Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 53 : Kejar-kejaran


__ADS_3

Langit cerah dengan awan putih berarak-arak, angin bertiup sepoi-sepoi, udara tak lagi panas, tampaknya sebentar lagi akan turun hujan. Si ojek motor yang tak lain adalah Din, salah satu preman bayaran yang disewa Alisha untuk mencelakakan Maya beberapa waktu yang lalu, mengemudikan motornya dengan kecepatan sangat tinggi. Laki-laki ini berperawakan kecil, berkulit agak gelap dan gerakannya sangat gesit, motornya berhasil menyalip mobil dan truk serta bis yang ada di depannya. Di belakangnya terdengar suara sirine mobil polisi dan sebuah motor yang dikendarai polisi dari arah yang berbeda.


“Nguiing…nguiing…nguiing…”


Sirine mobil polisi memecah suasana, kendaraan lain memperlambat lajunya dan memberi kesempatan mobil polisi untuk berjalan di depan. Beberapa sepeda motor yang melaju dari arah kiri menghentikan jalannya. Sementara itu Ryan berlari melebihi kecepatan cahaya, sekilas mirip terbang,namun ia menggunakan jalan lain yang sepi sehingga kehadirannya tidak mengundang perhatian orang di sekitarnya.


Din ketakutan, selama ini ia telah menerima uang sangat besar untuk tutup mulut, dan ia memegang teguh komitmennya. Saat ini dalam keadaan terjepit, satu-satunya jalan yang ada di pikirannya adalah melarikan diri sejauh mungkin sehingga tak terlacak oleh polisi.


“Gue harus bisa keluar dari kota ini, aku harus bersembunyi di pelosok pedesaan!”gumam Din sampai terus mempercepat laju motornya.


Din memang sangat piawai berlaga di atas motor,ia telah terlatih dalam arena kebut-kebutan liar. Kecepatan motornnya hampir mencapai 140 km/jam sehingga membuat para pemakai jalan minggir seketika. Kejar-kejaran antara Din dengan para polisi di belakangnya melewati pasar sehingga menimbulkan hiruk pikuk para pedagang yang bersiap mengemasi dagangannya karena hari telah siang. Sebagian besar dagangan di pasar sudah habis terbeli, menyisakan lapak buah-buahan dan tahu tempe yang masih menunggu rejeki dari orang-orang yang baru sempat ke pasar di siang hari.


“Astagfirullahaladzim..”pekik seorang ibu tua yang hampir menyeberang jalan dan terpental ke belakang saking takutnya tertabrak.


Ibu tua dengan rambut dikonde itu mengenakan kain samping, dan tubuhnya yang kurus itu dibalut kebaya kutu baru warna salem. Ia jatuh terduduk di tepi jalan sehingga membuat beberapa orang lainnya memapahnya ke warung terdekat untuk menumpang istirahat.


“Ada apa tho,le?”tanyanya dalam bahasa Jawa pada orang-orang di sekitarnya.


“Anu,Bu…Ada penjahat dikejar polisi,”sahut seorang laki-laki muda berpakaian kaus putih dan celana hitam sepanjang lutut.


Laki-laki itu tampaknya kuli pasar yang sedang membantu mengemasi barang dagangan pemilik lapak di pasar.


Hari itu,Din benar-benar menyusahkan banyak orang. Meskipun dikejar polisi,ia tetap tak mau menyerah hingga kejar-kejaran itu nyaris melewati garis batas kota.


Di tikungan terdapat aspal yang berlubang-lubang, dan di beberapa tempat lubangnya sangat dalam. Sementara itu dari arah berlawanan, sebuah truk bermuatan besi beton yang akan dibawa ke sebuah proyek perumahan baru berjalan dengan laju cukup kencang. Malang tak dapat ditolak, sepeda motor yang dikendarai Din terpental sejauh dua meter dan tubuhnya terlintas sebuah bus patas yang mengakibatkan kepalanya putus.


“Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un,”seru orang-orang yang berdiri di tepi jalan dan hendak menyeberang.


Kepala Di ditemukan dalam kondisi utuh tersimpan di dalam helm-nya , terpisah dari tubuhnya yang terkapas di tengah jalan raya dalam kondisi berlumuran darah.


Sirine mobil polisi dan sepeda motor milik polisi berhenti tepat di TKP. Dari arah berbeda,Ryan telah sampai di lokasi kecelakaan. Dilihatnya tubuh tukang ojek itu berlumuran darah, nafsu vampire-nya bergejolak.


“Darah segar…Tapi aku tak boleh menyentuhnya. Karena aku vampire vegetarian yang punya hati nurani manusia,”gumam Ryan sambil meraih ponsel dari saku celananya.


Cowok itu menekan nomor telpon Maya, dan gadis itu tak segera mengangkatnya.


“Mungkin Maya sedang sibuk mempersiapkan LKTI,”pikirnya lagi.

__ADS_1


Seorang polisi sibuk menelpon ambulance untuk mengangkut jenazah Din, dan seorang lagi sibuk memeriksa dompet milik Din untuk mencari tahu mengenai KTP dan identitas pribadi lainnya.


“Ini ponsel miliknya. Tapi tampaknya di-password,”seru seorang polisi yang tampak lebih senior dan mengendari mobil.


Sementara polisi yang muda,mengendarai sepeda motor, sibuk mengamankan sepeda motor milik Din yang ringsek.


