Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 52 : Temuan Polisi


__ADS_3

Episode 52 : Temuan Polisi


Di suatu hari Minggu yang cerah, sinar mentari masuk menembus jendela kamar milik Maya, burung nuri pelangi berkicau di sangkarnya, ayam jantan milik tetangga berkokok bersahut-sahutan. Maya merasakan matanya masih lengket ketika cahaya mentari yang menyilaukan masuk melalui retina matanya. Tubuhnya menggeliat di atas tempat tidur,sudut matanya ditebarkan ke seluruh ruangan dan terpaku pada sebuah jam dinding yang terletak tepat di atas meja belajar yang telah menemaninya sejak kelas 1 SD.


“Tok…Tok…Tok…..”


Dengan sigap Maya beranjak bangun dari tempat tidurnya dan berlari ke arah pintu. Berkaca sebentar pada sebuah cermin setinggi satu meter yang terletak di samping meja rias dan bersiap membuka pintu.


“Oh mama…Maaf,Ma. Maya bangun kesiangan. Semalam begadang membuat karya tulis untuk KIR.”


“Oh gapapa. Cepatlah mandi. Ada dua orang polisi ingin segera bertemu kamu.”


“Baik,Ma. Maya mandi sebentar,”sahutnya sambil menutup pintu kamar kembali.


Gadis itu bernyanyi-nyanyi kecil sambil mengguyur tubuhnya di bawah air shower yang hangat, mengganti pakaiannya dengan baju casual dan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


Ruang tamu tampak sepi, mama dan dua karyawannya sibuk di ruang laundry yang ada di sebelah ruang tamu. Dua laki-laki berpakaian polisi duduk menghadap luar sehingga hanya tampak punggung.


“Selamat pagi Pak,”sapa Maya dan menjabat tangan kedua tamunya.


Seorang polisi tampak muda dengan tubuh atletis dan tinggi sedang, wajahnya hitam manis dan klimis tanpa kumis. Polisi lainnya tampak berusia 40-an, bertubuh agak gemuk, dan wajahnya dipenuhi dengan kumis dan brewok.


“Pagi…Namamu Maya?”tanya polisi yang tampak lebih senior.


“Benar,Pak. Ada perkembangan baru mengenai kasus saya?”


Mama berjalan ke ruang tamu, rambutnya diangkat ke atas dengan jepit jedai, penampilannya sederhana,tubuhnya yang berperawakan sedang dibalut gaun terusan warna krem dengan manik-manik hitam. Wanita itu duduk di sebelah kanan Maya dan ikut mendengarkan apa yang disampaikan oleh polisi.


“Jadi begini,Bu..Adek…Tim kami sudah melakukan penyelidikan ke lokasi dan mendapatkan akses untuk melihat mobil dengan plat nomer disebutkan dalam BAP yaitu B 7889 NYX.”


Mama memasang wajah serius,Maya pun memasang telinganya baik-baik.


“Kami tunjukkan bukti penyelidikan kami. Mas Yono, silakan tunjukkan fotonya,”perintah polisi yang lebih senior pada polisi yang lebih muda di sebelahnya.


Tangan kekar milik polisi muda itu menunjukkan beberapa foto yang menunjukkan mobil putih milik Alisha.

__ADS_1


Maya memegang bahu sang mama dan mencari perlindungan di sana.Nampaknya gadis itu sedikit ketakutan mengingat kejadian yang pernah ia alami beberapa minggu yang lalu.


“Lalu rencana berikutnya apa,Pak?”tanya mama dengan penuh harapan.


“Kita belum bisa menangkap tersangka. Harus ada saksi mata yang bisa diinterogasi. Untuk ini akan kami koordinasikan dengan pengacara Maya.”


“Mama memandang wajah Maya, dan memeluknya dalam dekapannya.


“Kami tunggu kabar berikutnya Pak,”sahut Maya sambil tersenyum.


“Baiklah. Kami pamit duluan. Selamat pagi,”pamit kedua polisi sambil menuju teras.


Mama dan Maya melepas kepergian mereka, yang menaiki sebuah motor sport ukuran besar yang biasa digunakan kaum lelaki secara berboncengan.


“Lain kali hati-hati,May. Jangan suka keluar malam sendirian. Gak perlu bantuin kirim laundry lagi. Biar itu jadi tugas karyawan mama.”


“Iya,Ma. Namanya juga waktu itu lagi apes.”


“Gak boleh begitu,Nak. Setiap hari itu anugerah dari Tuhan. Semua hari itu baik.Hanya manusianya saja yang jahat.”


