
Dean menarik tangan Jessy menuju sebuah tempat yang jauh dari keramaian. Ia mengajaknya berlari. Mereka mulai memasuki sebuah lorong yang hanya diterangi lampu berwarna kuning temaram. Tidak terdengar apapun kecuali suara langkah seseorang. Dean mengajak Jessy untuk berjalan sambil mengendap-endap. Jessy hanya mengikuti Dean. Ia bingung akan dibawa kemana oleh Dean.
Ketika tiba disebuah tempat, Dean berhenti didepan sebuah pintu yang besar. Kemudian ia menatapnya. "Aku pernah kesini ketika bersama Joan. Kami pernah nakal." bisiknya.
Beberapa kali Dean pernah mengatakan tentang Joan, namun ia bingung. Kenakalan jenis apa yang kedua bersaudara itu lakukan? Jessy masih tidak memiliki gambaran tentang tempat apa yang ia maksud.
Dean memegang gagang pintu dengan hati-hati. Ia menutup mata dan mulai membukanya. Ia menarik lengan Jessy untuk masuk kedalam. "Ayo, kita masuk." ucapnya.
Sebuah gudang penyimpanan wine terdapat disana. "Ini adalah gudang penyimpanan wine. Lihatlah, kau bisa melihat berbagai jenis wine serta tahun pembuatannya." bisik Dean.
Jessy masuk dengan terpesona. Ia melihat ribuan botol wine yang tersimpan dengan rapi. Iapun melihat ke sekeliling ruangan yang sangat besar itu. "Dean, mereka menyimpannya sampai atas." ucapnya antusias. Kemudian ia teringat sesuatu. "Apakah kita tidak akan ketahuan berada disini?"
"Selama kita tidak mengeluarkan suara kencang tidak akan ada yang tahu." jawab Dean.
"Kau nakal, Dean!" seru Jessy.
"Dan kau menemani kenakalanku malam ini.." ucap Dean sambil tertawa
Sayup-sayup terdengar suara musik kedalam ruangan. Semakin lama semakin terdengar. Dean memegang tangan Jessy dan menariknya ke tempat dimana terdapat sorotan cahaya bulan yang masuk diantara beberapa jendela. Ia kemudian mengangkat tangan Jessy ke bahunya. Kemudian tangan Dean berpindah pada pinggang Jessy.
"Apakah kau sering melakukan ini pada semua wanita?" tanya Jessy pelan sekali.
"Tidak pernah satu kali pun. Baru denganmu aku melakukannya. Maksudku, melakukan dansa denganmu dibawah cahaya bulan." terang Dean. Wajahnya yang tidak terlalu terlihat karena gelap itu memperhatikan sesuatu. Ia melihat sebuah liontin dengan tulisan "**" ada dileher Jessy yang putih.
"Bohong jika Lana mengatakan kau bukan orang yang romantis. Aku sendiri kemungkinan tidak akan sanggup menerima semua perlakuan darimu." ucap Jessy.
"Benarkah? Apakah menurutmu aku romantis? Kau tidak akan sanggup menahannya?" tanya Dean menggodanya. Wanita didepannya ini terlalu polos. Tapi ia tetap menyukainya.
Jessy menatap ke belakang Dean. Ia tidak mau bertatapan langsung dengan Dean. Mereka berdansa mengikuti suara musik. Tiba-tiba suara musik berubah menjadi semakin romantis. Dengan hanya bermandikan cahaya bulan, mereka mulai menikmati dansa. Jessy yang tidak pernah berdansa seumur hidupnya, harus mengalaminya ketika ia menikah. Kemudian malam ini. Ia mulai mempererat pelukannya pada Dean.
"Suaramu tadi membuatku terpesona, Jessy. Aku tidak tahu kau bisa bernyanyi. Kau memiliki suara yang bisa membius siapapun yang mendengarnya. Termasuk aku." bisik Dean tepat ditelinga Jessy.
Jessy tertawa senang. Wajahnya mulai memerah. Ia menyandarkan kepalanya di dada Dean. "Dean.." panggilnya.
"Hmmm. Kau ingin bernyanyi untukku lagi?" tanya Dean.
__ADS_1
"Bukan. Aku hanya ingin mengeluarkan sesuatu yang mengganjal selama beberapa hari ini."
"Kenapa? Kau tidak bahagia menikah denganku? Bertahanlah sebentar. Kita baru memulainya." ucap Dean dengan nada kecewa.
