
Tujuh tahun berlalu…
Ryan telah kembali dari negeri Paman Sam dan meneruskan usaha sang papa. Sementara itu Maya telah membuka praktek pribadi setelah menjalani masa PTT selama dua tahun. Kini keduanya sedang menanti hadirnya sang buah hati. Dengan didorong sebuah kursi roda, Maya memasuki ruang VK atau singkatan dari Verlos Kamer untuk menjalani persalinan normal.
Ryan menggenggam erat tangan istrinya ketika perempuan itu mengejan kesakitan.
“Kau harus tahan,sayang. Karena inilah proses kelahiran yang kau pilih,”ucap Ryan sambil duduk di tepi tempat tidur.
Maya mengangguk, keningnya mulai dipenuhi bulir-bulir keringat yang bercucuran.
Dua perawat datang dan memeriksa pembukaan. Seorang perawat agak tua dengan tubuh gemuk dan berkulit gelap. Sedangkan satu lagi adalah perawat muda dengan mata bulat dan kulit kuning langsat.
“Zus. Dokternya belum datang?”tanya Ryan dengan wajah cemas.
“Ada. Di ruangan sebelah, sedang berjalan kemari,”sahut perawat yang lebih tua.
Tak lama kemudian, seorang laki-laki dengan jas warna putih memasuki ruangan sambil tersenyum.
“Halo,Pak. Kalau mau lihat proses kelahiran silakan duduk di sana,”ujar sang dokter sambil berdiri di tengah-tengah.
Kedua kaki Maya dinaikkan dan tubuhnya diberi alas dari plastik.
Dua perawat bergantian menyemangatinya.
__ADS_1
“Ayo,Bu! Tarik napas yang panjang!”
“Jangan merem ya! Tetap melek. Satu…Dua…Tiga…”
“Ambil guntingnya,Zus. Biar perobekan tidak meluas,”ujar sang dokter yang mengenakan sepasang sarung tangan warna putih gading.
Perawat yang muda memberikan gunting operasi, sang dokter dengan sigap menyemprotkan zat anestesi sebelum mengguntingnya.
“Aduh sakit banget Dok,”keluh Maya.
“Kalau begitu saya suntik epidural dulu,”ujar sang dokter sambil menyuntikkan obat penahan sakit di tulang punggung Maya.
“Ayo ngejan lebih keras,Bu! Kepalanya sudah keliatan,”seru perawat yang bertubuh gemuk.
Ryan duduk di sebuah kursi dari kejauhan dengan jantung berdebar.
“Di rumah sakit ini dilarang merekam dan mengambil gambar,”sahut sang dokter.
“Oh baiklah kalau begitu.”
Ryan *******-***** jari jemarinya, sambil menahan cemasnya.
“Oeek….oeeek…”
__ADS_1
Perawat mengangkat bayi itu, dan sang dokter memotong tali pusatnya lalu menjepitnya dengan sebuah jepitan yang telah disterilkan. Kedua perawat itu memandikan bayi dan sang dokter menjahit tempat lahir sehingga kondisi pulih seperti sedia kala.
Ryan tersenyum dan bangkit berdiri, sang dokter mempersilakannya mendekat.
“Selamat ya,Pak. Bayinya laki-laki dan sehat,”ujar sang dokter lalu keluar dari ruangan.
Maya tampak terbaring dengan wajah sangat bahagia. Perawat itu meletakkan bayinya di sebelah kirinya untuk diberi air susu. Kemudian dua perawat itu memindahkan Maya ke ruang rawat inap dan bayinya dipindahkan ke ruang bayi.
Pak Robert membawa seorang pengasuh bayi berseragam putih-putih. Seorang perempuan berusia sekitar 35 tahun berwajah manis dan berkulit sawo matang yang bernama Nina.
“Perkenalkan ini Zus Nina yang akan merawat bayinya Ryan,”ujar papa ketika memasuki kamar rawat inap.
“Terima kasih,Pa. Tapi bayinya belum dinamai,”kata Maya sambil menatap papa mertuanya.
“Hemm..Biar Ryan yang cari namanya.”
Ryan sejenak terdiam dan berpikir.
“Bagaimana kalau bayinya kita beri nama Edward Sanders?”tanya Ryan sambil tertawa.
“Ih kok mirip pemeran film Twilight,”protes Maya.
“Yaudah kita namai saja dengan sebutan Albert Sanders,”ujar papa.
__ADS_1
“Nah itu lebih bagus. Aku setuju”ucap Maya sambil tersenyum.
Sejak itu Baby Albert dirawat Zus Nina dengan penuh kasih dan tumbuh menjadi bayi yang sehat. Ia memiliki lebih banyak lagi sifat manusia dibandingkan vampire. Maya sangat bersyukur bayinya tidak memiliki ketergantungan terhadap darah.