
Hidangan yang disajikan di restoran merupakan menu kesukaan Joan pada umumnya. Sebuah pasta mengingatkan nya ketika ia magang di salah satu tempat pembelanjaan di Paris. Ia menyukai masakan Italia yang disajikan oleh restoran manapun.
Joan meninggalkan Alv yang sedang berbincang dengan seorang dokter wanita.
"Sejak tadi kau terus melihat pasta. " bisik Jennifer
"Aku sangat menyukai pasta. Aku mampu menghabiskannya berapapun dihidangkan. " jawab Joan pelan.
Jen tertawa pelan. "Kau wanita menyenangkan. Selama kita disini, tidak ada yang berani mendekati dokter Alv. Kau berhasil membuat mereka tidak bisa mendekatinya. Terlihat sekali dokter Alv begitu mencintaimu. Ia terus menatapmu bahkan hingga saat ini. Lihatlah.. "
Joan hanya melihat tatapan tajam dan tidak biasa dari pria itu. Ia merasa malas mendapatkan perlakuan seperti itu. "Kau terlalu memaksa. Alv memang biasa melihatku seperti itu. " jawab Joan sambil membawa piring untuk segera menghidangkan pasta itu keatas piringnya. Ia sudah tidak sabar.
"Hmm. Sepertinya dokter Alv bukan pria yang romantis. Apakah ia hanya melakukannya disini? Maksudku, apakah ketika di rumah ia tidak berlaku romantis? "
"Bagaimana ia mau romantis, ia tidak tinggal denganku. " jawab Joan tenang.
"Tidak tinggal denganmu? Maksudmu, apakah kalian benar-benar menikah? " tanya Jen terheran-heran.
Joan menutup matanya. Ia salah bicara. Ia menyimpan piringnya dimeja dan menoleh pada Jen. "Sebelum kami bertemu untuk membahas liburan ini, aku dan Alv sempat bertengkar. Untuk itu kami tidak tinggal bersama. Tapi sekarang kami sudah tinggal bersama. " jawab Joan gugup.
Jen menatapnya dengan mata berbinar. "Jadi, kepergian kalian kesini menjadi liburan kalian untuk pertama kali setelah bertengkar? Pantas saja kalian berdua terlihat romantis."
Joan menggelengkan kepalanya. Tentu saja ucapan Jen mengada-ngada. Tidak ada perlakuan romantis antara keduanya.
"Aku harus segera menyantapnya sebelum selera makan ku habis. " ucap Joan sambil berjalan untuk mencari tempat duduk. Ia melirik sebentar ke tempat Alv. Mereka terlihat serius. Joan mencari tempat duduk yang nyaman untuk dirinya. Ia melirik keluar jendela. Di sana ada beberapa kursi kosong. Ia pun membuka pintu kaca dan berjalan keluar. Sebuah pemandangan malam lautan yang sangat indah. Deburan ombak saling bersautan. Bau pantai masih terasa. Ia melihat sebentar ke tubuhnya. Gara-gara berenang tadi siang, kulitnya sedikit terbakar. Tapi ia masih nyaman karena menemukan pasta ditempat ini. Itu tidak masalah jika kulitnya harus terbakar.
Ia duduk di salah satu sofa sambil menghadap ke pantai. Petugas restoran dengan ramah merapikan sofa dan memberinya sebuah kain.
"Terimakasih." ucap Joan sambil tersenyum.
Ia mulai memakan pasta itu sambil menikmati angin pantai yang sejuk.
"Aku mencari mu"
Joan menatap pasta nya dengan serius. Ia tidak menoleh pada pria yang kini sedang berbicara padanya.
"Hey.. apakah pasta itu lebih menarik dibandingkan denganku? " tanya Alv serius. Ia duduk di depannya.
Joan menatapnya. "Jika aku mengatakan iya, apa yang akan kau lakukan? " tanya Joan dingin.
