Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Behind Revenge


__ADS_3

Dengan memakai pakaian tidurnya, Brittany duduk didepan perapian yang disediakan di kamarnya. Hari ini adalah hari yang luar biasa. Ia bisa melihat bagaimana pucatnya Harris siang tadi. Begitu mudahnya membuat Harris kehilangan segalanya. Ketika ia berbicara dengan Deniz tadi, ia mengatakan tentang potensi kebangkrutan perusahaan Harris jika ia membayar kerugian karena kontrak itu.


Malam sudah menjelang, namun ia seorang diri di kondo. Joey dan Lana tengah pergi mengambil pakaian yang akan ia pakai besok. Terdengar suara pintu dibuka dan suara mereka berdua ada disana. Brittany menuangkan wine kedalam gelas. Ia ingin berpesta seorang diri.


Pintu terbuka pelan. "Kau berpesta dibalik kesedihan seseorang." ucap Lana.


Brittany perlu membalikkan tubuhnya untuk menatapnya. Suaranya terdengar menekan. "Aku tidak mengerti siapa yang sedih."


"Sahabatku. Tepatnya Dean Justin Lee. Kau tidak melihat bagaimana ia terlihat sangat sedih ketika ia pergi dari kantor Harris?"


Brittany meminum wine nya. "Apakah aku harus peduli?" Ia menatap Lana lama sebelum akhirnya membalikkan diri.


"Sampai kapan kau akan seperti ini, Jessy? Caramu hanya akan menyakiti Dean." tanya Lana tajam.


Brittany mematung ketika Lana menyebutnya dengan nama Jessy.


"Kau tidak bisa menjawab bukan? Penyamaranmu sudah terbongkar. Aku tahu semuanya tentangmu." ucap Lana kembali.


Brittany membalikkan badannya. Ia tersenyum namun penuh keraguan. "Apa yang kau katakan? Siapa Jessy? Sejak awal kau sering menyamakan aku dengannya. Apakah ia lebih cantik dariku?"


"Diam, Jessy! Kali ini aku marah padamu! Kau harus tahu bagaimana kesedihan Dean ketika kau pergi!" ucap Lana kesal.


Brittany menyimpan gelasnya di meja nakas dengan tangan bergetar. Ia tidak akan menyangka penyamarannya akan terbongkar dengan cepat. Ketika kehancuran Harris sudah ada didepannya, apakah ia masih harus menyembunyikan semuanya. Joey.. ya, pasti Joey yang mengatakannya.


"Joey!" panggil Brittany.


Joey datang terburu-buru. "Ada apa Bije?"


Brittany menatap Lana kemudian menatap Joey. Gadis muda itu menunduk. "Maafkan aku, Bije. Lana sudah tahu semuanya. Aku ingin melakukan yang terbaik. Aku ingin kau tidak melakukan pembalasan."


Tanpa sadar Brittany meneteskan airmata. Ia menunduk untuk menghapusnya. "Untuk apa? Aku sudah membalaskan dendam ku pada Harris. Aku membatalkan kontrak itu.." ucapnya dengan nada bergetar.


"Membatalkan kontrak?" tanya Lana. Ia menghampiri Brittany dan memegang bahunya. "Apa yang terjadi, Jessy?"

__ADS_1


Brittany menengadahkan wajahnya. "Tolong jangan panggil aku Jessy. Jessy sudah mati tiga tahun yang lalu. Aku Brittany Jonas."


"Kita harus bicara.." ucap Lana. Ia menarik tangan Brittany untuk duduk didekat perapian.


"Benar, aku adalah Jessy Julian yang kini telah merubah namaku menjadi Brittany Jonas. Aku kembali ke NY dan menjadi seorang artis bukan untuk kembali pada Dean. Aku tekankan sekali lagi. Aku tidak akan kembali pada Dean. Aku telah menghapusnya dari hidupku. Jangan paksa aku untuk kembali." Isak Brittany.


"Mengapa? Kalian berdua terluka. Dan jika kalian bersatu, kalian bisa mengobati luka hati kalian masing-masing. Dean begitu tertekan tiga tahun ini. Ia sempat menghilang untuk mencarimu selama dua tahun. Ia kehilangan jiwanya. Ia bahkan sudah menyerah untuk mencarimu. Apakah kau tidak memikirkan itu?"


"Aku kehilangan bayiku, Lana! Dan semua gara-gara Dean! Kau dengar! Aku kehilangan bayiku dan harapanku untuk memiliki anak sudah hilang gara-gara Dean! Apakah kau memikirkan bagaimana perasaanku?" ucap Brittany histeris. Ia kembali mengingat bagaimana ia kehilangan bayinya dan kerusakan tubuhnya yang ia alami gara-gara kecelakaan itu. Ia menutup wajahnya dan mulai menangis. "Aku hancur, Lana. Aku bahkan tidak mengenali wajahku lagi.."isaknya.


