
Miami. Ketika menginjakkan kakinya untuk pertama kali ke tempat ini, Joan hanya bisa mengagumi pantai indah yang berada tepat didepan kamarnya yang berada di lantai 8 sebuah hotel. Ia menatap ke depan. Ombak saling bersautan dan terdengar riuh. Joan dapat melihat para wisatawan bermain pasir putih disepanjang bibir pantai. Seandainya saja Joan bisa pergi ke sana seorang diri, ia pasti sudah pergi sejak tadi. Sayangnya, Alv melarangnya pergi tanpa dirinya.
Alv tidak banyak bicara sejak mereka tiba. Ia terlihat marah. Dan semalam ia tidak kembali. Tapi ia tidak mencurigainya karena Jen pun tidak terlihat. Alv baru kembali pagi sekali hanya untuk bersiap. Alv tidak membiarkannya tahu apa yang sedang ia lakukan. Bagaimana pekerjaannya? Dan apa yang ia bicarakan pada audiens yang sedang menontonnya?
Liburan yang ia impikan sebelumnya akan berlangsung romantis, ternyata salah. Ketika Alv mengatakan akan mengajaknya berlibur, ia tidak bisa tenang. Ia tidak bisa tidur beberapa hari hanya karena akan melakukan liburan dengan pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Tunggu... Jika memang Alv marah, kenapa ia marah padanya? Apa yang salah? Apakah ia telah salah bicara?
Joan kebingungan. Tapi daripada ia diam terus di kamar, lebih baik ia keluar kamar dan melihat acara itu. Ia mengganti pakaiannya dengan pakaian sedikit resmi. Untung saja ia membawanya.
Tidak banyak orang yang ia temui disepanjang jalannya menuju ballroom. Ia sempat melihat tanda panah dan mengikuti arah panah itu. Ternyata benar saja. Dari luar saja ia dapat melihat banyak sekali orang yang duduk di sana. Ia berdiri didepan pintu masuk hanya untuk melihat jalannya acara itu. Ia melihat Alv sedang berada di atas panggung. Karena penasaran, Joan masuk kedalam.
Joan duduk di salah satu kursi tamu undangan. Beberapa penonton terlihat sedang memegang kertas ditangannya. Kemungkinan besar adalah kertas yang sedang dibahas oleh Alv. Ia tidak mengerti pembahasan itu. Yang ia mengerti adalah betapa tampannya Alv didepan sana. Ia serius sekali. Joan menahan dagunya dengan salah satu tangannya. Ia menatap bagaimana Alv menjawab pertanyaan yang ditanyakan oleh penonton.
Albertico Alv, suaminya itu nyata-nyata bukan pria sembarangan. Ia pria tampan dengan pesona luar biasa bukan? Bukan hanya itu, Alv juga merupakan salah satu pria pintar yang pernah ia temui. Banyak sekali pria tampan yang mendekatinya, namun jika pria tampan dengan otak cerdas rasanya sangat sulit.
Ia mulai membayangkan sesuatu yang aneh. Ia membayangkan jika ia berhenti membuat pakaian dan akan fokus dengan pernikahannya. Setiap hari ia akan menunggu Alv pulang dari klinik. Kemudian ia akan membuat makan malam romantis setiap malam. Mengingatnya saja membuatnya tertawa tanpa sadar.
"Ada pertanyaan? " tanya Alv ketika mendengar suara tawa dari arah penonton. Ia paling tidak menyukai jika ada yang berbicara ataupun tertawa ketika ia memberikan penjelasan. Ia melihat ke sekeliling. Tiba-tiba matanya terpaku pada wanita yang sedang melambaikan tangan padanya. Ia hanya bisa memalingkan wajahnya ketika tahu siapa yang ada di sana. Melihat Joan ada di sana dapat membuat konsentrasinya buyar.