Alv mengerutkan keningnya. "Kau baik-baik saja? "
"Ya, cukup baik. Aku masih bisa memakan pasta ini dengan nyaman." jawab Joan tenang. Ia tidak menghentikan kegiatannya.
"Kau cemburu karena sejak tadi aku berbincang dengan Dokter Salma?" tanya Alv kembali. Ia melihat Joan dengan serius untuk melihat perubahan wajahnya. Namun ia kecewa, Joan masih terlihat tenang. "Katakan. Apakah kau cemburu? "
"Aku tidak cemburu. Sejak di klinik aku sudah mengatakan tidak apa-apa. Kau akan bertemu dengan ratusan wanita cantik manapun tidak akan berpengaruh padaku. " jawab Joan ketus.
Joan menghela nafas. Ia pun berdiri. "Sepertinya selera makan ku berkurang. Lebih baik aku istirahat di kamar. Kepalaku pusing. " ucap Joan sambil berdiri.
Alv memegang tangan Joan dengan erat. "Kau tahu jika ucapan mu saat ini bisa membuatku marah." ucap Alv dengan nada tinggi.
"Dengan begitu aku tahu betapa buruknya dirimu. " jawab Joan sambil melepaskan tangannya dengan keras.
__ADS_1
Alv hanya menatap kepergian Joan. Tidak pernah ada yang membuat dirinya merasa bersalah walaupun ia sendiri tidak tahu apa yang sudah ia lakukan. Ia berdiri dan mengikuti Joan untuk ke kamar.
Ketika berada didalam kamar, ia malah kebingungan. Apa yang harus ia lakukan? Joan terlihat sedang di kamar mandi. Rutinitas sebelum tidur adalah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur.
Beberapa saat kemudian, Joan keluar dari kamar mandi. Ia menatap nya sejenak dan berjalan ke samping tempat tidur.
"Aku minta maaf. " ucap Alv cepat.
Joan yang saat itu sedang bersiap untuk berbaring menatapnya. "Untuk apa? "
Alv menghampirinya. "Aku tidak tahu. Tapi kau terlihat marah padaku. Aku minta maaf jika ada tindakanku yang menyakiti hatimu. "
"Kau tidak perlu melakukannya. Kau tidak berhutang maaf padaku. Aku hanya ingin beristirahat. " ucap Joan.
"Jangan tidur terlebih dahulu. Temani aku. Kita bisa berbicara sambil minum. Aku akan memesannya. Kita tidak perlu pergi keluar karena kau sudah mengganti pakaian mu."
Joan terkejut dengan permintaan Alv. Tapi melihat caranya meminta maaf, rasanya ia tidak bisa menolak permintaan Alv untuk berbincang.
Mereka tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan sebuah meja berisi wine dan dua buah gelas. Alv mulai mengisi gelas dengan wine itu. Ia duduk di salah satu kursi. Mereka berdua terdiam cukup lama. Tidak ada perkataan sama sekali.
"Ceritakan tentang kehidupanmu." ucap Alv tiba-tiba.
Joan mengambil salah satu gelas dan meminumnya. "Perkenalkan. Namaku Joan Lee. "
Alv tertawa ringan. "Aku sudah tahu. Kau senang bercanda. Aku bertanya tentang kehidupanmu sebelum menikah denganku"
Joan tertawa ringan. "Rasanya aneh mendengar kau mengatakan pernikahan. Kau tidak ingat bagaimana kita menikah? "
Joan tersenyum sambil menundukkan kepalanya. Ia meminum wine kembali yang tersisa.
"Kehidupanku.. " ucap Joan tertahan. Ia menghela nafas sebentar. "Sebenarnya tidak terlalu baik pada awalnya. Ketika aku kehilangan ibuku di usia yang sangat muda, dad sedang sangat sibuk memproduksi film dan drama, kemudian aku harus menjadi orang tua sekaligus kakak untuk adikku. Namun aku juga harus menerima kenyataan dengan meninggalkan Dean yang saat itu masih harus dibimbing. Saat itu dad sangat sibuk sekali dengan film-filmnya. Cerita ini mungkin tidak terlalu menarik."