Lana terkejut dan mengangkat kedua tangannya untuk menutup wajahnya. Dan benar, ternyata pembedahan diwajahnya dilakukan karena suatu hal. Kecelakaan. Brittany pernah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan ia harus kehilangan bayinya. Jika Dean tahu hal ini, apakah ia akan frustasi?


"Maafkan aku, Brittany. Tapi, mengapa kau membalas Harris?"


"Karena ia yang membuat hidupku menjadi hancur dan berantakan! Ia yang aktor yang membuat Dean berubah saat itu. Semua skandal ia buat untuk menaikkan popularitas perusahaannya! Ia tidak mengerti bagaimana perasaanku."


Lana menghela nafas. Ia memeluk Brittany. "Maafkan aku karena aku sempat berfikir yang tidak-tidak tentangmu. Aku akan merenungkan diri. Kau sudah menderita. Apakah kau mengalami kecelakaan?"


"Ketika Dean mengusirku dari hidupnya, aku mengalami kecelakaan hebat yang mengakibatkan aku harus kehilangan bayiku. Benturan kuat itu pun membuatku tidak bisa memiliki anak. Aku hancur, Lana. Sedangkan seorang anak adalah tujuanku. Aku ingin menikah dan memiliki anak. Tapi semuanya hancur dalam satu malam itu."


Brittany hanya mengangguk.


Ketika Lana keluar, ia melihat Joey sedang duduk. Ia terlihat ketakutan. Ia menghampirinya.


"Joey.. kau baik-baik saja?"


Joey mengangguk. "Apakah Bije marah padaku? Bagaimana jika aku dikembalikan ke Nevada?" tanyanya takut.


"Tidak akan. Aku ada bersamamu." jawab Lana.


Ia tidak bisa terus bertanya pada Brittany untuk menanyakan apa yang terjadi. Ia terdengar kesakitan. Iapun merasa frustasi. Apakah ia bisa menceritakan tentang hal ini pada Dean? Apakah lebih baik Dean yang mengetahuinya dengan sendiri? Sepertinya ia akan memikirkannya.


Brittany merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Ia terisak. Karena Lana, ia kembali teringat kenangan buruk itu. Ia hampir mati saat itu. Ia ingin menghubungi kedua orangtuanya saat ini namun ia takut keduanya cemas. Ia tidak bisa. Ia ingat siapa yang bisa menenangkannya saat ini. Ia duduk dan menyandarkan punggungnya di tempat tidur. Ia mulai menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Halo.."


"Alv..mereka sudah tahu semuanya.." Isak Brittany.


"Apa yang terjadi?" tanya Alv cemas.


"Aku ingin kau datang kesini untuk menghiburku." jawab Brittany.


"Aku akan menyelesaikan semuanya dahulu, nanti aku akan menyusul mu. Bagaimana keadaanmu? Apakah ada yang sakit? Kau tidak boleh kelelahan karena itu akan mempengaruhi hormonmu." ucap Alv dengan nada khawatir.


"Tidak ada, Alv. Terimakasih telah mencemaskan ku."


"Aku akan menyusul mu paling lambat awal bulan depan. Tunggu aku. Apakah kau bisa bertahan? Aku benar-benar khawatir mendengar kau menangis." tanya Alv.


"Bisa. Aku akan bertahan hingga kau datang. Maafkan aku karena telah mengganggumu." ucap Brittany.


...***...


Dering telepon mulai mengganggu seisi kantor malam ini. Semua orang yang bekerja merasa frustasi. Penolakan Brittany Jonas pada perusahaannya telah terdengar sejak sore hari.


Kedua tangan Harris bergetar. Ia mengangkat telepon yang terus berdering sejak tadi.


"Halo.." ucapnya pelan.


"Harris, kau harus bertanggung jawab dengan kerugian ini. Isi kontrak sudah mengatakan dengan jelas. Sediakan pengacara hebat untuk memulai perkara ini di pengadilan. Ucapanmu bohong adanya. Kau tidak akan pernah bisa menarik seorang aktris baru. Kau pun tidak bisa membuat sebuah karya bagus. Bersiaplah untuk menerima kekalahanmu!"


Harris menutup teleponnya dengan kencang. Ia berteriak sambil melemparkan apa yang ada diatas mejanya. "AAARGHH! Kau akan menerima pembalasanku, Brittany Jonas!"


"Harris, media mulai mencium berita ini. Menurut satu media online yang sudah tersebar, mereka mengatakan hal ini memalukan bagi perusahaan kita!" ucap sekretarisnya.


"Suap media itu untuk tidak menerbitkan berita besok pagi! Suap semua berita yang memuat berita tentang ini!" seru Harris.


"Tidak bisa, Harris. Keuangan kita terbatas.."

__ADS_1


Harris mendorong apapun yang ada di mejanya dengan kasar ke lantai. "AARGHH!"


__ADS_2