
Pagi-pagi benar, supir Pak Martin telah bersiap mengantarkan eyang uti ke bandara.
Eyang uti telah rapi dalam balutan setelan blazer bermotif hitam putih dan celana panjang warna hitam, rambutnya disasak tinggi mengesankan wanita berkelas. Anneth memandang wajah sang bunda dengan sedikit kecemasan.
“Bunda mau balik Malang lagi. Kalian jaga Alisha baik-baik,”pesan eyang uti yang semalam menginap di rumah Alisha.
“Siap Bun,”sahut Martin mengiyakan ibu mertuanya.
“Terutama si Alisha itu. Jangan sampai dia dapat masalah lagi. Kita ini keluarga terhormat. Malu kalau sampai kena masalah pidana,”pesan eyang uti sambil menghabiskan sisa bubur ayam dalam mangkuk di hadapannya.
“Maafin Alisha,Yang. Itu di luar kontrol diri. Alisha juga gak tau kenapa bisa begitu.”
“Itu tandanya kamu kurang ibadah!”seru eyang uti seakan menyadarkan Alisha dan kedua orangtuanya.
Alisha tampak tertunduk, wajahnya memucat sambil menatap roti sandwich yang terpotong jadi tiga oleh pisau dan garpu di tangannya.
“Maafin Anneth,Bun. Beberapa tahun terakhir terlalu sibuk. Sering lupa sholat, lupa ngingetin Alisha juga kalau ditinggal di rumah.”
Eyang uti menghela napas panjang lalu meneguk air jeruk dalam gelas yang dipegangnya.
“Kedatangan eyang kemari. Jadikanlah selalu sebagai pengingat agar kalian jangan lupa ibadah. Sesibuk apapun kalian bekerja.”
“Njih Bun,”sahut Martin sambil menganggukkan kepala.
“Jadi…Bunda kapan datang lagi?”
“Kamu itu lho…Harusnya kalian yang muda datang ke rumah Bunda. Ini malah kebalikan.”
Anneth langsung salah tingkah, dipandanginya wajah sang suami dan putrinya bergantian.
“Dua minggu lagi kami ada libur. Sabtu dan Minggu Alisha bisa ruwatan di sana,Bun.”
Eyang uti menggerakkan jari telunjuknya untuk memberi kode tidak perlu.
“Ruwatan sebaiknya diadakan di rumah kalian. Minggu ini jelas belum bisa. Alisha masih datang bulan.”
“Jadi dua minggu lagi eyang datang lag ikan?”pinta Alisha sambil menggapai tangan sang eyang manja.
“Iya,Nduk.”
Eyang putri mengelus puncak kepala Alisha dan mendekapnya dalam dadanya, lalu melepaskannya kembali agar anak itu bisa menghabiskan sarapannya lebih cepat.
Pagi itu tiga buah mobil meluncur keluar dari rumah megah dengan pagar sangat tinggi yang terletak agak jauh dari rumah-rumah di sekitarnya. Alphard hitam untuk mengantarkan eyang uti ke bandara dengan ditemani mama Anneth. Papa yang mengendarai BMW warna hitamnya ke kantor dan Alisha dengan Mercy warna putihnya ke sekolah. Gadis itu memasang seat belt dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hari masih pagi, belum banyak pengendara kendaraan turun ke jalan. Mentari pun baru terbit di ufuk timur, sinarnya yang hangat menerpa kaca mobil milik Alisha. Dibukanya jendala mobil dan dimatikannya pendingin ruangan.
__ADS_1
“Segarnya….”gumam Alisha sambil menikmati pemandangan di kanan kirinya.
Jalanan masih lancar, hingga tanpa terasa dirinya hampir memasuki gerbang sekolah. Seorang satpam tua berperut buncit menyapanya,”Pagi,Non…”
“Selamat pagi juga,Pak.”
Gadis itu memarkirkan mobilnya agak ke ujung, ia ingin berlama-lama di mobil sambil mendengarkan lagu.
“Nungguin Niken dan Sandra datang ah…”gumam Alisha sambil merebahkan sandaran kursinya.
Digelengkannya kepalanya ke kanan dan ke kiri mengikuti irama lagu sambil menikmati cemilan keju yang dibawanya dari rumah.
“Duk…Duk….Duk….”
Sebuah ketukan keras di kaca jendela mengagetkan Alisha. Gadis itu menoleh dan sontak terbangun dari duduknya, menyetel kursinya lebih tegap dan mengamati seorang gadis berkacamata hitam, mengenakan topi hitam dan tubuhnya dibalut hoodie warna biru muda.
Alisha mengamati sosok asing itu sambil menurunkan sedikit kaca jendelanya,”Siapa lo?”
Gadis itu membuka topi dan kacamata hitamnya sambil tertawa,”Ini gue…Sandra!”
“Gila lo..Bikin gue kaget aja…”
Alisha mematikan mesin mobilnya dan keluar dari mobilnya. Mereka berjalan beriringan masuk ke kelas.
“Ngapain sih lo ngagetin gue macem itu?”bentak Alisha sambil nyengir.
“Gue kepagian,San. Makanya mending gue tunggu di mobil. Semalam ada eyang uti gue datang dari Malang.”
“Terus apa hubungannya dengan lo datang kepagian?”
