Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Lee's advice


__ADS_3

"Aku tidak akan kembali, dad." ujar Joan ketika ia dan orangtuanya tengah berbincang.


Lee menatap anaknya serius. "Apa yang akan kau lakukan? Bagaimana dengan pekerjaanmu?"


Joan meremas pakaiannya. Ialah yang bersalah dengan kepergian Jessy. Kehilangan Jessy membuat semua keluarga berduka. Bahkan hingga saat ini ia masih belum bisa ditemukan. Seandainya saja ia tidak meminta Jessy untuk pergi ke Santorini, kejadian ini tidak akan terjadi. Ia harus dapat mengendalikan perasaannya. Ia kembali menatap ayahnya. Ia terlihat tua karena memikirkan Dean.


"Aku tidak akan kembali hingga Dean kembali seperti semula. Aku yang bersalah karena saat itu aku yang meminta Jessy pergi ke Santorini."


"Kau tidak perlu melakukannya. Aku bisa hidup sendiri. Aku bisa hidup dengan rasa bersalah ini seumur hidupku."ucap Dean yang tengah berdiri dibelakang pintu. Nadanya terdengar menyakitkan.


"Maafkan aku, Dean.." ucap Joan sedih.


"Ini bukan kesalahanmu. Ini sepenuhnya kesalahanku. Aku patut menerimanya."


Lee berdiri. "Bisa kita berbicara?" tanyanya.


Dean hanya mengangguk. Ia mengikuti langkah ayahnya dan duduk disampingnya . Dean terlihat begitu menyedihkan. Ia terlihat kurus. Ketika melihatnya, Lee merasa mereka harus berbicara empat mata. Mereka perlu berbicara antar pria.


Lee membuka pintu ruang kerjanya yang beberapa waktu terakhir tertutup. Ia duduk di sofa yang berada ditengah ruangan. Matanya menatap Dean dengan tajam. Ia tengah menunduk. Tidak ada cahaya diwajahnya. Sangat berbeda jauh ketika istrinya ada disampingnya. Hanya Jessy yang bisa membuat wajahnya kembali ceria. Wajah penyesalan sangat terlihat. Ia sedih memikirkannya. Dean memang bersalah, tapi ia tidak bisa seperti itu. Bagaimanapun ia seorang pria. Ia berdeham.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Lee serius.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja." jawab Dean tanpa mengangkat kepalanya.


"Bagaimana dengan agen yang sedang kau sewa? Apakah ada berita?"


Dean hanya mengelengkan kepalanya. Ia tidak mengatakan apapun.


"Jessy... ia cukup berani meninggalkan pria menyebalkan sepertimu, kid.." ujar Lee sambil tersenyum samar.


"Ia pantas melakukannya dad. Aku tidak bisa dimaafkan. Ingatan itu selalu menggangguku. Aku menyesal karena mengusirnya dari kehidupanku." jawab Dean dengan wajah merah. "Terlalu menyakitkan, dad. Aku tidak bisa hidup tanpa Jessy" Isak Dean.


Lee mendekat. "Apakah kau akan diam dan menyesali diri seperti ini? Apa yang kau lakukan? Ketika Jessy kembali suatu saat nanti, apakah kau tidak malu memperlihatkan sisi burukmu seperti ini padanya? Saat ini kau tidak beda dengan anak sekolah menengah. Kau harus bangkit. Buktikan kau bisa. Dan Jessy akan melihat semua pengorbananmu."


"Aku tidak terpikirkan untuk melakukan sesuatu, dad. Aku telah mencari Jessy kemanapun. Tidak ada yang melihatnya. Aku sudah menghubungi kedutaan, tetap sama. Aku tidak tahu harus kemana lagi mencarinya. Ia tengah mengandung, dad! Aku ketakutan hingga mau mati. Aku mencintai Jessy apapun yang terjadi. Aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya. Dan kau tahu itu. Hanya Jessy yang bisa membuatku berdebar. Bahkan ketika kami sudah menikah. Penyesalanku bukan hanya itu, pernikahan kami belum terdaftar."


Dean mengangkat wajahnya. Ia tidak mau menatap ayahnya. Keinginan Jessy? Ia sangat tahu keinginan Jessy.


"Ia ingin aku mendapatkan penghargaan atas film baru ini. Ia ingin membuktikan jika kehadirannya diacara itu bukan hanya sebagai pendamping saja. Tapi sebagai istri."


Lee mengangguk. Ia mengerti permintaan Jessy karena ingin Dean melakukan yang terbaik. "Kemudian, buatlah film yang bagus. Kau harus bertanggungjawab. Editor tengah menunggumu. Kau harus fokus menyelesaikan pekerjaanmu. Serahkan hilangnya Jessy pada agen. Kau harus mempercayainya. Mereka akan melakukan yang terbaik."


"Aku akan melakukannya nanti. Ketika suasana hatiku sudah membaik."

__ADS_1


Lee menepuk pundak Dean. "Aku harap Jessy dapat ditemukan secepatnya. Aku mencoba mencarinya melalui beberapa relasi. Aku harap ada kabar baik." ucapnya.


Dean mengangguk. "Aku ke kamar dahulu, Dad."


Lee mengangguk. Ternyata tidak banyak yang harus ia bicarakan dengan Dean. Pada intinya ia hanya ingin Jessy kembali. Namun, ia harap tidak terlambat.


Dean berdiri dan kembali ke kamarnya. Kamar itu dipenuhi oleh kenangan Jessy. Bunga selalu diganti setiap hari, pakaian yang selalu ia siapkan, parfum kesukaan Jessy yang selalu tercium dikamarnya, kemudian sofa tempat mereka selalu berbincang jika keduanya tidak bisa tidur. Semuanya seakan kembali. Ia bisa melihat kembali kenangan-kenangan itu muncul diingatannya.


Jessy, aku tahu ikatan batin kita sangat kuat. Aku mohon kembalilah. Biarkan aku menebus semua dosa-dosaku padamu. Entah berapa lama aku sudah kehilanganmu. Tolong kembalilah, aku merindukanmu.


Terdengar pintu diketuk. Dean menghapus airmata yang muncul di sudut matanya. Ia kemudian membuka pintu dan menemukan ibunya disana.


"Ada yang mencarimu.." ucap Anastasia.


"Siapa? Jessy?" tanya Dean shock.


Anastasia menggelengkan kepalanya. "Kau harus melihat sendiri. Namun yang pasti bukan Jessy." ucapnya sambil meninggalkan Dean dan kembali kedepan.


Dean melangkah keluar kamar. Siapa yang datang mengunjunginya malam-malam seperti ini? Ketika ia keluar, ia melihat seorang wanita yang memunggunginya. Itu bukan Jessy. Tubuh Jessy tidak sekecil itu ketika mereka terakhir bertemu.


"Rossy?" tanya Dean.

__ADS_1


Wanita itu berbalik dan tersenyum. "Halo, Dean.."


__ADS_2