
Perjalanan pulang menuju NewYork membuat Dean begitu bersemangat. Setelah dua minggu ia rasa aman, ia kembali pulang. Tidak ada gosip yang muncul setelah malam itu. Tidak ada pertanyaan dari Jessy mengenai malam itu. Ia pikir pantas untuk pulang dan memberikan kejutan pada Jessy. Syuting tengah rehat satu minggu sebelum mereka pindah lokasi ke Santorini. Beruntungnya semua tim bisa bekerja sama dengan baik.
Ia menatap keluar jendela pesawat. Pesawat yang ia tumpangi akan landing. Tidak ada yang tahu tentang kepulangannya kecuali Harris. Iapun sudah lama tidak bertemu dengan Joan. Ia ingin bertemu dan sekadar bertukar pikiran tentang keadaan Jessy setelah menikah dengannya. Banyak sekali yang ingin ia sampaikan.
Terdengar suara roda pesawat telah diturunkan. Dean kembali melihat keluar jendela. Cuaca sangat mendung dan sudah terlihat gerimis. Kemungkinan beberapa waktu kedepan akan turun hujan. Ia harus bergegas. Ketika pesawat telah berhenti, beberapa pramugari telah bersiap. Penumpang pun telah bersiap untuk turun. Dean berdiri. Ia tidak membawa banyak pakaian karena ia hanya akan berada di New York selama lima hari. Setidaknya setelah rasa rindunya tersampaikan.
Ia berjalan melewati beberapa petugas bandara. Ia bahkan menabraknya karena ia terburu-buru. Ia mendengar beberapa kecaman. Ia tidak peduli. Ia berlari menuju pintu keluar bandara. Tanpa menunggu lama, ia menemukan taxi yang baru saja mengantarkan penumpang.
Seandainya ia mengikuti ucapan Joan untuk membawa supir ayahnya ke coffeeshop terdekat, ia tidak akan kebingungan seperti sekarang. Hujan mulai membesar. Sedangkan ia tidak membawa payung maupun ponsel. Berdasarkan pengalamannya saja, jika ia nekat untuk menembus hujan, ia akan terkena flu. Ia berdiri didepan coffeeshop sambil menunggu ada taxi yang melewatinya. Menyenangkan tidak dikelilingi paparazzi malam ini. Apakah karena hujan atau tidak ada berita lagi tentang mereka? entahlah. Tapi ia sangat menikmati kebebasan ini.
Ketika ia tengah berdiri didepan coffeeshop, beberapa mobil melintas. Rata-rata mobil pribadi. Ini murni kesalahannya. Entah mengapa ia ingin meminum kopi di coffeeshop yang dekat dengan rumahnya. Ia jarang sekali minum kopi, namun sejak siang ia bertekad untuk memuaskan keinginannya membeli kopi di kedai ini. Beberapa kali ia merasa selalu menginginkan sesuatu untuk dimakan yang sulit ia dapatkan. Ia pun terkadang berfikir, ia bukan orang yang selalu menginginkan sesuatu dengan cepat.
"Halo, Jessy.." panggil seseorang.
Jessy menoleh ke sampingnya. Tanpa diduga ia melihat Jose tengah memegang sebuah payung. Mengapa setiap ia kesulitan, pria itu ada disekitarnya?
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Jessy bingung.
"Aku sedang lewat. Kau kesulitan pulang?"tanya pria itu.
"Ya."
"Biarkan aku yang mengantarmu. Kau tidak mungkin akan diam sepanjang hujan ini berlangsung bukan? Lagipula apartemenku ada di depanmu."
Jessy ragu. Ia melihat ke sekelilingnya. Ia melihat sebuah apartemen yang hanya memiliki sepuluh lantai didepannya.
"Jika kau takut ada paparazzi yang melihat, kau jangan takut. Tidak ada paparazzi ketika hujan mulai membesar seperti sekarang. Ayolah, jangan takut. Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Atau, kau ingin aku temani disini sampai hujan reda?" Tanya Jose
__ADS_1
Jessy berfikir sejenak. "Aku akan diam disini hingga hujan reda."
Jose melihat kedalam. Sepi. "Aku akan menemanimu disini. Tentu saja hingga hujan reda." ucapnya.
