Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Make me yours


__ADS_3

Joan menatap makan malamnya dengan tatapan kosong. Ucapan Jessy masih terngiang di telinganya. Ia memikirkan sesuatu. Apakah jika ia hamil, Lily akan menerimanya? Kali ini ia tidak mau egois dengan memikirkan kebahagiaannya sendiri. Lily Aysun, adik tiri Alv itu memang memiliki perilaku yang luar biasa buruk. Tanpa merasa bersalah karena telah menghilangkan bayi Jessy dan mengorbankan kakaknya untuk bertanggung jawab rasanya sangat menyebalkan baginya. Sebenarnya ia tidak menyukai orang yang seperti itu. Tapi berhubung ia adalah satu-satunya keluarga Alv, mau tidak mau ia harus menerimanya.


Sendok yang ada dipiringnya tanpa sadar ia putar-putar. Salah satu tangannya ia gunakan untuk menahan dagunya. Ia menghela nafas. Apakah jika ia hamil, Lily benar-benar akan menerimanya? Ia menatap Dean yang terlihat sangat protektif pada Jessy. Perjalanan mereka pun tidak mudah. Apakah ia akan mengalaminya juga?


*Hati, bagaimanakah kau akan bertahan? Kau belum pernah terluka karena seorang pria sebelumnya. Apakah jika kau terluka, kau akan baik-baik saja? *


"Joan, apa yang terjadi?" tanya Anastasia yang melihat Joan tengah melamun. "Kau baik-baik saja?"


Pertanyaan Anastasia tentu saja tidak didengar oleh Joan. Ia masih memutar-mutar sendok nya di atas piring.


"Joan, aku khawatir padamu. Ada apa? Apa ada masalah di butik?" tanya Anastasia kembali sambil memegang tangannya.


Joan tersadar. Ia melihat semua orang sedang menatapnya bingung. Ia tersenyum malu. "Kenapa kalian menatapku?"


"Kau kenapa? Tadi siang kau baik-baik saja. Apakah ada masalah di butik?" tanya Dean.


Joan menggelengkan kepalanya. "Tidak. Semuanya baik-baik saja."


"Kau belum menyentuh makan malam mu." ucap Anastasia.


"Sebenarnya aku tidak lapar. Aku ingin menunggu Alv saja dan makan malam dengannya." elak Joan.


"Apakah kau memikirkan ucapan ku yang tadi?" tanya Jessy. Ia mulai merasa bersalah dengan menyuruh Joan untuk hamil. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud buruk. Aku tidak menyangka ucapan ku tadi akan mempengaruhi mu."


"Apa yang kau katakan?" tanya Dean.


"Aku menyuruhnya untuk segera hamil agar pernikahan mereka sempurna." ucap Jessy berhati-hati.


"Hamil? Apakah kau sudah memiliki tanda-tandanya?" tanya Anastasia antusias.


"Tidak mom, aku hanya antusias mendengar kehamilan Jessy. Jessy menyarankan ku untuk segera memiliki anak agar pernikahan kami sempurna. Sebenarnya aku merasa konyol. Waktu itu aku menyuruh Jessy untuk hamil cepat agar pernikahan mereka sempurna, kini aku diminta hal yang sama oleh Jessy. Rasanya sedikit aneh." jawab Joan sambil tertawa hambar. Ia menatap Jessy sambil memberikan kedipan agar ia tidak mengatakan tentang rencananya terhadap Lily.


Suara bell pintu berbunyi. Joan bernafas lega karena pembicaraan ini berakhir. Itu pasti Alv. Iapun berdiri dan berjalan menuju pintu. Ketika pintu dibuka, Alv sedang berdiri sambil membawakan satu buket bunga. "Aku membelinya untuk Jessy. Kau tidak keberatan bukan?" tanya Alv.


Joan langsung melingkarkan kedua tangannya ke leher Alv dan memeluknya erat. "Aku merindukanmu, Alv!"


Alv tertawa ringan dan membalas pelukannya. "Kau kenapa? Bukankah tadi pagi kita sudah bertemu?"


"Ya, tapi aku merindukanmu." ucap Joan tanpa melepaskan pelukannya.


Alv melepaskan pelukannya. Ia memegang baju Joan. "Aku harus menemui Jessy terlebih dahulu. Nanti kita lanjutkan lagi." bisik nya jahil. Joan hanya mengangguk walaupun hatinya bergejolak.


