Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 120: Keliling Alun-alun


__ADS_3

Maya kembali lagi dengan wajah yang lebih segar, tubuhnya yang langsing dibalut kaos oblong warna hitam dan celana jeans putih, membuat gadis itu tampak lebih muda dari usia sebenarnya. Ryan menatapnya dengan penuh kekaguman, pesona kecantikannya yang alami seakan tak pudar dimana waktu.


“Ayo…Kita mau jalan kemana?”


“Ke mall?”


“Ah..Bosan. Gimana kalau kita ke alun-alun?”


“Ngapain di alun-alun. Ada pohon beringin besar. Serem,”sahut Ryan sambil bergidik pura-pura ketakutan.


“Yaudah gausah jalan,”gadis itu mulai ngambek dan menghentakkan sepatu ketsnya yang berwarna putih ke lantai.


“Ayo deh…”


Ryan menekan tombol otomatis, dan Mas Andi buru-buru membantunya naik mobil, lalu melipat kursi roda dan meletakkannya di bagasi. Pak Kardi telah siap di belakang kemudi dan menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.


“Kita mau kemana,Tuan?”


“Ke alun-alun,”sahut Ryan.


Maya tampak tertawa mendengar Ryan dipanggil dengan sebutan tuan, gadis itu menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Cowok ganteng itu memberi kode melalui kerlingan matanya agar Maya tak membahasnya di mobil. Gadis itu pun paham dan tidak mempermasalahkannya lagi.


Mobil berhenti di alun-alun, Pak Kardi menepikan mobil agar parkir berderet dengan rapi di samping mobil-mobil lainnya. Hampir semua mata memandang kehadiran Ryan yang turun dengan kursi rodanya. Tapi cowok ganteng itu tak mempedulikan pandangan aneh dari orang-orang di sekitarnya. Mungkin mereka berpikir, sangat aneh orang kaya dan cacat, mau bermain di taman bersama rakyat kecil lainnya, atau mereka berpikir bahwa Ryan adalah orang cacat yang tak tahu diri, bukannya berdiam di kamar tetapi malah berkeliaran di jalanan.


Mas Andi dan Pak Kardi paham benar keinginan majikannya untuk berdua dengan sang kekasih. Mereka mengambil jarak dengan duduk berdua sambil mengobrol di bangku panjang yang bertebaran di taman. Ryan telah memberi mereka uang jajan sehingga keduanya dengan bebas bisa memesan makanan apa saja yang dijual di sekitar alun-alun. Pak Kardi menyetop seorang pedagang bakso keliling dan membeli dua porsi bakso, sementara itu Mas Andi memesan sate ayam. Suasana alun-alun sangat ramai, banyak anak bermain sepeda di sana, ada juga yang berjalan-jalan bersama kedua orang tuanya, namun tak kurang juga hanya berniat membeli makanan yang dijual di sekitaran alun-alun yang terkenal murah dan beraneka ragam.


Maya berjalan di samping Ryan yang berada di kursi roda, mereka memandang indahnya langit sore hari yang semburat kemerahan dengan sangat indahnya. Cuaca sore itu sangat terang, bulan hadir menggantikan mentari yang kembali ke peraduannya. Sepasang kekasih ini menikmati indahnya alun-alun kidul kota Jogjakarta dengan cara yang sangat sederhana, melihat lampu jalanan, melihat anak-anak kecil naik andong, dan menyaksikan indahnya Taman Sari, yang konon dahulu kala merupakan istana bagi istri raja. Di depan istana terdapat sebuah kolam yang airnya kehijauan, konon merupakan kolam pemandian di jaman dahulu.


Ryan menatap dengan takjub bangunan di hadapannya, jari jemarinya dengan lincah langsung berselancar di internet mencari data mengenai tempat itu.


“Ada terowongan bawah airnya,May!”seru si ganteng kegirangan, persis anak kecil yang mendapat mainan baru.


Maya mengamati bangunan itu dari depan, kedua tangannya bersidekap, kepalanya mengangguk-angguk.


“Tapi jangan ajak aku masuk ke dalam,Ryan. Aku takut.”


“Kok takut?”


“Kata almarhum nenekku. Di tanah Jawa banyak bangunan kuno yang angker.”

__ADS_1


“Ayolah,May. Mumpung kita ke sini.Please…”


Maya menggelengkan kepalanya, gadis itu benar-benar tidak mau karena takut. Wajahnya memerah menahan tangis. Akhirnya Ryan tertawa dan mengurungkan niatnya, diraihnya tangan Maya untuk segera berlalu dari tempat itu.


“Yuk kita berburu makanan aja,Ryan. Mumpung hari belum terlalu gelap.”


Keduanya membeli apa saja makanan yang belum pernah mereka makan, ada cilor, telur gulung, bubur sumsum, jenang, lupis, dan masih banyak lagi.


“Kayaknya kita belum makan malam tapi udah kenyang duluan,”seru Maya sambil tertawa.


