
Ruangan Joan menjadi salah satu ruangan paling sibuk di dunia. Bagaimana tidak, sejak pagi hingga siang ini, ia dan beberapa asistennya harus mendatangi tempat syuting Dean untuk memberikan pakaiannya. Dean terpaksa mempercepat pengerjaan syuting mereka karena sudah ada jadwal acara yang kosong untuk minggu depan. Ia dan timnya terpaksa langsung mengerjakan syuting untuk episode pertama minggu depan. Berhubung kontrak antara rumah mode Joan dengan pihak produksi Dean sudah ditandatangani, mau tidak mau ia harus melewati setiap bagian dari produksi film ini.
"Apa ini yang kau mau?" tanya Gerard yang datang menghampirinya sambil membawakan sebuah gaun pesta berwarna merah menyala itu ditangannya.
Joan menyipitkan matanya. "Bukan itu. Model gaun itu terlalu terbuka. Kita bukan mengumbar keseksian, isi cerita tetap saja harus dijelaskan."
Gerard duduk didepannya. "Aku membantumu menyiapkan semua kebutuhan syuting. Sekarang aku lelah. Sudah tiga kali aku memperlihatkan gaun elegan di tanganku. Tapi tidak ada yang cocok di matamu."
Joan memukul meja didepannya. "Kemari, lihatlah. Aku baru membuatnya dua puluh menit yang lalu. Bagaimana menurutmu?"
Gerard menghampirinya. Ia melihat gambar Joan tidak percaya. "Kau melakukannya secepat ini?"
Joan mengangguk sambil merapikan sisa-sisa gambar. Ia melihatnya kembali. Gaun hitam yang ia rancang diharapkan bisa cocok dengan temanya. "Bagaimana menurutmu?"
"Ini bagus sekali. Tapi aku seperti pernah melihat gaun dengan model seperti ini. Tidak seksi namun terlihat buas. Kantong kecil ini kau gunakan untuk apa?"
"Menyimpan senjata.." jawab Joan tenang.
"Ya, aku puas sekali. Ini bagus. Aku akan memberikannya langsung pada penjahit untuk segera membuatkan pakaiannya." ucap Gerard sambil berjalan keluar.
Joan melihat jam tangannya. Ia harus datang ke lokasi syuting untuk memberikan beberapa pakaian dari butiknya. Rumah mode nya tidak pernah sekalipun menjadi salah satu sponsor sebuah film televisi. Ternyata ia harus sibuk sekali. Ia melihat pakaian yang sudah siap disalah satu sofanya. Iapun mengambilnya dan berjalan keluar. Masih ada sisa dua jam untuk memberikannya pada Dean.
Ketika berada diatas tangga untuk turun kebawah, ia mendengar suara gaduh dari arah butiknya. Ia turun tanpa menyimpan pakaian-pakaian yang sedang ia bawa itu. Ketika hampir tiba dilantai bawah, ia terkejut ketika melihat siapa yang sedang berbuat onar dibawah.
Lily Aysun datang sambil berteriak untuk mencarinya. Ia bahkan mengacak-acak salah satu rak yang berisi pakaian sample. Joan dapat melihat beberapa pengunjung keluar dari dalam butiknya.
Joan menyimpan pakaian-pakaian itu. Ia menghampiri wanita muda itu. "Apa yang sedang kau lakukan disini, Lily?"
Lily membalikkan badannya. Ia menatap Joan dengan tatapan merendah.
"Asal kalian tahu, wanita ini telah menggoda kakakku! Dia j****g yang tidak beradab!" teriak Lily.
Joan melihat tatapan pengunjung dan para pegawainya. Ia menghampiri Lily dan menarik tangannya untuk membawanya bicara di tempat lain. "Ikut aku.."
"Tidak semudah itu! Kau malu karena aku membuka semua kebusukan mu?" teriak Lily kembali.
