
Hidup seseorang seharusnya dipenuhi mimpi. Namun hal itu tidak berlaku bagi Joan. Salah satu mimpinya adalah pernikahan yang bahagia seperti halnya pasangan lain. Pernikahan kedua orangtuanya adalah pernikahan abadi jika ibunya tidak meninggal terlebih dahulu. Banyak yang mengagumi pernikahan mereka. Ketika kedua orangtuanya menikah, hal itu menjadi berita paling sensasional. Ayahnya yang saat itu bekerja sebagai sutradara terkenal menikahi seorang pelayan restoran. Banyak yang kagum karena perjalanan cinta kedua orangtuanya. Ia ingin melakukan hal yang sama seperti kedua orangtuanya. Ia menginginkan pria seperti ayahnya. Walaupun sekarang ayahnya sudah menikah dengan Anastasia, tapi ibunya masih tetap nomor satu dihatinya. Joan menangis ketika mengingat nasib buruknya mengenai pernikahan. Pernikahan yang awalnya hanyalah sebuah permainan, berlanjut hingga adanya penyerangan terhadap dirinya. Jika Lily tidak kecelakaan, ia tidak akan tahu bagaimana sifat Alv yang sebenarnya.
Jika ia harus mengalami sakitnya dikhianati, ia tidak akan mau terjerumus didalamnya. Jika kata maaf itu mudah dilakukan, apakah Alv akan tetap menyakitinya? Hal paling aneh yang terjadi pada dirinya adalah ia tidak ingin kembali pada Alv yang jelas-jelas mengatakan masih mencintainya. Alv ingin mempertahankan pernikahannya tapi ia sendiri tidak mau. Hidupnya begitu getir belakangan ini. Ia lelah dengan semua keadaan. Awalnya ia bersemangat, tapi ketika semua permasalahan muncul, ia sendirian. Bahkan Alv sendiri tidak peduli padanya. Alv lebih mementingkan wanita itu.
Kepergiannya kali ini sudah final. Ia tidak akan menoleh ke belakang. Sophie datang ke New York khusus untuk menemuinya. Wanita itu, bagaimanapun tetap menjadi sahabatnya. Penolakan Sophie membuat mereka harus bermusuhan untuk waktu yang lumayan lama. Sophie tidak setuju jika ia dan Gerard mengembangkan butik mereka ke benua Amerika. Namun ketika ia menikah, Sophie datang menemuinya dan mereka berbaikan. Namun ia sedikit kecewa karena sahabatnya menikah tanpa ia tahu siapa pasangannya. Semuanya telah terjadi. Ia akan kembali ke Paris bersama kedua sahabatnya dan memulai kembali dari awal.
“Kau yakin dengan ini?”
Joan menatap Sophie dan Gerard bergantian. Ia mengambil kopernya dari dalam mobil. “Jika aku tidak yakin, untuk apa aku pergi sekarang. Kalian lucu sekali.”
“Tapi status kalian belum berpisah secara resmi.” Protes Gerard. Dari nadanya saja terdengar jika ia agak emosi ketika mengatakannya. Namun Joan tidak mau membalasnya dengan nada yang sama. Ia kemudian menjawab.
“Aku tahu. Sampai kapan ia akan bertahan seperti itu.”
Mereka mulai melangkah masuk kedalam bandara.
“Tapi bukankah kalian saling mencintai?” Tanya Gerard kembali.
“Setelah apa yang ia lakukan pada Joan, ia tidak bisa seperti ini. Mereka harus berpisah. Usia pernikahan mereka belum lama.” Protes Sophie
“Apakah saat ini penting kau bertanya tentang saling mencintai? Jika cinta harus menyakiti, untuk apa cinta itu ada? Bagiku saat ini cinta itu tidak penting. Aku tidak ingin disakiti.” Jawab Joan.
__ADS_1
“Tapi Alv pun tanpa sadar disakiti olehmu.”
Joan berhenti dan menatap Gerard. “Sebenarnya kau memihak siapa? Sahabatmu atau orang lain?”
“Aku memihak berdasarkan logika yang kumiliki. Menurutku kalian berdua salah. Seharusnya kalian berbicara empat mata. Kau tidak bisa lari seperti ini. Kau tidak bisa membuat seorang pria mendapatkan sikapmu yang terlalu kekanak-kanakan."