“Gue mau diruwat sama eyang biar gak badung lagi.”
Sandra tertawa terbahak-bahak hingga matanya menyipit dan mengeluarkan air mata.
“Sumpah…Gue seriusan… Terus ada lagi…”
“Ada apa,Lis?”tanya Niken yang ikutan nimbrung dari belakang.
Gadis itu baru saja datang ke sekolah dan berlari-lari agar langkahnya sejajar dengan dua sahabatnya.
“Aneh gak sih..Ternyata gue sama Ryan itu masih sepupuan.”
“Yang bener,Lis?”tanya dua sahabatnya hampir berbarengan.
__ADS_1
Alisha menatap dua sahabatnya, lalu menganggukkan kepala berkali-kali.
“Jadi ceritanya nyokap gue itu kembar identic dengan Annisa,almarhumah mama Ryan. Cuma dia diadopsi ke Sidney karena penyakitan. Kanker darah.”
“Hah?”
Dua cewek badung sahabat Alisha melotot dan mulutnya menganga berbarengan.
“Lu gak jadi suka dong sama Ryan,”ledek Sandra sambil terkekeh.
“Ah lo…”sahut Alisha sambil menendang ujung sepatu Sandra.
Ketiganya masuk kelas dan meletakkan tasnya di belakang kursi lalu bersiap berbaris dengan rapi. Seisi kelas heran dengan perubahan ketiga cewek badung yang hari itu nampak lebih tenang.
“Habis diruqyah kali,”bisik Ika ke telinga Maya yang memandangnya sedari pertama masuk kelas.
Maya hanya tertawa dan menutupi mulutnya dengan telapak tangannya.
“Selamat pagi anak-anak…”sapa Pak Tarno sebelum mengabsen siswanya satu persatu.
“Bapak merasa senang.Hari ini kelas tampak lebih tertib dan tenang. Semoga dilancarkan hingga kenaikan kelas tiba,”imbuhnya.
“Amen…Amen….”sahut para siswa serempak.
Affandra yang bertindak sebagai ketua kelas ikut mengamati teman-temannya. Ia menghela napas lega mendengarkan laporan dari sang wali kelas. Kenaikan kelas artinya lima bulan lagi mereka akan naik ke kelas dua belas. Tahun terakhir sebelum mereka berpisah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Cowok itu melirik ke arah Alisha, mantan kekasihnya itu nampak cantik seperti biasanya dengan rambut sedikit blonde yang ikal dan panjang, tangannya yang ramping dan panjang tampak dilipat di atas meja,sibuk mendengarkan uraian dari sang wali kelas.
“Yah…Bentar lagi berpisah. Gak mungkin juga satu kampus dengan dia. Anak orang kaya pasti nerusik ke luar negeri,”gerutu Affandra sambil bersidekap.
Sandra yang duduk di samping Alisha memberi kode dengan menyenggol lengan gadis itu.
“Liat tuh si Affandra dari tadi liatin lo melulu. Masih cinta kali.”
Alisha hanya melirik sekilas dan tatapan matanya kembali dialihkan ke papan tulis.
Affandra sedikit sedih, Alisha nampak telah berubah,bukan lagi Alisha yang dulu selalu menyambutnya dengan senyuman hangat dan genggaman tangan erat.
Guru pelajaran pertama masuk, dan para siswa kembali hening. Mereka berkonsentrasi mendengarkan guru. Suasana di luar kelas pun kembali sunyi karena semua guru telah mengajar, yang tersisa hanya petugas perpustakaan dan petugas TU yang diam di ruangannya masing-masing. Seorang tukang kebun yang merangkap pesuruh sekolah alias office boy sedang sibuk mengepel lantai. Langkahnya terhenti sejenak ketika terdengar suara yang mengganggu indra pendengarannya. Dipasangnya daun telinganya dengan cermat, dimatikannya ponselnya dan dimasukkan ke dalam saku celananya. Laki-laki itu menaikkan alisnya dan membelalakkan matanya ketika mendengar seperti suara kaki diseret.
“Sreek…Sreek…”
Laki-laki itu mulai berkeringat, jantungnya terasa berhenti sesaat dan tongkat pelnya pun terlepas. Ia mundur dua langkah sambil mengucek-ucek matanya.
“Mimpikah?”tanyanya dalam hati.
__ADS_1
Laki-laki itu ingin menjerit namun niat itu ditahannya. Ia berusaha menahan air seninya untuk tidak ketakutan, digigitnya bibir bawahnya sambil bersembunyi di balik loker. Seorang wanita dengan pakaian ala Mesir dan sorot mata merah berjalan dengan kaki tak menyentuk tanah. Sosoknya nampak seperti cahaya, penampakannya seperti tembus pandang dan kejadian itu sekitar 20 detik. Tukang kebun nyaris pingsan dibuatnya dan ia tak sadar kemana arah perginya wanita mirip wanita Mesir jaman dulu itu. Bergegas diraihnya ponsel dan melakukan pencarian di internet.
“Cleopatra? Ah gila aja jaman modern ada roh Cleopatra masuk sekolah? Atau aku yang mulai gila karena stress kebanyakan utang?”pikir tukang kebun sambil menepuk jidatnya sendiri.