Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Paparazzi


__ADS_3

Lokasi syuting genre romantis itu sudah disetting dengan segala rupa. Keindahan kota New York tergambar jelas didepan mata. Ketika kedua tangan sutradara terangkat keatas, ia berseru. "CUT!" Berakhirlah sudah syuting kali ini.


Jose berjalan dengan tegas memasuki set. Beberapa mata memandangnya dengan kagum. Terutama kru wanita. Mereka menatapnya tidak berkedip. Namun Jose tidak tertarik. Ia tidak bergeming. Tujuannya hanya satu. Menemui sutradara itu untuk menyelesaikan semuanya.


Beberapa hari ia berfikir. Ia berbincang dengan Jonas dan Isabela. Ia bahkan menemui mereka di tempat baru mereka. Banyak hal yang sudah ia tahu dari keduanya. Mereka kesepian dan mereka ingin ia membantunya. Sosok Isabela dan Jonas sangat penting dalam kehidupannya. Mereka banyak membantunya ketika ia mendapatkan kesulitan. Biarlah kali ini ia membalas jasa mereka berdua. Menyerah pada perasaannya kepada Jessy dan membantu Isabela untuk mencari tahu tentang asal usul Jessy.


"Kami pikir, Jessy adalah anak kami." ujar Isabela kala itu.


Hal itulah yang membuat Jose terus berfikir. Tidak mungkin Jonas dan Isabela mengatakan itu tanpa alasan. Ia akhirnya berfikir, jika memang mencintai seseorang hanya dengan melihatnya bahagia, itu sudah cukup baginya. Namun, jika Jessy tidak bahagia, ia yang akan merebutnya dari tangan pria itu.


Sutradara itu sudah terlihat olehnya. Ia tengah duduk sambil di kipasi seseorang. Ketika mata mereka bertemu, ia terlihat panik. Ia terlihat menghampirinya.


"Apa yang kau lakukan disini? Aku sudah memberimu uang yang sangat banyak." bisiknya.


"Untuk itulah aku berada disini." jawab Jose tenang.


Pria itu menarik lengan Jose ke sebuah tempat. "Pekerjaanmu buruk. Semua gosip tidak berawal dari berita yang kau buat. Seharusnya aku memecat mu! Kepergian wanita itu ke Yunani saja, kau tidak tahu!"


Jose menatapnya sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku. "Lalu?"


"Aku sudah memiliki semua bukti perselingkuhan Dean dengan manajernya. Jangan kau pikir aku akan diam saja melihat kau tidak bergerak."


Jose terdiam. Bukti? Bukti apa yang pria didepannya maksud? Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Ia menyerahkannya secara langsung pada pria itu.


"Aku mundur. Aku tidak memerlukan uangmu."


Pria itu tertawa. "Kau lemah."


Jose hanya menggelengkan kepalanya. Ia melangkah meninggalkan pria itu. Kali ini, ia hanya akan membantu Isabela dan Jonas walaupun ia harus bertaruh pada hatinya. Misi kali ini harus berhasil.


Dilain tempat.


"Kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya Harris.


Rossy mengeluarkan beberapa foto dari dalam tasnya. "Dengan ini, kau bisa membantuku untuk mendapatkan Dean bukan?'

__ADS_1


Harris mengambil foto-foto itu. Tidak terlalu mesra, namun tidak buruk. Dari foto-foto itu saja, ia yakin Dean akan kembali menjadi pusat berita. Popularitasnya akan semakin tinggi. Dan keuangan perusahaannya akan kembali stabil.


Ia menatap Rossy. "Foto yang kau ambil sangat bagus sekali. Bagaimana jika Dean tidak mau menikahimu?"


"Kau lupa alasanku memisahkan mereka? Aku tidak butuh pernikahan dengan Dean. Asalkan Dean bersama denganku dan tanpa bantuan siapapun, itu sudah cukup."


"Akupun memiliki foto-foto Jessy." bisik Harris.


Rossy menoleh padanya. Ia tidak percaya pada apa yang didengarnya.


"Benarkah?


"Aku akan memberikan padanya hari ini." bisik Harris. "Dengan atau tanpa foto ini, aku yakin Dean bisa menjaga profesionalitasnya."


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Dean ketika ia memasuki ruangan. Ia terlihat segar karena baru selesai mandi.


Harris langsung terdiam. Begitupula dengan Rossy.


Dean duduk diantara keduanya. "Ada apa?"


Dean mengerutkan keningnya. "Tentang siapa? Ada gosip baru?"


"Dean, apakah menurutmu dua minggu ini urusan syuting bisa selesai?" tanya Harris cepat.