"Tidak apa-apa. Aku akan mendengarnya. "jawab Alv.
"Aku sekolah di Paris tanpa bantuan dari dad. Aku pergi ke sana atas kemauan ku sendiri. Aku ingin berkarir tanpa bayang-bayang Lee yang seorang sutradara terkenal. Aku ingin mandiri. Aku ingin sukses dengan caraku sendiri. Aku sempat mendapatkan pekerjaan sampingan disalah satu butik ternama. Karena sekolahku adalah sekolah fashion, mereka menerima ku dengan mudah. Aku hebat bukan? Semuanya aku lakukan tanpa bantuan dari dad." jelasnya dengan mata berkaca-kaca. Namun ia bisa menutupinya dengan mudah.
"Kau tidak pernah pulang ke rumah? "
"Jarang. Sejak Anastasia masuk ke kehidupan kami, aku melepaskan diri. Selama dad percaya padaku, aku bisa berkarir dengan mudah. Aku ingin fokus pada masa depanku. Aku membiarkan Anastasia mengambil hati Dean yang memang saat itu sangat sulit didekati. Pada intinya aku bahagia dan bangga. Aku berhasil menjadi seperti ini karena usahaku sendiri."
"Ceritamu menarik." ucap Alv. Ia menggeser duduknya dan menuangkan kembali wine pada gelas Joan. "Ucapan mu membuatku berfikir. Kau sama sepertiku. Ternyata nasib kita sama. Lily Aysun adalah saudara namun kami berbeda ibu. Ibu kandungku telah meninggal ketika aku masih kecil. Ayahku kemudian menikahi ibunya Lily ketika mereka bekerja bersama di Athena. Ayahku dan keluarga barunya memutuskan untuk pindah ke Athena. Sedangkan aku tetap tinggal di Istanbul untuk melanjutkan sekolahku. Aku harus melakukannya semua sendiri. "
"Kau tinggal sendiri? " tanya Joan.
"Ya, tapi aku tidak seperti dirimu yang tinggal ditempat orang lain. Aku tinggal dirumahku sendiri. Hanya saja ayahku memilih tinggal di Yunani."
Joan menyimpan wine nya di meja. Ia menyandarkan punggungnya di kursi. "Ternyata kehidupan kita sama."
"Kenapa kau pindah ke New york? Padahal karirmu di Paris sangat bagus. "
Joan mengikat rambutnya kebelakang namun ditahan oleh Alv. "Biarkan terurai. " ucapnya.
Joan melepaskan tangannya. "Kenapa aku pindah ke New York? Mungkin kau tidak akan suka mendengarnya. Lebih baik aku tidak mengatakannya sekarang." jawab Joan.
__ADS_1
"Mengapa?"
"Aku memikirkan perasaanmu. Karena kepindahan ku ke New York berhubungan dengan Dean. Aku tahu kau tidak menyukai Dean. Jadi lebih baik pembicaraan ini kita hentikan. Yang terpenting kau sudah tahu tentang masa laluku. " jawab Joan.
Alv mengangguk. "Ada pertanyaan yang ingin kau tanyakan padaku? "
"Berapa kali kau memiliki kekasih?" tanya Joan cepat.
