
Mobil SUV berwarna hitam itu terparkir didepan sebuah bangunan cukup lama. Baru saja mendarat di New York tadi pagi, siang ini Dean langsung membawa mobilnya ke depan tempat kerja Jessy. Anehnya selama ia di Paris, ia tidak mendapatkan berita atau foto satupun dari gadis itu. Pertemuan terakhir mereka tidak berjalan dengan baik. Ketika Jessy memutuskan pulang dini hari itu, ia kehilangannya dengan cepat. Awalnya ia tidak takut karena gadis itu tidak akan bisa kemana-mana. Tapi, kali ini ia merasa takut. Apakah Jessy hilang? atau menghilang? Seandainya malam itu ia mengikuti kemana Jessy pergi, ceritanya akan berbeda.
Para pemakai jasa laundry milik Mrs. Patty terus keluar dan masuk satu persatu. Hari ini sangat ramai. Entah kenapa ia begitu tertarik dengan semua aktifitas itu. Ia menunggu Jessy keluar dari pintu. Ia mengetuk jari-jarinya di atas dashboard mobil tanpa melepaskan tatapannya. Sesekali ia menatap jam tangannya. Menjelang siang hari tapi ia belum melihat penampakan gadis itu. Waktu terus berjalan tanpa ia sadari.
Karena kesal, ia keluar dari mobil dan berlari untuk masuk kedalam tempat laundry. Ia hanya mencari satu orang yaitu Jessy. Tapi sepertinya gadis itu tidak bekerja. Ia tidak ada disana. Hanya ada Mrs. Patty yang sibuk mengurus orang-orang disana. Ia terpaksa mengetuk pintu dengan keras.
"Permisi!" teriaknya.
Orang-orang melihat tanpa terkecuali Mrs. Patty. Ia terlihat dibantu oleh pria berbadan besar. Rambutnya hanya setengah saja. Ia membayangkan pria yang ia temui di Paris beberapa hari yang lalu.
"Dean! Sutradara yang sedang ramai dibicarakan karena skandal itu!" seru seorang perempuan. Sedangkan yang lain mulai berbisik-bisik. "Video nya, aku sudah menontonnya.."
Dean berdecak sambil berpangku tangan. Ia menunduk dan tersenyum. Namun hatinya tetap saja kesal.
"Aku tahu kalian membicarakan ku. Tapi itu semua salah. Semua yang ada di otak kalian salah. Aku tidak perlu menjelaskannya disini. Aku setia pada tunangan ku. Kalian jelas? Kalian bukan wartawan disini, aku tidak seharusnya menjelaskannya. Tapi melihat kalian mengganggu Mrs. Patty, terpaksa aku mengatakannya."
Iapun menghampiri Mrs. Patty yang terlihat kebingungan ketika melihatnya. "Halo.. dimana aku bisa menemukan tunangan ku?"
Mrs. Patty saling bertatapan dengan pria di sampingnya. Kemudian ia menatap Dean. "Siapa tunangan mu?"
"Salah seorang pegawai mu yang paling cantik. Dimana Jessy? Aku tidak melihatnya sejak pagi." tanya Dean.
"Jessy? Jessy kami?"
__ADS_1
Dean melihat ke sekelilingnya. Ia masih menjadi perhatian orang-orang disini. Iapun berbisik pada Mrs. Patty walaupun dengan tatapan pria disampingnya. "Bisa kau tutup sementara selama kita berbicara? Aku akan mengganti semua kerugian yang diakibatkan oleh ku."
Mrs. Patty melihat orang-orang disekitar mereka. Kemudian ia menatap Dean. "Tidak bisa lama. Mereka sedang mencuci pakaian mereka."
"Tidak masalah. Aku akan mengganti semuanya." ucap Mrs. Patty sambil berdiri. Ia kemudian menghampiri orang-orang untuk memberikan penjelasan.
Dean dapat melihat orang-orang mulai keluar. Ketika itu pula ia melihat Mrs. Patty menghampirinya.
"Apa yang ingin kau katakan? Aku tidak bisa lama mendengarkan ceritamu. Bayaran ku sangat mahal."
