
Sekolah usai…
Semua siswa berhamburan keluar kelas, masing-masing ingin buru-buru sampai ke rumah. Maya membereskan tumpukan map yang akan dibawanya untuk rapat OSIS.
“Prang…Klontang…Klontang…”
Gadis itu membalikkan badan untuk melihat sesuatu yang terjadi di bagian belakang kelas.
Tampak Doni,siswa bertubuh lumayan subur sedang memunguti tupper ware dan alat makannya yang terjatuh.
“Sini aku bantuin Don,”kata Ryan sambil terkekeh.
Maya kagum, ternyata di balik sosok dingin Ryan, dia adalah cowok penuh perhatian dan suka membantu, terlebih bagi orang-orang yang dekat dengannya.
Tangan kekarnya bersiap memungut sisa nasi yang berceceran di lantai kelas.
“Jangan Ryan! Lebih baik panggil pak kebun buat bantu bersihin lantai. Usai kelas dia pasti pel seluruh ruangan kok,”seru Maya yang merasa iba dengan Ryan.
“Iya..Cowokmu kadang terlalu baik May,”seloteh Doni sambil memasukkan tupperware ke dalam kantung plastik.
“Lagian biasa juga makan di kantin. Tau-tau udah kayak bocah SD lagi bawa tupperware.Pantas tumpah,”olok Ryan.
“Lupa cara bawanya maksudmu,Ryan?”tanya Doni sambil tertawa terbahak-bahak.
Tak lama tukang kebun pun melewati depan kelas mereka.
“Panjang umur lho,Pak. Barusan kita ngomongin bapak,”lapor Maya sambil beranjak keluar kelas.
Pak Singgih,tukang kebun bertubuh kurus itu tertawa dan mulai mencelupkan kain pelnya ke dalam ember. Doni dan Ryan buru-buru keluar kelas.
“May…Tunggu aku!”teriak Ryan setengah berlari.
“Aku buru-buru Ryan. Ada rapat OSIS sekitar 45 menit,”sahutnya sambil menengok ke belakang.
“Kita balik bareng,May.Nanti aku jemput lagi.”
Maya mengangguk dan melambaikan tangannya dan cowok itu membalasnya.
Ryan dan Doni berjalan menyusuri koridor sekolah. Dua sahabat itu berjalan beriringan sambil bersenda gurau, suara tawanya memenuhi lorong itu karena situasi telah kembali sepi. Hari itu tidak ada kegiatan ekstrakurikuler, hanya ada rapat OSIS yang dihadiri para anggota OSIS saja.
“Don…Gimana kalau hari ini kau temani aku makan telur gulung di depan sekolah.”
“Hah? Kok seperti bocil lagi kita?”
“Hehehehehe..Maksud aku biar abis ini aku bisa langsung jemput Maya, tetap di sekolah maksudnya.”
“Mendingan kita ke café depan sekolah aja. Ada yang buka baru. Jualannya banyak dan full wifi pula.”
“Okelah ..Yuk tos dulu!”
“Eh mau kemana lagi Ryan?”seru Doni ketika dilihatnya sang sohib keluar lagi dari café.
“Beli telung dulu ah! Penasaran. Udah kamu pesan aja apa yang kau mau,Don.”
Ryan menunggu abang penjual telur gulung membuatkan pesanannya sebayak 20 tusuk telur gulung dan memasukkan tas ranselnya ke dalam mobil.
“Bang..Buruan dong!”pinta Ryan yang sudah berdiri lama di depan gerobak.
__ADS_1
“Masih dua antrian,Den. Nanti dianterin aja ke mobil.”
“Anterin ke café itu aja.Bisa?”
“Bisa. Bayar nanti aja di sana,”sanggah tukang telung sambil menggoreng dagangannya.
Ryan kembali ke café setelah sepuluh menit menunggu telung tanpa hasil.
“Akhirnya kau balik juga,”seru Doni yang tampak telah menghabiskan seluruh makanannya.
“Haduh..Akhirnya aku makan sendiri lagi dong.”
“Abis kamunya lama,Ryan.”
Doni terkekeh, perutnya tambah buncit. Kemeja putihnya nampak makin ketat sehingga kancingnya nyaris terbuka dan sebagian kulit perutnya terlihat dari luar.
“Udah kayak orang hamil aja Don,”ledek Ryan sambil mengelus perut buncit milik Doni.
Tiba-tiba seorang pelayan wanita dengan kaos merah dan celana panjang hitam menanyakan pesanan kepada Ryan yang baru saja duduk.
“Mas mau pesan apa?”
“Temen saya makan apa tadi,Mbak? Samain aja.”