Jessy kembali masuk kedalam dan duduk didepan jendela. Pria ini bukan lagi seorang paparazzi. Jadi ia tidak takut. Lagipula ia salah satu kerabat Isabela. Tidak mungkin ia berbuat macam-macam padanya.
"Apa yang kau lakukan setelah mengundurkan diri menjadi seorang paparazzi?" tanya Jessy ketika pria itu selesai memesan kopi untuknya.
"Aku belajar dari Jonas dengan menjadi sebuah fotographer freelance sebuah tabloid."
Jessy menyimpan kedua tangannya diatas meja. "Aku merindukan mereka. Mereka sangat baik. Ketika aku datang ke pesta perpisahan mereka, mereka memperlakukanku seperti anaknya. Apakah mereka tidak memiliki anak?" tanyanya memastikan.
Jose mengangguk. "Mereka kehilangan bayi mereka ketika tengah berlibur di sebuah negara. Aku lupa negara mana yang mereka maksud."
"Kehilangan bayi?" tanya Jessy terkejut
Jessy terdiam. Ia mulai melamun. Pikirannya mulai melayang.
"Hey.. apa yang kau pikirkan? Jika kau merindukan mereka, hubungi mereka saja."
Jessy mengangguk. Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat foto-foto terakhir mereka ketika berada di pesta itu.
"Bisakah kita berteman?" tanya Jose tiba-tiba
Jessy mengangkat wajahnya. "Berteman?"
"Ya, berteman. Kau harus memiliki teman, Jessy. Kau tidak bisa melakukan semuanya sendiri. Jika suamimu tidak ada dan orang-orang di sampingmu tidak ada, kau membutuhkan seseorang untuk menemanimu. Aku siap dengan itu."
__ADS_1
"Kenapa kau ingin berteman denganku?"
Ya, kenapa ia ingin berteman dengan Jessy? Ini diluar kehendaknya. Ia mencintai wanita didepannya. Ia ingin merebutnya dari sutradara itu. Namun melihat kepolosannya, ia merasa kasihan. Ia terlihat kesepian. Apakah dengan melihatnya bahagia sudah cukup untuknya?
"Aku mencintai Dean. Begitu pula dengan Dean. Aku tidak mau membuatnya marah dengan berteman denganmu." ucap Jessy.
"Jika Dean meninggalkanmu, apakah kau akan membuka hatimu untuk pria lain?"
Jessy terdiam sejenak. Kemudian ia menggelengkan kepalanya. "Dalam hidupku, aku hanya mencintai seseorang satu kali. Dan menikah hanya satu kali."
Jose terkejut.
...***...
Taxi yang membawa Dean pulang melewati jalanan basah. Petir dan suara hujan saling melengkapi. Ini jarang sekali terjadi di New York. Ia melihat keluar jendela. Hanya ada beberapa pejalan kaki yang berjalan sambil menggunakan payung. Ketika ia melewati beberapa cafe yang tidak jauh dari rumahnya, matanya terpaku.
"Tolong hentikan dulu mobilnya." seru Dean.
Mobil terhenti. Ia pun membuka kaca jendela untuk memastikan siapa orang yang ada disebuah coffeeshop itu. Itu memang Jessy, tapi dengan siapa ia berbincang. Sepertinya ia kurang jelas melihat pria yang ada didepannya.
"Aku meminjam payung mu sebentar." ucap Dean pada supir taxi itu. Iapun keluar dan menyebrang untuk melihat lebih dekat.
Sesaat Dean ragu dan tidak percaya atas apa yang dilihatnya malam ini. Ia dan Jessy hanya berjarak beberapa meter saja, namun kehadirannya tidak dirasakan oleh Jessy. Ia melihat pria yang tengah berbincang dengan istrinya. Mereka saling tertawa. Sesekali Jessy terlihat menutup wajahnya karena malu.
Dean mengepalkan jari-jarinya kuat. Untuk apa ia pulang jika disuguhi pemandangan seperti ini? Apakah ini yang dilakukan Jessy ketika ia tidak ada disampingnya? Berulang kali ia menjelaskan tentang hubungannya dengan Rossy, namun nyatanya istrinya itu diam-diam melakukan hal yang sama. Lalu untuk apa ia memberikan penjelasan. Ia kecewa dan berbalik. Ia berjalan kembali menuju taxi.
"Putarkan kembali mobilnya." ucap Dean dingin.
__ADS_1