul pelan pundak Ryan dan mereka tertawa bersama.


Ryan paling suka berlama-lama menatap wajah cantik Maya dengan lesung pipitnya yang dalam.


“Aku mau ajak makan bakso lagi di tempat biasa.”


“Gak bosen? Bakso lagi…Bakso lagi…”gerutu Maya sambil memonyongkan mulutnya.


“Ada sesuatu hal penting yang mau aku bicarakan di sana.”


“Apa itu? Gak bisa diomongin di jalan?”


Maya menatap wajah Ryan yang asyik mengemudi, tangan kekarnya memegang kemudi dan tatapannya fokus ke jalan raya.


Siang itu rumah makan tampak ramai oleh pengunjung karena tanggal muda. Dua-tiga pelayan hilir mudik membawa nampan berisi pesanan makanan dan minuman dan mengantarnya ke meja masing-masing.


“Orderin seperti biasa,May! Minumannya es jeruk plus air mineral.”


Seorang pelayan laki-laki telah siap menerima orderan pada secarik kertas kecil, tangannya dengan sigap mencatat setiap pesanan yang keluar dari mulut Maya.


“Masalah apa Ryan?”


“Kamu bilang yang culik waktu itu salah satunya Alisha?”


“Seperti suara dia. Tapi bukan berarti aku nge-judge.”


“Terus?”


“Ada yang aneh. Suatu pagi,dia datang pagi banget. Waktu itu aku lagi di halaman samping terus liat dia matanya seperti merah gitu.”


“Yang bener?”


Percakapan berhenti sejenak ketika pelayan datang dengan membawa nampan berisi dua mangkuk bakso dan dua gelas minuman.


“Masa aku bohong ? Buat cari sensasi? Manfaatnya apa?” papar gadis itu sambil mengunyah makanan.

__ADS_1


“Bukan gitu. Jujur tadi aku baru nemuin Alisha,matanya merah, wajah pucat dan gigi taringnya memanjang.”


Maya kaget, sendoknya jatuh dan menimbulkan suara berdenting di mangkuk.


“Beneran? Terus kamu berantem sama dia?”


“Gak. Aku nonjok tembok dan dia kabur melesat cepat banget.”


Maya terdiam, bulu kuduknya merinding dan lututnya gemetar, ia juga merasakan keanehan yang sama akhir-akhir ini. Termasuk kecurigaan terhadap cowok yang ada di hadapannya.


“Kok kamu diam,May?”tanya Ryan sambil membuka tutup botol air mineral dan meneguknya.


“Ah..Enggak…”sahut gadis itu pura-pura tenang.


Maya juga merasakan kecurigaan yang sama terhadap Ryan yang tampak begitu sempurna sebagai seorang laki-laki, termasuk Om Robert yang ganteng dan tampak muda, seakan tak lekang dimakan usia. Detik-detik dimana ia jatuh, begitu cepat Ryan dapat menolongnya dalam jangkauan jarak yang tak bisa dibilang dekat.


“Ah…Sulit dimengerti,”batin gadis itu sambil menghabiskan makanannya.


“Banyak hal yang sulit dijelaskan saat ini,May.”


Ryan mengelap mulutnya dengan tisu dan meletakkan sendok dan garpunya secara tertelungkup,menandakan makannya telah usai.


“Maksud kamu apa Ryan?”


Maya duduk bersidekap,matanya yang bulat menatap cowok itu lekat-lekat. Ryan menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sambil berpikir,ditatapnya mata bulat sempurna milik Maya.


“Apa kamu udah siap denger soal ini?”


“Di sini rame banget. Nanti di dalam mobil aja?”


“Oke. Aku bayar dulu,”pamit cowok itu lalu berjalan menuju meja kasir.


Kedua remaja itu kini telah berada di dalam mobil. Ryan menyalakan mobil dan pendingin udara di dalamnya. Tangan kanannya bersandar pada ujung bagian kemudi yang melingkar, tubuhnya sengaja dimiringkan menghadap Maya. Wajahnya tampak sangat tampan dalam balutan seragam putih abu-abu.


“Aku pindah sekolah karena di sekolah lama sering keluar masuk BP. Belain anak-anak yang sering dibully.”


“Terus?”


“Kamu siap dengernya,May?”


Gadis itu hanya menganggukk meskipun jantungnya berdebar lebih keras dari biasanya dan telapak tangannya menjadi dingin.


“Potongan bendera dari gantungan kunci itu,Rumania. Itu negeri nenek moyangku dari papa. Papa sebenarnya masih ada darah keturunan vampire Sebuah legenda yang sebenarnya itu nyata pernah ada.”


Maya terperanjat dan memundurkan letak duduknya,menjauh sedikit dari si ganteng.


“Kamu gak perlu takut. Dengerin dulu. Papaku itu keturunan vampire vegetarian, udah lama berasimilasi dengan manusia. Jadi semua perempuan di keluarga besar leluhurku itu manusia. Aku sendiri terlahir dari seorang manusia dan seluruh keturunan aku juga bakal jadi manusia.”


“Lalu minuman susu warna merah yang ada di kulkas itu apa?”


Maya akhirnya bisa mengeluarkan semua rasa penasarannya.

__ADS_1


“Kamu mau dengar soal sejarah susu warna merah?”


Gadis itu menganggukkan kepala, kedua tangannya dilipat di depan dada dan memasang telinganya lebar-lebar.


__ADS_2