
"Beri aku waktu, Dean. Aku pasti akan menyusulmu jika semua urusanku disini telah selesai." pinta Jessy ketika Dean terus memintanya untuk datang ke Yunani.
"Berapa lama?" tanya Dean
"Beri aku waktu satu minggu."jawab Jessy.
Jessy melangkahkan kakinya menuju terminal keberangkatan. Ia tegang. Tentu saja, ini pertama kalinya ia pergi keluar negeri seorang diri. Berbekal pengalamannya pergi keluar negeri bersama Dean ketika honeymoon beberapa waktu yang lalu, kali ini ia merasa bersemangat. Ia tidak mengatakan pada siapapun pergi ke Yunani kali ini. Termasuk pada Dean. Ketika ia mengatakan meminta waktu satu minggu untuk menyelesaikan semuanya, ia berbohong. Siapa yang tidak menyukai uang saat ini? Ketika ia memberikan bantuan pada Mrs. Elisa, orang yang bertanggungjawab untuk membeli yayasan itu langsung tiba dalam waktu beberapa jam saja. Ia senang semuanya berjalan lancar. Ketika ia bertemu Dean nanti, ia akan mengatakan padanya tentang uang itu. Uang yang tidak sedikit itu setidaknya bisa membantu meringankan beban Mrs. Elisa dan anak-anak yang berada disana. Termasuk Joey. Jika kehidupannya sudah lebih baik, ia ingin membawa Joey bersamanya. Ia yakin Dean akan mengijinkannya.
Langkahnya mulai pelan ketika ia melihat antrian penumpang beberapa maskapai yang mengalami keterlambatan. Namun lagi-lagi ia kembali mengingat ucapan Mrs. Elisa ketika ia akan pergi ke bandara.
..."Berbahagialah selalu, anakku. Aku berharap kau dapat menemukan kedua orangtua kandungmu. Bertahanlah jika merasa sakit. Karena, dunia hiburan itu tidak selamanya akan menyenangkan. Privasimu sudah menjadi konsumsi publik bukan saja disini tapi di dunia. Siapa yang tidak mengenalmu sekarang? Berita baik dan buruk akan terus bergantian menghampirimu. Tapi jangan takut sayangku, kembalilah kesini jika kau sudah tidak dapat bertahan dan tidak ada yang dapat menolongmu. Pintu rumahku dan yayasan ini selalu menerimamu."...
Jika bukan karena ditemukan oleh Mrs. Elisa, kemungkinan ia masih hidup adalah sangat kecil. Semua yang telah dicurahkan Mrs. Elisa untuknya tidak sebanding dengan apa yang ia berikan tadi pagi. Rasanya sedikit menyedihkan. Tidak terasa ada airmata dipelupuk matanya. Beruntung ia memakai kacamata hitam dan sebuah masker. Tidak banyak yang dapat mengetahuinya.
Jessy menunduk ketika sudah waktu bagiannya untuk pemeriksaan. Ia membuka kacamata hitamnya dan maskernya sedikit. Wanita didepannya tersenyum.
"Aku penggemar suamimu, Jessy. Kalian sangat serasi sekali. Aku menyukai kalian berdua. Semoga perjalanan menemui suamimu di Yunani berjalan lancar." bisik wanita itu.
Jessy hanya tersenyum sambil mengangguk. Ia terus melangkah. Ia harus mulai terbiasa. Pesona suaminya tidak dapat diragukan lagi. Ia sudah menyiapkan hati jika hal ini terjadi lagi.
Mengenai Dean, ia tidak tahu tentang kepergiannya kali ini. Ia akan memberikan kejutan. Ia tidak pernah sekalipun ke Yunani. Ia hanya mengingat setiap tempat yang sering Dean katakan ketika ia berada di lokasi syuting. Iapun ingat dimana Dean tinggal. Tanpa bantuan siapapun, ia akan menemukan suaminya disana.
"Aku tidak pernah menyetujui acara gila kalian!" seru Dean marah. Disela syutingnya, ia diberitahu oleh Rossy untuk bersiap-siap pergi ke restoran. Shane sudah diberitahu untuk datang ke restoran itu.
__ADS_1
"Terakhur Dean, ini semua memang salahku. Jika aku tidak menerima investasi itu, aku tidak akan melibatkan mu." ucap Harris gugup.
"Jika Jessy mengetahui tentang ini, kalian yang harus bertanggungjawab. Aku tidak mau Jessy salah paham."
