Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
I'm Jealous


__ADS_3

Mungkin inilah yang dinamakan cemburu buta. Jessy duduk didepan sebuah kamar sambil terisak. Ia lelah karena telah melakukan penerbangan selama beberapa jam. Ia melakukannya untuk membuat suaminya bahagia. Tapi apa yang terjadi? Ia melihat Dean sedang makan malam bersama wanita cantik. Rasanya kecantikannya tidak sebanding dengan kecantikan wanita itu. Apapun yang dipakainya akan terlihat cocok. Dean terlihat cocok jika memiliki pasangan seperti wanita itu. Ia terlihat dari keluarga kaya raya. Ia terlihat layaknya sosialita yang sering ia lihat di televisi. Dean jauh lebih pantas bersanding dengannya.


Jessy baru saja sampai di bandara. Ia tidak mau kehilangan waktu. Ia ingin cepat menemui Dean. Walaupun ia lelah, tapi ia tidak peduli. Ia hanya ingin cepat-cepat memberikan surprise pada suaminya. Taxi mengantarkannya ke sebuah hotel bintang lima. Ia dapat melihat pemandangan kota Athena untuk pertama kali dibalik kaca mobil. Kota itu tidak terlalu ramai namun ia merasa nyaman.


"Ini kali pertamamu datang ke negara ini?" tanya supir taxi itu ramah.


"Ya. Aku menyukainya." ucap Jessy senang.


"Apakah kau datang kesini untuk menemui kerabatmu atau pekerjaan?" tanya supir itu kembali.


"Aku datang untuk menemui suamiku." jawab Jessy.


Supir taxi itu terlihat takjub. "Kau sudah menikah?"


"Ya.." jawab Jessy senang.


"Aku bahagia untukmu. Oh ya, hotel tempatmu menginap sudah ada didepanmu."


Jessy melihat keluar. Ya, ini jelas hotel yang diceritakan oleh Dean. Setelah memberikan uang pada supir itu, Jessy keluar. Ia tidak membawa banyak pakaian karena ia langsung pergi dari Nevada. Ia terdiam sejenak didepan hotel. Ia masih menggunakan kacamata hitamnya. Di negara ini, ia yakin tidak ada yang mengenalnya.


Iapun melangkah kedalam lobby. Langkahnya terhenti ketika ia melihat Dean keluar dari dalam lift. Secepat ini ia bertemu dengan Dean? Ia bersembunyi dibalik pilar besar yang hanya berjarak dua puluh meter dari tempat Dean. Dean melangkah dengan tergesa. Tidak ada keceriaan diwajahnya. Ia memasuki sebuah restoran yang tersambung oleh jalan yang dikelilingi oleh pilar itu. Terlihat sangat cantik. Dean tidak terlihat kesulitan ketika masuk kedalam restoran.


Tiba-tiba langkahnya terhenti. Wajah yang tadinya ceria, langsung berubah. Jessy hanya bisa menatap nanar Dean yang sedang memeluk wanita itu. Wanita cantik itu sudah menunggunya. Jantungnya berdebar dengan kencang. Ia merasa sakit melihatnya seperti itu. Dadanya sakit. Ia harus memegangnya untuk menahan rasa sakitnya. Ia tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Ketika harapannya pupus oleh pemandangan itu, ia memutuskan berbalik. Ia tidak mau melihat keduanya bermesraan. Ia akan meminta penjelasan dari Dean. Ia akan menunggu Dean didepan kamar.


Pikiran gilanya langsung memenuhi otaknya. Bagaimana jika Dean sering membawa wanita itu kedalam kamarnya? Bagaimana jika mereka memang tinggal di satu kamar hotel?


Jessy berjalan lunglai untuk sampai kedepan kamar Dean. Ia menatap nomor kamar yang terpasang di setiap pintu. Ia harap kamar Dean tidak salah. Ia akan menunggu Dean kembali.


Ia mengingat ucapan Dean jika ia mencintainya. Ia percaya pada suaminya yang tidak akan berbuat macam-macam. Namun jika media melihatnya, bagaimana dengan dirinya? Rasanya ia ingin menangis dan berteriak dengan kencang. Apa yang harus ia lakukan?

__ADS_1


Jessy ambruk dilantai dan mulai menangis. Ia tidak peduli jika ada yang melihatnya.


...***...


Dean menyimpan gelas terakhir di meja bar. Sebanyak apapun ia minum alkohol kadar rendah, ia tidak akan mabuk. Itulah kelebihannya. Namun berbeda cerita jika kadar alkohol yang ia minum terlalu tinggi. Ia bahkan bisa sampai tidak sadarkan diri.


Ia lelah. Ia akan kembali ke kamar. Di lorong kamarnya, ia melihat beberapa pengunjung sedang berbincang. Mereka berkerumun. Terdengar suara tangisan wanita didepan kamarnya. Tunggu, ia sepertinya tahu siapa yang sedang menangis. Ia berjalan dengan cepat.


