Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 42 : Kehilangan


__ADS_3

Maya siap mendengarkan, raut wajahnya sangat serius layaknya siswa yang sedang mendengarkan guru di depan kelas.


“Ceritanya dilanjut nanti May,”kata Ryan sambil memasang seat belt dan melajukan mobilnya.


Maya terdiam di samping si ganteng dengan isi kepala dipenuhi berbagai informasi baru yang benar-benar di luar nalarnya. Seorang keturunan vampire yang sebelumnya hanya merupakan legenda,kini duduk di sebelah kanannya, seorang cowok yang benar-benar sempurna di matanya , baik, dan penolong. Ryan yang jago basket, cowok misterius yang selalu siap menolongnya kapan saja. Sekarang bertambah lagi dengan Alisha si pembully yang ikut-ikutan berubah menjadi makhluk entah apa namanya, dengan sorot mata terkadang merah. Seketika tubuhnya menjadi dingin dan bulu kuduknya berdiri.


“Kamu diam aja,May?”


“Oh iya…Gak masalah,”sahut gadis itu salah tingkah dan menjawab dengan kurang nyambung.


Lidahnya kelu,matanya serasa nanar, hari ini dirinya baru tersadar menjalin hubungan bukan dengan manusia biasa, Maya ingin mengakhiri hubungannya dengan Ryan. Tapi hati kecilnya mengatakan ia sayang cowok itu.


“Kamu kecewa dengan pengakuan aku tadi,May?”


“Enggak kok.”


“Terus..Kamu takut sama aku?”


“Enggak juga.”


“Kok diem?”


Gadis itu mengalihkan pandangan ke luar jendela,menatap pepohanan dan bangunan-bangunan yang berdiri di luar sana. Hatinya perih ingin mengungkapkan sesuatu yang sama sekali tak ia kehendaki. Berbulan-bulan ia jalan bersama Ryan, diam-diam ia mulai jatuh hati, sesuatu perasaan yang datang begitu saja dan tak mungkin ia pungkiri. Dan hari ini ia mendengar kenyataan di luar dugaan, sesuatu yang sangat menakutkan baginya.


“Ryan…Boleh aku ngomong sesuatu?”


“Boleh sayang…”


“Aku…Aku ingin kamu jauhin aku,”pinta gadis itu dengan hati pedih dan menahan tangis.


Maya takut kalau cowok itu benar-benar mengiyakan jawabannya dan benar-benar menghilang, ia pasti akan sangat kehilangan. Kasusnya juga belum selesai,ia butuh dukungan, tak mungkin selalu merepotkan sang mama yang sudah sangat disibukkan dengan kerjaannya demi memperjuangkan masa depannya yang sebentar lagi akan dimulai.

__ADS_1


Cowok itu sangat kaget dengan permintaan Maya dan menghentikan mobilnya ke depan sebuah pertokoan di tepi jalan.


“Ciit….”


Mobil terparkir secara mendadak di depan sebuah pertokoan yang menjual aneka sembako.


Pupil mata warna coklat milik Ryan meneliti setiap bagian tubuh Maya dengan bertanya-tanya, alisnya berkrenyit.


“Serius dengan ucapanmu? Yakin kita mau putus? Kamu gak suka aku lagi,May?”


Maya tak kuasa menahan tangisnya, gadis itu menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. Ryan membawa kepala gadis itu ke dalam dekapannya hingga tangisnya terhenti. Dadanya kini basah oleh air mata milik gadis itu, ia memberikan sekotak tisu pada Maya.


“Aku…Aku mau belajar hidup tanpa kamu,”isak gadis itu tersedu-sedu.


“Karena perkataan aku tadi kan?Kamu takut karena aku keturunan vampire?”


Gadis itu mengangguk pelan, matanya sembab dan hidungnya memerah.


Gadis itu menatap wajah cowok itu tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ryan tahu Maya mencintainya makanya ia menangis ketika minta ia menjauhinya.


“Yaudah aku antarkan kamu pulang dulu ya…”


Senja mulai merayap, cakrawala semburat jingga dan beberapa pedagang pinggir jalan merapikan dagangannya hendak kembali ke rumah masing-masing. Ryan masih memiliki hutang dengan gadis itu, cerita mengenai susu warna merah. Tapi ia perlu waktu untuk menceritakan itu. Namun kini Maya malah ketakutan duluan dan memintanya menghindar. Ryan menyalakan radio untuk mendengarkan berita seputar jalan dan informasi terkini lainnya. Maya duduk diam menatap jalanan di depannya, wajahnya masih tetap cantik dan manis seperti hari-hari sebelumnya. Ryan suka memandang wajahnya lama-lama, dan ia tak ingin gadis itu menghilang.


