Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 22 : Pertemuan Tak Disengaja


__ADS_3

Sepulang sekolah,Ryan setia menunggu Maya di parkiran hingga gadis itu menyelesaikan ulangan susulannya. Si ganteng kembali menjalankan tugasnya sebagai detektif khusus plat mobil milik Alisha. Setiap hari ia mengecek daftar mobil masuk dan keluar dari buku yang disimpan satpam di pos jaga,sayangnya nomor yang dicari tak muncul juga dari daftar.


“Ryan….”teriak Maya dari kejauhan.


Rupanya gadis itu telah menyelesaikan ujian susulannya dalam waktu yang singkat.


“Sudah beres,May? Kok cepet?”tanya Ryan dengan keheranan.


“Kan waktunya satu jam,”sahut gadis itu dengan wajah lugu.


Ryan melirik jam tangan yang melingkar di tangan kanannya kemudian menepuk jidatnya sendiri.


“Oh my God. Baru sadar ternyata sudah satu jam aku di sini.”


“Sukses gak ujiannya?”tanya cowok keren paripurna sambil mengembangkan senyum yang membuat wajahnya makin memikat.


“Bisa dong,”sahut Maya sambil melempar tas sekolah ke jok belakang mobil Ryan.


Si ganteng memasang seat belt dan memiringkan wajah menatap Maya, gadis cantik nan lugu yang otaknya sangat encer meskipun ketinggalan pelajaran hampir seminggu.


“Ajarin aku dong biar otakku bisa encer biarpun sedikit.”


“Rajin dengerin guru kalau di kelas. Rajin baca catatan kalau di rumah.”


“Cuma itu?”


Maya menggangguk sambil tersenyum, memamerkan kedua lesung pipi yang menambah manis wajah cantiknya.


“Sepertinya aku butuh les tambahin lagi deh…”pinta Ryan sambil menjalankan mobilnya keluar halaman sekolah.


“Boleh…Tapi nanti setelah luka-luka aku pulih.”


“Sekarang juga gapapa,May. Aku juga udah kangen.”


Maya tertawa tergelak dan memukul lembut bahu cowok itu dengan tangannya, lalu mereka tertawa bersama-sama.


“Oh ya..Gak capek nungguin aku satu jam?”


“Enggaklah. Apa sih yang enggak buat kamu?”rupanya cowok itu piawai dalam hal gombal menggombal.


“Bukannya asyik liatin cewek?”ledek Maya sambil memajukan kursinya agar bisa melihat wajahnya di cermin.


“Oh bukanlah,May. Aku habis mengecek plat-plat mobil yang keluar masuk halaman sekolah.”

__ADS_1


“Kamu kurang kerjaan amat. Harusnya kau pulang aja.Gak perlu nungguin aku.”


“Kok kurang kerjaan? Kan aku lagi menyelidiki plat nomor mobilnya si Alisha.”


Maya menatap Ryan keheranan, alisnya dinaikkan lalu baru tersadar kalau ia pernah mendengar suara Alisha saat diculik.


“Lalu hasilnya apa?”


“Sama sekali belum ada petunjuk. Oh ya…Aku menemukan sesuatu di dekat lokasi kejadian.”


“Apa itu?”


“Coba kau perhatikan ini,”kata Ryan sambil menyodorkan sebuah ponsel yang kacanya sudah retak dan kondisi bodinya juga sudah penyok dan sebagian terbuka karena terjatuh dari ketinggian.


“It’s my mobile phone. Sudah rusak. Tapi kira-kira jatuh dimana ya?”


“Mungkin terlempar ke pepohonan.”


“Aneh ya..Setelah sekian lama baru ketemu. Terus kamu dapat ini dari siapa?”


Maya mengingat-ingat waktu kejadian ia pun telah mencari ponselnya selama berhari-hari namun tak menemukannya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya dan berpikir keras.


“Ada seorang bapak tua yang tiba-tiba lewat dekat mobil dan menitipkan sesuatu padaku.”


Ryan mengerem mobilnya karena di depan lalu lintas macet, kemudian membuka jendela dan melihat sekelilingnya dengan bantuan spion bagian kanan.


“Itulah,May. Rejeki untuk anak sholeh akan selalu ada.”


“Omong-omong kita gak bisa ambil jalan lain? Di sini macet parah.”


“Mana bisa? Depan dan belakang kita ada mobil.Kamu lapar,May?”