Mrs. Patty telah berubah. Ia tidak tersenyum sedikitpun pada Dean. Dean langsung tahu apa yang dimaksud. Ia mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang dollar. "10 menit saja dan aku hanya ingin bertanya dimana Jessy berada? Apa yang terjadi padanya?" tanya Dean sambil menyerahkan uang itu pada Mrs. Patty.
Mrs. Patty mengambil uang itu dan tersenyum. "Jessy tidak kembali sejak kau bawa pergi satu minggu yang lalu." jawabnya sambil menghitung uang.
"Apa maksudmu tidak kembali?" tanya Dean. Rasa waspada mulai menghantuinya.
Dean terdiam. Ia menatap serius Mrs. Patty. "Kau tahu dimana ia tinggal?"
"Kalau aku tahu, Jessy sudah bekerja disini. Tapi seharusnya kau bersahabat dengan paparazzi yang sedang mengepung apartemen Jessy. Mereka pasti tahu dimana Jessy tinggal."
"Tidak mungkin. Darimana kau tahu jika apartemen Jessy sedang dikepung paparazzi?"
"Aku tahu karena Jessy yang mengatakannya." seru Mrs. Patty tanpa sadar.
__ADS_1
"Jessy menghubungimu?" tanya Dean.
Mrs. Patty menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku salah bicara."
"Kau bisa mencatatnya." ucap pria yang sejak tadi bersama Mrs. Patty.
...***...
Jessy harus menyampaikan pengunduran dirinya pada Mrs. Patty segera. Ia masih di atas bus yang mengantarnya ke pusat kota. Ia menyadari hidupnya tidak akan sama sejak kejadian seminggu yang lalu. Wajahnya sering muncul di koran-koran maupun di televisi ketika ia di jalan tadi. Ia marah pada pria itu. Pria yang membuat hidupnya menjadi bulan-bulanan media. Ia kesal tapi tidak bisa melakukan hal lain.
Ia memutuskan untuk pindah ke Nevada selama satu minggu. Kembali ketempat kelahirannya. Ia sudah memutuskan sesuatu. Ia akan menggunakan uang seribu dolar dari pria itu untuk memulai hidupnya yang baru di Nevada. Kemudian sisa uangnya, ia akan pergi ke Las Vegas dan ke Louisiana sebagai tempat terakhir untuk ia kunjungi. Karena teringat kejadian itu semalaman, ia mulai membenci New York karena pria itu.
Jessy terus melangkah ketempat kerjanya. Ketika ia menelpon Mrs Patty kemarin siang, wanita itu terkejut ketika mendengar dirinya harus mengundurkan diri. Ia masih menggunakan masker dan topinya. Ia mengendap-endap ketika semuanya terlihat aman.
"Patty..." panggil Jessy pelan.
"Apa yang terjadi, sayang?"tanya Mrs Patty ramah ketika ia melihat Jessy dengan pakaian aneh. Ketika menghubunginya kemarin ia masih merasa kesal. Tapi sejak ia sedang melakukan rencana dengan sutradara itu, sikapnya pada Jessy tentu saja berubah.
"Maafkan aku Patty. Aku tidak akan bosan mengatakannya. Kau sudah melihatnya sendiri berita itu seperti apa. Sudah satu minggu aku harus diam di apartemen untuk menghindari tatapan orang-orang." Ucap Jessy kesal.
"Apakah gara-gara pria tampan itu? Aku melihat kalian berciuman di televisi." Godanya.
"Itu bukan ciuman! Itu paksaan! Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi!" Jessy benar-benar marah ketika membicarakan pria itu.
__ADS_1
"Sepertinya itu tidak bisa sayang! Tidak akan kubiarkan kau pergi." Jawab seseorang tepat dibelakang Jessy.
"Aku ingin kau mengatakan kepadaku sekecil apapun berita yang kau terima tentang Jessy." ucap Dean setengah jam yang lalu. Baru saja ia pergi melewati satu blok, ia mendapatkan pesan jika Jessy ada di laundry. Entah kekuatan apa yang ada didalam dirinya, tapi ia berlari dengan sangat cepat untuk sampai ke tempat laundry.