Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Award


__ADS_3

Harris tertawa melihat hasil penayangan film terbarunya. Karena kepergian Jessy, orang-orang menaruh perhatian pada film yang dibuat oleh suaminya. Ia tidak menyangka akan hasilnya. Keuangannya mulai saat ini akan semakin naik dan perusahaannya akan semakin besar. Para kritikus film telah menyuarakan pendapatnya. Hasilnya positif. Ia senang. Sayang sekali setelah film ini selesai, Dean tidak pernah muncul keluar. Tapi ia tidak peduli. Selama Dean masih bisa menghasilkan film yang bagus, ia tidak peduli dengan masalah yang sedang dihadapi Dean.


Ia melihat karyawannya tengah sibuk dibalik ruang kacanya. Ia bisa menambah karyawan baru. Kantornya bisa dibuat dan dipisahkan antara kantor manajemen dengan kantor rumah produksi. Tidak akan lama lagi, artis-artis akan masuk kedalam manajemennya. Seorang Harris tidak akan diragukan lagi kredibilitasnya.


Berselang beberapa menit kemudian, ia melihat Dean masuk kedalam ruangannya. Ia datang sudah pasti untuk menghampirinya.


"Apa yang kau lakukan selama ini? Kau menghilang kemana?" tanya Harris menggodanya.


Dean menatap Harris tajam. "Kau ingat bagaimana kita membangun perusahaan ini?"


"Tentu saja aku tahu. Hasil keringatku.." jawab Harris bangga.


"Kau tidak malu mengatakan hal itu padaku?"


Harris bangun dari duduknya dan berdiri. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Kau memiliki andil tapi hanya beberapa persen saja."


Dean mengangguk. Ia sudah merasa kesal. "Apakah kau tahu film apa yang membuat agensi dan rumah produksi mu mulai naik?"


"Perusahaanku memproduksi film cukup banyak dan banyak artis dibawah naunganku."


Dean mengangkat alisnya. "Apakah kau yakin dengan itu?"


"Tentu saja." jawabnya percaya diri. "Aku lupa memberitahumu, aku sudah mencarikan manajer baru untukmu. Yang pasti lebih seksi dan lebih cantik dari Rossy. Kau pasti menyukainya. Lagipula, kau sudah terlalu lama tanpa pasangan. Aku khawatir kau akan gila."


"Aku anggap kau hanya bercanda mengatakan itu. Kau tidak perlu melakukannya. Aku tidak berniat mencari manajer baru. Kau tidak tanya alasanku datang kesini?"


Harris berbalik untuk menatap Dean. Ia pun lupa. "Aku tidak tahu."

__ADS_1


Dean mengeluarkan sebuah surat dari balik pakaiannya. "Aku tidak ingin terlibat lagi dengan perusahaan ini. Maksudku perusahaanmu."


"Apa maksudmu?"tanya Harris cemas. Ia mengambil kertas yang diberikan oleh Dean. Ia membukanya. "Kau tidak bisa melakukan ini. Kau masih terikat kontrak denganku. Jangan lupa jika nanti malam ada award yang menantimu. Kau masuk nominasi, Dean!"


Dean tersenyum sinis. "Apakah kini aku peduli dengan acara itu? Sejak Jessy tidak ada disampingku, aku sudah tidak peduli dengan itu. Kau bisa mengambilnya."


Harris mulai marah. "Jessy! Ia bukan wanita baik-baik! Ia hanya sebuah sampah!"


Dean menarik kerah kemeja Harris dan mendekat. Matanya mulai merah karena marah. "Kau yang membuat Jessy pergi! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!" teriak Dean sambil memberikan pukulan keras pada wajah Harris. Ketika melihat pria itu meringis kesakitan, Dean pergi meninggalkan Harris seorang diri. Karyawan yang melihatnya hanya bisa menunduk ketakutan.


Dean mulai melangkah keluar dari gedung itu. Ia mulai membawa mobilnya pulang ke rumah orangtuanya. Sepanjang perjalanan, ia melihat billboard dibeberapa gedung memperlihatkan iklan mengenai filmnya yang terbaru. Ia melihat sekilas dan kembali menatap ke jalan. Walaupun banyak orang yang menyukai filmnya, namun ia merasa filmnya telah gagal total.


Ketika sampai rumah, ia melihat kedua orangtuanya tengah berada diruang tamu bersama dengan Joan.


"Kau sudah kembali. Aku membawakan jas rancangan ku sendiri, Dean.." ucap Joan bersemangat.


Dean melihat jas yang tengah dipegang oleh Joan. "Untuk apa?"


"Untuk apa? Acara itu sudah tidak penting lagi sejak Jessy hilang." jawab Dean malas. Iapun duduk disamping ayahnya.


"Jessy akan melihatmu ketika kau menerima penghargaan. Aku tahu acara ini acara bergengsi. Kau bahkan beruntung bisa masuk nominasi secepat itu."