“Enggak…”


Maya terpaksa berbohong karena malu,pasti cowok itu akan mentraktirnya lagi dan masakan mama di rumah akan mubazir.


“Kruuk…kruuk…”suara perut Maya yang keroncongan karena asam lambungnya naik.


Ryan tertawa terkekeh mendengar suara perut.


“Mulutmu bisa berbohong tapi perutmu enggak bisa bohong,May.”


Maya tersenyum malu-malu kucing, pipinya memerah yang membuat cowok itu makin suka karena wajah lugu itu makin imut menggemaskan.

__ADS_1


“Nanti di belokan sana kita mampir. Ada warung ayam goreng yang enak banget,”kata Ryan serasa berpromosi.


Maya menelan ludah karena sangat lapar, siang tadi dia sama sekali tidak jajan di kantin karena mama lupa memberinya uang jajan. Sarapan paginya hanya setangkup roti tawar yang diisi selai strawberry dan sebutir telur rebus. Gadis itu tak ingin merepotkan sang mama di pagi hari karena ia tahu mama sudah sangat sibuk dengan urusan laundry langganannya yang sangat menumpuk.


Mobil diparkirkan persis di depan restoran yang menjual ayam goreng kampung dengan bumbu yang khas dari desa dan aneka sambal.


“Uniknya di sini ada banyak jenis sambal,ada sambal terasi,sambal ijo,sambal matah,sambal keju, dan masih banyak lagi.”


Suasana restoran tidak terlalu ramai karena bukan jam makan siang,hanya ada dua atau tiga orang yang masih menikmati hidangan. Ada delapan meja makan besar di lantai satu yang terletak di ruangan terbuka tanpa pendingin udara. Hanya ada empat buah kipas angin yang tak berhenti berputar dan dua orang pelayan yang selalu siap melayani pengunjung.


Ryan membuka dua kancing bajunya karena kepanasan, mukanya memerah dan keringat menetes satu persatu dari dahinya karena kepedasan. Maya membantunya mengelap dengan tisu yang ada di meja makan.


“Terima kasih,May. Kamu perhatian banget,”kata si ganteng dengan bibir memerah yang tebal.


Gadis itu sebenarnya tak enak hati ketika pengunjung lain dan pelayan yang ada di sana memperhatikan mereka. Ryan itu tahu kalau Maya adalah gadis pemalu ketika berhadapan dengan cowok, lalu tersenyum ketika dilihatnya gadis di hadapannya itu tampak kikuk dan menoleh ke kanan dan ke kiri.


“Udahlah,May. Cuekin aja. Gak bakal kok mereka ngeliatin kita mulu.”


Gadis itu langsung menunduk dan wajahnya memerah bagaikan kepiting rebus. Maya menghabiskan es jeruk di dalam gelas. Tak sengaja ia melihat bulu dada milik Ryah yang terlihat ketika cowok itu menunduk sambil memotong makanannya.


“Uhuk..uhuk…”gadis itu merasakan hidungnya sangat panas akibat tersedak minuman.


“Ada apa,May?”


“Enggak…gak ada apa-apa kok.”


Tapi Ryan tahu Maya memperhatikan bagian dadanya, lalu ia tertawa dan mengancingkan satu kancing kemejanya agar lebih tertutup.


“Bulu dada buat cowok udah biasa,May. Harus dibiasain liat ini,”seloroh Ryan sambil mencolek potongan ayam ke dalam piring kecil berisi sambal.


Maya kembali tersipu malu dan mengelap mulutnya yang basah oleh es jeruk dengan beberapa tumpuk tisu yang dilipat menjadi satu.


Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sebuah suara teguran yang berasal dari luar restoran.


“Boss..Boss kecil…Lagi asyik ni ye….”ledek Mas Budi yang tiba-tiba lewat dan masuk ke dalam restoran menyapa Ryan.


“Eh..Mas Budi…Ayo ikutan kita makan,”ajak Ryan dengan ramah.


“Makasih,Boss. Saya udah makan. Tadi abis manggil mantri sapi disuruh bapak.”


“Oh ya..mas. Kenalin ini Maya. Maya ini Mas Budi, karyawan papa di peternakan sapi perah.”


“Oalah ini Neng Maya yang kenalan tempo hari ya? Pacarnya Den Ryan?”

__ADS_1


Maya kembali tersipu ketika Ryan malah menganggukkan kepala.


Tuhan rupanya bermurah hati mempertemukan para dewa penolong gadis itu secara tak disengaja dengan Ryan satu-persatu.


__ADS_2