
"Joan.. butik kita di Yorkville kedatangan seorang pria yang mengatakan jika ia suamimu. Apakah kau sudah menikah? Mengapa aku tidak diberitahu?" seru Gerard ketika ia menyelonong masuk kedalam ruangan Joan.
Joan melepaskan tangannya dari manekin yang sedang ia pakaikan rancangan terbarunya. Ia terkejut. Tentu saja, tidak ada yang mengetahui tentang status pernikahannya termasuk Gerard. Sahabatnya yang merintis butik ini sejak beberapa bulan yang lalu.
"Hey Jo.. aku bertanya padamu? Mengapa kau tidak mengatakan jika kau sudah menikah dengan diam-diam selama ini? Apakah aku harus mendengarnya dari para karyawan kita? Dan tidak mendengar dari mulutmu sendiri! Aku kecewa padamu." ucapnya.
Joan berjalan ke meja kerjanya. Ia mulai merapikan ponsel dan kertas kedalam tasnya. Ia melihat Gerard yang menampilkan wajah kecewanya. Ia tersenyum kemudian menghampirinya. "Ayo, aku akan menjelaskannya padamu dijalan. Bukankah ini hari besar kita?" tanya Joan sambil menatap jam tangannya.
"Kau harus menjelaskannya padaku secara rinci!"
"Tentu saja. Kau sahabatku bukan?" tanya Joan.
Perjalanan dari Brooklyn tidak terlalu lama menuju Manhattan Center tempat dimana mereka akan mengadakan pagelaran busana malam ini. Joan membawa mobilnya sendiri dengan Gerard. Semua tim telah siap di Manhattan. Ini adalah pagelaran ketiganya tahun ini. Joan merasa cemas dan sedikit takut. Pagi ini namanya disebut oleh salah satu media karena kejadian semalam.
"Aku masih menunggu penjelasan darimu." ucap Gerard.
"Baiklah. Aku akan mengatakannya. Aku tidak tahu siapa yang memberitahu karyawan kita jika aku telah menikah. Tapi, untuk kau ketahui. Pernikahanku tidak seperti pernikahan lainnya. Aku dan suamiku tidak tinggal satu rumah. Bahkan kami tidak saling menghubungi satu sama lain kecuali dua hari yang lalu. Ia tinggal di manapun aku tidak tahu. Apa yang ia lakukan pun aku tidak tahu. Jelas?"
Gerard mengerutkan keningnya. Ia terlihat kebingungan. Kedua matanya melotot tajam dan kepalanya menggeleng-geleng. "Aku tidak mengerti. Pernikahan jenis apa itu?"
__ADS_1
Joan tertawa melihat kebingungan Gerard. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah cincin pernikahan yang ia lepas ketika ia sedang bekerja. "Lihatlah.. Ini cincin pernikahan kami." ucapnya sambil mengenakan cincin itu di jari manisnya.
Gerard menarik alisnya keatas. "Kau bangga dengan pernikahanmu yang aneh itu?"
"Setidaknya kini aku tidak dicap sebagai lajang terlama." jawab Joan sambil melirik Gerard. Ia tertawa pendek. "Maafkan aku, aku bukan menggoda mu. Tidak ada salahnya menjadi seorang lajang."
"Lajang itu pilihan. Aku yang menginginkannya." jawab Gerard.
"Baiklah. Kau sudah tahu mengenai statusku. Apa lagi yang akan kau tanyakan?"
"Kapan kau menikah? Apakah kau sudah melakukan hubungan yang menurutmu hanya akan kau berikan pada suamimu kelak itu?" tanya Gerard tanpa malu
"Tentu saja itu belum terjadi. Ketika dua perasaan bersatu dengan rasa cinta, disitulah aku akan menyerahkan.." ucap Joan sambil tertawa. Ia menutup wajahnya karena malu. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Apakah aku harus menggoda suamiku agar ia mencintaiku?"
"Ia seorang dokter bedah. Aku tidak tahu pasti mengenai itu. Tapi ialah yang melakukan operasi wajah adikku ketika ia mengalami kecelakaan. Oh.. bukan hanya wajahnya, tapi sebagian badannya." jelas Joan tenang.
Kedua mata Gerard berbinar. "Adakah diskon untukku? Kau lihat, wajahku ini sudah mulai mengendur. Bagaimana klien akan terpesona padaku jika wajahku saja sudah seperti ini."
"Kau ingin aku bertanya padanya?" tanya Joan
__ADS_1
Gerard mengangguk dengan cepat.
"Tunggu ia menghubungiku. Dan aku tidak tahu kapan itu terjadi."jawabnya sambil merapikan pakaiannya. "Ayo kita turun. Jika kita terus berbicara mengenai kehidupan pribadi, aku tidak yakin kapan akan selesai."
Gerard melihat keluar. Mereka sudah sampai didepan Manhattan Center. Jalanan basah karena hujan tadi siang masih terlihat. Joan berjalan dengan anggun. Sebuah blazer berwarna ungu muda dan celana panjang skinny berwarna putih membuat tubuh tingginya menjadi perhatian. Camisol berwarna ungu muda pun sedikit mencolok. Mengapa ia mengenakan pakaian berwarna ungu? Karena ia ingin menarik semua orang dalam perasaan romantis dan daya tarik feminis. Gaun yang ia kenalkan nantipun akan memiliki warna ungu yang sangat mencolok.
Sebuah pagar pembatas disimpan diluar. Hal itu biasanya dilakukan ketika ada sebuah konser. Ia melihat sebuah poster yang tersisa. Sebuah konser amal semalam. Ia mulai mengerti mengapa acaranya digeser oleh pihak gedung.
Semua orang mulai sibuk sejak acara itu dimulai. Beberapa model yang ia sewa telah melakukan pekerjaannya dengan baik. Joan melihat satu demi satu gaunnya diperkenalkan. Yang membuatnya terharu adalah, pengunjungnya banyak dan mereka terlihat antusias. Gerard beberapa kali mengatakan jika banyak pengunjung yang mengambil kartu nama miliknya. Sebuah kerja keras terbayarkan dengan hasil yang memuaskan. Ia pikir ketika kepindahannya ke New York akan mengurangi popularitasnya, namun ternyata ia memulai kembali dari bawah dan kini ia sudah sejajar dengan para perancang busana New York. Beberapa kali ia diwawancarai oleh majalah busana New York. Tidak ada kehidupan pribadi. Semuanya mengenai rancangannya. Ia senang berbagi pengalaman pada orang-orang mengenai pencapaiannya.
Acara itu sukses besar. Anehnya, timnya sudah mulai menerima pesanan. Ia harus merayakannya. Ia duduk diantara bangku penonton. Semuanya sudah selesai. Dan ia kelelahan. Ia menatap jam tangannya. Pukul 10 malam. Iapun tidak melihat Gerard. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Panggilan dari Gerard.
"Apa yang kau lakukan? Dimana kau sekarang?Dimana kunci mobilku?" tanya Joan
"Ada sesuatu yang serius. Aku meminjam mobilmu hingga esok. Aku akan mengembalikannya padamu esok di kantor. Maafkan aku, Jo.." jawab Gerard.
"Apa yang terjadi?" tanya Joan bingung.
"Esok akan aku ceritakan. Sampai jumpa besok." ucap Gerard sambil menutup ponselnya.
__ADS_1
Joan berdiri. Beruntung masih banyak taxi yang bisa mengantarkannya ke Brooklyn. Iapun berjalan keluar gedung. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat pria yang ada didepannya. Seorang pria yang terlihat memakai jaket tebal tengah memasukkan kedua tangannya disaku celana karena kedinginan. Ia mengangkat kakinya satu persatu untuk mengurangi rasa dinginnya. Ketika Joan sudah berada didepannya, ia terlihat dingin sebelumnya. Namun ketika mata mereka bertemu, ia tersenyum pada Joan.
"Aku menunggumu." ucap Alv sambil tersenyum.