Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 104: Boy Pedekate


__ADS_3

Maya berlari-lari kecil menuju kampus, mengejar Wulan yang telah lebih dahulu sampai di kampus.


“Wulan…Tunggu!”seru Maya sambil memegang sebuah map biru yang didekapkan di depan dada.


Wulan tak mendengar teriakan Maya, gadis itu tetap berjalan buru-buru mengejar mata kuliah pertama, Kardiofaskuler dengan dosen yang terkenal galak.


“Bruuk…”


Maya menabrak seorang cowok yang berjalan dengan terburu-buru dari arah berlawanan, matanya melotot dan mulutnya membentuk sebuah garis ke bawah.


“Maaf,May. Aku juga buru-buru nih mau kelas,”kata Boy.


Boy adalah seorang cowok berkulit sawo matang yang sedikit lebih gelap, dengan tubuh setinggi 175 cm dan berwajah lumayan manis dengan rahang kotak dan hidung mancung. Tubuhnya sedikit gemuk tapi berotot dan berjambang serta berkumis, terkesan wajah asli Indonesia yang macho.


“Aduh…Mana waktunya udah mepet. Semua kertas berserakan pula,”sahut Maya sambil menahan tangis.


“Udah..Kamu masuk kelas dulu. Aku bantuin. Cepat lari!” seru Boy sambil mengambil posisi jongkok dan memungut semua kertas yang berserakan.


Maya memasuki kelas dimana semua mahasiswa sudah duduk di tempatnya masing-masing. Gadis itu buru-buru absen dan duduk di barisan kedua. Benar saja, tak lama kemudian dr. Prita, wanita berusia sekitar 45 tahun bertubuh gemuk dan berkacamata, berkulit kuning langsat itu masuk kelas dengan wajah tanpa senyum.


“Selamat pagi,Dok.”


“Pagi..Apakah sudah masuk semua?”


Maya menebarkan pandangannya ke seluruh ruangan, ia baru sadar ternyata Boy juga seharusnya mengambil kelas namun cowok itu belum datang juga gara-gara harus memungut kertas-kertas modul mata kuliah berikutnya yang jatuh berserakan.


Dokter Prita menyalakan OHP dan menjelaskan materi yang baru ketika sebuah ketukan di pintu berbunyi.


“Tok…Tok….Tok….”


Wanita berwajah dingin itu berjalan dan membukakan pintu, wajah Boy muncul dengan tertunduk penuh perasaan bersalah.


“Maafkan saya,Bu. Saya ter…”


“Sudah! Jangan banyak alasan! Kamu berdiri saja di ujung tak boleh duduk sampai pelajaran saya usai.”


“Tapi.Bu. Dengarkan saya. Tadi saya membantu teman yang isi mapnya jatuh berhamburan. Tadi kami tabrakan di lorong sana.”

__ADS_1


“Siapa maksudmu? Cari-cari alasan saja,”dengus dr. Prita sambil melengos.


Beberapa mahasiswi yang duduk di belakang tampak berbisik-bisik dan menertawakan Boy sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangan.


“Gadis itu.Bu.”


Boy menunjuk ke arah Maya, yang sontak kaget dan mengangkat dagunya.


“Benar,Bu. Tadi kami bertabrakan di lorong menuju kelas karena terburu-buru. Karena merasa bersalah,Boy bilang biar dia saja yang memungut semua kertas itu,”bela Maya sambil tersenyum dan memberi hormat pada dr.Prita.


“Oh begitu. Yasudah. Kali ini saya maafkan. Duduk sana!”


“Terima kasih sekali,Dok.”


Boy berjalan ke arah kursi bagian belakang karena kursi-kursi di depannya telah terisi. Ketika melewati meja yang diduduki Maya, cowok itu meletakkan map warna biru milik gadis itu.


Serempak dari arah belakang beberapa mahasiswa berseru lirih sambil meledek, ketika dr.Prita keluar kelas dan menutup pintu.


“Ciee…..”


Wajah Maya memerah menahan malu, bagaimanapun antara dia dan Boy tidak ada hubungan apa-apa meskipun gadis itu sadar bahwa Boy merupakan sosok pemuda paling tampan seangkatannya di fakultas kedokteran umum di kampusnya.


“Hai…”sapa Boy yang tiba-tiba mengambil posisi duduk di sebelah Wulan.


Kini cowok hitam manis itu telah berada di hadapannya, alisnya sangat lebat dengan bola mata indah yang berbinar disertai kumis tipis dan jambangnya yang super keren.