__ADS_1
Semalam ketika pulang ke kamar, ia menemukan Joan sudah tertidur. Ia tidak berani membangunkan. Ia sengaja tidur di sofa tanpa diketahui oleh Joan. Ia sempat mengawasi Joan ketika tidur. Ia melihat wajah Joan ketika tidur untuk pertama kalinya. Terlihat nyaman dan nyenyak. Sayangnya ucapannya terakhir membuatnya kesal. Membiarkan suaminya didekati wanita-wanita cantik dan perasaannya sebagai istri adalah baik-baik saja. Bagaimana bisa Joan mengatakan hal itu? Walaupun pernikahan mereka bisa dikatakan aneh, tapi tidak seharusnya Joan mengatakan hal itu pada Jen. Hal itu membuatnya malu.
Kembali ke presentasi. Ia lebih baik mengabaikan Joan yang terus menarik perhatiannya. Ia melihat layar didepannya dan mulai menjelaskan kembali.
Joan mendelik kesal. Kenapa Alv membuang muka? Ia menyandarkan punggungnya di kursi. Ia menatap terus hingga ia menguap. Inilah kelemahannya. Ia tidak bisa melihat acara seperti ini dalam waktu yang cukup lama. Jika ia pergi berjalan-jalan sendiri, Alv pasti akan marah. Ia mulai menyilangkan kedua tangannya dan menatap Alv dengan serius. Setiap ucapannya masuk ke telinga kiri dan keluar melalui telinga kanan. Ia tidak mengerti apa yang tengah dibahas.
Kedua matanya mulai terasa berat. Ia terus menguap. Ia mengantuk parah. Beruntung ia duduk di belakang sehingga tidak akan menjadi perhatian orang-orang. Ia menepuk-nepuk pipinya. Sayang kedua matanya sudah tidak bisa diajak serius. Ia kembali menguap dan mulai menutup matanya.
...***...
"Lebih baik kita melanjutkan liburan ini dengan melakukan honeymoon, bagaimana? " tanya Alv senang. Ia mulai memegang tangan Joan dengan erat.
Genggaman tangan Alv begitu erat. Mereka berdua berjalan mengitari bibir pantai sambil berpegangan tangan. Tiba-tiba tangannya diangkat ke bibir Alv.
Joan tertawa malu. "Jangan lakukan jni, Alv. Aku malu... "
Sebuah jentikan jari terasa tepat di dahi Joan. Rasanya lumayan sakit namun mengejutkan. Joan membuka matanya dan terkejut melihat Alv sedang duduk didepannya.
"Apa yang aku lakukan dalam mimpimu? " tanya Alv sambil menahan tawa.
__ADS_1
Joan duduk dengan tegak ketika menyadari dirinya bermimpi.
"Hebat. Tidur dalam presentasi ku dan bermimpi vulgar disiang hari. Bagaimana jika bukan aku yang membangunkan mu? "
"Aku tidak bermimpi vulgar! Lagipula sejak kapan kau memperhatikan ku! " seru Joan. Ia melihat ke sekeliling ruangan. Hanya ada beberapa orang saja di ruangan ini. Joan menutup wajahnya. Ia malu jika semua orang tahu kedatangannya ke acara ini hanya untuk tidur.
"Cukup lama untuk tahu ternyata kau bisa bermimpi di siang hari. Kau tidak mau mengaku? Mengapa kau tertawa dalam tidurmu? Dan tunggu sebentar.. Kau menyebut namaku. "
"Sudahlah Alv, itu hanya mimpi. Aku pun sudah lupa."
"Kau harus ingat karena aku ada dalam mimpi mu." Ucap. Alv sambil berjalan meninggalkan Joan. Ia kemudian berbalik. "Kau tidak akan pergi? "
Joan bangun dari duduknya dan berlari mengikuti Alv dari belakang. Memalukan sekali tertidur disaat penting seperti ini. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa? Apakah kau ingat mimpi apa tadi didalam? " goda Alv ketika mereka keluar dari. ruangan itu.
"Tidak! " seru Joan marah.
Alv tertawa ringan. "Kau tidak perlu marah. Aku hanya bertanya. " godanya
__ADS_1