"Aku tidak bisa menghitungnya. " jawab Alv tenang. "Bagiku mantan kekasih tidak untuk diingat. "
"Begitu pula dengan mantan istri? "
Alv mengerutkan keningnya. "Mantan istri? Aku belum menikah sebelumnya. Apa maksudmu? "
"Ya, ketika kau sudah bosan bermain-main denganku.. kau akan menendang ku. Kau akan menceraikan ku ketika semuanya sudah membuatmu puas" jawab Joan sambil mengangkat gelasnya tinggi. Ia kemudian menyimpannya dimeja. Ia pun berdiri dan mulai melangkah. "Sepertinya dua gelas sudah cukup untukku. Aku tidak ingin mabuk. Aku lelah karena berenang tadi. Aku ingin tidur. "
Alv tidak menjawabnya. Namun ia terdiam. Ketika ia menikah dalam waktu yang sangat cepat itu, ia memang hanya ingin bermain-main dengan wanita ini. Bagaimana ia bisa tahu? Ia menoleh pada Joan. "Bagaimana denganmu? Berapa kali kau memiliki kekasih? "
Joan tersenyum. Ternyata pikirannya memang benar. Alv bahkan tidak menjawab ucapannya. Jika ia anggap pernikahan ini memang akan bertahan lama, ia pasti membantahnya tadi. Tapi ia malah terdiam. Menyedihkan sekali. Pria pertama yang membuat jantungnya berdebar itu menjadi orang yang pertama kali membuat hatinya terluka.
"Joan, aku bertanya padamu. "seru Alv.
Joan ingat apa yang ditanyakan Alv. Ia mengangkat jari-jarinya seakan berhitung. Ia Hal itu membuat Alv mengangkat alisnya.
"Tidak ada satupun. "jawab Joan tenang. Ia membuka selimut dan duduk menyandar pada bantal.
"Tidak ada satupun? Berarti kau belum pernah mengalami hal romantis? " goda Alv sambil berdiri. Ia berjalan dengan cepat dan duduk didepannya.
"Aku tidak penasaran dengan itu. " jawab Joan cepat. Ia mulai ngerasa tidak nyaman dengan posisi mereka yang berdekatan.
"Benarkah. Bagaimana dengan ini? " tanya Alv sambil mengangkat tangannya. Ia menyentuh lengan Joan yang terbuka.
"Aku hanya berharap semua ini bukan permainan." jawab Joan sambil menutup matanya.
Alv mendekat tanpa melepaskan tangannya. Ia menyentuh wajah Joan.
"Aku pun berharap demikian. Karena pernikahan kita pun bukan permainan. Kita melakukannya dengan sadar. " bisik Alv.
Joan membuka matanya dan menatap Alv dengan tatapan yang belum pernah Alv lihat sebelumnya. Jantung Alv mulai berdebar dengan kencang. Ia menundukkan wajahnya sehingga wajah mereka sangat dekat.
"Kau belum pernah disentuh oleh pria manapun? Sangat menyedihkan.. " ucapnya sambil menyeringai.
Joan tersadar jika pria ini hanya menggodanya. Ia mendorong dada pria itu untuk menjauh. "Maafkan aku. Aku benar-benar mengantuk. Selamat tidur." ucap Joan sambil mulai berbaring. Ia menutup matanya dengan cepat. Butuh waktu untuk menormalkan jantungnya saat ini.
Alv menghela nafas. Ia kecewa dengan penolakan Joan. Mengapa ia mengatakan hal itu? Ia hanya melihat Joan berbaring.
"Kau sudah benar-benar akan tidur? Nanti aku akan tidur di sofa. Jika kita tidur di tempat yang sama, aku khawatir kau tidak akan suka." ucap Alv.
"Kau tidak perlu melakukannya. Aku yakin kau tidak akan berbuat macam-macam padaku. Tidur lah di sampingku. Lagipula tempat tidur ini cukup luas." jawab Joan tanpa membuka matanya.
Alv menundukkan kepalanya dan mencium kening wanita itu. Ia pun menyentuh rambut hitam Joan. "Aku akan mencari udara segar terlebih dahulu. Nanti aku kembali. Kau harus beristirahat. "
Joan membuka matanya ketika ia mendengar pintu kamar dibuka kemudian ditutup pelan. Ia menyentuh keningnya. Apakah sekarang Alv melakukannya tanpa menggodanya? Jantungnya kembali berdebar. Perlakuan kecil seperti ini saja membuatnya bahagia. Ia tersenyum dan kembali menutup matanya.
__ADS_1