Hari ini mama membuat nasi uduk agak banyak, tujuannya agar bisa berbagi dengan anak-anak panti asuhan yang tinggal di gang sebelah. Kebetulan rumah mama Wulan ada di tepi jalan raya, sedangkan di sebelah kiri ada gang kecil yang menuju sebuah tempat penitipan anak-anak yatim piatu. Konon, mereka adalah anak-anak yang diambil dari jalanan, ada yang terlahir dari pramuwisma, ODGJ maupun anak-anak yang lahir di luar pernikahan. Panti itu tidak memperkenankan mereka diadopsi karena visi awal mereka adalah membantu anak-anak terlantar dan membesarkan mereka dengan memberinya bekal pendidikan yang cukup,bahkan tak jarang mereka bisa menempuh pendidikan tinggi berkat uluran tangan para donator.


“Maya bahagia punya mama yang berhati malaikat. Meskipun kami bukan orang kaya, tapi kami masih bisa berbagi dengan mereka yang lebih kekurangan,”gumam Maya sambil menikmati sarapan pagi yang nikmat buatan orang paling istimewa dalam hidupnya.


Tengah hari, mentari makin berada di puncak kepala, hawa panas dari luar menyeruak masuk ke ruangan laundry yang hanya dilengkapi dengan sebuah ceiling fan. Mama urung memasang pendingin udara dengan alasan takut biaya listrik melonjak drastis dan keuntungan laundry menipis. Maya hanya manggut-manggut mendengarkan argumentasi sang mama. Kini dirinya rela berpanas-panasan membantu mama di meja kasir. Beberapa klien mengantarkan pakaian kotor yang segera ditimbang dan dihitung oleh dua karyawannya. Beberapa klien lain mengambil pakaian kering yang telah siap diambil dan diletakkan dalam lemari bersusun di belakang meja kasir.


Tiba-tiba gadis itu mendengar suara orang memanggil namanya. Ia mencari asal suara, ternyata suara Ryan dari kejauhan yang mengajaknya pergi jalan-jalan. Maya melambaikan tangan agar cowok itu turun dari mobil. Ryan pun memasuki ruang laundry dan menyapa sang mama.


“Halo tante…Apa kabar?”sapanya dengan wajah ceria.


“Halo juga…Kanar baik. Bagaimana kabar orang tuamu?”


“Papa baik-baik saja,Tan.”


“Syukurlah.”

__ADS_1


Mama lalu berpamitan akan ke belakang sebentar dan meminta Maya menunggu di meja kasir. Gadis itu mengiyakan dan Ryan mengambil sebuah kursi agar bisa duduk di hadapan Maya, menemani gadis itu menjaga usaha sang mama.


Tiba-tiba terdengar derum sepeda motor berhenti di depan rumah, seorang pengemudi ojek online turun dari motor dan melepas helmnya.


“Mbak..Saya mau ambil laundry. Ini notanya.”


Maya menatap laki-laki itu, sebuah suara yang pernah ia dengar ketika disekap malam hari.


“Ada apa,May?”tanya Ryan yang ikut mencari arah pandangan gadis itu.


“Orang itu salah satu dari yang sekap aku,”sahut Maya sambil berbisik-bisik.


“Kamu yakin? Jangan sembarangan nuduh lho.”


“Aku cuma ingat suara sama tato naga yang ada di lengan kanannya. Persis sama.”


“Tapi dia tukang ojek,May. Waktu itu dia yang nyetir bukan?”


“Aku gatau siapa yang nyetir waktu itu Tapi sebelum aku pingsan,aku liat tato.”


Laki-laki itu tampaknya mengetahui kalau dirinya sedang diperbincangkan, dan ia sempat melihat wajah Maya yang sepertinya dikenalinya. Bodohnya,laki-laki itu berlari dan itu sangat membuktikan kalau dia tak bisa menutupi kejahatannya sendiri.


“Woiii,Mas! Kenapa lari?”tanya Ryan.


Laki-laki itu melemparkan laundry yang diambilnya ke atas tanah sehingga salah satu karyawan mama mengambilnya kembali dan segera menelpon si pemilik pakaian.


Ryan berlari mengejar tukang ojek itu ke arah selatan sambil membawa motornya. Mama keluar dari dalam rumah karena mendengar suara ribut-ribut.


“Ada apa ini?”


“Ada penjahat,Ma. Yang tempo hari sekap Maya. Dia lari dan dikejar Ryan.”


“Hah? Masa? Coba kamu telpon polisi yang tadi.”


Maya meraih ponsel dan menekan nomor polisi tadi. Tak ada yang mengangkat di sana. Akhirnya gadis itu mengirim pesan singkat. Penjahat tadi melemparkan jaketnya dan menjalankan motornya dengan kecepatan sangat tinggi. Ryan mengerahkan kekuatan vampire-nya dengan berlari melebihi kecepatan cahaya. Sementara dari arah lain, kesatuan polisi juga mengejar sasaran sehingga terjadi kejar-kejaran.

__ADS_1


__ADS_2