Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Blackout


__ADS_3

Nada sambung terus terhubung tapi tidak ada jawaban. Tidak ada cahaya. Hanya kegelapan yang mengelilinginya. Ia terdiam disudut kamarnya. Ia terus memanggil kakaknya tapi tidak ada balasan. Tubuhnya bergetar. Apa yang terjadi dengannya? Mengapa ia tersiksa seperti ini? Kemana orang-orang yang dulu mencintainya? Kemana Alv? Dimana semua orang?


Ketika terbangun malam ini, Lily hanya menemui kegelapan. Ia tidak bisa melihat apapun karena semua lampu padam. Terdengar suara-suara aneh dari luar kamar. Suara orang-orang seperti menertawakannya. Lily mencoba mendengarnya kembali. Sepertinya suara Jessy. Hanya tangannya yang menjadi alat penerangan untuknya. Ia meraba setiap sudut. Karena tidak terlihat, kakinya tersandung oleh benda keras didepannya. Ia terjatuh ke lantai dan tangan kanannya mengenai sudut kursi. Ia meringis kesakitan.


"ALV!" panggiilnya. Tidak ada satu orangpun disana. Iapun mencoba bangkit dan berjalan menuju pintu sambil memegang tangannya. Namun ia tetap meringis. Perlahan ia bisa menemukan pintu kamar. Ia membuka pintu pelan namun kegelapan masih menghantuinya. Sudah tidak ada lagi suara. Kenapa semuanya gelap? Tiba-tiba ia mendengar lagi suara orang-orang yang menertawakannya. Kali ini ada suara seorang pria. Itu suara Jose. Ia menutup telinganya. "DIAM!" teriaknya.


Ucapan Jose dan Jessy sangat berpengaruh padanya. Kedua orang itu yang membuatnya gila. Tiba-tiba suara itu semakin kencang. Dalam keadaan gelap, ia kembali ke kamar dan duduk disudut kamar. Ia mnegeluarkan ponselnya yang berada didalam saku celananya. Ia mulai memanggil Alv. Nada tersambung tapi tidak ada jawaban.


Ia kembali mendengar  suara tawa dari luar kamarnya.


"TIDAK!" teriaknya. Mengapa rencananya begitu mudah dirusak?Mengapa ia tidak bisa bahagia dengan Alv saja? Mengapa banyak orang yang mengganggunya? Dan suara tawa itu, apakah hanya halusinasinya saja? Kenapa suara itu semakin mendekat?


Lily berdiri. Ia harus melawan. Ia tidak bisa terus diam dalam kegelapan. Terdengar suara ketukan pintu. Menutupi rasa takutnya, ia berlari menuju pintu. Itu pasti Alv. Ia melihat dari lubang kecil. Kedua matanya terbelalak. Polisi? Apakah polisi datang untuk menangkapnya? Apakah mereka melaporkannya ke polisi? Apakah ini akhir dari hidupnya? Tidak, cara satu-satunya adalah dengan melarikan diri. 


Ketika ia membuka pintu, ia tidak memberikan waktu untuk pria didepannya bicara. Ia berlari mengikuti nalurinya. Ia pergi untuk melarikan diri dari pria yang ia pikir polisi tersebut.


"Angkat teleponnya!" bisik Joan.


"Aku tidak mau. Ponselmu pun berbunyi. Kenapa tidak kau angkat teleponnya?" jawab Alv semakin mempererat pelukannya. "Aku lebih senang mencium wangi tubuhmu daripada harus menerima panggilan tidak penting."


"Aku tidak menerima panggilan sejak berita itu. Aku takut. Lalu kau, apa alasanmu?" tanya Joan kembali.


Alv mengangkat kepalanya. "Aku juga takut." godanya.


Joan memukul ringan bahu suaminya. "Alv!"


Alv menghela nafas. "Kau juga tahu jika aku berada disini untuk menjagamu. Aku tidak menerima panggilan dari siapapun."


Joan melirik ponsel Alv. "Tapi itu Dean.."

__ADS_1


"Apakah aku harus mengangkatnya?" tanya Alv kembali. Joan hanya mengangguk.


Alv bangun, kemudian menurunkan kakinya di lantai. Ia membelakangi Joan.


"Ada apa?"


"Akhirnya." ucap Dean.