“Iyalah. Manis dan mengandung karbohidrat. Sama aja mengenyangkan,May.”


Sampai di tempat semula, Kardi dan Mas Andi sedang asyik bersenda gurau sambil tertawa lepas. Maya dan Ryan seolah sudah mengelilingi alun-alun dan makan semua yang dijual di sekitaran alun-alun.


“Apa yang belum ya?”pikir Ryan sambil berpikir.


“Naik andong!”seru Maya sambil terkekeh.


Ryan langsung memerintahkan dua karyawannya untuk mencarikan sebuah andong. Dengan sigap Pak Kardi dan Mas Andi berdiri di depan alun-alun untuk menghentikan andong yang lewat. Dipilihnya sebuah andong yang tampak masih sangat baru dengan kuda yang tampak kuat dan gagah. Mas Andi membantu Ryan naik ke atas andong dengan memapahnya. Pak Kardi membantu melipat kursi roda itu dan menyandarkannya di dekat bangku taman.


Keduanya berkeliling kota dengan menggunakan andong. Maya dan Ryan tampak sangat bahagia bisa menyaksikan keindahan kota di waktu sore dengan andong. Udara dari luar berhembus dengan kencang saat andong ditarik kuda. Bau kotoran kuda membuat gadis itu menutup hidungnya.


Gadis itu menepuk pelan bahu Ryan sambil terus menutup hidungnya.


“Aku gak tahan bau kotoran binatang. Pengen muntah rasanya,”bisik Maya agar sang kusir tidak mendengarnya.


Suara derap kaki kuda yang beradu dengan aspal terdengar nyaring di telinga.


“Pak…Gausah jauh-jauh jalannya. Takut kemalaman,”pinta Ryan sambil memajukan posisi duduknya.


Kusir mengangguk dan terus menggerakkan tali pengekang kuda sebagai perintah agar kuda terus berjalan mengikuti keinginan sang kusir. Andong kembali ke tempat semula, dan Mas Andi kembali mendudukkan Ryan di kursi roda.


Di sebuah bangku panjang di taman…


Maya duduk di ujung bangku taman yang terbuat dari kayu dicat warna hijau, sementara itu Ryan duduk di kursi rodanya. Bangku-bangku lainnya bertebaran dan dicat dengan warna-warna yang berbeda namun menyolok sehingga dari kejauhan sangat indah dipandang mata.


“Baru kali ini aku naik andong. Dan baunya itu…Bikin gak tahan,”kata Maya sambil tertawa.


“Yang penting kita udah ngerasain naik andong,May. Di Jakarta udah gak ada selain di TMII.”

__ADS_1


“Iya sih. Oh ya bagaimana fisioterapi tadi pagi?”


“Bagus…Kata terapisnya, aku harus rutin agar cepat sembuh.”


“Dan…Jangan lupa minum susu merah,”bisik Maya sambil menutup mulutnya dengan tangan.


“Harusnya cuma dengan minum susu, bisa sembuh kan?”


“Kok malah balik nanya?”tanya Maya terkekeh.


“Kan kamu pernah sembuh berkat susu itu.”


“Iya…Susunya ajaib. Setelah minum susu itu rasanya kakiku tambah kuat dan seimbang jalannya.”


“Aku juga udah minum.”


“Ayo coba kamu bangkit dari kursi dan jalan kemari,”seru Maya yang berdiri di seberang Ryan.


Cowok tampan itu bangkit dari kursi rodanya dan sedikit ragu apakah ia dapat menapak dengan seimbang atau kakinya akan kembali mudah lelah seperti awal ia belajar berjalan.


Kedua tangan Ryan yang kokoh berpegangan pada kursi roda untuk menyangga tubuhnya yang bangkit berdiri.


“Hore berhasil!”teriak Ryan.


“Sekarang jalan kemari. Jangan takut jatuh,”seru Maya ketika keduanya berada di atas rerumputan.


“Satu…Dua…Tiga…”


Ryan menapak di atas rerumputan dengan kedua belah kakinya tanpa alat bantu. Dalam hitungan ke sepuluh,ia jatuh di atas rumput. Namun Maya kembali memberikan semangat.


“Ayo…Ryan ulangi sekali lagi!”


Ryan kembali berdiri dan berjalan. Kini kedua kakinya kuat melangkah lebih jauh lagi, dirinya mulai merasakan kedua telapak kakinya dapat menekan dengan kuat dan menyangga tubuhnya.


“Hore…Aku bisa jalan lagi! Tapi belum bisa lama-lama.Kakiku nyeri,”keluh Ryan.


Maya memberi semangat lagi, bibirnya yang tipis menyungging senyuman, memamerkan kedua lesung pipit yang menghiasi sepasang pipinya.


Hati Ryan berbunga-bunga dapat membuktikan pada kekasihnya bahwa tak lama lagi ia dapat berjalan seperti sedia kala, ia bukan lagi Ryan yang cacat dan duduk di kursi roda.

__ADS_1


__ADS_2