Joan mengangkat kedua tangannya. "Tenang Lily, ini buka dirumah. Tempat ini tidak cocok untuk kau berteriak-teriak. Kau bisa memarahiku tapi tidak disini.." ucap Joan. Ia kembali memegang tangan Lily dan menariknya. Namun ternyata kemarahan bisa membuat kekuatan wanita muda itu berbalik menjadi kuat. Ia melepaskan diri dan menarik rambut panjang Joan hingga ia meringis kesakitan.
"Aku yang akan menarik mu keluar! Aku akan mempermalukan mu sehingga kau akan menanggung malu seumur hidupmu!" teriak Lily sambil menarik rambutnya keluar dari tempat itu.
__ADS_1
Joan memegang tangan Lily yang kuat menjambak rambutnya. "Lepaskan, Lily!"
"Tidak! Aku akan mempermalukan mu sampai kau bersedia untuk meninggalkan kakakku!" teriak Lily kembali.
Ketika berada di pintu masuk, tubuh Joan ditendang keluar. Joan terjatuh hingga harus berguling di tanah. Tubuhnya terasa sakit ketika ia mencoba untuk bangun.
"Lihatlah wanita ini! Apakah kalian masih mau membeli pakaian rancangannya setelah apa yang ia lakukan pada keluargaku? Ia menggoda kakakku dengan tubuhnya sehingga ia harus meninggalkan keluarganya karena wanita ini!" teriak Lily.
Joan menggelengkan kepalanya. Bohong jika Alv mengatakan Lily tidak akan menyakitinya secara fisik. Iapun bangun dan menghampirinya.
"Puas sudah mempermalukan ku?" tanya Joan dengan nada tegas.
"Belum. Aku akan terus melakukannya hingga kau meninggalkan kakakku!" seru Lily sambil berjalan menjauhinya.
Joan menatap kepergian Lily dengan mata nanar. Sudah terlambat. Semua orang melihatnya. Ia telah menjadi tontonan orang-orang. Ya Tuhan, ia malu sekali. Ia pun bergegas masuk kedalam.
"Joan, siapa wanita itu?Aku dengar ada ribut-ribut dari atas." ucap Gerard cemas. Ia melihat wajah Joan. "Kening mu berdarah. Kau harus diobati. Ayo kita keatas."
Joan menggelengkan kepalanya. Ia berjalan menuju pakaian-pakaian yang hendak dibawanya tadi. Ia mengambil satu persatu dan menyerahkannya pada Gerard. "Tolong kau suruh satu pegawai untuk mengantarkan pakaian ini ke lokasi syuting Dean. Dua jam lagi akan dipakai."
Gerard melihat beberapa pegawai yang masih melihat mereka. "Kejadian ini bukan tontonan kalian. Aku harap kalian kembali bekerja. Dan satu lagi. Panggil Billie kesini. Ia harus mengantar pakaian ini ke lokasi syuting."
Sepanjang perjalanan menuju rumahnya yang hanya berjarak lima belas menit dari kantornya, ia terus menyesali diri. Mengapa ia tidak melawan keganasan Lily tadi? Mengapa ia diam?
Ketika mobilnya telah sampai didepan rumah, ia turun dan berjalan lunglai. Ia membuka pintu. Grey menyambutnya dengan penuh harap. Joan menatapnya lama. Ketika pintu rumahnya ditutup, ia mulai menangis.
Joan menyandarkan tubuhnya di belakang pintu. Ia terisak merasakan kesakitan tubuhnya. Baru dua hari ia ditinggalkan oleh Alv, ia sudah mendapatkan kejadian buruk oleh adiknya. Keinginan Lily hanya satu. Meninggalkan kakaknya. Bagaimana mungkin ia bisa hidup tanpa Alv disampingnya?
...***...
Alv baru saja menyelesaikan seminarnya yang pertama di ballroom hotel. Seminar yang biasanya ia lakukan sejak berada di Turki membuatnya senang. Bagaimana tidak, ia bisa menyalurkan ilmunya pada orang lain.