Joan tersenyum. “Terima kasih, tapi selama ada wanita itu disekitar kami, aku rasa berbicarapun tidak akan mungkin. Kau mengerti?”
“Kau cemburu” ucap Gerard cepat
“Cukup. Kau terlalu ikut campur urusan Joan. Mulutmu seperti wanita” protes Shopie kesal.
Joan terdiam. Ia masih melanjutkan langkahnya walaupun kedua sahabatnya masih terus bersitegang. Alv, pria itu tidak mungkin bertahan dengan ketidakpastian. Ancamannya tidak akan berarti. Ia melakukan ini karena ingin kehidupannya tenang. Seperti dulu. Mungkin orang-orang yang mengenalnya mengatakan ia wanita egois karena memikirkan perasaan sendiri, namun mereka tidak merasakan berada diposisi yang sama dengannya. Ketika memutuskan untuk pergi ke Paris secepat mungkin, keluarganya tidak mudah untuk mengijinkannya.
“Jo, lihatlah.. Kita beruntung!” Seru Sophie.
Joan menoleh ke belakang. Ia melihat kemana mata Sophie memandang. Ia tertegun. Seorang pria tinggi dan terlihat maskulin sedang berjalan ke arahnya. Tidak. Pria itu yang mengejarnya ketika di Paris beberapa tahun yang lalu. Joan menoleh pada Sophie. “Apa yang kau lakukan?”
“Adrian sedang ada syuting di New York. Semalam ia menghubungiku karena ia melihat foto kita berada di Manhattan. Lihatlah, semakin hari ia semakin tampan. Ia bisa menjadi pengganti suamimu. Ia masih mengejarmu padahal ia tahu kau sudah menikah.” Bisik Sophie.
Joan melihat ke arah pria itu. Tidak, tidak akan ada pria lain di sampingnya.
__ADS_1
“Aku senang sekali kita bertemu disini.” Ungkap Adrian ketika ia sudah berada didepannya. Tiba-tiba pria itu memeluk Joan. “Aku merindukanmu.”
Joan melepaskan pegangannya di koper dan dengan cepat mendorong pria itu. “Kita berada di bandara. Jangan keterlaluan.” Pekik Joan.
“Aku memelukmu sebagai seorang sahabat. Jika kau ingin menganggap lebih, itu lebih baik. Apakah kau sudah berpisah dengan suamimu?” Ucap pria itu sambil tersenyum.
Gerard maju dan berada diantara keduanya. Ia menatap Adrian. “Kau harus ingat jika Joan adalah wanita bersuami.”
“Tidak akan lama lagi mereka berpisah.” Ucap Sophie cepat.
“Benarkah?” Tanya Adrian dengan wajah senang.
Gerard menoleh pada Sophie, “Kau mendoakan sesuatu yang buruk pada sahabatmu?”tanyanya marah.
“Aku berbicara bukan tanpa alasan. Mereka akan berpisah. Buktinya ia sedang bersama wanita lain. Lihatlah..” ucap Sophie.
Joan menoleh untuk melihat siapa yang sedang dikatakan oleh Sophie. Ia melihat Alv dengan Lily hendak pergi. Mereka berdua sedang menatapnya dengan tatapan nanar. Tanpa ia sadari Adrian tengah memegang tangannya. Wajah Alv terlihat kesakitan, namun ia tidak melakukan apa-apa. Ia hanya menatapnya dengan nanar. Joan menghela nafas. Baguslah, akan semakin cepat Alv melepaskan dirinya. Iapun membalas pegangan tangan Adrian.
"Ayo kita pergi." ucapnya.
Sophie tersenyum sambil menatap Gerard. "Ayo kita pergi." ucapnya.
__ADS_1
Gerard masih diam. Ia melihat tatapan pria itu pada Joan walaupun ia sudah Albertan jauh. Pasti sakit melihat pasanganmu sedang bersama pria lain. Padahal kalian belum benar-benar berpisah, pikirnya. "Jika aku bisa membantumu, aku akan melakukannya". ucap Gerard. Terdengar suara Sophie memanggilnya. Ia melihat Sophie dan berlari menghampirinya.