“Wah..Kalau ponselnya gak bisa dibuka artinya penjahat satu lagi pasti melarikan diri,”pikir Ryan sambil mematung.


Cowok itu berdiri menatap peristiwa tragis yang ada di depannya. Manusia tak punya hati yang tega mencelakai manusia lainnya demi uang banyak, dan tak mengakui kesalahannya malah melarikan diri. Tuhan menghukumnya melalui kecelakaan seperti ini, dan ia harus mempertanggung-jawabkan kesalahannya kelak di akherat.


Para leluhurnya,vampire vegetarian tak pernah saling bunuh,meskipun mereka hidup abadi di tempat yang terpencar,namun mereka masih menebar kebaikan di bumi.


Ryan melihat ambulance datang, dua perawat laki-laki turun membawa tandu dan mengangkat jenazah Din di atasnya, kemudian memasukkan ke dalam ambulance. Sirine ambulance kembali menguing-nguing. Cowok itu menghampiri kedua polisi yang masih di TKP.


“Ada identitasnya,Pak?”


“Ini…Atas nama Dinosaurus Muda.Alamat Slawi. Artinya ia pendatang di kota ini.”


“Masih satu lagi,Pak? Apa yakin dia adalah salah satu pelakunya?”


“Melihat gerak-geriknya 80 benar. Takut karena salah, bukan begitu?”


Ryan masuk ke sebuah warung kopi yang terlihat lengang karena pasar telah bubar.


“Es teh manis segelas,Pak.”


“Siap,Den. Gorengannya mau? Ada pisang goreng, talas goreng atau tahu goreng,”paparnya sambil menawarkan dagangannya yang belum tersedia di meja.


“Makanannya kok belum ada,Pak?”


“Iya..Yang tadi pagi uduk sudah habis. Kalau gorengan buat jualan di pasar malam. Istri saya lagi menggoreng di dapur.”


“Oh…Saya pesan pisang goreng aja lima,”sahut Ryan sambil menelan salivanya.


Cowok itu tampak kelaparan setelah berpanas-panasan mengejar si tukang ojek. Ryan ingin membantu Maya dengan menegakkan kebenaran dan keadilan sesuai hukum,karena itu hatinya tergerak untuk ikut mengejar penjahat itu.


“Driing….driiing…”

__ADS_1


Ryan sedang menggigit pisang goreng ketika ponselnya berdering.


“Halo…”sapanya ketika pertama kali mengangkat telpon yang nomornya telah ia simpan sebagai nama Maya.


“Kamu tadi miscall?”


“Iya…Cuma mau ngabarin, salah satu penjahatnya mati tertabrak bis barusan.”


“Hah? Yang bener?”


“Iya…Namanya Dinosaurus Muda.”


“Oh…Artinya masih ada satu penjahat lagi.”


Seketika itu juga di antara saksi mata ada yang mengabadikan kejadian tadi dan mem-postingnya dalam media sosial, ada yang di facebook, Instagram, twitter maupun tiktok. Dalam hitungan menit, peristiwa itu menjadi viral dimana-mana. Ryan membacanya ketika ia masih di sekitar TKP, istirahat sambil minum es teh manis dan pisang goreng.


“Aduh…Kalau udah begini, satu lagi pasti kabur deh,”gumam Ryan sambil menggaruk-garuk rambutnya.


Berita itu sampai ke telinga penjahat satu lagi yang bersiap untuk ke sebuah klub malam sebagai seorang office boy.


“Waduh…Gawat, aku harus segera pulang kampung!”serunya dalam hati.


Sore itu juga Don yang memegang komitmen tutup mulut untuk tidak membocorkan identitas orang yang memberinya tugas kejahatan tersebut, mengemasi seluruh barang pribadinya dalam sebuah koper besar di kamar kosnya yang terletak di sebuah gang sempit .Laki-laki itu menyeret kopernya keluar kamar.


“Eit…Mau kemana lu? Bayar dulu uang kos bulan ini!”seru seorang wanita paruh baya berbadan gemuk dan mengenakan daster motif batik.


“Ah…Nanti saya transfer,Bu. Repot kalau saya bolak-balik ke atm.”


“Keburu kabur kalau alasan ke atm. Sini, bayar dulu! Masa lu gak punya M banking.”


“Benar , gak ada. Silakan kalau ibu mau ikut saya ke atm.”


Tanpa menaruh curiga sedikitpun ibu kos itu mengikuti Don yang belum genap sebulan tinggal di rumahnya. Laki-laki ini adalah penjahat kambuhan yang tinggal di kos secara berpindah-pindah.


“Sialan nih orang tua. Mana gue lagi bokek, maksa bayaran kos,”gumam Don sambil menengok ke kanan dan ke kiri.


Setelah dilihatnya gang sempit memanjang yang dilaluinya sepi, ia pun segera bertindak, dipukulnya tengkuk ibu kos yang berjalan di sampingnya, dengan sebatang kayu yang sedari tadi diselipkan di dalam ranselnya.

__ADS_1


“Aduh…”


Tubuh wanita paruh baya itu mengejang sebelum akhirnya menutup mata. Don tak sempat mengecek apakah wanita itu sudah mati atau masih hidup. Baginya yang terpenting ia bisa secepatnya ke stasiun kereta api dan melarikan diri ke kampung halamannya.


__ADS_2