"Kami senang karena kau bisa hadir kembali walaupun sekarang kau bukan mewakili rumah sakit Istanbul." ucap panitia yang datang menghampirinya.
"Apapun latar belakangnya, ilmu tetap bisa disampaikan. Aku senang diundang. Kalian masih tidak lupa."
"Kau mau makan malam bersama dengan para dokter lain? Kami sudah menyiapkannya di restoran."
Alv tersenyum. "Ya, aku akan kesana. Tapi aku harus menghubungi istriku terlebih dahulu."
__ADS_1
"Pantas saja kau sudah memiliki istri. Pengaruh seorang istri memang luar biasa karena telah membuatmu begitu bersemangat hari ini."
"Kau bisa saja. Kalau begitu, aku permisi keluar." ucap Alv sambil berjalan keluar.
Sebelum ia makan, ia harus tahu apa yang istrinya lakukan. Apakah ia makan dengan baik? Dan satu, apakah Lily mendatanginya? Ketika ia menghubunginya melalui chat, adiknya itu terlihat bahagia karena sering mengirimkan emoticon wajah bahagia dan seseorang tengah menari. Alv duduk disalah satu sofa yang ada di lobi. Ia mulai menghubungi Joan.
Nada mulai terhubung.
"Halo..." jawab Joan pelan.
"Kau sudah pulang? Bagaimana syuting Dean hari ini? Kau mengunjunginya?" tanya Alv.
"Aku tidak mengunjunginya. Aku meminta orang lain untuk menyerahkan pakaiannya." jawab Joan pelan.
Alv bertanya-tanya dalam hati. Ada yang berubah dari Joan. "Apa yang terjadi? Kau sakit?"
"Alv..." ucap Joan sambil terisak. Ia ingin mengatakan kejadian hari ini namun lidahnya kelu. Ia tidak bisa mengatakannya. Ia hanya bisa menangis.
"Kau benar-benar sakit? Kenapa kau menangis?" tanya Alv cemas. Joan tidak menjawabnya. Ia hanya terdengar sedang menangis. "Ayolah sayang, katakan apa yang terjadi? Jangan menangis, aku akan semakin cemas disini. Tolong.."
"Maafkan aku, Alv. Aku hanya sedang tidak enak badan. Jangan cemas. Aku juga sangat merindukanmu jadi aku menangis." ucap Joan.
"Aku akan pulang cepat, sayang. Seminar ini baru satu kali dilakukan. Masih ada empat seminar. Jika sudah selesai semua, aku akan cepat-cepat pulang." jawab Alv.
"Baiklah Alv, aku tutup teleponnya."
"Tidak bisakah kita melakukan video call? Aku ingin melihat wajahmu." tanya Alv.
"Tidak!" jawab Joan cepat.
"Mengapa?"
"Aku ingin tidur. Aku baru meminum obat." ucapnya berbohong. Jika Alv melihat luka diwajahnya akibat ia terjatuh tadi di trotoar, ia pasti khawatir. Bisa-bisa ia mengganggu acara seminarnya.
"Baiklah, cepat tidur dan jangan terlalu lelah. Esok pagi aku akan menghubungimu kembali." ucap Alv.
"Ya, selamat malam Alv."
"Aku mencintaimu.." ucap Alv.
__ADS_1
Joan tidak menjawabnya karena ia langsung menutup sambungan. Ia kembali menatap wajahnya didepan cermin. Keningnya yang terluka karena membentur tembok trotoar sudah ia berikan plester. Serta bengkak di dagunya sudah ia olesi oleh obat yang dibelinya dari apotek. Ia akan mengatakan apa yang terjadi pada Alv nanti ketika ia sudah pulang. Lily keterlaluan, apa yang harus ia lakukan agar Lily mau menerimanya?