Maya menahan diri untuk tidak salah tingkah ketika cowok itu memperhatikannya dalam-dalam.


“Ehem…”


Wulan mendehem sambil menahan senyumnya, gadis itu bergerak bangkit dari kursinya.


“Eitss…Tunggu! Mau kemana kau?”cegah Maya ketika dilihatnya Wulan hendak menyingkir.


“Iya di sini aja. Aku mau traktir kalian berdua sebagai tanda maafku tadi pagi,”lanjut Boy sambil memanggil pelayan.


“Terima kasih. Tapi lebih romantis kan kalau kalian hanya berdua,”protes Wulan sambil membalikkan tubuh ke arah berlawanan.

__ADS_1


“Wulan sini! Romantis apa-apaan sih?Aku kan sudah punya calon suami,”seru Maya .


Wulan pun kembali ke meja itu dan duduk di sebelah Maya, namun dalam hati ia yakin kalau sebenarnya Boy itu sangat suka pada Maya,sahabatnya. Itu dibuktikan dengan pandangan matanya yang tak bisa beralih untuk terus menatap wajah cantik Maya.


Boy menyantap semangkok bakso di hadapannya dengan lahap, bahkan ia memesan satu mangkok lagi dan menghabiskannya dengan cepat. Seketika bibirnya berubah kemerahan akibat saus sambal yang ia bubuhkan berlebihan. Wajahnya yang berkeringat membuat Boy nampak lebih menarik, membuat jantung Maya berdebar lebih keras. Ia sadar telah memiliki Ryan yang ganteng dan berkulit bening, namun sebatas mengagumi bukanlah sebuah dosa.


“Jadi kalian satu kos?”tanya Boy memulai percakapan.


“Benar,”jawab Maya dengan singkat.


“Kami sebelahan kamarnya,”timpal Wulan sambil meneguk minuman yang ada di depannya.


“Kapan-kapan boleh dong aku main ke sana,”tanya Boy sambil menebar senyum.


Cowok itu ternyata memiliki lesung pipit juga seperti halnya Maya, meskipun tidak terlalu dalam seperti gadis itu.


“Ada kesamaan antara kami,”batin Maya sambil berusaha bersikap tenang dengan membalas senyuman cowok itu.


“Dia udah ada calon suami tapi kamu masih nekad main ke kos Maya,”celetuk Wulan sambil tertawa.


“Ya gak apa-apa. Kan cuma berteman,”sahut Boy sambil memanggil pelayan dan mengeluarkan dompetnya.


“Kalau kamu tinggal dimana?”tanya Maya sekedar berbasa-basi agar suasana tidak kaku.


“Aku tinggal di Laguna Spring. Masih tinggal bersama orang tua. Mereka punya pabrik batik di kota ini,”sahut Boy tanpa ada kesan sombong sedikitpun.


“Perumahan mewah,”bisik Wulan ke telinga Maya.


“Adikku satu. Baru masuk kelas 1 SMA. Cewek juga seperti kalian,”timpalnya sambil menutup kembali dompetnya.


Maya hanya menganggukkan kepala tanda mengerti, kemudian melihat jarum jam yang melingkar di tangan kanannya.


“Yuk..Kita ke ruang AB untuk ganti mata kuliah berikutnya,”ajak Maya pada keduanya.


Mereka berjalan berdampingan menuju ruang AB. Dalam hati kecilnya,Maya sudah lama merasa bahwa Boy memang menaruh hati padanya sejak pertama kali mereka bertemu pada OSPEK hari pertama. Mereka akan menjalani masa-masa kuliah bersama selama 6 tahun atau bahkan lebih. Maya takut benteng pertahanannya roboh dan ia ingkar janji terhadap Ryan dan Om Robert. Satu tahun bukan waktu yang singkat, akan banyak godaan yang datang silih berganti. Terlebih mereka harus menjalani hubungan percintaan jarak jauh yang sering disebut LDR atau Long Distance Relationship. Maya sadar diam-diam Boy selalu mengambil kesempatan untuk berdekatan dengannya, terlebih sejak kasus tabrakan di lorong menuju kelas.


“Apa kabar dengan Ryan di NY? Apakah dia juga tetap memelihara perasaan yang sama?”gumam Maya dalam hati.

__ADS_1


Angin bertiup sepoi-sepoi siang itu, menggoyangkan daun-daun dari pohon bunga bougenville yang berderet di halaman, ada warna merah muda dan warna ungu yang ikut menari dengan indah tertiup angin.


__ADS_2