"Aku yang akan bertanggungjawab." jawab Harris cepat.
Shane adalah gadis perfeksionis dimana semua keinginannya harus tercapai. Termasuk meminta ayahnya untuk berinvestasi dalam film ini. Sepertinya Harris lupa jika ia menikahi Jessy untuk menghapus semua jejak wanita yang mengejarnya. Ia melihat Rossy. Gadis itu lebih banyak diam. Ia kemudian menatap Harris sebelum akhirnya pergi melanjutkan syutingnya.
"Dean sudah menikah. Kau tahu itu." bisik Harris pada Rossy.
Rossy menunduk. "Aku tahu. Untuk itulah aku ingin berada disisinya. Aku memintamu untuk membuatku berada disampingnya. Dan semuanya menjadi nyata. Aku memang berada disampingnya.
Tapi ia menganggapku hanya seperti sebuah patung."
"Itulah permintaanmu. Kau memintaku agar menyimpanmu ditempat strategis agar bisa bersama Dean. Aku menyimpanmu sebagai manajer Dean karena itulah keahlianmu. Jangan berharap kau meminta lebih dari Dean, Rossy. Walaupun sebenarnya aku berharap mereka berpisah. Seperti yang pernah kau katakan pada Dean. Pernikahan ini menghambat karirnya lebih luas."
"Hapus air matamu. Jangan biarkan Dean melihatnya." ucap Harris sambil berjalan menjauhinya.
Rossy menghapus air matanya. Sudah sejak ia berada di bangku kuliah, ia menyimpan perasaannya pada Dean. Ia harus mundur sejenak untuk menjaga hatinya saat itu. Namun semuanya hancur hanya gara-gara satu wanita. Dean tidak mau menunggunya. Ketika semua gosip muncul karena keberadaannya disamping Dean, ia merasa senang. Namun ia harus bersabar seperti yang pernah ia lakukan.
Restoran yang berada di hotel itu bisa dikatakan restoran berkelas. Ia tidak perlu jauh-jauh pergi mencari restoran baru. Cuaca kali ini lebih dingin daripada biasanya. Angin terlihat berhembus dengan besar sehingga membuat pepohonan bergoyang diantara kedua gedung yang menghubungkan antara hotel dan restoran.
Shane masih menjadi pesona bagi siapapun yang melihatnya. Dean masuk kedalam restoran dan menghampirinya.
__ADS_1
"Shane.." panggil Dean
Shane menoleh dan melambaikan tangannya. Ia tersenyum bahagia. "Dean.." pangginya.
"Maafkan aku sedikit terlambat. Aku harus menyelesaikan scene terakhir di gedung itu." ucap Dean.
"Tidak masalah Dean, yang terpenting kau menemuiku. Aku sangat senang sekali. Aku pikir kau tidak mau menemuiku." ucapnya manja.
Dean duduk didepannya. "Bagaimana kabarmu?"
."Aku baik-baik saja. Sekarang aku sedang belajar di sekolah acting. Aku ingin menjadi seorang bintang film buatanmu."
Terlihat sekali jika Shane tidak pernah berubah. Ia masih terlihat riang.
"Apakah kau tahu aku sudah menikah?" tanya Dean.
Shane mengangguk dengan enggan. "Siapa yang tidak tahu kabar itu. Semua koran dan majalah membicarakan tentang kalian."
"Kau harus tahu jika aku pria yang setia. Aku tidak pernah menyakiti perasaan siapapun. Kau mengerti?"
Shane mengangguk. "Bolehkah kita mulai makan?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Shane, kau baik.. kau cantik.. aku yakin banyak pria yang menginginkanmu.
__ADS_1
Shane berdiri. "Maafkan aku, tapi sepertinya pertemuan kita hari ini harus dibatalkan terlebih dahulu."
Dean hanya menatap kepergian Shane tanpa melihatnya lagi. Ia tidak mengatakan sesuatu yang salah. Ia mengatakan kebenarannya. Ia tidak mau Jessy salah paham. Ia akan minum sebentar sebelum kembali ke kamar. Semuanya telah terjadi. Ia akan mengatakan semuanya pada Jessy ketika ia menyusulnya kesini. Ia menyandarkan punggungnya dan mulai mengeluarkan ponselnya. Karena sibuk seharian ini, ia belum bisa menghubunginya. Beberapa kali nada tersambung tapi Jessy tidak mengangkatnya. Iapun bangun dari duduknya dan kembali ke kamar hofel.