Dean berfikir sejenak. "Jika melihat kerja keras kru dan aktor, semuanya akan cepat selesai. Untuk proses keseluruhan tergantung editor. Jika mereka bisa cepat mengedit gambar dan sound yang kita butuhkan, bisa memakan waktu lima bulan. Apakah kau khawatir film ini tidak akan masuk ajang? Kau tenang saja, aku sudah menghitungnya. Akan aku pastikan film buatan ku menang atas film romantis buatan William. Siapa yang senang menonton adegan romantis penuh dengan kepalsuan seperti itu? Film sampah seperti itu tidak akan laku dipasaran."


Banyak yang tahu jika Dean dan William adalah musuh. Walaupun keduanya spesialis masing-masing genre, namun kualitas keduanya tidak pernah dianggap rendah. Dean sendiri tidak pernah tahu jika William tengah merencanakan sesuatu.


"Jika aku memperlihatkan padamu sesuatu, apakah kau akan kehilangan semangatmu dalam membuat film? Aku sebenarnya tidak ingin hal ini menjadi kelemahan mu."


"Jangan berbelit-belit. Katakan ada apa?" tanya Dean cepat.


"Aku menerima ini. Entah apa modus yang dilakukan oleh orang itu. Aku harap ini tidak mengganggu pekerjaanmu." ucap Harris sambil menyerahkan sebuah amplop pada Dean.


Dean membukanya perlahan. Ia melihat banyak sekali foto-foto antara Jessy dengan pria itu. Ternyata sebelum ia melihatnya ada di cafe itu, istrinya itu sering bertemu. Ia merasa telah dikhianati. Ia berdiri dengan cepat dan meninggalkan keduanya.

__ADS_1


"Ia marah." ucap Rossy tanpa melepaskan tatapannya dari Dean.


Harris mengangkat foto-foto itu keatas dan tertawa senang. Ia kemudian melihat wajah polos Jessy. "Semuanya bisa terjadi tanpa kita sadari. Apakah kau yakin wajah polos seperti ini akan selamanya baik?" ejek Harris.


"Aku tidak tahu. Aku tidak ingin mendengar kau membicarakan wanita itu?" ucap Rossy cepat.


Aaarrggghh!!


Dean menarik selimut di tempat tidurnya dan membantingnya dengan keras ke lantai. Seakan belum puas, ia mengambil lampu nakas dan membantingnya.


"Wanita brengsek! Ucapan ku tidak kau dengar! Lebih baik kau pergi dengan pria itu!" teriak Dean. Rasa cemburu semakin memuncak. Ia sudah tidak tahan. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Ketika istrimu tidak mendengarkan apa yang kau ucapkan, apakah perpisahan menjadi salah satu jalan terbaik?" tanya Dean pada Joan.


Joan yang saat itu sedang ada disebuah acara kebingungan. Ia mendapatkan panggilan dari adik kesayangannya, namun ucapannya tidak seperti yang ia duga.


"Apa yang kau katakan? Kau gila!" seru Joan.


"Jika ia bisa melakukannya di belakangku, kenapa aku tidak bisa melakukannya !"seru Dean


"Kau harus memenangkan dirimu dan jelaskan apa yang terjadi?" tanya Joan kembali. Ia memutuskan keluar ruangan karena suara didalam terlalu bising.


"Aku sudah memperingatkan Jessy untuk tidak bertemu laki-laki itu! Tapi nyatanya ia terus bertemu!"


Joan menghela nafas. "Dean, cemburu membuatmu kehilangan akal. Jangan percaya dengan sesuatu yang belum pasti. Atau kau akan menyesal."


"Aku tidak akan pernah salah. Foto-foto itu bukti. Aku melihatnya sendiri!"


"Tapi kau tidak bisa memutuskan sesuatu berdasarkan foto."


"Ya, aku bisa. Katakan pada Jessy, kita akan bicara setelah aku pulang untuk menyelesaikan semuanya!" ucap Dean sambil menutup telepon.


"Dean.. tunggu.. Dean!" panggil Joan.


Ketika suamimu jauh darimu, kau berani-beraninya selingkuh! Kau menemui pria itu tanpa sepengetahuanku! Apa yang sudah kalian berdua lakukan? Sampai mana hubungan kalian? Memikirkan hal itu saja membuat hatinya sakit. Tubuhnya ambruk dilantai. Untuk pertama kalinya ia merasa sakit hati karena wanita. Untuk pertama kalinya pula ia dikhianati oleh wanita.

__ADS_1


Terlihat olehnya, ada panggilan masuk dari Jessy. Dengan kencang Dean membanting ponselnya hingga hancur berkeping-keping. Ia membencinya. Ia membenci wajah itu.


__ADS_2