
Setelah berakhirnya masa classmeeting, tibalah waktunya penerimaan raport. Semua siswa dengan berdebar menantikan kehadiran orang tua masing-masing untuk mengambil raport. Sebagian besar siswa berbondong-bondong menggiring orang tua masing-masing dari halaman parkir hingg sampai ke dalam kelas. Maya si gadis cantik nan sederhana, menunggu kehadiran orang tua satu-satunya, mama Wulan di halaman depan sekolah. Tak lama kemudian sang mama pun turun dari taksi online, keduanya memasuki ruang tunggu berupa bangku panjang di depan kelas. Siswa heboh dengan kehadiran orangtua Ryan yang mengendarai mobil mewah warna hitam keluaran terbaru dengan pintu yang membuka ke atas persis sayap kupu-kupu.
“Wah…Gantengnya papa Ryan,”celetuk seorang siswi berbadan bongsor ketika melihat seorang laki-laki paruh baya berwajah mirip Ryan sang idola sekolah.
“Ckck….Gue bisa naksir papanya nih,”kata seorang siswi lainnya yang tampak genit.
Mereka pun memberi jalan bagi Robert Sanders, papa Ryan yang melangkahkan kaki menuju kelas.
Pakaian yang membalut tubuh Tante Wulan sangat sederhana, sebuah rok terusan warna coklat muda yang dilengkapi ikat pinggang warna hitam dan sebuah flat shoes warna hitam.Tak ada yan istimewa dengan penampilannya, wajahnya pun tampak natural, tas yang dibawanya pun bukan merk paten. Wanita ini duduk menunggu dengan wajah sabar tanpa berkeluh kesah. Tampak di seberangnya sederetan kursi kayu yang panjang, para ibu-ibu dengan penampilan glamour layaknya sosialiata ibu kota. Mereka mengenakan pakaian dengan bahan mahal dan berkelas dilengkapi dengan sepatu dan tas merk kenamaan. Ruang tunggu di depan kelas berubah menjadi ajang pamer dan harum parfume berbagai merk pun menyeruak. Guru memanggil satu-persatu nama murid didampingi orangtuanya,untuk menerima raport dan berbagai nasehat lainnya.
Ika…
Ika pun masuk didampingi ibunya, wanita berperawakan agak gemuk masih dengan seragam Pemda masuk ke dalam. Beberapa siswa mengintip dari balik jendela kaca untuk menyaksikan perubahan raut muka teman mereka setelah mendapat raport dan berbagai teguran dan nasehat lainnya.
Ryan…
Sang papa pun masuk ke dalam kelas dengan menggapit tangan kekar milik Ryan.
Jantung cowok ganteng ini berdebar lebih keras ketika dilihatnya di papan tulis telah tercantum nama-nama siswa yang berhasil menduduki peringkat 10 besar, taka da namanya di sana. Hari ini tepat satu semester ia tercatat sebagai siswa di SMA Prima Cendana. Tak ada prestasi akademik yang berhasil ia ukir selain kepiawaiannya bermain basket. Ryan duduk di samping sang papa di depan meja guru wali kelasnya,Pak Tarno. Cowok keren ini tampak tertunduk untuk mengusir kegalauan hatinya mendengar berbagai teguran yang bakal ia terima.
“Pasrah…”batinnya.
“Siang,Pak. Jadi inilah hasil penilaian akademik dari putra bapak. Silakan dibaca,”sahut Pak Tarno sambil menyerahkan sebuah buku besar bersampul mika dengan tulisan Buku Raport.
Papa Robert menerimanya dan membuka halaman demi halaman dengan penuh konsentrasi.
“Semuanya lulus,”ucap sang papa sambil menghela napas lega lalu memberikannya pada Ryan.
“Yah,Pa. Nilainya minim,”keluhnya.
“Gak apa-apa. Semester berikutnya harus lebih rajin!”saran Pak Tarno sambil menjabat tangan mereka.
__ADS_1
Sekilas Ryan melihat urutan siswa yang mendapat ranking. Nomer satu diduduki oleh Maya, ranking dua Affandra, nomer tiga diduduki Alisha .
“Pa…Ryan pulang belakangan boleh? Mau main sama temen dulu.Please.”
“Oke. Papa langsung ke kantor lagi ya,”pamit papanya.
Sementara itu Alisha keluar kelas dengan wajah bersungut-sungut. Sang mama yang tampil cantik paripurna dengan bulumata palsu susun tiga lapisan, menenteng tas supermahal dan sepatu heels setinggi 20 cm tampak mengomel. Tergambar jelas dari gerakan bibirnya yang menyong sana menyong sini tanpa senyum. Sang putri hanya bisa membela diri dan memeluk mamanya. Sungguh kasihan nasib Alisha, orangtuanya yang super sibuk terus menuntutnya menjadi nomor satu tanpa memberikan perhatian yang besar. Hanya beberapa kali dalam sebulan mereka dapat menemani hari-hari gadis itu seharian dengan pergi ke mall atau tempat wisata.