Alv menoleh ke belakang, kemudian ia merubah speaker ponselnya agar Joan bisa mendengarkan percakapan mereka.


"Ada apa kau memanggilku?"


"Sulit sekali menghubungi mu. Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan? Apakah kau sudah menemukan Joan?"tanya Dean.


"Aku sedang bersama kakakmu. Kau tahu, ia tidak mau aku tinggalkan. Ia sangat manja sekali." goda Alv. Sebuah pukulan ringan di bahu Alv ketika mengatakan hal itu. Wajah Joan lucu sekali sehingga Alv tidak bisa untuk tidak tersenyum.


"Apakah Joan baik-baik saja?" tanya Dean cemas.


"Jo, aku meminta maaf karena kasar padamu." ucap Dean.


Joan mengambil ponsel Alv. "Aku mengerti. Drama mu lebih penting daripada keselamatan kakakmu sendiri." ucapnya serius.


"Aku terbawa perasaan. Aku tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Tapi aku bisa meyakinkan satu hal padamu. Semua masalah ini telah berakhir. Kau bisa pulang. Kita bisa merayakan kesuksesan drama ini setelah kau pulang." jelas Dean.


"Apa maksudmu?" tanya Joan sambil menatap Alv.


Alv kembali merebut ponselnya dari tangan Joan. "Apa maksudmu semua telah berakhir?" tanya Alv. Ia mulai memikirkan Lily. Jantungnya berdebar.


"Kami tidak menyangka ternyata berita kemarin hanya sebuah pengalihan tidak jelas. Produksi drama ku dan butik milikmu tidak berpengaruh banyak. Aku sudah mencari info tentang kejadian di butik Joan. Mereka mengembalikan pakaian karena mereka merasa kecewa.Tapi itu hanya segelintir orang saja. Kenyataannya aku harus membuat perjanjian ulang dengan rumah mode milik Joan karena ia harus membuat pakaian di beberapa drama yang akan aku buat nanti. Tidak menutup kemungkinan untuk film baruku yang akan aku mulai tahun depan." jelas Dean.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Lily?" tanya Alv.


"Aku tidak punya urusan dengan wanita itu." ucapnya.


Alv terdiam. Memang Lily sudah melakukan hal buruk pada istrinya. Tapi, selama lebih dari 20 tahun mereka hidup berdampingan membuat Alv menyayanginya lebih. Ia marah saat ini pada Lily, tapi bagaimanapun ia masih menyayangi adiknya itu. Ia akan memberikan pelajaran pada Lily dengan caranya sendiri.


"Alv.. aku senang sekali." ucap Joan sambil menghambur ke pelukannya.


Alv tidak sadar jika ponselnya sudah terlepas dan Joan tengah memeluknya. Ia membalas pelukannya dan tersenyum. "Aku pun senang, sayang. Kau bisa kembali pulang tanpa perlu khawatir apapun."


Alv merasakan jari-jari Joan sedang menyentuh punggungnya dengan halus. Alv mengerutkan keningnya. Ia melepaskan pelukan Joan. "Kau sedang menggodaku bukan?"


"Aku tidak menggodamu. "Elak Joan dengan tatapan nakal. Kedua pipinya memerah.


"Jika kau tidak menggodaku, tidak mungkin kedua tanganmu memutuskan untuk menurunkan selimut itu." seru Alv sambil mendorong tubuh Joan ke belakang. "Sebaiknya kau sering seperti ini." godanya sambil  menurunkan wajahnya pada wajah Joan. Tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Ia menutup kedua matanya. "Harus aku angkat?"


Joan tertawa. "Ya, aku takut itu penting."


Alv menghela nafas. Ia bangun kembali. "Halo.." ucapnya.


Joan menatap wajah Alv. Tidak ada wajah ceria seperti sebelumnya. Hanya ada wajah pucat. "Ada apa Alv?"


Alv masih memegang ponselnya dan mendengarkan dengan serius.


"Alv, ada apa? Jangan membuatku takut!" seru Joan panik.


Alv melepaskan ponselnya dan menatap Joan serius. "Kita harus kembali."


"Ada apa?"

__ADS_1


"Lily kritis. Aku harus berada disampingnya." ucap Alv sambil meneteskan airmata.


__ADS_2