Beberapa menit kemudian, sampailah mereka ke depan rumah Maya, dan gadis itu turun setelah mengambil tas ranselnya di jok belakang.


“Jaga diri baik-baik,May! Salam buat mamamu,”kata cowok itu sambil menutup kembali kaca jendela bagian kiri.


Maya melambaikan tangan ke arahnya sampai mobil cowok itu menghilang dari pandangannya.


Langkah kakinya memasuki bagian depan rumahnya, ruang tamu yang sepi karena mama sibuk di ruangan sebelah menata laundry usahanya. Dua karyawan hilir mudik sibuk mengemas pakaian yang kering. Gadis itu masuk ke kamarnya dan merebahkan diri setelah berganti pakaian. Rasanya hari ini sangat melelahkan, matanya tak bisa terpejam membayangkan hari-hari esok tanpa Ryan. Matanya sembab dan ia tak berharap mama tiba-tiba masuk ke kamarnya sepanjang hari ini. Ia ingin makan malam sendirian di kamar dengan berpura-pura sakit perut. Gadis itu sangat gelisah, tubuhnya dimiringkan ke kiri dan ke kanan, namun tak juga matanya terpejam.

__ADS_1


Akhirnya Maya berjalan menuju meja belajarnya dan menata buku-buku untuk keesokan harinya, mengecek agendanya dan membuat PR. Lamat-lamat ia mendengar musik indie yang mengalun lembut dan ponselnya. Namun ia sengaja menjauhkan ponsel itu dari hadapannya agar tak bisa membaca pesan singkat dari Ryan. Selesai dengan tugas PR-nya, Maya berdiri di depan jendela kamarnya, melihat anak-anak tetangga bermain petak umpet, menyaksikan ibu-ibu asyik bercengkerama dan pedagang jamu keliling menawarkan dagangannya. Sore yang indah seperti hari-hari sebelumnya, namun hatinya terasa berbeda.


Diambilnya foundation dan bedak untuk menutupi sembab dan merah di hidung agar sang mama tak mengetahui kesedihan hatinya. Gadis itu berjalan ke teras depan rumahnya dan menengok burung nuri pelanginya yang dirasa cukup menghiburnya. Warna warninya sedemikian elok, karunia Tuhan pada alam semesta.


“Udah makan,May? Tanya mama yang mengejutkannya dari arah belakang.


“Udah,Ma. Tadi makan bakso bareng Ryan di jalan,”sahutnya singkat.


“Oh ya…Anak tetangga kita, si Hasan tewas tertabrak mobil waktu naik motor. Mama jadi trauma , kamu jangan naik sepeda dulu minggu-minggu ini.”


“Terus aku naik apa,Ma?”


“Minta Ryan jemput untuk sementara waktu.”


“Ah..Andai mama tahu,aku baru saja memintanya menjauh. Kalau naik taksi aku mesti minta uang mama. Bakal ketauan deh,” pekik hati Maya.


“Oh …Ryan ada keperluan keluarga beberapa hari,Ma. Jadi besok Maya harus naik taksi online. Mama bisa kasih Maya tambahan uang jajan kan?”


Wajah mama tampak berubah, namun tak beberapa lama ia pergi ke ruangan laundry dan kembali lagi dengan membawa sebuah dompet kecil dan memberikannya pada putri tunggalnya dengan tersenyum.


“Ini uangnya buat beberapa hari. Pakai aja.”


“Terima kasih,Ma. Rasanya Maya perlu kerjaan sampingan deh. Biar gak membebani mama tiap hari.”


“Enggaklah,May. Itu kan kewajiban setiap orang tua,”kelit mama sambil membelai kepala Maya dengan penuh kasih sayang.


“Mama sudah menabung cukup banyak buat kamu kuliah tahun depan,May. Fokus aja untuk belajar!”


Maya mengangguk, dalam hatinya sangat bersyukur memiliki sang mama yang sangat kuat dan tabah menjalani kehidupan sebagai single mother. Mama tak pernah niat untuk menikah lagi meskipun ada beberapa langganan laki-laki yang kadang-kadang menggodanya dan ingin mengenalnya lebih dekat. Gadis itu bernapas lega sang mama dapat menyisihkan uangnya untuk biaya pendidikannya kelak di perguruan tinggi. Namun masalah penculikan tempo hari belum juga selesai dan ia butuh dukungan dari Ryan.


“Aduh bodohnya aku kenapa minta ia menjauh sekarang?”batin Maya yang mulai merasa kehilangan Ryan meskipun baru tiga jam berpisah.

__ADS_1


__ADS_2