Seorang wanita sedang duduk dilantai sambil menangis. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia membawa sebuah tas ransel berukuran sedang. Sesaat ia lupa siapa yang sedang menangis didepan kamarnya. Iapun berjongkok.


"Nona.. kalau boleh tahu, mengapa kau menangis didepan kamarku?" tanya Dean ramah.


Jessy mengangkat wajahnya. Ia melihat Dean begitu tampan dengan tuxedo nya. Ketika tadi ia tidak melihatnya dengan menyeluruh. Sekarang ia berada didepannya sambil bertanya dengan halus. Apakah pada setiap wanita ia melakukan hal yang sama?


"Jessy?" teriak Dean terkejut. Ia langsung memeluk Jessy dengan erat. "Jessy! Aku merindukanmu, sayang.."


Jessy melepaskan pelukan Dean dan berdiri. Ia menghapus airmata di pipinya. Ia menatap Dean tajam. Wajahnya bengkak karena menangis. Ia tahu itu. Tanpa melihat cermin pun ia tahu. "Jangan memanggilku sayang!" ucapnya kesal.


"Ayo kita masuk kedalam." ajaknya.


Jessy melepaskan tangan Dean dengan kencang. Ia menolak dipeluk oleh suaminya. "Jangan sentuh aku!" ucap Jessy kesal.


Dean melepaskan kedua tangannya. Ia bingung melihat Jessy marah. "Baiklah, kau boleh marah padaku walaupun aku tidak tahu letak kesalahanku."


Jessy masuk kedalam dengan cepat. Ia melihat ada ruang tamu didepan sebuah pintu besar. Jelas ini kamar VIP. Ia pernah melihatnya ketika berkerja di tempat laundry. Ia ingin melihat apakah ada sesuatu yang mencurigakan.


"Ada apa Jessy? Kau aneh sekali." ucap Dean.


Jessy membuka kamar itu dan melihatnya. Ia tidak melihat ada pakaian wanita disana.

__ADS_1


"Kau mencari apa?" tanya Dean bingung.


Jessy berbalik. Wajahnya yang masih bengkak membuat Dean tidak bisa untuk tidak tersenyum. "Mencari barang bukti.."


"Barang bukti apa, sayang?" tanya Dean.


"Wanita yang kau temui tadi, apakah kalian tinggal bersama?"


Dean memegang kepalanya sambil tersenyum. Ia menjadi tahu alasan Jessy menangis didepan kamarnya. Ia melihatnya ketika dirinya bertemu dengan Shane di restoran. Sepertinya, Jessy sedang cemburu. Ia duduk diatas meja sambil tertawa ringan. Penat dan stress akibat syuting hilang seketika ketika ia melihat istrinya yang sedang cemburu. Ia mengangkat kedua tangannya sambil menatap Jessy.


"Kemarilah..." ucapnya.


Jessy mundur. "Jangan kau harap aku akan dengan mudah merayuku."


"Aku tidak akan merayumu. Aku hanya ingin memberikan penjelasan padamu. Aku menyerah. Aku merindukanmu, Jessy. Kemarilah, aku akan menjelaskan siapa wanita yang kau lihat hari ini." bisik Dean.


Jessy kembali terisak. Ia berlari kedalam pelukan Dean.


"Dean, aku melihatmu memeluk wanita itu." Isak Jessy.


"Itu hanya pelukan sahabat. Tidak lebih. Akan aku jelaskan padamu nanti. Apakah kau lelah?Kenapa kau tidak memberitahuku kau datang secepat ini?" tanya Dean tanpa melepaskan pelukannya.


"Aku ingin memberimu surprise.." ucap Jessy sedih.


Dean melepaskan pelukannya. Ia menatap kembali wajah yang sangat ia rindukan. "Ya, ini menjadi kejutan paling indah untukku. Rasa rinduku begitu dalam. Awalnya aku pikir aku sedang bermimpi melihatmu sedang menangis didepan kamarku." ucap Dean sambil mengangkat kedua tangannya untuk menghapus airmata Jessy. "Apakah kau sakit hati melihatku bersama wanita lain?"


Jessy mengangguk tanpa mau melihatnya.


"Lebih baik kau mandi dan berganti pakaian. Kita bisa bicara setelah kau selesai mandi. Aku akan menunggumu disini selagi aku memesan makan malam. Kau pasti belum makan malam. Kau terlihat kurusan ketika terakhir kita berpisah."

__ADS_1


Jessy melepaskan diri dan berbalik. Namun Dean menarik tangannya dan mencium bibirnya dengan keras. "Aku senang sekali. Cepatlah bersiap-siap.." ucapnya. Ia masih bisa melihat tatapan shock Jessy padanya. Tidak ada pasangan yang memberikan penjelasan dengan sebuah ciuman. Itu hanya refleksi dirinya. Ia tidak tahan untuk mengatakan jika ia merindukan wanita itu disampingnya.


__ADS_2