“Alisha janji semester depan bakal lebih baik lagi.Please,”rengeknya sambil mencekal pundak sang mama yang berjalan ke arah parkiran mobil.
Tante Wulan keluar kelas dengan wajah berseri-seri. Wanita itu tersenyum ke deretan pasa orangtua siswa yang masih menunggu di luar kelas. Maya memeluk sang mama dengan senyum bahagia.
“Selamat ya,May!”
Ryan mengejutkan mereka dengan tiba-tiba berdiri di samping gadis itu.
Maya menerima uluran tangan cowok keren itu dengan lesung pipitnya yang menghiasi kedua pipinya yang membuat wajahnya makin imut dan menggemaskan.
“Yuk..Aku antar kalian pulang.”
“Gak apa-apa kok,Tan. Sekalian mau minta ijin tante.Ajak Maya makan dan jalan-jalan di mall.”
Tante Wulan memandang Maya seakan minta jawaban gadis itu.
“Nanti sore aja ya..Kita kan gak boleh masuk mall pakai seragam begini,”sahut Maya sambil mendekap buku raportnya.
“Oh…Baiklah. Aku jemput nanti jam lima sore ya!”
Sementara itu di rumah Alisha…
Sang papa yang baru pulang dari luar kota mendapati Alisha dan buku raportnya yang menurun satu peringkat. Laki-laki paruh baya itu berang, mukanya memerah menahan marah, tangannya mengepal menahan emosi.
__ADS_1
“Plaak…”
Sebuah tamparan mendarat di pipi Alisha yang putih bersih sehingga bekas tapak tangan papa beserta kelima jarinya tercetak jelas di sana.
Alisha pun menangis meraung-raung. Sang mama bergegas menghampiri dan memarahi sang papa. Kini suara di ruangan keluarga dipenuhi oleh suara tangisan Alisha yang beradu dengan cekcok mulut antara papa dan mama.
“Kalau papa masih terus kasar sama anak kita,mama bakal pindah rumah!”ancam sang mama sambil memeluk putri kesayangannya.
Papa pun hanya terdiam,mulutnya tiba-tiba terkunci dengan ancaman sang istri. Papa memang sangat takut dengan kekuasaan dan jabatan istrinya meskipun selama ini kebutuhan sehari-hari berasal dari sang papa, namun laki-laki itu mengakui penghasilan istrinya sangat besar dan sangat menunjang bisnisnya terlebih bila ia butuh modal tambahan.
Di rumah Maya…
Gadis itu telah berdiri di depan pagar dengan rambut yang diurai sehingga memancarkan lebih aura kecantikannya yang natural. Tubuhnya yang proporsional dibalut t shirt warna krem dan celana jeans biru tua. Ryun turun dari mobil dengan wajah bersinar penuh kebahagiaan, tubuhnya yang tinggi atletis dibalut t shirt dan jeans warna senada karena mereka telah janjian agar tampak serasi. Si ganteng masuk ke dalam rumah untuk berpamitan dahulu dengan Tante Wulan.
“Sore,Tan. Ijin mau ajak Maya ke mall jalan-jalan.”
“Sore. Oh silakan. Hati-hati di jalan ya!”
Mama mengantarkan mereka hingga mobil yang dikendarai mereka hilang dari pandangan.
Mereka makan di restoran yang menyediakan aneka hidangan sushi dan si ganteng memesan banyak menu di sana agar Maya bisa makan enak. Rupanya si ganteng sangat tulus mengasihi Maya karena inner beauty yang dimiliki gadis ini. Sambil menunggu pelayan menyiapkan makanan, Ryan merengkuh jari jemari milik Maya dan tersenyum memandang wajah cantiknya.
“Terima kasih,May. Selama ini udah bantu aku belajar,meskipun hasilnya pas-pasan tapi setidaknya aku bisa lulus.”
“Iya. Sama-sama. Semangat untuk terus belajar. Suatu saat kamu pasti bisa lebih baik lagi.”
“Kita jadian yuk?”ajak Ryan dengan mata genitnya.
Pipi Maya langsung memerah, wajahnya tertunduk malu.
Pelayan pun datang dengan membawakan sebuah nampan berisi makanan dan minuman. Pembicaraan mereka pun terpotong.
__ADS_1
“Eh..Besok main yuk ke pabrik susu milik papa. Sekalian study tour,”ajak si ganteng sambil mengambil sushi dengan sumpitnya.
“Boleh…Aku mau,”sahut Maya dengan antusias.