
Alv tersenyum sendiri mengingat setiap kejadian yang melibatkan Joan Lee. Wanita itu berbeda dengan wanita lain pada umumnya. Ia lebih percaya diri dan mandiri. Ia kuat dan tidak banyak perilaku yang membuatnya harus berfikir ulang karena menikah dengannya.
Pernikahan yang sejak awal ia pikir hanya akan menjadi permainan, entah mengapa ia malah menikmatinya. Ia bahkan lupa dengan rencananya sendiri. Ketika melihat riwayat hidup Joan di sebuah artikel internet, wanita itu rupanya telah hidup sendiri sejak lama sekali. Ia pindah ke Paris ketika ia melanjutkan study nya di Universitas. Ia tidak menggunakan koneksi ayahnya untuk bersekolah di sekolah fashion elit di Paris. Ia menetap di sana cukup lama sebelum akhirnya ia pindah ke New York. Itulah kira-kira yang ia baca dari internet. Ada perasaan bangga karena ia mengenal wanita seperti itu. Sebagai seseorang yang biasa hidup mandiri sejak dulu, ia merasa senang karena bertemu dengan orang yang sama dengannya.
Oh ya, Joan pun pernah memenangkan sebuah kontes fashion antar university. Alv pikir Joan adalah salah satu wanita yang cerdas. Dan memang tipe wanita yang ia sukai salah satunya yang cerdas. Ia senang berdebat dan sepertinya Joan memang menyukainya juga. Sayangnya, Joan adalah kakak dari pria yang mengambil Brittany darinya. Selama tiga tahun ia berada pada persimpangan hati, pada akhirnya ia rela melepaskan Brittany. Itu memang sulit pada awalnya. Tapi karena kedekatan mereka saat itu, ia kini hanya memikirkan kebahagiaan Brittany. Tidak peduli dengan masa depannya di negaranya sendiri. Ia pindah ke New York untuk mencari kebahagiaan. Setelah pernikahannya dengan Joan terjadi, ia sempat berfikir untuk mencari kebahagiaannya sendiri. Apakah Joan Lee dapat memberinya kebahagiaan?
Selama satu minggu ia mengikuti Joan Lee, ia pikir wanita itu tidak buruk. Kesehariannya hanya dilakukan untuk bekerja dan bertemu dengan teman-teman nya. Ia tidak pernah bertindak konyol seperti ini sebelumnya. Ia melakukannya karena penasaran. Setiap orang yang ia datangi mengatakan hal yang sama mengenai Joan. Ia menyadari kehidupannya di New York tidak akan mudah jika ia tidak bisa menemukan orang yang bisa membimbing nya. Untuk itulah ia mengamati Joan Lee di tengah pekerjaannya. Ia terlihat seperti mata-mata. Tapi itulah yang harus ia lakukan untuk membuktikan semua tentang Joan. Bukan hanya sebatas cerita di internet.
Alv melihat jam tangannya. Ia berdiri didepan jendela. Ia tengah menunggu Joan. Tas jinjing berisi pakaian-pakaian gantinya telah siap. Diluar sudah sangat ramai orang-orang yang akan melakukan piknik. Sebetulnya bukan piknik secara resmi. Namun ada undangan untuk para dokter di klinik ini untuk mengikuti sebuah pelatihan di Miami. Walaupun tidak semua dokter dan suster, namun bagi Alv yang masih baru berada di klinik ini menjadi sebuah kebanggaan karena akan menjadi salah seorang pembicara. Seperti yang dilakukan olehnya sebelum ia pindah ke New York.
Pintu ruangan diketuk pelan. Ia berbalik dan berjalan untuk membukanya.
“Aku pikir datang ke ruangan yang salah. Tidak ada papan nama didepan. “ ucap Joan sambil melangkah kedalam ruangan.
Alv masih terdiam melihat bagaimana Joan berbusana. Ia terlihat kasual dengan celana jeans skinny dan kaos bertuliskan New York berwarna putih yang kebesaran. Ia pun memakai topi berwarna pink. Ia sudah bersiap untuk berlibur. Kemudian ia melihat Joan berbalik dan menatapnya.
“Kenapa kau tidak berbicara? Apakah kau terpesona dengan kecantikan ku? Aku khawatir kau akan jatuh cinta padaku. “ goda Joan.