"Aku mengejar penghargaan itu karena Jessy yang menginginkannya. Tapi sekarang, untuk apa aku mengejarnya lagi? Itu tidak penting. Orang yang tidak menyukaiku akan mentertawakan ku, Dad.. Aku tidak mau. Aku tidak akan pergi."


"Aku akan menemanimu." ucap Anastasia.


"Sama denganku. Aku akan menemanimu. Aku ingin melihat kau berada diatas panggung ketika memenangkan salah satu kategori." ucap Lee.

__ADS_1


Dean menunduk. Ia sedikit terharu dengan support kedua orangtuanya. Semakin dipikirkan, ini adalah waktu yang tepat. Ia ingin bertemu dengan Jessy.


...***...


Perhelatan acara award itu dilakukan disalah satu hotel mewah. Mobil-mobil para aktris, aktor dan sutradara mulai bergantian memasuki red carpet. Dean kembali mengingat pertama kali mendatangi acara award bersama dengan Jessy. Saat itu ia membayar Jessy namun siapa sangka karena acara inilah, ia bisa menikahi Jessy.


Ketika pintu mulai terbuka, ia turun dari mobil. Ia didampingi oleh kedua orangtuanya. Beberapa orang menyambutnya. Ia dapat melewati sesi wawancara dengan beberapa media karena mereka tidak ingin acara mereka diganggu oleh gosip.


Anastasia sesekali menatap wajah Dean. Ia terlihat tenang. Ana memegang lengannya dengan kuat. Ia sangat menyayangi Dean layaknya anak sendiri. Ia duduk tepat disamping Dean. Banyak sekali aktor maupun aktris yang menyapa mereka bertiga. Suaminya yang seorang mantan sutradara terkenal banyak dikenali oleh orang-orang.


Kali ini mulai pembacaan nominasi untuk sutradara terbaik. Dean terdiam dan hanya menatap layar yang ada didepannya. Ia terus teringat Jessy. Seandainya Jessy ada disini. Ia akan dengan bangga mengatakan pada dunia bahwa Jessy lah wanita yang ada dibalik kesuksesannya. Namun sayang, semuanya hanya impian semata. Kenyataannya, Jessy tidak ada. Ia hilang.


DEAN JUSTIN LEE!


Terdengar namanya disebut. Ia membuka kedua matanya. Ia mendengar ibunya berteriak karena bahagia. Begitu pula dengan ayahnya yang bersorak. Namun baginya, ini adalah kesempatannya untuk berbicara. Iapun berdiri dan berjalan menuju panggung.


Ketika ia menerima piala itu, ia menatapnya sejenak dan mulai berbicara.


"Selamat malam.." ucapnya berat. Tidak ada wajah ceria karena kemenangan ini. Ia menatap pialanya kembali. "Penghargaan ini, aku dedikasikan untuk istriku tercinta. Karena bujukannya lah, aku dapat menyelesaikan film ini dengan baik."


Terdengar riuhan tepuk tangan para penonton. Ia kemudian memulai berbicara kembali. "Hari inipun menjadi hari paling istimewa. Aku ingin menyampaikan dua hal. Mulai detik ini aku berhenti total dari semua pekerjaanku. Aku akan berhenti menjadi sutradara. Aku akan kembali menjadi seorang Dean Justin Lee, seorang pria biasa dari New York. Aku berterimakasih pada semua orang yang telah membantuku. Aku bukanlah sutradara terbaik. Namun terimakasih kepada para senior yang telah banyak membantu."


Banyak yang terkejut dengan keputusan Dean termasuk ayah ibunya. Mereka tidak diberitahu sama sekali mengenai ini. Dean kemudian melanjutkan. "Terakhir, aku ingin menyampaikan satu hal." ucapnya dengan nada bergetar. "Jessy, dimana pun kau berada, aku ingin mengatakan jika aku mencintaimu. Kembalilah.. tolong pulanglah.." ucapnya sambil terisak. Iapun menunduk dan menarik nafas panjang. Kemudian ia berjalan turun dari panggung untuk menemui kedua orangtuanya. Biarkan hal memalukan ini terjadi padanya untuk terakhir kali. Ia sudah lelah mencari Jessy yang masih saja tidak dapat ditemukan. Ketika agen mengatakan tentang penemuan mayat bernama Jessy, ia langsung melacaknya dan bersyukur ia bukanlah Jessy nya.


Dean menatap ayahnya. "Maafkan aku, Dad.."


Lee mengangguk dan tersenyum tipis. Ketika Dean duduk, ia memeluk bahu Dean sambil menepuknya pelan.

__ADS_1


"Ini untuk Jessy.." ucap Dean sambil mengangkat pialanya.


Anastasia menghapus airmata yang muncul disudut matanya. Ia menatap Dean. Seorang Dean bisa berubah hanya karena Jessy. Ia berani berhenti total karena Jessy. Kembalilah Jessy, seperti yang Dean katakan tadi. Tolong kembalilah..


__ADS_2