
Bau pengap, suara deret kaki, suara binatang malam terasa menuju hidung dan telinganya. Entah berapa lama ia tidak sadarkan diri. Ia merasa tangannya tidak bisa bergerak. Ia membuka matanya.
Gelap
Ambang kematian sudah ada didepannya? Ia sudah mati?
Brittany duduk untuk melihat ke sekelilingnya. Sebuah bangunan kumuh yang terlihat. Tidak terlihat apapun diluar. Ruangan ini tidak dapat melihat apapun. Tidak ada jendela. Cahaya lampu hanya terlihat dari celah-celah genting yang terbuka. Bangunan ini hanya menunggu untuk dirubuhkan.Terdengar suara langkah kaki. Pintu terbuka dengan kencang. Ia harus menyipitkan matanya untuk melihat siapa yang telah menculiknya.
"Untuk ukuran penculikan, kau tidur terlalu lama. Aku hampir saja menyiram mu dengan air." ucap seseorang.
Brittany mencoba melihat siapa pria itu. Ia langsung menebak karena tidak ada lagi orang yang ia curigai.
"Harris?"
Pria itu mendekat. Ia duduk dan mengangkat wajah Brittany. "Ya, aku. Bagaimana kabarmu?"
Brittany melepaskan diri dengan membuang muka. "Untuk apa kau lakukan ini?"
"Menurutmu?"
"Jika kau ingin aku mati, kau bisa melakukannya sekarang." tantang Brittany. Tidak ada rasa takut dari nada bicaranya.
Pria itu tiba-tiba menjambak rambutnya ke belakang. "Tidak akan semudah itu, Jessy Julian!" teriak Harris marah.
__ADS_1
Brittany tertawa. "Secepat itu kau mengetahui tentang kehidupanku. Aku bukan Jessy yang lemah seperti dulu. Aku memang naif namun aku senang bisa menghancurkan mu."
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Brittany. Ia merasakan cairan keluar dari sudut bibirnya. Ia kembali tersenyum. "Kurang keras. Aku sudah merasakan yang jauh lebih sakit dari ini."
"Kau wanita tidak tahu diri! Aku mengangkat mu sehingga kau terkenal oleh masyarakat dunia. Tapi kau menghancurkan ku seperti ini!" teriak Harris sambil memukuli tubuhnya yang diikat.
Rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya. Ia sudah dapat menduganya sejak awal. Nyawanya terancam. Namun kali ini, ia hanya bisa membayangkan. Siapakah yang akan menyelamatkannya.
Brittany menatap langit-langit ruangan yang rapuh itu. Ia menatap nanar. Tidak ada orang lain selain Harris dirumah ini. Mereka hanya berdua. Kemana orang-orang yang telah menculiknya saat itu? Tapi sekarang Harris melakukannya sendiri?
Terdengar olehnya suara anjing malam bergonggong. Brittany menekuk kedua kakinya. Dengan tangan terikat, tidak ada cahaya dan tanpa alas, ia berbaring. Perlahan ia meneteskan airmata. Ia tidak tahu saat ini pukul berapa. Ia hanya merasakan kesunyian.
...***...
Dean melihat koordinat di ponselnya. Ia bisa dengan mudah menemukannya. Tanpa disadari, Harris berasal dari five point'. Mobil Dean disimpan tak jauh dari tempat yang ia datangi.
Ia melangkah sambil melihat koordinat terakhir. Ia harap bisa dengan mudah menemukan Brittany. Tidak ada rasa takut. Dengan mengendap-endap ia mencari titik yang terlihat di ponselnya. Sebuah bangunan yang hampir ambruk terlihat hanya bercahaya kan lampu kecil. Sedangkan disekelilingnya gelap namun terlihat berpenghuni. Sungguh ironis. Di sekeliling rumah-rumah kumuh itu berdiri beberapa bangunan mewah.
Ia mendekati rumah itu. Dari celah dinding, ia tidak terkejut melihat siapa yang ada didalam rumah. Ia menunggu hingga situasi aman. Ia melihat pergerakan dari dalam rumah. Harris memakai jaketnya. Sepertinya ia akan pergi. Sebuah kesempatan yang tidak boleh ia lewatkan.
Pintu terbuka. Harris keluar setelah mematikan lampu. Dean kembali menunggu situasi aman. Ia melihat Harris sudah menghilang. Ia bergegas masuk kedalam. Ia melihat sekelilingnya. Sebuah foto kumuh terpasang didinding. Ia melihatnya dan menyadari satu hal. Ini adalah rumah Harris. Namun, ia harus melupakannya sejenak. Ia harus mencari Brittany terlebih dahulu. Ruangan demi ruangan tidak terlalu besar, sehingga ia bisa dengan mudah menemukannya.
"Brittany!!" panggil Dean pelan. Ia membuka salah satu pintu. Sebuah kamar mandi yang tidak terpakai. Kemudian ia memanggil kembali.
__ADS_1
"Brittany!"
Karena tidak ada jawaban, ia berjalan menuju satu tempat yang belum ia datangi. Sebuah bangunan mirip gudang yang terlihat hancur dan hampir ambruk. Ruangan kecil itu masih menyatu dengan rumah ini. Hanya saja terdapat diluar. Ia membuka pintu pelan, namun terkunci.
Ia berkeliling mencari sesuatu agar dapat dibuka. Ia menemukan satu buah tombak kecil. Ia kemudian membawanya dan berlari menuju ruangan tadi. Ia memukul pintu dengan kencang. Beruntung, ia bisa membukanya dengan cepat.
"Brittany!" panggil Dean.
Brittany membuka matanya. Ia tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Mengapa pria ini yang datang menyelamatkannya?
Dean menghampiri Brittany dan mengangkat tubuhnya untuk duduk. "Kau baik-baik saja?" tanya nya cemas. Ia langsung memeluk Brittany. "Aku pikir kau tidak selamat."
"Kenapa kau datang?" tanya Brittany sinis.
"Aku tahu kau marah padaku. Tapi aku mohon lupakan itu sejenak. Aku hanya ingin mengeluarkan mu dari sini." jawab Dean cepat.
"Tidak semudah itu, Dean!" teriak seseorang sambil memukulkan sesuatu pada kepala Dean.
Yang Dean dengar adalah teriakan dan tangisan Brittany, sakitnya kepala bagian belakang dan ia ingat tubuhnya diinjak+injak seseorang. Dean tidak melawannya karena ketika kepalanya dipukul, ia mendapatkan sebuah pendarahan. Dean mulai tidak sadarkan diri.
"Kau ingin mati bersama suamimu, bukan? Baiklah aku ijinkan. Kalian berdua akan mati berdua di ruangan ini. Kita bertiga akan mati bersama. "
Brittany menggelengkan kepalanya. "Tidak! Jangan libatkan Dean. Jangan biarkan ia mati. Aku yang akan mati denganmu."
__ADS_1
"Sungguh mengharukan." ejek Harris sambil berjalan keluar. Ia membiarkan pintu tidak terkunci karena yakin keduanya tidak bisa melarikan diri.