Alv dan Joan masuk kedalam untuk menemui Jessy dan yang lainnya. Ia mendapat sambutan hangat dari semuanya ketika Alv memberikan buket bunga itu. Wajah Jessy berbinar sepanjang malam. Ia terlihat senang dan berulang kali mengatakan terimakasih padanya. Semuanya telah kembali ke sedia kala, bukan? Joan memiliki keluarga yang hangat yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya. Hanya satu yang ia bingung kan malam ini. Joan banyak diam. Ia jarang berbicara bahkan ketika mereka melanjutkan perjalanan pulang. Alv sengaja menyalakan musik didalam mobil agar tidak terlalu sepi. Berulang kali ia melihat Joan menghela nafas. Seperti ada beban berat di tubuhnya.


Alv memegang tangan Joan, siapa tahu ia mau bercerita. Apakah di rumahnya tadi ada sesuatu yang membuatnya cemas? Apakah ini tentang Jessy?

__ADS_1


"Jika kau ingin berbicara, bicaralah. Aku siap mendengarkan. Kita bisa berkeliling sebelum pulang ke rumah."


Joan menoleh dan berkata pelan. "Pulang ke apartemen mu di Manhattan saja. Aku ingin ke sana. Sudah lama kita tidak ke sana. "


Alv tersenyum. "Baiklah, siap meluncur tuan putri. Perjalanan kita mungkin sedikit terlambat karena ini malam minggu. Banyak wisatawan di sana." ucapnya sambil melihat GPS.


"Alv.." ucapnya pelan.


Alv menoleh padanya. "Kenapa sayang?"


"Apakah kau benar-benar mencintaiku? Maksudku, apakah perasaanmu padaku bukan ajang balas dendam karena Jessy tidak bisa kau dapatkan?" tanya Joan.


Alv menghentikan laju mobilnya. "Kenapa kau mengatakan omong kosong seperti itu? Jika aku tidak mencintaimu, aku tidak mungkin melakukan hal jauh seperti ini. Aku tinggal denganmu, kita bahkan tidak berbagi kamar karena kau memang istriku. Aku tidak pernah melihat wanita lain yang lebih cantik darimu walaupun pasienku sangat banyak. Kau jangan lupa, ketika kita berbulan madu, ada berapa wanita yang mengira aku masih single? Tapi aku dengan bangga memamerkan pada mereka jika aku memiliki seorang istri yang cantik. Katakan padaku, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau  meragukan perasaanku sekarang?" tanyanya kesal.


Joan menutup matanya. " Aku ingin hamil. Aku ingin memiliki anak darimu!"


Alv mengerutkan keningnya. "Apa?"


"Karena jika aku hamil, kau tidak akan meninggalkanku! " seru Joan tiba-tiba menangis.


"Tunggu.. aku tidak akan meninggalkanmu, sayang! Mengapa kau berfikir seperti itu? " tanya Alv mencoba menenangkan. "Tolong jangan menangis. Kau seperti anak kecil jika seperti ini. "


"Aku hanya takut.. " jawab Joan dengan bibir bergetar.


Joan terisak kembali.


"Dengarkan aku, aku tidak akan pernah lupa atas perkataan ku saat itu. Aku mencintaimu tulus. Aku tidak mau kehilanganmu. Jadi jangan menangis. Apakah kau seperti ini setelah melihat Jessy hamil? " tanya Alv.


Joan tidak menjawabnya. Bagaimana bisa ia mengatakan tentang kegundahan hatinya jika Lily tahu keadaan mereka sebenarnya. Bahkan Alv sendiri tidak pernah mengungkit masalah itu.


"Cepat pulang. " bisik Joan


Alv melepaskan pelukannya. Ia tersenyum dan kembali melajukan kendaraannya. Lucu melihat Joan seperti itu. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka berdua. Sampai kapanpun. Oh ya, Lily belum tahu. Tapi, ia tidak akan membiarkan Lily memisahkan mereka berdua jika ia tahu keadaan saat ini.


Sesampainya di apartemen, mobil mereka memasuki basement utama. Tidak banyak mobil karena apartemen ini seperti yang Alv katakan bukan apartemen mewah. Ada salah seorang petugas di depan lift. Alv mengenalnya karena ia yang biasa membawakan koran padanya setiap pagi.