Jessy menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu apakah aku terbawa suasana karena ruangan ini, atau hanya perasaanku saja. Jujur saja, aku menyukai uangmu. Tapi, aku juga menyukai pernikahan ini. Tidak pernah ada satu orangpun yang dekat denganku. Aku tidak pernah memiliki seseorang disampingku. Tapi, ketika aku mengenalmu, terutama keluargamu. Aku merasa memiliki keluarga. Temanmu, saat ini menjadi temanku. Rasanya hidupku ini tidak hambar seperti dulu. Aku memiliki seseorang untuk bercerita. Ada Anastasia dan ayahmu yang sudah aku anggap orangtuaku sendiri. Padahal aku tidak pernah merasakan bagaimana memiliki keluarga. Kau tahu jika aku tidak memiliki orangtua, bukan?"
Dean mengangguk. Ia berhenti berdansa dan mempererat pelukannya. Ia mengelus rambut Jessy. "Kau ingat orangtuamu?"
"Kedua orangtuaku hanya memberikanku tanda pengenal terakhir." ucap Jessy sambil memegang kalungnya.
"**. Aku pikir itu inisial orang lain." ucap Dean sambil ikut memegangnya. "Kau ingin menangis?"
Jessy mengangkat kepalanya dan menatap Dean. "Tidak mungkin. Aku wanita kuat. Aku tidak mungkin menangis hanya karena cerita tentang orangtuaku. Lagipula aku tidak mengingat mereka."
Dean terdiam. Ia menutup mulut Jessy dengan tangannya namun kedua matanya tertutup. Bola matanya bergerak dari kiri ke kanan. Kemudian ia membuka matanya cepat. "Ada yang datang.." ucapnya panik. Ia menarik tangan Jessy.
Terlihat dua orang pria masuk kedalam ruangan itu. Mereka membawa beberapa botol sambil melihat sesuatu di botolnya.
Jessy tidak berani melihatnya. Ia menutup matanya. Ia merasakan lengan Dean yang memeluknya dari belakang begitu erat. Terdengar suara pintu tertutup. Jessy membuka matanya dan melangkah kedepan. Baru saja ia melangkah, tangannya ditarik kembali. Dean mendorongnya ke sebuah tembok. Ia melotot pada Dean. "Apa yang akan kau lakukan, Dean? Lepaskan aku!" bisik Jessy.
"Aku tidak akan melepaskanmu." bisik Dean. Ia mengangkat kedua tangannya dan disimpan diatas bahu Jessy. Ia mengurung kepala Jessy diantara kedua tangannya. "Kenapa kau terus membuatku terpesona, Jessy? Kenapa kau lakukan ini padaku?"
"Aku tidak peduli. Tidak ada yang mengenal kita." bisik Dean. Ia menekan kepala Jessy dengan kepalanya ke tembok. Jessy menutup matanya ketika Dean menciumnya tanpa ragu. Pertahanan Dean seketika runtuh. Sejak pernikahan mereka, ia terus membayangkan bisa berada ditempat yang jauh dari sebuah pesta dan hanya berdua saja. Walaupun ia sadar Jessy tersentak dan terkesiap, perlahan wanita itu menerimanya.
Dean tidak perlu membayangkan mereka berada di sebuah ruangan sempit. Berada di tempat ini saja sudah cukup. Jauh dari keramaian dan hanya terdengar suara musik yang masih menggema. Apakah ini yang dinamakan romantis? Entahlah, ia hanya mengikuti nurani nya. Sesaat kemudian ia melepaskan diri. Ia menatap mata hazel indah yang tengah menatapnya itu dengan tatapan sedikit bingung itu. Dean merapikan rambut Jessy dengan salah satu tangannya sambil terus menatapnya. Wajah polos itu tidak berkata apa-apa.
"Kau terkejut?" tanya Dean sambil menyentuh bibir wanita itu. Tidak ada jawaban dari Jessy. Hanya sedikit anggukan. Dean tersenyum. "Mulai saat ini kau akan terus menerimanya dariku. Jadi kau tidak perlu terkejut lagi. Kita akan sering melakukannya. Kau mengerti?" ucapnya sambil kembali menunduk dan mengecup bibir Jessy dengan cepat.
Jantung Jessy berdetak dengan cepat. Perasaan apa ini? Apakah ia mulai jatuh cinta pada Dean? Mengapa secepat ini? Ataukah perasaan karena terkejut setelah Dean melakukannya?