Alv tersenyum dan menundukkan kepalanya. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan menatap Joan. “Bagaimana jika ya? “
Joan salah tingkah. Ia berjalan menuju kursi kerja Alv dan duduk di sana. “Jadi disinilah kau bekerja.” Ucapnya sambil melihat ke seluruh ruangan. Tidak banyak yang bisa dilihat kecuali gambar-gambar kedokteran. “Apakah kau biasa mengobati pasienmu di sana?” Tanya Joan seraya menunjuk sebuah kursi besar yang pernah ia lihat di tayangan televisi. Walaupun Joan seorang wanita , tapi ia
__ADS_1
belum pernah menemui seorang dokter untuk membantunya merawat wajah apalagi merubah wajahnya.
Tiba-tiba Alv duduk dimeja yang berada didepan Joan. Ia sedikit terkurung karena kedua kaki pria itu menutupi jalannya.
“Kau mengganti pembicaraan. Kau belum menjawab pernyataan ku. Apakah ini kelebihan mu? Mengganti pembicaraan penting disaat seperti ini.”
Joan mengerutkan keningnya. Ia tidak mau menatap pria disampingnya. Pria itu yang membuatnya mati kutu dengan pertanyaannya. Ia memegang kursi dengan erat. Ia mulai merasakan tubuh pria itu mendekatinya. Jantungnya mulai berdebar. Didalam kepalanya hanya terlintas pertanyaan. Apakah pria ini mulai mendekatinya? Atau apakah pria ini hanya menggodanya saja?
“Sepertinya aku mengganggu kalian? “ ucap seseorang didepan pintu yang terbuka. Ia menatap mereka berdua sambil tersipu malu.
Alv bangun dari duduknya dan melangkah keluar dari posisi yang sangat dekat itu. Ia melihat Jen disana dengan wajah merah. “Kau sakit?” goda Alv.
Jen masuk kedalam untuk melihat wanita yang sangat ingin dilihatnya. Wanita itu tengah mengipasi wajahnya. Ia terlihat malu. Pasangan yang baru menikah biasanya selalu berapi-api. Dan ialah penghancur kejadian tadi. Bayangkan jika ia tidak masuk tadi, pasti mereka sudah... ah sudahlah..
“Pria manapun?” Tanya Alv dengan nada sedikit tinggi. Alis kanannya terangkat dan kedua tangannya saling melipat. Ia membutuhkan penjelasan dari Jen.
Jen tersenyum. “Maksudku, istrimu sangat cantik dokter.” Jawabnya
Joan berdiri dan berjalan menghampiri Jen. “Ini siapa, sayang?” Tanya Joan tenang.
Alv terkejut dengan panggilan itu. Namun ia memegang tangan Joan dan menarik pinggangnya untuk mendekat. “Ini asistenku. Jennifer. Ia penasaran karena ingin bertemu denganmu.”
__ADS_1
“Oh ya?” jawab Joan merasa senang. Ia sempat berfikir jika asisten Alv adalah seorang wanita muda dengan segala daya tariknya.
"Aku hanya ingin mengamankan dokter dari wanita-wanita liar diluar sana. " jawab Jen.
“Apa? Mengamankan?” Tanya Joan sambil tertawa.
“Kau tidak cemburu melihat suamimu di kelilingi wanita muda dan cantik?” Tanya Jen sambil menatap Joan serius.
“Tidak. Aku tidak apa-apa." jawab Jessy tenang.
"Benarkah? " tanya Jen kembali.
Joan dapat merasakan cubitan kecil di pinggangnya. Ia menatap Alv dan bertanya. "Apa yang salah? " bisiknya.
Alv melepaskan tangannya dari pinggang Joan. Ia berjalan ke kursi kerjanya. "Mana proposal yang sudah aku minta? " tanyanya mulai serius pada Jen.
"Aku sudah mengirimnya melalui email. Kau bisa melihatnya nanti. Sekarang lebih baik kau berangkat. Pesawat akan berangkat dua jam lagi. Aku dan suster lainnya akan menyusul di penerbangan selanjutnya. "
"Kemana kita akan pergi? Aku pikir kita hanya akan berlibur di sekitar New York. "
"Miami. Kau keberatan? " tanya Alv tiba-tiba.
__ADS_1
Joan menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak."