
Isabel dan Jonas berlari memasuki rumah sakit. Wajah keduanya pucat pasi. Mereka berlari menuju ruang ICU. Mereka melihat seorang wanita yang tengah duduk dengan wajah cemas. Ia masih muda dan terlihat cantik. Rambutnya hitam bercahaya. Ia langsung berdiri ketika melihat keduanya berlari menghampirinya.
"Maafkan, aku.. Aku tidak sengaja menabrak putri kalian!" ucap wanita itu sambil menangis.
Jonas memeluk tubuh Isabel. "Apa yang terjadi. Dan maaf, kau siapa?"
"Aku baru pulang bekerja ketika semuanya terjadi. Aku kelelahan sehingga tidak fokus kedepan. Aku yang menabrak putri kalian. Aku minta maaf. Ketika berada di mobil tadi, cuaca sedang sangat buruk. Hujan sangat besar sekali. Aku tidak melihat putri kalian berjalan ditengah jalan. Aku menabrak putri kalian disana?" ucap wanita itu gugup.
"Dimana kau menabrak Brittany?" tanya Isabel marah.
"Aku sedang berada di Santorini."
"Lalu kenapa kau ikut ke Athena?" tanya Dean bingung
"Aku takut terjadi sesuatu dengan putri kalian. Ketika berada di Santorini, tidak ada dokter yang bisa menangani Brittany. Aku bertanggung jawab dengan membawanya ke Athena untuk mendapatkan perawatan. Aku takut terjadi sesuatu." ucapnya.
"Aku harus bertemu dengan dokter." ucap Jonas cemas.
Terlihat seorang perawat keluar dari ruang ICU. Tiba-tiba terlihat tubuh Jessy terbaring tanpa sadar dibawa keluar. Isabel berlari menghampirinya. Ia terkejut. Tubuhnya lemas dan hampir terjatuh jika tidak ada Jonas disampingnya.
"Pasien kekurangan banyak darah. Kami tidak bisa menunggu lagi." ucap salah satu perawat.
"Saya orangtuanya. Kalian bisa ambil darah saya." ucap Jonas cepat. Jika mereka mereka memang satu darah, tidak akan ada masalah.
"Kalian orangtua pasien? Bisa kita bicara sebentar?" tanya seorang dokter.
__ADS_1
Jonas dan Isabel mengikuti langkah dokter. Mereka berbicara disebuah sudut lorong.
"Maafkan jika pembicaraan ini tidak pantas dilakukan di lorong. Ada yang harus saya sampaikan."
"Apa yang terjadi dengan Brittany."
Dokter itu membuka kacamatanya. "Dengan terpaksa harus saya sampaikan jika pasien sudah kehilangan janin yang sedang ia kandung. Beberapa upaya sudah kami lakukan, namun pendarahan pasien sangat tidak terduga. Kami harus cepat melakukan tindakan. Dan ada sedikit luka di wajahnya."
Isabel mendengarnya langsung menangis tersedu-sedu.
Jonas menghapus airmata yang muncul disudut matanya.
"Wajahnya? Apa yang terjadi?"
Jonas menutup matanya. Ia tidak menyangka pertemuan pertama dengan putrinya harus seperti ini. "Apakah bisa disembuhkan?"
Dokter itu mengangguk. "Pasien bisa melakukan operasi plastik. Untuk menyembuhkan setengah bagian dari wajahnya harus dilakukan operasi selama berkala. Namun, ada hal yang harus saya sampaikan. Ini penting karena menyangkut masa depan putri kalian."
Isabel terdiam. Ia menatap suaminya. Ia mulai ketakutan. "Ada apa dok?"
Dengan berat dokter itu berkata. "Karena benturan keras di bagian perut, bukan saja harus kehilangan janin yang sedang ia kandung, namun putri kalian harus menerima kenyataan jika ia akan kesulitan memiliki seorang anak karena benturan ini. Rahim pasien terluka dengan keras. Ada robekan dibeberapa dinding rahim. Kami sudah berusaha mengobati dengan semua pengetahuan yang kami miliki. Namun kalian jangan khawatir. Banyak usaha yang bisa dilakukan untuk mendapatkan keturunan. Dokter-dokter di dunia sudah hebat-hebat."
Jonas merasa wajahnya dipukul dengan sangat keras. Ia mengepalkan tangannya. Jika saja mereka bertemu dengan anaknya dari awal, kejadian ini tidak akan terjadi.
"Aku tidak akan memaafkan Dean sampai kapanpun!" seru Isabel sambil menangis. "Aku tidak akan membiarkan ia mendekati Brittany seumur hidupnya! Dean tidak akan pernah termaafkan!" teriaknya marah.
__ADS_1
Jonas memeluk Isabel. "Tenang sayang, Yang terpenting Brittany selamat."
"Tapi mengapa Brittany berjalan sendiri ditengah badai? Ia tidak mungkin tersesat! Aku yakin ini ada hubungannya dengan Dean. Aku tidak akan memaafkannya! Tidak akan!"
...***...
Selesai operasi, Jessy dibawa oleh perawat ke ruang pemulihan pasca operasi. Operasi yang sudah dilakukan selama beberapa jam itu tetap membuat Jessy tidak sadarkan diri.
Isabel memegang tangan Jessy sambil menangis. Ia sudah yakin jika Jessy yang tengah berbaring diatas tempat tidur itu adalah anaknya. Ketika suaminya melakukan tes darah, darah mereka sama. Dan satu hal lagi, Jessy memakai kalung berinisial **. Ada kebahagiaan dibalik kesedihan.
"Mama bahagia sekaligus sedih, sayang. Tolong sadarlah. Katakan apa yang terjadi.." bisik Isabel.
Pintu terbuka pelan. Jonas masuk membawa dokumen ditangannya. "Aku sudah mengurus semuanya. Tidak ada Jessy Julian di rumah sakit ini. Hanya ada Brittany Jonas." ucapnya dingin. Ia melakukannya agar Dean tidak bisa menemukannya. Dean yang telah menyakiti hati putri yang selama ini ia cari. Dean yang menyebabkan putrinya tidak bisa memiliki anak. Ia tidak perlu mencari tahu alasan putrinya pergi seorang diri di tengah badai. Ia ingat ucapan wanita muda yang menabrak putrinya. Brittany berjalan sendiri tak jauh dari lokasi syuting tempat Dean berada. Itu berarti, Dean ada dibalik semua ini.
"Kita bisa langsung membawanya pulang setelah wajahnya selesai dioperasi." ucap Isabel sedih.
Jonas memegang bahu Isabel. "Ya, kita harus sabar. Mendengar ucapan dokter tadi, aku berfikir, apakah Brittany akan siap dengan wajah barunya? Kemungkinan ada perubahan di beberapa wajahnya. Aku sudah melihatnya. Walaupun tidak banyak, namun ada yang berubah. Tulang rahang pipi Brittany remuk. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kerasnya benturan itu."
Isabel berdiri dan mengambil ponselnya. Ia menghubungi seseorang.
"Jose, aku membutuhkan bantuan mu. Pulanglah ke New York. Jessy sudah kami pastikan adalah Brittany. Terimakasih karena kau sudah banyak membantu kami. Ada satu hal lagi. Kami meminta bantuan mu."
"Aku lega mendengarnya. Dengan senang hati, aku akan membantu kalian."
"Aku ingin kau tinggal dengan kami."
__ADS_1