...***...
Pesta itu memang belum usai, Dean dan Jessy kembali menuju pesta itu dan berbaur dengan tamu undangan lainnya. Pada akhirnya mereka bertemu dengan Jack dan Miranda. Pasangan suami istri yang terlihat sangat berkelas itu sengaja membuat acara yang biasanya mereka buat setiap tahun untuk menyambut kesuksesan perusahaannya.
Miranda menarik tangan Jessy ketika ia melihat suaminya sedang serius berbicara dengan Dean. Ia membawanya menuju teman-temannya sesama pengusaha. Mereka terlihat mencolok. Bukan saja dari pakaian, tapi perhiasan yang mereka gunakan.
__ADS_1
"Aku memang tidak terlalu tahu tentang gosip. Tapi aku ingin tahu bagaimana keluargamu, Jessy. Apa yang kedua orangtuamu kerjakan? Tidak mungkin Dean mau menikahimu jika kau kalangan biasa saja." seru seorang teman Miranda.
Miranda mengangguk. "Aku juga ingin tahu. Ketika aku mengenal Dean, awalnya aku ingin menikahkannya dengan salah satu anakku. Kalian tahu jika anakku yang besar sudah menjadi seorang direktur rumah sakit. Padahal ia masih sangat muda."
Jessy terluka dengan ucapan itu. Ia tersenyum hambar. "Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya beruntung bisa menikahi Dean."
"Aku ingat skandal Dean sebelum ia menikah denganmu. Aku pikir mereka memang sepasang kekasih. Berita pertunangan kalian begitu cepat menyebar. Aku salut dengan popularitas Dean. Sebelumnya apa yang kau kerjakan?"
Jessy menyambar gelas wine dan meminumnya dengan cepat. "Aku hanya wanita miskin yang beruntung." ucapnya dengan sedikit kesal.
Miranda tertawa. "Sepertinya aku kurang pendekatan dengan Dean. Jika aku melakukannya sedikit lebih cepat, aku bisa membuatnya menjadi suami anakku. Sayang sekali dia memilih wanita biasa."
Jessy kembali tersenyum pahit. Ia mengambil salah satu gelas kembali dan meminumnya dengan cepat.
"Lihatlah, meminum wine saja tidak bisa anggun. Bagaimana bisa ia mengikuti seorang Dean yang elegan?"
Jessy menjauhi para wanita itu dengan sedikit sempoyongan setelah meminum dua gelas wine yang ia tidak tahu jenis apakah itu. Ia diam didepan sebuah meja berisi makanan dan tentu saja wine yang dihidangkan. Ia menatap gelas-gelas itu. Ia berfikir walaupun kepalanya mulai pusing.
Apa salahnya menjadi gadis miskin tanpa orangtua?
Apa salahnya menikahi seorang public figure?
Apa salahnya hidup bersama seorang Dean?
Dean yang memintanya untuk menikahinya. Bukan ia yang memintanya. Ia hanya meminta uang satu juta perbulan sebagai kompensasi pernikahannya. Apakah itu salah? Dean yang memaksanya.
Ia kembali mengambil salah satu gelas dan kembali meminumnya. "Jahat!" ucapnya. Ia berbalik untuk melihat Dean yang kini masih berbincang dengan Jack dan teman-temannya. Apakah ia memang tidak pantas menjadi istri Dean? Ia menyimpan gelas itu dan kedua tangannya memegang meja. Ia menundukkan kepalanya. Ia tidak pernah merasa terluka seperti ini sebelumnya. Tidak pernah ada yang mengganggunya sedikitpun. Ia selalu hidup dengan cara bersyukur dengan apapun yang ia miliki.
"Jessy.." panggil Dean.
Jessy membalikkan badannya. Ia melihat Dean tengah menatapnya khawatir. Ia ingin sekali menangis dan memeluknya. Tapi, ini sebuah pesta. Ia tidak mau mempermalukan Dean.
"Kau mabuk?" bisik Dean ketika ia mulai mendekat. Ia memegang kedua tangan Jessy agar ia bisa berdiri.
Jessy hanya diam. Ia menunduk.
__ADS_1
"Apa yang terjadi padamu, sayang? Cepat bicara?" tanya Dean khawatir.
Jessy mengangkat wajahnya dengan mata berkaca-kaca. "Bawa aku pergi dari tempat ini. Aku ingin pulang" bisiknya.