"Selamat malam, dokter. Sepertinya kau jarang pulang kesini.. " ucap pria itu ramah.


"Ya, aku tinggal di rumah istriku." jawab Alv tenang.


Pria itu melirik pada Joan. Kemudian ia tersenyum. "Selamat atas pernikahanmu. Aku baru tahu kau sudah menikah. " ucapnya.


Alv tersenyum. "Baiklah, sampai jumpa. Istrimu lelah ingin beristirahat. "


Pria itu memberi hormat padanya. Alv hanya tersenyum dan kembali melangkah menuju lift. Ia melirik Joan yang terdiam sambil menunduk. Ketika pintu lift terbuka, mereka pun masuk kedalam. Joan berdiri dipojok lift sambil memunggunginya.

__ADS_1


Ketika pintu lift tertutup, tangan Alv menarik bahu Joan dan membalikkan tubuhnya untuk menatapnya. Ia mengurung tubuh Joan dengan kedua tangannya.


Joan mendorong tubuh Alv tapi Alv masih bertahan. "Tolong Alv, jangan lakukan ini. Bagaimana bila ada orang yang menaiki lift ini dengan kita? "


"Tidak akan. Tidak ada yang menaiki lift ini selain kita. Kenapa kau diam saja? Aku tidak suka. " bisik Alv.


"Aku hanya lelah.. " jawab Joan.


"Lalu kenapa kau tidak mau melihat mataku? " tanya Alv kembali.


Joan perlahan menatapnya. Ia hanya bisa merasakan nafas Dean di telinganya. Ia berbisik sesuatu. Joan mencoba mendengarnya dengan jelas.


"Aku mencintaimu. Apakah itu cukup? " tanya Alv.


Ketika Joan akan menjawab, pintu lift terbuka. Ternyata mereka sudah sampai. Alv melepaskan kedua tangannya pada pegangan lift dan melangkah keluar. Joan berjalan di belakangnya. Alv menyatakan cinta padanya. Itu memang sudah cukup baginya. Ia kini bisa tersenyum. Pintu pun terbuka. Alv masuk terlebih dahulu. Suasana dingin mulai terasa. Ia mencoba menyalakan lampu, tapi tetap tidak menyala.


"Kau mau melakukannya dengan lampu menyala atau lampu mati? " goda Alv.


"Melakukan apa? " tanya Joan sambil berjalan mendahuluinya.


Alv menarik tangannya dan menahan tubuh Joan dengan kedua tangannya yang memeluknya dengan erat. "Katakan, tadi kau sangat obsesi sekali ingin memiliki anak dariku. Apakah kau mau mengelak sekarang? " bisik Alv sambil menundukkan wajahnya.


Jika saat ini lampu menyala, wajahnya pasti terlihat merah oleh Alv. Ia beruntung karena lampu padam. Ia melihat kearah lampu tanpa membalas ucapan Alv.


Sebuah kecupan singkat diterima Joan. Ia menyentuh bibirnya dengan cepat.


"Kenapa? Biasanya kau sangat menyukainya." goda Alv.


"Alv, kau jangan menggodaku terus. Aku tidak bisa bertahan. " rengek Joan.


Salah satu tangan Alv melepaskan tas jinjing Joan dan melemparkannya keatas sofa. Kemudian ia mendorong mundur tubuh Joan tanpa melepaskan tangannya.


"Kau mau apa, Alv? " tanya Joan panik. Ia merasakan resleting dress nya ditarik dari atas. "Alv, tunggu Alv.. Aku belum siap.. " ucapnya kembali. Suaranya mulai gugup.


Alv terus mendorong tubuh Joan hingga depan pintu.


"Aku ingin membuktikan padamu, jika aku melakukannya karena aku mencintai dan menyayangimu. Kali ini, mari kita lakukan dengan romantis. Aku ingin melakukannya hingga terasa setiap detik berharga.. " bisik nya.


Joan terharu. Ia melingkarkan kedua tangannya ke leher Alv. "Aku ingin berdua denganmu dengan waktu yang sangat lama. Jangan bekerja besok. Aku tidak mau kau pergi kemanapun. "


"Aku bisa mengatakannya pada Jen.. " jawab Alv. "Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang? "


"Make me yours tonight, Alv. " bisik Joan.


"It's my pleasure, girl.. "

__ADS_1


__ADS_2