“Dia makan ayam goreng kremes dan lalab. Minumnya teh poci.”
Ryan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya,”Busyet…Udah hampir 45 menit aku di café.”
“Kalau gitu aku pulang dulu,Ryan. Ada bimbel sore ini. Takut mamaku ngamuk.”
“Okelah. Hati-hati di jalan,Don!”
“Mbak..Saya pesan nasi dua piring. Es jeruk dua gelas. Lalab dan sambal dua porsi dan ayamnya satu ekor.”
“Baik. Ada tambahan lain?”
“Sementara itu aja dulu. Sajikan nanti sepuluh menit lagi.”
“Siap,Mas.”
Ryan telah memperkirakan kedatangan Maya di café agar hidangan tetap hangat untuk makan mereka berdua.
Dugaan cowok itu tak meleset, gadis itu menelpon melalui ponselnya.
“Halo,May…Aku di café depan sekolah. Langsung aja ke sini.”
“Hah? Makan lagi?”
“Makan ajalah sedikit gak apa-apa.”
“Terserah kamulah,”sahut gadis dengan pasrah.
Maya memasuki sebuah café baru di depan sekolah yang lumayan bersih dan terang. Ruangannya cukup nyaman karena menggunakan pendingin udara. Semua siswa bakal bisa melepas lelah di sini sepulang sekolah, tak perlu jauh-jauh ke mall. Internetnya pun sangat lancar.
Ryan menatap Maya dengan bawaannya yang banyak dan langsung mengambilnya dari tangan gadis itu.
“Sini,May. Aku bantu masukin ke dalam mobil.”
__ADS_1
“Aku aja yang masukin sendiri,Ryan. Jangan kau perlakukan aku seperti seorang putri setiap hari. Aku jadi gak enak.”
“Ayolah. Gak apa-apa. Hari in ikan pengumuman lomba.”
“Justru itu. Beban buat aku kalau gak menang.”
“Yang penting kau sudah berusaha,May.”
Maya pun mengangguk dan merelakan semua bawaaannya diambil Ryan untuk selanjutnya diletakkan di dalam mobilnya.
Mereka duduk dengan tegang menanti kabar yang datang melalui sms di dalam ponsel milik Maya. Hidangan telah berada di depan mereka, namun tak seorang pun berniat menyentuhnya sebelum hasil lomba itu diberitakan.
Maya duduk dengan kedua tangan bersidekap di atas meja, matanya yang bulat menatap layar monitor ponselnya yang ditegakkan dan bertumpu pada sebuah tempat tisu.
Ryan nampak terdiam dengan wajah serius, jantungnya berdebar lebih cepat dan dua tangannya saling mengatup.
“Satu menit lagi,May.”
Maya mengangkat wajahnya dan tersenyum, lalu kembali menatap layar ponsel miliknya.
“Udah lewat tiga menit,Ryan.”
“Sabar aja.”
Ryan mulai mengambil sendok dan garpu serta meletakkannya di samping nasi putih.
“Yeeeyyyy…Akhirnya keluar juga!”teriak Maya yang membuat beberapa orang di ruangan itu menengoknya.
“Juara berapa,May?”
“Cuma juara dua,”sahutnya sambil menatap Ryan dengan bola matanya yang bening.
“Congratz ya! Syukuri aja,”kata Ryan sambil refleks memeluk gadis itu.
Tanpa sengaja cowok itu menyenggol garpu miliknya dan terjatuh sehingga menimbulkan suara bising.
“Klontang…”
Pelayan pun datang dan memberinya dengan sepasang alat makan yang baru.
“Juara dua dapat hadiah apa,May?”
“Hadiah uang dan trophy. Tapi entah siswa dapat berapa karena pihak sekolah yang bagiin nanti.”
“Yang pasti LKIR tingkat internasional tetap jadi hak juara satu dong?”
“Iya. Sekolahan itu lagi. Tapi gak apa-apalah. Daripada gak menang sama sekali.”
“Syukuri aja. Itu udah bagus. Kamu dan Yusuf bawa nama baik sekolah kita.”
“Iyalah. Ini kan tingkat nasional,Ryan.”
Pelayan wanita itu datang lagi dan meletakkan dua buah mangkuk kecil berisi air hangat dan jeruk nipis untuk mencuci tangan di hadapan dua remaja itu.
“Makasih,Mbak.”
Pelayan mud aitu pun tersenyum dan menganggukkan kepala.
__ADS_1
Ryan memotong separuh ayam dan meletakkan ke dalam piringnya, memotong-motong dan memasukkannya dengan garpu ke dalam mulutnya.